Ketua MUI: Dengan Kesaksian Habib Rizieq Bukti Mutlak Ahok Akan Dipenjara



Dakwah Media - Terkait dengan sidang Ahok hari ini yang menghadirkan saksi ahli Habib Rizieq, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat, KH Ma’ruf Amin mengatakan bahwa kesaksian habib akan menjadi bukti kuat bahwa Ahok telah melakukan penistaan terhadap agama islam.

Ia optimis Ahok akan dinyatakan bersalah dan ditetapkan sebagai terpidana, “Saya kira jangan berharap Ahok akan bebas, kita harapkan dia dihukum sesuia kesalahannya. Sekarang kan sudah terdakwa, tinggal selangkah lagi terpidana. Kita optimis dia akan terpidana,” kata dia.

Menurutnya Ahok, sebagai non-muslim terlalu jauh mengomentari soal Al-quran. “Seorang ustad muda saja tidak berani bahas surat Al-Maidah lain halnya dengan ustad senior, lah ini Ahok bukan muslim tapi mau mengomentari itu,” pungkasnya.

“Ada yang menuduh MUI memasuki wilayah politik, tapi saya bilang Ahok lah yang memasuki wilayah agama,” sambungnya. [pbc]

Tidak Diliput Media, Orasi Neno Warisman Saat Sidang Ke-12 Ini Bikin Ahoker Ketakutan



Dakwah Media - Sejumlah tokoh Nasional turut mengawal sidang kedua belas dugaan kasus penistaan agama oleh terdakwa Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian Jakarta Selatan pada Selasa (28/2/17). Salah satunya dai Muslimah Neno Warisman.

Dalam kesempaan di luar gedung sidang, Neno Warisman menyampaian orasi menggetarkan yang membuat para pendukung Ahok gemetar ketakutan.

"Jangan sekali kali mencoba meminta azab Allah tersebut," pekik Neno, disambut gemuruh takbir kaum Muslimin.

Neno menyampaikan, perkumpulan dan pengawalan kaum Muslimin bukan hanya untuk Ahok, tetapi bermakna pula sebagai bentuk perlwanan atas kezaliman segelintir orang jahat di negeri ini.

"Ini perjuangan melawan kedzaliman, bukan hanya untuk kasus ini tapi melawan mereka segelintir orang yang ingin merebut bangsa ini."

Orang-orang jahat itu ingin merebut bangsa Indonesia dengan menyingkirkan warga pribumi melalui berbagai acara dan agenda yang terstruktur.

"Kita di sini melawan kezaliman. Melawan mereka yang ingin mengambil negara ini dan menyingkirkan masyarakat asli indonesia,"

Mantan artis era 80-an ini juga berpesan agar kaum Muslimin dan bangsa Indonesia tidak meniru perkataan kasar yang kerap dilontarkan oleh terdakwa penistaan agama, Ahok.

"Pesan saya agar umat memperjuangkan Islam tidak melakukan perkataan kasar." ujarnya sebagaimana dilansir Republika, Selasa 928/2/17). [tbc]

Sejumlah Takmir Masjid Pemasang Spanduk Dipanggil Camat, Polisi dan Koramil Setiabudi



Dakwah Media - Kabarnya, pagi ini, Rabu (1/3) sejumlah pengurus masjid yang memasang spanduk bertuliskan “Masjid Ini Tidak Mensholatkan Jenazah Pendukung dan Pembela Penista Agama” akan memenuhi undangan pertemuan dengan pihak Camat, MUI, Kepolisian dan Koramil di kantor Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Sebelumnya, pihak kelurahan, kepolisian, dan KUA kementerian Agama Setiabudi sempat mendatangi takmir Masjid Al Jihad untuk mencopot spanduk yang dinilai memecah belah umat ini.

“Kami menolak. Mereka menuduh spanduk ini sebagai upaya memecah belah umat. Padahal, justru kita mencintai umat agar kembali kepada al Qur’an dan selalu mengingatkan akan kematian,” kata Abu Hamzah.

Spanduk yang menjadi viral di media sosial tersebut ditanggapi oleh Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, ia sudah mendengar informasi tersebut dan akan menyelidikinya.

“Kita akan koordinasi dengan Panwaslu apakah itu berkaitan dengan pilkada atau tidak,” kata Argo kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Selasa, 28 Februari 2017.

Namun, dalam penyelidikannya, polisi akan berkoordinasi dengan panitia pengawas pemilu (panwaslu) apakah hal tersebut berkaitan dengan pilkada DKI atau tidak.

Argo juga belum mau menyimpulkan apakah spanduk tersebut termasuk tindak pidana penghasutan terhadap sara (suku, agama, ras dan antargolongan) atau tidak. “Tunggu saja polisi bekerja. Sejauh mana (dampak) spanduk itu terpasang,” katanya.

Ia juga menambahkan, akan memeriksa beberapa saksi salah satu pengurus masjid tempat spanduk itu terpasang. “Itu (pemeriksaan) bagian dari penyelidikan kepolisian,” katanya. [tribunislam] 

Indonesia Diminta Waspada Agenda Tersembunyi China



Dakwah Media - Pemerintah Indonesia diminta mewaspadai di balik hubungan kerja sama dengan China. Ada kekhawatiran China memiliki agenda tersembunyi di balik niatnya untuk kerja sama dengan Indonesia.

Dosen Universitas Pertahanan (Unhan) Syaiful Anwar mengatakan, kekuatan ekonomi selalu dimanfaatkan sebagai instrumen negara untuk menekan negara lain. Selain ekonomi, mekanisme tekanan negara lain di dunia internasional juga menggunakan instrumen diplomasi dan militer.

"Tekanannya dilakukan bertahap, mulai yang lunak hingga cara yang paling keras," ujar Syaiful dalam acara seminar bertajuk Pertahanan dan Bela Negara di Auditorium Universitas Swadaya Gunungjati (Unswagati) Cirebon, Senin, 27 Februari 2017.

Menurutnya anggaran pertahanan China saat ini justru naik. Padahal, anggaran pertahanan sejumlah negara cenderung turun.

Dia menyebutkan, negara adidaya Amerika Serikat pada 2014 mengalokasikan anggaran pertahanan 624.960 juta dolar AS. Namun kini turun menjadi 595.330 juta dolar AS. Dia menuturkan, anggaran pertahanan negara AS itu setara dengan 80 kali lipat APBN Indonesia.

Dia menambahkan, negara lain seperti Perancis dari 56.708 juta dolar AS pada 2014 menjadi 56.467 juta dolar AS pada 2015, Jepang dari 50.842 juta dolar AS menjadi 49.298 juta dolar AS, dan Saudi Arabia dari 49.649 juta dolar AS menjadi 46.277 juta dolar AS.

"Sementara Tiongkok (China-red) malah naik dari 175.066 juta dolar AS menjadi 190.914 juta dolar AS," paparnya. [sc]

Sibuk Proses Ulama, Kapolri Juga Diminta Usut Kapolda Metro Jaya



Dakwah Media - Polri diminta jangan cuma sibuk mengurusi persoalan para ulama. Polri juga diminta serius memberesi persoalan internalnya.

Anggota Komisi III DPR, Muhammad Syafi'i mengingatkan ada sejumlah persoalan di internal Polri yang perlu mendapatkan perhatian serius dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Salah satunya mengenai perintah menembakkan gas air mata ke arah demonstran Bela Islam.

"Sudah adakah proses hukum terhadap pemberi perintah tembak gas air mata dalam aksi 411?" ujar Syafi'i dalam rapat kerja (raker) Komisi III DPR dengan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (22/2/2017).

Politikus Partai Gerindra ini menambahkan, persoalan lainnya yang perlu mendapat perhatian serius Kapolri adalah terkait ujaran kebencian yang diucapkan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Muhammad Iriawan dalam Aksi Bela Islam. Dia mengungkapkan, Kapolda Metro Jaya sempat meminta massa aksi dari ormas Islam untuk memukul anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang turut terlibat dalam Aksi Bela Islam.

"Adakah proses terhadap Kapolda Metro Jaya yang mengucapkan ujaran kebencian dalam aksi 411. Ini harus menjadi perhatian Kapolri," ucapnya. [sn]

Ancam Artis tak Dukung Ahok-Djarot, Bentuk Premanisme



Dakwah Media - Saat ini ada bentuk premanisme terhadap artis yang tidak memberikan dukungan terhadap Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta. “Artis pendukung Ahok-Djarot sudah kayak preman mengancam sesama artis yang tidak ikut mendukung paslon nomor dua. Ini sudah karakter mereka,” kata aktivis politik Rahman Simatupang kepada suaranasional, Selasa (28/2).

Kata Rahman, semua pendukung Ahok sudah merasa berkuasa dan melakukan intimidasi termasuk ke artis. “Kalau tidak Ahok, nantinya artis tidak diberi job, ini sudah seperti preman saja,” ungkap Rahman. Rahman mengatakan, keberadaan Ahok memunculkan pendukung fanatik yang menghalalkan segala cara.

“Ahok dianggap hebat dan bisa mengatasinya segalanya dan mendapat dukungan berbagai pihak termasuk artis. Dan artis-artis sudah terkena virus ‘gila’,” pungkas Rahman.

Ia mengkhawatirkan, jika Ahok menang, maka artis yang tidak mendukung mantan Bupati Belitung Timur itu akan disingkirkan. “Terlebih lagi artis pendukung Ahok juga pendukung Jokowi, maka yang anti akan disingkirkan. Dan ini membuktikan keberadaan Ahok memunculkan perpecahan di semua kalangan,” pungkas Rahman.

Sandiga Uno menyebut para artis yang menghubunginya itu bercerita mengenai adanya tekanan terhadap artis yang tidak menyatakan dukungan terhadap pasangan cagub-cawagub nomor pemilihan dua, Ahok-Djarot.

“Mereka banyak sekali sudah mulai secara japri (jalur pribadi) menghubungi saya karena selama ini mereka takut. Karena ada yang diancam tidak akan dapat order,” ujar Sandi saat ditemui di posko pemenangannya di Jalan Melawai, Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (28/2/2017). [snc]

Jokowi Jadikan Aksi 212 Alat Tarik Minat Investor



Dakwah Media - Gelombang aksi demonstrasi massa pada November dan Desember 2016 lalu, menjadi alat bagi Presiden Joko Widodo untuk meyakinkan investor, bahwa situasi Indonesia aman dan kondisi situasi politik tidak ada masalah.

Jokowi menyampaikan hal tersebut dalam sosialisasi terakhir tax amnesty, di Jakarta International Expo Kemayoran Jakarta, Selasa, 28 Februari 2017. Jokowi mengatakan, selama ini banyak yang bertanya tentang pengamanan aksi akhir tahun lalu tersebut. termasuk saat ia melakukan kunjungan ke Australia akhir pekan kemarin.

"Demo 7 juta juga bisa dikendalikan TNI Polri kok. Katanya yang demo November Desember 7 juta. Nyatanya bisa dikendalikan kok. Tak ada masalah. Demonya juga damai, baik," kata Jokowi di hadapan belasan ribu peserta sosialisasi terakhir tax amnesty.

Pada 4 November 2016, ratusan ribu umat muslim menggelar aksi di depan Istana Merdeka, menuntut agar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, ditetapkan menjadi tersangka penistaan agama. Aksi kemudian berlanjut pada 2 Desember 2016 dengan jumlah yang lebih besar, diperkirakan tujuh juta orang yang menggelar Salat Jumat di silang Monas.

Aksi-aksi yang berlangsung damai itu, kata Jokowi, menjadi alasan dia untuk memberi tahu kepada calon investor bahwa jaminan keamanan bisa diberikan. Situasi politik juga tidak ada masalah.

"Kita ingin tunjukkan kita dewasa dalam politik. Matang dalam politik. Saya balik gitu biar tidak takut," katanya.

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, setiap negara yang beranjak dewasa, pasti akan melalui ujian-ujian. Salah satunya menurut dia, adalah peristiwa akhir tahun lalu itu. Sehingga usai ujian itu, Indonesia mulai naik level.

"Itulah yang akan menjadikan kita tahan banting, tahan uji. Dan sekarang kan sudah dingin tidak ada masalah, moga-moga tidak ada masalah," kata Jokowi. [viva]

Kasus Iwan Bopeng, Kenapa Malah Polisi Yang Ribet?? Begitu Saktikah Baju Kotak-kotak??



Dakwah Media - Kasus Ahoker Iwan Bopeng...

PERHATIKAN KRONOLOGINYA:

[Senin , 27 February 2017]
Iwan Bopeng Dipertemukan dengan Pangdam, Polisi Sebut Kasus Clear

Pria berbaju kotak-kotak yang mengamuk di tempat pemungutan suara (TPS) dan menghina tentara, Iwan Bopeng alias Fredy Tuhenay sudah dipertemukan dengan Panglima Kodam Jaya (Pangdam Jaya) Mayjen TNI Teddy Lhaksmana. Dengan alasan itu, polisi menyebut kasus ucapan 'potong tentara' sudah selesai.

"Iwan Bopeng itu kemarin sudah dipertemukan dengan Panglima Kodam, itu sudah clear ya, sudah ya clear," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Senin (27/2).

Link: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/17/02/27/om0xqs377-iwan-bopeng-dipertemukan-dengan-pangdam-polisi-sebut-kasus-clear

SETELAH DIKONFIRMASI...

[Selasa , 28 Februari 2017]
Kodam Jaya Bantah Sudah Dipertemukan dengan Iwan Bopeng

Kodam Jaya membantah bahwa Iwan Bopeng alias Fredy Tuhenay sudah dipertemukan dengan Panglima Kodam Jaya (Pangdam Jaya) Mayjen TNI Teddy Lhaksmana terkait kasus penghinaan terhadap tentara saat pencoblosan Pilkada DKI Jakarta. Hal ini disampaikan Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Jaya Kolonel Heri Prakoso.

"Tidak ada (pertemuan itu), kemarin kan ada acara tradisi serah terima (Teddy Lhaksmana), sebelum-sebelumnya juga nggak ada," ujar Heri saat dikonfirmasi, Selasa (28/2).

Link: http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/02/28/om2lgw365-kodam-jaya-bantah-sudah-dipertemukan-dengan-iwan-bopeng

ATAS BANTAHAN KODAM JAYA, LALU KEMUDIAN...

[Selasa , 28 February 2017]
Kodam Jaya Bantah Bertemu Iwan Bopeng, Ini Penjelasan Polda Metro

Kabid Humas Polda Metro, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menarik pernyataannya sebelumnya bahwa kasus Iwan Bopeng alias Fredy Tuhenay sudah dianggap selesai setelah Iwan dipertemukan dengan mantan pangdam Jaya, Mayjen TNI Teddy Lhaksmana (Saat ini Wakil Kepala BIN). Argo pun berkilah pernyataannya sebelumnya tersebut bukan sudah dipertemukan, melainkan masih rencana akan dipertemukan.

"Memang tidak ada ketemu di Kodam, tidak ada memang, belum, tapi kemarin direncanakan dipertemukan. Nantinya masih akan cek dulu keberadaan Iwan Bopeng dulu," ujar Argo berkilah saat dikonfirmasi Republika.co.id, Selasa (28/2).

Link: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/02/28/om35t4361-kodam-jaya-bantah-bertemu-iwan-bopeng-ini-penjelasan-polda-metro

***

APA PUBLIK TIDAK BINGUNG?

Apa sebenarnya tugas pokok dan fungsi Kepolisian sesungguhnya dalam kasus Ahoker IWAN BOPENG ini, sebagai penyidik atau apa???

Kalau kasus bendera merah putih bertuliskan Tauhid, pihak polisi bisa bertindak super kilat dengan menggerebek dan menangkap serta memenjarakan.

KENAPA terhadap pria berbaju kotak-kotak kok terkesan sangat lambat bahkan sempat dikatakan SUDAH CLEAR SUDAH KETEMU PANGDAM. Begitu saktikah kalau kita memakai baju kotak-kotak??

Ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq berpesan kepada aparat:
"ITTAQILLAH! TAKUTLAH KEPADA ALLAH! Jabatanmu tidak akan pernah lama! Hartamu akan habis tak bersisa! Amalmu yg akan menorehkan tinta emas pada lembar sejarah Republik ini. Dan menjadi kunci penentu dimana kamu tinggal selanjutnya: surga atau neraka!" [pii]

Allahu Akbar! Inilah Rekaman Kesaksian Habib Rizieq Saat Sidang yang Lugas, Cerdas dan Tuntas, Tegaskan Penistaan Agama oleh Ahok



Dakwah Media - Habib Rizieq Shihab menjadi saksi ahli dalam sidang ke-12 kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki T Purnama (Ahok), Selasa (28/2/2017).

Habib Rizieq sebagai saksi ahli agama ditunjuk langsung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pihak Ahok sempat menolak ditunjuknya Habib Rizieq sebagai saksi ahli, namun hakim menolak keberatan kubu Ahok.

Berikut rekaman TvOne atas kesaksian Habib Rizieq di Persidangan yang sangat jelas tegas dan cerdas membungkam kubu Ahok.[tribunislam]

Link: https://youtu.be/4tC8IOmVKz8

Inilah Klarifkasi Takmir Masjid Al-Jihad Terkait “Spanduk Tauhid” di Setiabudi



Dakwah Media - Polemik masih terjadi terkait spanduk bertuliskan “Masjid Ini Tidak Mensholatkan Jenazah Pendukung dan Pembela Penista Agama” di sejumlah masjid di Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan. Terkait hal itu, DKM Masjid Al Jihad dalam siaran persnya memberikan klarifikasi atas spanduk yang dalam sepekan menjadi viral di media sosial.

“Kami selaku DKM Masjid Al jihad akan memberi klarifikasi mengenai spanduk di masjid kami yang menjadi viral di media sosial. Ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan,” ungkap Abu Hamzah dalam pernyataan persnya, Selasa (28/2).
Pertama, spanduk ini adalah bentuk rasa cinta kami dan terhadap mereka agar kembali kepada Al-qur’an dan tidak mengkufuri walau satu Ayat.

Kedua, inilah bentuk keprihatinan kami terhadap kondisi umat islam sekarang, Khususnya di Jakarta yang Aqidahnya mulai terkikis. Ini terbukti dengan adanya saudara kita yg mengaku beragama Islam, tapi memberikan loyalitasnya kepada Penista Agama yang jelas telah menistakan Al quran. Perbuatan tersebut sangat di larang dalam Islam sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. An-Nisa’: Ayat 140.

“Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di Neraka Jahanam.”

Maka DKM Masjid Al Jihad merasa wajib memberikan peringatan kepada mereka yang mengaku muslim, tapi masih membela dan mendukung penista Al Qur’an, penghina ulama sebagaimana Allah SWT berfirman.”

“Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan sholat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah: Ayat 84)

“Kami meyakini bahwa hukum mensholatkan jenazah adalah fardhu kifayah, jadi apabila jamaah dan pengurus masjid kami tidak mensholatkan pendukung dan pembela Penista agama, maka silahkan cari masjid lain yang mau mensholatkan jenazah pembela & pendukung penista agama.”

Inilah yang menjadi alasan DKM Masjid Al Jihad dan sejumlah masjid yang ada di Kecamatan Setia Budi Jakarta Selatan membuat spanduk tersebut.

“Kami menyebutnya sebagai sarana dakwah untuk mengingatkan kaum muslimin di sekitar Masjid Al-jihad kelurahan Karet. Semoga Allah Swt senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita semua, serta memberikan ke istiqomahan kepada kita untuk senantiasa berjuang di jalan Allah Swt.” [pmc]

Rupanya Ini Yang Bikin Ahok dan Tim Hukumnya Pucat Pasi Menghadapi Habib Rizieq di Persidangan



Dakwah Media - Habib Rizieq Shihab menjadi saksi ahli dalam sidang ke-12 kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki T Purnama (Ahok), Selasa (28/2/2017).

Habib Rizieq sebagai saksi ahli agama ditunjuk langsung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pihak Ahok sempat menolak ditunjuknya Habib Rizieq sebagai saksi ahli, namun hakim menolak keberatan kubu Ahok.

Apa pasal?

Rupanya ini yang bikin Ahok dan tim hukumnya pucat pasi. Habib Rizieq bilang penista agama (seperti Ahok) mesti dihukum mati. Habib juga serahkan 2 alat bukti tambahan yakni video Al Jazeera wawancara Ahok yang menyatakan tidak menyesal dan video Ahok (disaksikan) Djarot olok-olok Surat Al Maidah 51 di Balai Kota.

HUKUM MATI

Saksi ahli agama dari JPU, Rizieq Shihab, mengatakan, penodaan agama, baik umat Islam maupun non-Islam, memiliki unsur hukum haram. Menurut dia, bila orang Islam melakukan penodaan agama, maka diminta bertaubat.

"Bila tak bertobat, maka harus dihukum mati melalui mahkamah yang menggunakan hukum Islam," kata Rizieq di lokasi persidangan dugaan penodaan agama, Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (28/2/2017).

Sementara itu, bila dilakukan oleh non-Muslim, itu termasuk penodaan agama dan bagian dari kafir harbi.

Habib Rizieq menjelaskan, kafir harbi merupakan orang kafir yang hidup di tengah umat Islam dan menistakan Islam.

"Hukum bagi orang ini juga kalau dia punya kekuatan harus diperangi, kalau dia warga negara harus diseret ke pengadilan untuk dihukum mati, hukum Islam atau bukan, adalah hukum mati," kata Habib Rizieq.

Selain itu, Rizieq mengatakan, meskipun yang bersangkutan sudah meminta maaf, proses hukum tetap berjalan
sehingga pelaku tidak mengulangi dan dilakukan oleh orang lain.

Link: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/28/12120601/penjelasan.rizieq.soal.hukuman.untuk.penoda.agama

Al-Maidah 51 Dalil Haramnya Pilih Pemimpin Kafir

Habib Rizieq Shihab yang menjadi saksi ahli agama Islam di kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki T Purnama (Ahok) itu membeberkan enam poin di mana letak penistaan agama dalam pidato Ahok di kepulauan Seribu.

Dia menegaskan, siapapun itu, kalau sudah mengubah-ubah ajaran agama Islam atau menghina prinsip dalam agama Islam sudah masuk dalam kategori penodaan agama. Lebih jauh, Habib Rizieq juga membeberkan arti kata Auliya.

Auliya, tambah Habib Rizieq, merupakan bentuk plural atau jamak yang berasal dari kata wali yang bermakna teman setia, orang kepercayaan, pelindung, penolong serta pemimpin. Sehingga dalam kitab tafsir kelima makna tadi kita jumpai.

"Para ahli tafsir klasik sepakat ayat tersebut (ayat surah Al Maidah) sah dijadikan dalil haramnya memimlih pemimpin kafir bagi umat Islam. Mereka boleh berbeda dalam tafsir auliya, tetapi tidak dalam hukumnya. Kenapa? Karena kalau jadi teman setia atau kepercayaan saja tidak boleh, apalagi jadi pemimpin," tegasnya.

Link: https://metro.sindonews.com/read/1183948/170/kesaksian-habib-rizieq-di-sidang-bikin-kubu-ahok-terdiam-1488258553

DUA ALAT BUKTI BARU

Ketua Dewan Pembina Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab menyerahkan dua alat bukti baru kepada majelis hakim kasus dugaan penodaan agama, dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Perlu saya sampaikan, hari ini saya menyampaikan kepada majelis hakim dua bukti rekaman tambahan. Yang pertama, rekaman dengan TV Al Jazeera yang menyatakan dia (Ahok) tidak menyesal, tidak kapok, tidak jera kalimat pidatonya di Pulau Seribu. Itu kami sampaikan ke majelis hakim," ucap Rizieq usai mengikuti persidangan di Kementan, Selasa (28/2/2017).

Yang kedua, lanjut Rizieq, rekaman dari rapat terdakwa di Pemrov DKI yang mengolok-golok Al Maidah, dengan mengatakan ingin membuat WIFI bernama Al Maidah dan berpassword KAFIR.

Link: http://www.teropongsenayan.com/58573-kasus-ahok-habib-rizieq-serahkan-dua-alat-bukti-baru-ke-hakim

[pii]

Polisi: Waspadai Laki-laki yang Beli Panci Jumlah Banyak



Dakwah Media - Setelah terjadinya ledakan bom panci yang dilakukan oleh Yayat Cahdiyat di Bandung, polisi meminta masyarakat waspada jika ada pria yang berbelanja panci atau rice cooker dalam jumlah yang banyak.

"Jadi kalau ada laki-laki beli panci atau rice cooker banyak-banyak, patut dicurigai. Coba ditanyakan, pedagang atau bukan," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (28/2/2017).
Hal itu dilakukan setelah polisi menyita sejumlah barang dari rumah kontrakan Yayat, yang diduga sisa dari perakitan bom panci.

"Ada panci cadangan 2, rice cooker 1, alat kabel, solder, gunting listrik, dan gulungan kabel, dan sebagainya tampaknya bagian dari sisa-sisa," jelas Boy.

Penggeledahan itu dilakukan di rumah kontrakan Yayat di Kampung Ciharashas, Desa Sirnagalih, Cianjur, pada Senin (27/2). Yayat diketahui sudah 6 bulan mengontrak rumah tersebut.

Sebagaimana diketahui, YC tewas dalam perjalanan ke rumah sakit setelah tertembak di bagian dada dalam penyergapan polisi di kantor Kelurahan Arjuna, Cicendo. Sebelum bersembunyi di kantor kelurahan, YC meledakkan bom panci berdaya ledak rendah yang berisi paku.

Tidak ada korban akibat ledakan. Tapi YC sempat dikejar warga, juga pelajar, yang kebetulan berada di Taman Pendawa. Namun warga 'balik badan' setelah YC mengeluarkan senjata tajam. YC juga berteriak meminta rekannya yang ditahan Densus 88 dibebaskan. [dc]

Allahuakbar, 657 Orang Berduyun-duyun Masuk Islam di Azzikra dan Gemuruh Takbir Air Mata



Dakwah Media - Pimpinan Majelis Az-Zikra Ustadz Muhammad Arifin Ilham mengungkapkan tentang jumlah mualaf yang bersyahadat melalui Majelis Az-Zikra Bogor yang terus bertambah.

“Hingga pertengahan Februari 2017 jumlahnya sudah mencapai 657 orang,” kata Ustadz Arifin, Senin (27/2/2017).
Mualaf yang mengucapkan syahadat pada 17 Februari 2017, kata dia, adalah Anna Veronica, 27 tahun. Wanita yang semula beragama Katholik itu bersyahadat di Masjid Islamic Centre Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Anna Veronica mengucapkan syahadat pada hari Jumat yang penuh berkah, seusai acara tausiyah zikir di Masjid Islamic Centre Balikpapan yang merupakan masjid terbesar di Kalimantan Timur,” ujar Arifin.

Anna, kata Ustadz Arifin, mengucapkan syahadat disaksikan dan disambut jamaah dengan gemuruh takbir dan air mata. “Alhamdulillah beliau pun sangat senang dengan nama Islam yang Abang berikan, yakni Fazia Hana yang bermakna wanita meraih sukses karena kelembutan hatinya, insyaAllah, aamiin,” tutur Arifin.

Sampai saat ini, lanjutnya, jumlah mualaf yang dibina oleh Majelis Az-Zikra sudah mencapai 657 orang. “InsyaAllah semakin banyak mualaf, semakin banyak yang diberi hidayah Allah. Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin,” ujar Arifin seperti dilansir Republika. [bdn]

Polisi akan Tangkap Penyebar Video Presiden Jokowi Salah Ucap La Hawla Wala Quwwata Illa Billah?



Dakwah Media - Saat ini beredar kabar aparat kepolisian akan menangkap penyebar video yang isinya Presiden Jokowi salah ucap La Hawla Wala Quwwata Illa Billah Pihak kepolisian akan terus memantau orang yang pertama kali menyebarkan pidato pembukaan Presiden Jokowi di Tanwir Muhammadiyah di Ambon beberapa waktu lalu.

“Kita akan menyelidiki dan orang yang pertama kali menyebarkan video tersebut, dan ada yang diedit,” kata sumber kepolisian yang tidak mau disebutkan namanya. Pembukaan pidato itu menuai sorotan karena jika didengar seksama, pelafalan la kalawakalakata ila bililah terdengar asing. Mungkin yang dimaksud adalah ucap La Hawla Wala Quwwata Illa Billah, yang memiliki arti ‘tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah’. [snc]

Tarif Listrik 900 VA Non Subsidi Naik Lagi Besok



Dakwah Media - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mencabut subsidi bagi Rumah Tangga Mampu golongan 900 VA yang tidak layak menerima subsidi. Proses verifikasi terus berlanjut, yang mana tujuannya, agar subsidi dapat disalurkan secara tepat sasaran.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman mengatakan, dengan pencabutan subsidi listrik untuk golongan tersebut, maka tarif listrik akan naik setiap dua bulan, sebagai diatur dalam peraturan pemerintah.

"Dicabut lagi subsidinya sebagian (Maret), tahap kedua, naiknya 30 persen," kata Jarman di Jakarta, Selasa 28 Februari 2017.

Ia mengatakan, kenaikan tersebut dilakukan sebagai langkah untuk memastikan subsidi listrik yang lebih tepat sasaran. Subsidi itu akan dialihkan melalui pemerataan pembangunan infrastruktur listrik di beberapa wilayah.

"Januari 30 persen (naik), Maret 30 persen, Juni 30 persen. Jadi, setiap dua bulan," ujar Jarman.
Jarman mengatakan, pihaknya melayani laporan, atau pengaduan bagi masyarakat yang merasa berhak mendapat subsidi. "Kalau ada yang komplain sudah ada lewat pengaduan, sebagian sedang diproses, mereka berhak sebagian sedang dicek," ujarnya.

Berdasarkan data PLN yang dihimpun VIVA.co.id sebelumnya, sejak kebijakan pencabutan subsidi untuk pelanggan 900 VA awal tahun, maka pada periode Januari hingga Februari 2017, kenaikan tarif listik non subsidi akan naik sebesar 35 persen dari sebelumnya menjadi Rp790 per kWh, atau sebulannya tagihan listrik mencapai rata-rata Rp100 ribu.

Sementara itu, pada bulan Maret hingga April 2017, kenaikan sebesar 38 persen dari sebelumnya menjadi Rp1.090 per kWh dengan rata-rata tagihan Rp137 ribu per bulan. Sedangkan mulai Mei, atau Juni, akan dinaikkan lagi sebesar 24 persen, atau menjadi Rp1.352 per kWh, artinya tarif listrik per bulan pada bulan itu mencapai Rp170 ribu.

Asumsi ini ditetapkan oleh PLN, dengan rata-rata konsumsi listrik R-1/900 VA untuk Rumah Tangga Mampu (RTM) per bulan dengan pemakaian rata-rata 126 kWh. [viva]

Telak! Ahli Hukum Pidana Ini "Telanjangi" Ahok



Dakwah Media - Ahli hukum pidana, Abdul Chair Ramadhan menilai dugaan kasus penodaan agama Islam oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tak lepas dari adanya motif terselubung.

"Tentang ungkapan perasaan (Ahok) di Kepulauan Seribu dan buku 'Mengubah Indonesia' sudah jelas ada motif," kata Abdul di persidangan Ahok, Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (28/2).
Dikatakannya, motif bukan sebagai unsur tindak pidana, melainkan memperjelas unsur kesalahan yang dilakukan dengan sengaja. Dia menambahkan, ada hubungan jelas antara motif dan sikap batin Ahok.

"Pertama agar umat Islam tidak percaya kewajiban memilih gubernur muslim. Kedua, agar umat Islam tidak percaya kepada siapa saja yang mengungkapkan (surat Al-Maidah ayat 51)," jelas anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat itu.

Selain Abdul, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab juga didapuk menjadi saksi ahli agama di sidang Ahok.

Dalam keterangannya, Rizieq juga memberikan kesaksian yang memberatkan Ahok dalam kasus pelecehan terhadap ulama dan Al Quran.

Terutama soal pidatonya yang menyinggung oknum yang menggunakan surat Al-Maidah 51 sebagai alat politik tidak memilih pemimpin non-muslim.

"Kalau kata umat Islam dibohongi, kalimat ini artinya, Alquran jadi alat kebohongan dan sumber kebohongan," kata Rizieq. [jpc]

JALAN BERLUBANG, BUAH KESALAHAN SISTEM?



Dakwah Media - Setelah mengikuti kajian (ahad, 26/2/2017), saya bertemu dengan salah satu peserta yang memperbaiki bamper mobil bagian depan yang patah. Dia bertutur disela-sela memperbaikinya, bahwa kerusakan mobilnya disebabkan oleh jalan yg berlubang. Kejadian itu membuat tanda tanya di benak, apakah sedalam itu lubang jalan? Siapa yang bertanggungjawab?.
     
Kemudian saya pulang melewati jalan babat-lamongan dengan berkendaraan sepeda motor. Sungguh terasa sakit dada ini, karena getaran sepeda yang melewati jalan berlubang-berlubang. Muncul tanda tanya di benak saya, kondisi jalan hampir merata berlubang-lubang, dan menunggu anggaran perbaikan jalan, salah siapa?

Jalan Berlubang Dibiarkan Terlalu Lama

Jika diperhatikan dengan seksama, kondisi jalan yang berlubang dibiarkan terlalu lama. Perbaikan jalan selesai, tetapi hanya bertahan sebentar, kemudian mulai rusak kembali. Hal ini disebabkan oleh:

1. Penerapan konsep trias politika dalam sistem demokrasi.
Konsep pembagian kekuasaan ala trias politika, kekuasaan terbagi menjadi tiga kekuasaan, yakni kekuasaan eksekutif (pemerintah), kekuasaan yudikatif (pengadilan), kekuasaan legeslatif (parlemen). Konsep ini menjadikan negara dikuasai oleh lembaga-lembaga yg saling bekerjasama. Bila parpol yang berkuasa di parlemen berbeda dengan parpol yang berkuasa di ekskutif, maka pembahasan program dan anggaran pemerintahan cukup alot dan membutuhkan waktu yang lebih lama.

2. Alur dan proses penyusunan anggaran yang terlalu rumit, panjang, dan waktu yg lama
Proses Penyusunan APBN Sejak disahkannya UU No.17/2003 tentang Keuangan Negara dan UU No.1/2004 tentang Perbendaharaan Negara, pengelolaan APBN mengalami perubahan dalam proses penganggaran, dari perencanaan hingga pelaksanaan anggaran. Berikut tahapan proses perencanaan dan penyusunan APBN.'

a. Tahap penyusunan APBN oleh pemerintah (ekskutif)
Pada tahap ini melalui 3 sub tahap, yakni 1)tahap penyusunan RAPBN, 2)rapat komisi dengan mitra kerja (departemen/lembaga), 3)finalisasi RAPBN.

b. Pengajuan, pembahasan, penetapan RAPBN menjadi APBN ke DPR (legislatif).
Pada tahap ini, ada aktifitas 3 sub tahap, yakni 1)pidato presiden sebagai pengantar RUU APBN dan Nota Keuangan, 2)membahas RAPBN baik antara menteri keuangan dan panitia anggaran DPR maupun antara komisi-komisi dan departemen/ lembaga teknis terkait, 3)penetapan RAPBN menjadi UU APBN memuat satuan anggaran sebagai bagian tidak terpisahkan dari UU tersebut. Satuan anggaran adalah dokumen anggaran yang menetapkan alokasi dana per departemen/lembaga, sektor, subsektor, program,dan proyek/kegiatan.

c. pelaksanaan APBN oleh ekskutif
Pada tahap ini, ada 2 aktifitas, yakni,

1)Departemen/lembaga mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL) kepada Departemen Keuangan dan Bappenas untuk kemudian dibahas menjadi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan diverifikasi sebelum proses pembayaran. Proses ini harus diselesaikan dari Oktober hingga Desember,
2) Presiden membuat Keputusan Presiden (Kepres) sebagai Pedoman Pelaksanaan APBN. Dalam melaksanakan pembayaran, kepala kantor/pimpinan proyek di masing-masing kementerian dan lembaga mengajukan Surat permintaan Pembayaran kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan Negara (KPPN).

d. Pengawasan APBN
Pengawasan Pada tahap ini, ada 2 aktifitas, yakni, 1)pelaksanaan APBN dilakukan oleh pengawas fungsional baik eksternal maupun internal pemerintah. 2) Sebelum berakhirnya tahun anggaran (sekitar bulan November), pemerintah melalui Menteri Keuangan membuat laporan pertanggung jawaban pelaksanaan APBN dan melaporkannya dalam bentuk Rancangan Perhitungan Anggaran Negara (RUU PAN) yang paling lambat dilakukan lima belas bulan setelah berakhirnya pelaksanaan APBN tahun anggaran yang bersangkutan. Laporan ini disusun atas dasar realisasi yang telah diaudit oleh Badan Pemeriksa keuangan (BPK). Apabila hasil pemeriksaaan perhitungan dan pertanggung jawaban pelaksanaan  yang dituangkan dalam RUU PAN disetujui oleh BPK, RUU PAN tersebut diajukan kepada DPR untuk mendapat pengesahan menjadi UU Perhitungan Anggaran Negara (UU PAN) tahun anggaran bersangkutan.
(http://tugastugasekonomi.blogspot.co.id/2015/05/bsgaimana-tahap-tahap-proses-penyusunan.html?m=1).

3. Waktu pelaksanaan perbaikan jalan, rata2 musim penghujan.
Mencermati alur tahapan-waktu pengajuan dan pembayaran anggaran, ditambah waktu petenderan proyek, maka pelaksanaan proyek (termasuk perbaikan jalan) pada bulan setelah desember (umumnya musim penghujan). Kekuatan aspal menurun, jika dalam kondisi hujan. Hal ini disebabkan adanya pengeroposan lapisan aspal oleh air, dimana air dapat mengurangi daya pengikat aspal. Sehingga jalan raya cenderung rusak atau muncul lubang saat musim hujan.

4. Hampir semua proyek jalan dikerjakan oleh rekanan pemerintah
Anggaran perbaikan jalan telah ditentukan oleh APBN. Sementara pelaksanaan perbaikan jalan tidak dikerjakan oleh pemerintah, tetapi oleh rekanan/pemborong yang menang melalui lelang tender. Hal ini berdampak pada pembangunan dan perbaikan jalan tidak sesuai dengan ketentuan, baik kualitas bahan, komposisi campuran bahan, pengerjaannya, dan rekanan juga ingin mendapatkan untung. Hal ini, sarat adanya korupsi, kecurangan, penyuapan yang berdampak jalan semakin cepat rusak.

5. Kelebihan beban kendaraan yang melintas
Bila jalan sudah ada lubang kecil , apabila lama kelamaan terkena beban truck yg berlebihan dan berjalan melintasinya, maka mengakibatkan lubang tersebut semakin besar. Mengapa ini terjadi? Padahal sudah ada penimbangan beban.

Islam Mengatasi Jalan Berlubang
   
Islam sebagai ideologi (mabda') dan kesempurnaannya yang berasal dari wahyu. Islam menjad lebih layak untuk mengatur kehidupan manusia dan menyelesaikan persoalan kehidupan manusia. Islam dalam mengatasi persoalan kerusakan dan lubang jalan, sebagai berikut:

1. Kepemimpinan dan kekuasaan dalam islam bersifat individual -tunggal (al-qiyadah  al-fardiyah) BUKAN kolektif (al-qiyadah al-jama'iyah), yakni hanya ditangan khalifah, 

artinya di dalam sistem pemerintahan islam-khilafah TIDAK ADA konsep trias politika (pembagian kekuasaan) yang diajarkan oleh montesque. Meski kekuasaan dalam pandangan  Islam di tangan umat, tetapi Islam juga tidak mengenal kedaulatan rakyat, karena kedaulatannya di tangan syariah. Karena itu, legislasi hu-kum tidak diserahkan kepada umat, tetapi diserahkan kepada syariah, sedangkan hak untuk mengadopsi hukum Islam hanya diserahkan kepada khalifah.

Dengan kekuasaan yang tunggal ditangan Khalifah, maka Khalifah:

  1. mudah untuk mengadopsi hukum Islam sebagai hukum Negara (Undang-undang Negara), walaupun Khalifah dibolehkan untuk meminta pendapat dari majelis syura (bukan MPR atau DPR). 
  2. Mudah dan cepat  dalam menyusun anggaran pendapatan dan belanja Khilafah (APBK), tanpa melaului alur yang rumit dan berliku-liku. Apalagi menunggu pengesahan lembaga lain.
  3. Mudah dan cepat dalam membelanjakan atau menggunakan anggaran Negara sesuai dengan kebutuhan dan pelauanan rakyat, sehingga tidak menunggu waktu atau jadwal pencairan.Oleh karena itu, dalam mengatasi jalan yang rusak atau jalan berlubang, maka Khalifah dapat dengan mudah dan cepat untuk menggunakan anggaran khilafah dalam memperbaiki jalan yang rusak atau jalan yang berlubang.


Sementara terkait kekhawatiran Khalifah itu otoriter, karena kekuaraan tunggal, maka Khilafah telah menyiap mekanisme khususu: yakni, a) Sistem khilafah dibangun dari ketaqwaan Individu, baik rakyat maupun khalifah atau lainnya. b) Kewajiban bagi rakyat atau kelompok/partai untuk melakukan aktifitas mengoreksi penguasa (muhasabah lil hukam). Sehingga bagi rakayat dan kelompok/partai yang mendiamkan kedhaliman penguasa atau bahkan mendukunya, maka berdosa. c) Diterapkan Syari’ah Islam secara kaffah, menyeluruh dalam semua lini kehidupan. d) adanya mahkamah madhalim yang khusus menangani kedhaliman penguasa terhadap rakyat. Apabila khalifah telah terbukti  di mahkamah madhalim melakukan kedhaliman , maka khalifah terancam dapat dima’zulkan (dipecat).

2. Islam mendorong setiap individu rakyat untuk ikut menjaga dan memperbaiki jalan yang rusak.  

Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah bersabda bahwa membuang kerikil/duri dari jalan umum adalah bagian dari iman dan bentuk lain dari sadaqah. “ Iman terdiri dari tujuh puluh cabang, paling utama adalah membaca kalimat laa ila ha illallah dan paling rendahnya menyingkikan gangguan dari jalan, dan malu merupakan bagian dari iman” (muttafaq’alaih)
Di hadits yang lain nabi bersabda “setiap bagian dari manusia terdapat sadaqah, kemudian nabi melanjutkan: menghilangkan bahaya dari jalan adalah sadaqah” (H.R. Bukhari Muslim).

3. Proyek perbaikan jalan dikerjakan oleh pemerintah bukan oleh rekanan/mitra kerja.

Hal ini berdampak pada tidak adanya pemotongan anggaran dan mencari keuntungan proyek. Hal ini berdampak pada pembangunan atau perbaikan  jalan sesuai dengan ketentuan anggaran. Manakala pemerintah membutuhkan tenaga lain, maka aqad nya ijarah, sehingga pemerintah menggaji tenaga.

4. Kepala Negara (Khalifah) /penguasa memiliki kepekaan, etos, perhatian serius dalam melayani kepentingan rakyat

Kepekaan dan perhatian khalifah terhadap pelayanan rakyat, lebih khusus tentang jalan yang berlubang  dapat diambil dari kisah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu tentang jalan berlubang di Irak. Amirul mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang terkenal tegas dan tegar dalam memimpin kaum muslimin tiba-tiba menangis, dan kelihatan sangat terpukul. Informasi salah seorang ajudannya tentang peristiwa yang terjadi di tanah Iraq telah membuatnya sedih dan gelisah. Seekor keledai tergelincir kakinya dan jatuh ke jurang akibat jalan yang dilewati rusak dan berlobang. Melihat kesedihan khlalifahnya, sang ajudan pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?” dengan nada serius dan wajah menahan marah Umar bin Khattab bekata: “Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”

Dalam redaksi lain yang pernah saya dapatkan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’.

Lalu, bagaimana dengan kondisi sekarang? Korban nyawa manusia sudah banyak gara-gara jalan berlubang. Pengendara yang berusaha menghindari jalan berlubang, malah terjatuh dan kemudian terlindas kendaraan yang melaju di belakangnya. Mengerikan. Jika Umar bin Khattab saja peduli dengan keledai yang jatuh gara-gara terperosok jalanan yang rusak, lalu mana tanggung jawab pemerintah yang tak peduli dengan nyawa manusia akibat jalan rusak dan berlubang yang lambat diperbaiki atau tak pernah diperbaiki (atau malah sering diperbaiki tetapi uangnya dikorupsi sehingga kualitas perbaikan jalan tak semestinya)?

Saatnya meninggalkan system Kapitalisme-Demokrasi, Sistem Sosialisme-Komunisme dan HANYA menerapkan Sistem Khilafah Islamiyah atas Manhaj Nabi Muhammad SAW. Wa Allahu a’lam bi Ash-Shawab.

Oleh: Fathur Rahman Alfaruq (Pengasuh Majelis Tsaqafah Islamiyah Brondong Lamongan)

Totalitas



Dakwah Media - Sering kita menemukan sebuah argumen logika, diantaranya “Semua agama akan mengatakan bahwa agamanya yang paling benar, maka semua agama itu pada dasarnya adalah benar”.Terkadang mereka juga mengibaratkan dengan sebuah analogi, “Jika ingin ke kota Surabaya, kita bisa berangkat dari arah malang dan juga dari arah jombang, keduannya sama akan sampai ke Surabaya. Begitu juga dengan agama, apapun agamanya akan sama sampai di Surga”. Begitu pernyataan – pernyataan jebakan kaum liberal yang seolah masuk akal tapi menyesatkan. Inilah pentingnya kita memahami aqidah islam, secara totalitas.

Mengenal Aqidah Islam

Akidah Islam terdiri dari iman kepada Allah, malaikat-Nya, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul-Nya, hari Kiamat dan iman terhadap qadla-qadar baik atau buruknya datang dari Allah Swt. Sedangkan makna Iman itu sendiri adalah tashdiq al-jazim (membenarkan sesuatu dengan pasti) yang sesuai dengan kenyataan, serta berdasarkan bukti dan dalil. Bersifat pasti berarti keyakinannya dengan sesuatu yang diimaninya tersebut secara totalitas tanpa ada keraguan sedikitpun. Seperti, Islam itu memang agama yang benarsih, tapi agam lain juga benarini namanya tidak pasti/masih ragu – ragu dalam ke Islamannya. Dalil-dalil akidah harus bersifat qath’iy dan tidak boleh bersifat dzanni (tidak pasti/dugaan).Akidah berupa kalimat syahadat (Laa ilaha illa Allah Muhammad ar-Rasulullah), harus dilakukan berdasarkan ilmu, keyakinan dan pembenaran.Tidak berdasarkan dugaan, apalagi bercandaan.Sebab, dugaan tidak menghasilkan ilmu dan keyakinan.

Ketika seseorang telah menyatakan diri beraqidah Islam maka harus memiliki hujjah/dalil baik dalil naqli ataupun dalil aqli atas keyakinannya.Bukan katanya dan katanya, apalagi karena kebetulan orang tuanya Islam maka diapun menjadi Islam, atau karena lingkungannya Islam diapun menjadi Islam.Keyakinan seperti diatas sangat lemah, sangat mudah terombang – ambing oleh keadaan, apalagi teracuni oleh pemikiran kaum liberal.Kita harus bisa membuktikan bahwa aqidah Islam yang kita yakini, merupakan satu – satunya aqidah yang benar.

Proses Pencarian Tuhan

Kisah Nabi Ibrahim tentang proses pencarian Tuhannya bisa kita ambil sebuah pelajaran. Nabi Ibrahipernah menanyakan kepada Orang Tuanya “Wahai Ibu dan Ayahku, Siapa yang telah menjadikan aku ini ?” jawab ayahnya, “Ayah dan Ibu yang menjadikan kamu, karena kamu lahir disebabkan oleh kami”. Kemudian Ibrahim bertanya lagi: “Dan Siapakah yang menjadikan Ayah dan Ibu?” Jawab Orang Tuanya, “Ya Kakek dan Nenekmu”. Demikian Tanya jawab seterusnya sampai ketitik puncak, Nabi Ibrahim menanyakan “Siapakah yang pertama menciptakan semua ini ?” maka orang tuanya terdiam tidak bisa menjawab, karena mereka tidak mengenal Tuhan. Orang – orang yang hidup di sekeliling Nabi Ibrahim ditanyai juga tetap tidak bisa menemukan jawaban. Akhirnya Nabi Ibrahim as menggunakan akal dan dan Pikirannya untuk mencari Tuhan pencipta seluruh jagad raya dan seisinya ini.

Firman Allah SWT, “Ketika hari telah malam, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang, dia berkata: Inilah Tuhanku, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelamdia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: Inilah Tuhanku, tetapi tatkala bintang itu terbenam dia berkata: Saya tidak berTuhan kepada yang terbenam.Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: Inilah Tuhanku. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat. Maka ketika siang hari, tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: Hai kaumku ! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.Sesungguhnya aku hanya berTuhan kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan ikhlas, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.”(TQS. Al An’am: 76-79).

Diatas Itulah sejarah singkat Nabi Ibrahim as dalam proses mencari Tuhan. Dengan proses berfikir, dengan memperhatikan alam sekitarnya. Inilah yang disebut penggalian aqidah berdasarkan metode aqliyah. Dalam hal ini, Imam Syafi’i berkata: “Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan pe-renungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma’rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indra dan ini merupakan suatu keharusan. Hal ini merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin.”

Sebagaimana juga dalam Firman Allah SWT, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda – tanda bagi orang – orang yang berakal”.(QS. Al Imron: 190). Dan masih banyak surat – surat yang lain, yang didalamnya Allah SWT menyebutkan tentang – tentang orang yang berakal dan memikirkan apa – apa yang telah Allah ciptakan, dari sini kita bisa melihat bahwa manusia dituntut Beriman melalui sebuah proses berfikir. Bukan karena kebetulan Orang Tua kita Islam, atau kebetulan tempat tinggal kita Islam, alias ikut – ikutan.

Mengokohkan Keimanan

Ibarat sebuah bangunan aqidah Islam adalah pondasinya.Kuat dan tidaknya sebuah bangunan, diterpa angin, petir ataupun gempa tergantung pondasinya. Begitu juga dengan keIslaman akan sangat bergantung pada kuatnya aqidah Islamnya. Aqidah/keimanan seseorang tidak terlihat tapi akan tercermin dalam pola pikir dan perilaku kesehariannya. Sehingga benar – benar kita harus berfikir dan bisa membuktikan adanya Allah SWT dan kebenaran petunjuk yang diberikan Allah SWT untuk menjadi pedoman hidup kita.

Mungkin sebagian diantara manusia ada yang mengingkari adanya Allah SWT, mereka menganggap bahwa kehidupan ini berasal dari materi oleh materi dan akan menjadi materi. Ini salah kaprah, dan sangat tidak benar. Orang badui yang terkenal sangat terbelakang pernah ditanya, “bagaiamana cara mereka membuktikan adanya Rabb ?” dengan sangat mudah orang badui menjawab “Kotoran unta menunjukkan adanya unta, sedangkan jejak kaki menunjukkan adanya orang yang berjalan.” Mereka sangat pandai dalam menggunakan akal dan fikirannya.Hal itu menunjukan bahwa segala sesuatu ini tidak ada dengan sendirinya, semuanya tidak terjadi tiba – tiba, inilah bukti bahwa Sang Maha Pencipta itu ada. Jadi jangan kita menjadi seperti orang kafir qurays yang sangat bodoh dalam menggunakan pemikirannya, mereka terus bertanya tentang adanya Allah SWT Tapi ketika ditunjukan bukti – bukti tanda kekuasaan Allah mereka mengingkarinya.

Adanya langit, bumi dan segala isinya ini menjadi bukti bahwa Allah SWT Tuhan sang maha pencipta itu ada. Firman Allah SWT, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (TQS. Ar-Ruum; 22).

Akal manusia sangat terbatas untuk memikirkan tentang Dzat Allah SWT, sehingga cukup dengan segala ciptaanNya (Dalil Aqli) menjadi bukti untuk mengimani Allah SWT.Sedangkan sifat – sifat Allah yang tertuang dalam Al Qur’am hal itu menjadi dalil Naqli yang harus kita Imani pula.Allah SWT bersifat Azali dan tak terbatas ruang serta waktu sementara manusia, alam semesta dan kehidupan ini terbatas dan tidak azali. Sehingga Tuhan sang Maha Pencipta tidak akan pernah sama dengan wujud, bentuk dan rupa Makhluknya. Maka Allah SWT adalah satu – satunya Tuhan yang sangat benar dan wajib kita sembah.

Ketika seseorang sudah berikrar (bersyahadat) dengan kalimat tauhid Laa ilaha illa Allah Muhammad ar-Rasulullah dengan ilmu, pembenaran dan penuh keyakinan.Maka seorang tersebut telah sah menjadi bagian dari agama Islam (Muslimin/Muslimat).Maka hal ini yang menjadi tiket utama seorang tersebut layak masuk surganya Allah SWT.Sementara seorang yang seumur hidupnya tidak pernah menyatakan syahadat dan yang mengingkari syahadatnya setelah ke Islamannya maka tidak bisa masuk Surga.Ibaratk pendidikan di sebuah Universitas, seorang bisa layak dikatakan menjadi alumni dan mendapatkan Ijzah syaratnya adalah mendaftar. Sepandai apapun seorang mahasiswa, dan serajin apapun masuk kampus tapi jika sedari awal tidak pernah mendaftar dikampus tersebut maka tidak akan mendapatkan Ijazah. Begitu juga dalam ke Islaman ini, kita telah meyakini Islam merupakan satu – satunya agama yang benar, maka sebaik apapun orang selain Islam maka tidak bisa masuk surganya Allah SWT.

Jadi analogi kaum liberal yang mengatakan “Semua agama itu pada dasarnya adalah benar”dan“apapun agamanya akan sama sampai di Surga” hal itu menyesatkan, dan tidak benar.

Oleh : Miptakhul Hudha (Syabab HTI Jombang)

DARI KONSPIRASI KE KONSPIRASI…



Dakwah Media - Kesadaran Barat akan ancaman ideologi Islam dalam hal ini adalah Khilafah, dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan para pemimpin Barat sendiri. Presiden George W.  Bush (Jr) pada tahun 2006 pernah mengatakan, "This caluphate would be a totalitarian Islamic empire encompassing all current and former Muslims lands, stretching from Europe to North Africa, the Middle East, and Southeast Asia. " (Khilafah in I akan menjadi imperium Islam Yang totaliter yang akan melintasi negeri-negeri Muslim kini dan dulu,  membentang dari Eropa hingga Afrika Utara, Timur Tengah,  dan Asia Tenggara).  (www.theinevitablecaliphate.com)

Presiden Prancis Nicolas Sarkozy pada tahun 2007 juga pernah mengatakan bahwa tantangan dunia nomor satu adalah konfrontasi Islam dengan Barat. Sarkozy mengatakan,  tantangan itu berupa kelompok-kelompok seperti Al-Qaeda,  yang hendak merestorasi kembali Khilafah, yang menolak modernitas dan keberagaman (diversity). (www.khilafah.com).

Barat sangat yakin bahwa Islam dan Khilafah akan kembali tegak. Dan mereka sadar,  bila hal itu benar-benar terjadi dan umat Islam dunia berhasil dihimpun dalam satu kepemimpinan,  maka segala kepentingan mereka akan hancur. Kekhawatiran inilah yang membuat Barat secara membabi buta melakukan serangan ke dunia Islam. Baik itu dilakukan secara soft dengan membuat berbagai konspirasi-konspirasi busuk ataupun secara  hard dengan kekuatan fisik langsung sebagaimana yang terjadi di Afghanistan di awal abad 21 yang lalu dan di Suriah sejak tahun 2011 yang lalu sampai hari ini.

Bahkan Menlu Suriah Walid Al Mualim pernah menyatakan,  "Kita tahu,  orang-orang yang sedang menunggu-nunggu di Suriah dan menuntut tegaknya Negara Khilafah Islam tidak akan pernah berhenti di tapal batas Suriah. Maka dari itu, yang kami lakukan sebenarnya adalah membela Yordania,  Libanon dan Turki dengan memperkuat pasukan kami untuk menghadapi kelompok-kelompok teroris itu." (Alwaie,  edisi Maret 2014).

Untuk itulah Barat dan para penguasa komprador di negeri-negeri Muslim tidak akan membiarkan satu sel Khilafahpun tumbuh. Mereka berusaha memandulkan jiwa kaum Muslimin dari dakwah dan jihad. Sehingga segala konspirasipun dibuat untuk mematikan cita-cita umat Islam. Pertama,  Barat akan memelihara Timur Tengah untuk terus bergejolak, kenapa?  Karena umat Islam di Timur Tengah sangat dekat dengan sejarah tegaknya Khilafah, sehingga dengan selalu membuat kawasan tersebut bergejolak maka umat Islam akan disibukkan dengan berbagai konflik sehingga kebangkitan tidak akan terjadi. Dan lagi Barat akan terus memelihara Israel sebagai si pembuat onar dan untuk menjaga kepentingan Barat. Sebut saja konflik Perang Teluk di awal tahun 1990 an,  Afghanistan dengan Al-Qaeda pasca bom WTC tahun 2001, Penggempuran Irak,  pembajakan Arab Spring,  dan yang terakhir adalah perang Suriah dan kemunculan ISIS.

Kedua, War on Terorisme yang secara masif di gaungkan pasca bom WTC 2001. Mau tidak mau memaksa negeri-negeri Muslim larut dalam permainan ini. Yang jelas-jelas menjadikan Islam sebagai musuh bersama apalagi jika secara nyata ingin memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah. Ketiga,  Memelihara ketergantungan negeri-negeri Islam pada Barat. Dengan memberikan bantuan berupa hutang bagi negeri-negeri Islam maka para penguasa komprador akan selalu tunduk dengan keinginan Barat,  meskipun dalam hal ini nyawa rakyatnya menjadi taruhan. Mereka akan menjadi jongos yang selalu mentaati tuannya.

Yang terakhir adalah politik devide et impera alias adu domba. Barat membuat umat Islam terpecah-pecah. Di Arab umat Islam dibenturkan dengan konflik sunni-syiah. Di Indonesia umat Islam di kotak-kotak menjadi Islam tradisionalis, Islam Moderat dan Islam radikal atau garis keras. Harapannya umat Islam sulit untuk bersatu bahkan umat Islam akan saling jegal sehingga benang merah satas segala penderitaan umat tidak akan pernah bisa ditarik.

Namun sayangnya orang kafir Barat lupa bahwa diatas langit masih ada langit. Umat Islam terus akan berjuang sampai Khilafah yang kedua benar-benar tegak di muka bumi ini. Dan hal itu sudah sangat dekat.

Oleh: Endah Sulistiowati (Dir. Muslimah Voice) 

Serahkan Urusan Kepemimpinan Pada Ahlinya



Dakwah Media - Imam Syeikh Taqiyyudin an Nabhani : Jika negara tidak dibangun atas pemikiran yang mendasar (ideologi), negara itu akan gampang dihancurkan, tidak sulit untuk menghancurkan struktur bangunan negara itu dan mencabut kekuasaannya karena negara itu tidak dibangun atas dasar aqidah yang satu yang terpancar dari aqidah itu eksistensinya, maka tidak sulit  negara itu hancur.

Demokrasi berarti Kapitalisme. Kapitalisme sangat mendewakan pertumbuhan ekonomi, yang penjabarannya adalah pendapatan perkapita. Sesungguhnya sistem Ekonomi Barat berpengaruh terhadap sistem pemerintahan. Menjadikan pemerintahan tunduk terhadap pemilik modal, bahkan bisa disebut pemilik modal-lah (para kapitalis) yang menjadi penguasa sesungguhnya dalam negara yang terikat dengan ideologi kapitalisme. Jelas ini tatanan yang rusak.

Sungguh, kita hidup di zaman dimana pemerintahan dimana pengurusan umat diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, yaitu para penguasa pengkhianat, seperti yang kita dengar dan kita lihat sendiri tentang pengkhianatan mereka. Mereka tidak layak memimpin pemerintahan. Sebab, jaminan kaum para penjajahlah yang telah mengangkat mereka, dan menjadikan mereka berkuasa di tengah-tengah kaum Muslim. Politik kemunafikan telah menjadi aktivitas yang biasa dan membudaya, bahkan ia telah menjadi jalan normal (wajar dan biasa) ditempuh oleh mereka yang tamak dan rakus terhadap dunia, dan sebaliknya abai dengan akhirat.

Mereka telah menghina kaum Muslim dengan siksaan, dan mereka memerintah kaum Muslim dengan kekufuran yang nyata. Mereka menyerupai para penguasa dan menyerupai orang-orang biasa. Maka, melalui mereka amanah demi amanah disia-siakan; dan pengkhianatan demi pengkhianatan dilakukan. Mereka itu adalah orang-orang yang telah mengkhianati Allah, Rasulullah, dan kaum Muslim. Mereka telah mengkhianati amanah yang diberikan kepada mereka, sedang mereka sadar dan mengerti akan kewajibannya atas amanah itu. Mereka itu adalah orang-orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah; mereka mengubah dan menyelewengkan firman Allah dari tempat yang sebenarnya. Mereka itu adalah orang-orang yang lalai dan menyia-nyiakan amanah, yaitu amanah kekuasaan dan amanah ilmu.

Sesungguhnya harus ada perubahan yang nyata atas kondisi yang rusak ini. Allah SWT menyeru manusia dengan berbagai taklif (beban hukum), Allah SWT menjadikan manusia menjadi sasaran dari seruan (khitob) dan taklif (beban hukum). Allah SWT menurunkan syariat Islam kepada manusia, membangkitkan manusia, menghisab (meminta pertanggungjawaban) manusia, kemudian Allah SWT memasukkan manusia ke dalam Surga atau Neraka. Allah menjadikan manusia – bukan laki-laki bukan perempuan- sebagai objek dari berbagai taklif hukum.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan tersebut, kecuali  Allah mengharamkan surga untuk dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Terkait dengan hadits ini, Imam Fudhail bin Iyadh menuturkan, “Hadits ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah SWT untuk  mengurus urusan  kaum Muslim, baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan kepadanya maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah).  Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka.  Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah mengkhianati umat.” (Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).

Karena itu, Islam sangat mendorong agar para pemimpin selalu bersikap adil. Sayangnya, pemimpin adil tidak mungkin lahir dari rahim sistem demokrasi sekuler yang memang kufur. Sistem zalim ini hanya bisa menghasilkan para pemimpin zalim, tidak amanah dan jauh dari sifat adil. Pemimpin yang adil hanya mungkin lahir dari rahim sistem yang juga adil. Itulah sistem Islam yang diterapkan dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah). Mari kita wujudkan.

Oleh: Ainun Dawaun Nufus (aktivis di MHTI Kab. Kediri)

Edukasi Masyarakat? Benahi Sistem!



Dakwah Media - Menkominfo Rudiantara menyatakan perlunya edukasi bagi masyarakat dalam berinternet mengingat banyaknya konten yang beredar di media sosial saat ini tidak hanya berisi hal-hal yang positif tetapi juga negatif. Ia juga menyatakan konten yang berkembang saat ini sulit untuk disaring bila hanya mengandalkan pemerintah untuk melakukan hal itu. “Pemerintah masih belum bisa menyelesaikan masalah konten karena masyarakat sendiri yang membuat konten itu”, katanya sebagaimana dikutip dari laman Kementrian Kominfo.

Fakta Era Digital

Era digital saat ini telah memberikan warna berbeda pada dunia dibandingkan era sebelumnya. Komunikasi menjadi tanpa batas melalui kecanggihan teknologi, lewat hadirnya media sosial dengan segala macam bentuknya. Ditambah banjir informasi yang berseliweran menjadikan siapapun mudah mengaksesnya, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Juga rakyat biasa hingga pejabat negara. Dunia seolah menjadi desa global dimana jarak tak lagi jadi soal.

Namun di sisi lain, kehadiran teknologi informatika melalui media sosial menjadikan komunikasi justru tak lagi hangat. Yang dekat menjadi jauh, dan sebaliknya. Media sosial (medsos) menjadi tempat curhat favorit, baik anak-anak maupun para orang tua. Ditambah banyaknya generasi muda dengan kemudahan berinternet akhirnya menjadi pecandu medsos, bahkan berani mengakses konten berbau porno. Selain itu, medsos disalahgunakan untuk berinteraksi dengan lawan jenis yang tak jarang berujung pada interaksi yang tidak sehat, pacaran, perzinaan, penipuan, bahkan pembunuhan. Konsumsi berlebihan produk internet baik video youtube maupum medsos dengan segala bentuknya yang jauh dari nuansa ilmu dan kebaikan menjebak generasi muda dan masyarakat pada kerusakan mental kepribadian dan perilaku.

Tanggung Jawab Siapa?

Yang bertanggung jawab atas kondisi ini tentu saja negara yang notabene pengurus rakyat. Peran negara dalam menjaga moral generasi masyarakat harus dikembalikan. Permasalahan generasi tidak bisa diserahkan pada orang tua saja atau pihak lain tanpa menghadirkan peran negara. Optimalnya fungsi negara akan membuat peran keluarga semakin kuat dan ini akan menjadi jaminan untuk mencetak generasi yang tangguh.

Selanjutnya, bentuk edukasi negara terhadap masyarakat haruslah edukasi yang mentransfer kepribadian, bukan sekedar transfer informasi. Penyediaan konten yang aman dan baik adalah penting, namun tak kalah penting adalah membangun benteng kokoh dalam jiwa-jiwa generasi yang mampu menangkal serbuan konten merusak yang menyerbu saat mereka mengakses internet. Itulah kepribadian tangguh itu.

Persoalannya adalah bagaimana kepribadian itu bisa tumbuh dan bersemi dalam jiwa-jiwa generasi kita?

Pernyataan Pak Menteri bahwa pemerintah belum bisa menyelesaikan masalah konten karena masyarakat sendiri yang membuat konten itu adalah indikasi pesimistis sikap pemerintah selain juga defensif apologetik. Hal ini wajar mengingat karakter sistem hidup yang dianut saat ini yaitu demokrasi cenderung sekular lagi mengandung virus kebebasan. Tak heran, jika pemerintah linglung dalam menetapkan aturan. Tentu saja pemerintah tidak bisa membuat solusi sebab permasalahan yang dimaksud masih bias definisi. Makna porno sendiri masih multi tafsir sebab sandarannya adalah demokraai yang menjadi payung kebebasan berekspresi dan berperilaku. Akhirnya masalah konten porno ini menjadi kemelut tiada ujung.

Oleh sebab itu, negara sebagai pengatur urusan rakyat harus optimis untuk berbenah. Bahwa penyebab semua bencana kerusakan mental kepribadian masyarakat dalam berinternet adalah paham kebebasan yang menjadi pilar dalam sistem demokrasi yang selama ini diberlakukan. Maka sepantasnya pemerintah berbenah dari sistem yang rusak ini, segera!

Oleh: Pipit Agustin (MHTI Blitar)

Berhadapan dengan Habib Rizieq di Persidangan, Ahok Kikuk Menyimak, Muka Serius dan Topang Dagu



Dakwah Media - Terdakwa dugaan kasus penodaan agama Islam Basuki Tjahaja Purnama tak sedikit pun tersenyum saat bersidang Selasa (28/2) hari ini.

Apalagi saat Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mulai bersaksi di Auditorium Kementarian Pertanian, Jakarta Selatan yang digunakan Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Seperti diketahui, Rizieq menjadi saksi ahli agama yang direkomendasikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk bersaksi pada sidang kasus penodaan agama.

Selain tak ada senyum, Ahok terlihat lebih banyak memperhatikan Rizieq dan kesaksiannya dengan raut muka yang serius. Sesekali dia mengangkat kepalanya dan bertopang dagu.

Tak hanya itu, mantan Bupati Belitung Timur itu juga terlihat sesekali mengobrol dengan tim kuasa hukumnya seperti Humphrey Djemat dan Fifi Leyti Indra yang ada di sebelah kanan dan kirinya.

Raut mukanya semakin serius dan matanya menatap tajam ketika Rizieq menyatakan dugaan penodaan agama yang dilakukan Ahok merupakan tindakan yang terencana dan disengaja.

Begitu juga saat Rizieq menjelaskan hukum Islam mengenai hukuman bagi orang-orang yang melakukan penodaan agama. Mulai dari taubat hingga hukuman mati.

Tatapan Ahok tak lepas menatap ke arah Rizieq. Sementara Rizieq terlihat lebih banyak menatap ke arah majelis hakim dan jaksa penuntut umum (JPU). Rizieq terlihat jarang melihat ke arah Ahok dan penasehat hukumnya.

Hal itu terjadi hingga dia selesai memberi keterangan atau sekira pukul 11.30 WIB. Ahok masih terlihat serius melihat Rizieq sambil sesekali melihat jam dinding yang tertempel di bagian atas ruangan. Sementara Rizieq hanya menyalami majelis hakim dan anggota JPU.[tribunislam

Ahok Ingin Umat Islam Dalam Pilkada DKI Abaikan Perintah Al Qur’an



Dakwah Media - Pasca diterbitkannya buku berjudul ‘Mengubah Indonesia’ oleh Basuki Tjahaja Purnama, singgungan soal surat Al Maidah ayat 51 mulai menyeruak. Setidaknya, ada 2 motif yang jadi faktor penyebab Ahok menyinggung surat Al Maidah ayat 51.

Begitu pendapat ahli hukum pidana, Abdul Chair Ramadhan dalam persidangan kasus dugaan penodaan agama, dengan Ahok sebagai terdakwa.

“Pertama agar umat Islam tidak percaya kewajiban memilih gubernur muslim. Kedua, agar umat Islam tidak percaya kepada yang mengungkapkan (surat Al Maidah ayat 51),” ujar Chair di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (28/2).

Pernyataan tersebut menurut ahli pidana dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) ialah ungkapan perasaan Ahok, yang tak akan pernah bisa dibantah. Kemudian, terjadi akumulasi untuk Ahok secara pribadi.

“Tentang ungkapan perasaan di Kepulauan Seribu dan buku ‘Mengubah Indonesia’ sudah jelas (menunjukan motif),” katanya.

Seperti diketahui, Jaksa mendakwa Ahok telah menodai agama melalui pernyataan saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu, 27 September 2016 lalu. Ia disangkakan melanggar Pasal 156a huruf a KUHP atau Pasal 156 KUHP. [ac]

Habib Rizieq Sebut Ahok Konsisten Menodai Agama Islam, Ini Argumennya



Dakwah Media - Saksi ahli agama yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang ke-12 kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Rizieq Shihab mengatakan tindakan penodaan yang dilakukan oleh terdakwa sangat konsisten dan terus berulang. Kepada majelis hakim, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu menyebut sebelum pidato sosialisasi budi daya ikan kerapu di Pulau Pramuka, pada 27 September 2016, Ahok telah melakukan penodaan terhadap agama Islam.

"Tidak hanya dalam video pidato, ada barang bukti lain makanya saya bisa sampai ke kesimpulan tersebut," ujar Rizieq dalam ruang persidangan, auditorium Kementrian Pertanian, Jalan Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (28/2).

Rizieq memaparkan, pada 2008, pejawat tersebut menulis sebuah buku berjudul Merubah Indonesia. Dalam buku tersebut terdapat pembahasan tentang surah al-Maidah ayat 51 di mana banyak lawan politiknya yang berlindung di balik ayat suci. "Dan itu terjadi sebelum kasus ini," kata Rizieq.

Kemudian, kata dia, pada 30 Maret 2016, Ahok juga sempat kembali melontarkan kalimat yang menyinggung surah al-Maidah ayat 51. Menurut Ahok, surat tersebut keluar saat terjadinya perang uhud di zaman Nabi Muhammad SAW.

Lalu, kata Rizieq, sepekan sebelum kejadian di Kepulauan Seribu, Ahok juga pernah meminta lawan politiknya untuk tidak memakai surah al-Maidah ayat 51. Hal tersebut Ahok ungkapkan saat pidato internal di kantor Nasdem.

Rizieq mengatakan, setelah kejadian di Kepulauan Seribu, Ahok seperti tidak kapok karena pada 07 Oktober 2016, pejawat tersebut sempat memberikan klarifikasi di salah satu stasiun Tv swasta. Dalam klarifikasinya Ahok justru menyebut hanya mereka yang rasis dan pengecut menggunakan surat Almaidah sebagai alat politik.

"Dalam klarifikasi Ahok juga ada unsur penodaan. Dia singgung pengecut dan rasis. Ia juga bilang baru-baru ini memilih pemimpin berdasarkan agama langgar konstitusi. Ini jelas penghinaan. Itu semua diatur. Setiap warga negara berhak memilih pemimpin siapa pun," ujarnya.

"Lagi-lagi di sini dilihat yang bersangkutan konsisten dalam penodaan agama. Bahkan, saat wawancara di Aljazeera dia juga bilang nggak menyesal. Jadi nanti saya berikan bukti semuanya," kata Rizieq.

Rizieq mengatakan, meskipun mantan bupati Belitung Timur itu telah meminta maaf, penegakan hukum harus tetap berjalan. "Permintaan maaf itu bagus. Soal itu clear. Saat ini kesalahannya kepada yang punya Alquran. Yang punya Alquran kan Allah SWT. Kita manusia memang dirugikan. Kalau terhadap Allah, sudah ada hukumnya. Tidak ada hak satu manusia pun bebas dari penodaan agama," ujarnya. [rci]

Layakkah Mengistimewakan Mitra Sejati Imperialis AS!



Dakwah Media - Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini, menilai, kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Saud ke Indonesia pada 1-9 Maret yang akan datang merupakan kunjungan yang istimewa dan bersejarah. ''Kunjungan Raja Salman istimewa dan bersejarah karena dua hal. Pertama, Raja Salman adalah figur dihormati dunia khususnya bagi Muslim di seluruh dunia karena kedudukannya sebagai Khodimul Haromain atau penjaga dua kota suci Makkah dan Madinah. Dan kedua, ini adalah kunjungan resmi Raja Saudi sejak terakhir Raja Faisal di tahun 1970 atau 47 tahun silam,'' ucap Jazuli, dalam siaran persnya, Jumat (24/2). (http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/02/24/olvdb8377-ini-dua-hal-mengapa-kunjungan-raja-salman-istimewa-menurut-pks)

Astaghfirullah, Rezim Arab Saudi…

Raja Salman ketika Saudi membangun dan ekonomi tanpa tujuan politik ini menunjukkan tidak akan ada perubahan orientasi politik negara, meskipun mereka memiliki kekayaan melimpah. Posisinya kini sebagai penguasa sebuah negara monarki yang berkiblat ke Amerika, mengokohkan dirinya sebagai penjamin tiga kepentingan utama Amerika Serikat di Timur Tengah: Suplai minyak murah, menjaga eksistensi entitas Yahudi di Palestina, dan mencegah munculnya negara Khilafah yang benar-benar menerapkan syariah Islam. Amerika merealisasi kepentingan-kepentingannya di Arab Saudi, mengokohkan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah dan berikutnya mengontrol antek-anteknya di kawasan tersebut serta menghalangi pengaruh Inggris.

Rezim Saudi menjalin kemitraan dengan pemimpin konspirasi global terhadap Islam dan kaum Muslim, dengan keramahan, bahkan dalam setiap pertemuannya, rezim Saudi menegaskan bahwa dirinya akan meneruskan langkah-langkah pendahulunya. Negara-negara Teluk mengijinkan AS, menggunakan kekuasaannya dan meluaskan pengaruhnya. Padahal inilah ancaman nyata terhadap penduduk negara-negara Teluk itu sendiri. dengan menggunakan tangan Raja Saudi Salman, Amerika memberi tugas khusus membersihkan sisa antek-antek Inggris di Teluk, termasuk Qatar dan Yaman.

Saat kita mencermati media-media Saudi di era Raja Salman, tidak akan menemukan poros perubahan apapun dalam kepentingannya, sehari-hari hanya mengangkat isu-isu kebebasan, wanita, lembaga-lembaga pemerintahan, beasiswa, terorisme dan politik Islam, sama persis seperti di era rezim sebelumnya tanpa perubahan sedikitpun. Terhadap penderitaan umat di Gaza, Yaman, Suriah, Irak dan sekitar kawasan, Rezim Arab Saudi merupakan mitra sejati dalam setiap tragedi yang menimpa mereka, dengan mengobarkan permusuhan di negeri-negeri mereka, menutupi kejahatan-kejahatan yang dilakukan di negeri-negeri mereka, dan mendukung pembantaian dan penyiksaan terhadap mereka.

Padahal kewajiban utama Arab Saudi dan negeri-negeri Muslim lainnya sudah jelas, yaitu dengan mengirim militer untuk menolong kaum Muslim, mengusir setiap agresi atau intervensi kaum kafir di negeri-negeri kaum Muslim, dan berusaha menyatukan mereka dalam satu negara di bawah satu institusi yang hanya menjalankan hukum-hukum Allah.

Tidak ada keraguan bahwa Amerika bekerja dengan sekuat tenaga untuk memperluas pengaruh politiknya di timur tengah. Namun, Amerika tidak berhasil dalam memperluas pengaruh imperialismenya, jika tidak ada kolusi pengkhianat dari para penguasa kaum Muslim. Amerika telah mengontrol daratan dan lautan kita serta sumber-sumber kekuatan dan kekayaan kita di lintas benua dan samudera karena mendapatkan dukungan dari ruwaybidhah (para pemimpin bodoh) yang berusaha menjaga kursi kekuasaan dan kekayaan mereka serta melanggengkan pemerintahan keluarga mereka. Mereka tunduk kepada Amerika dan memenuhi tuntutan-tuntutan Amerika. Mereka takut kepada Amerika sebaliknya mereka tidak takut kepada Allah.

Lalu, apakah orang yang bungkam dan bahkan terlibat dalam pembantaian warga Gaza sekarang, dan yang cukup dengan mengutuk saja, serta mencegah pengiriman pasukan untuk pembebasan Palestina perlu dihormati? Apakah orang yang bungkam, bahkan terlibat dalam perusakan dan pembunuhan di Suriah perlu diistimewakan? Apakah orang yang menentang dan menghalangi tegaknya pemerintahan yang berdasarkan syariah, memerangi dan memenjara setiap pengemban dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam perlu disanjung? Apakah orang yang melayani Amerika dan Inggris, serta menyerahkan kekayaan umat Islam kepada mereka layak dilayani dengan segala keramahan?

AS, sejak PD 2, mendukung para otokrat dan diktator untuk memastikan agar kesatuan politik di antara penduduk tidak pernah terjadi. Sungguh menyedihkan, negara-negara kafir mampu mengontrol dan memiliki pengaruh kuat di negeri yang menghimpun kiblat kaum Muslimin, tempat turunnya wahyu kepada Rasulullah saw, menghimpun Dar Hijrah, pusat Daulah Islamiyah pertama.

Oleh: Umar Syarifudin (pengamat politik Internasional)

Menggugat Sekulerisasi Pendidikan di Indonesia



Dakwah Media - Sekularisme telah menyerang kurikulum pendidikan di negeri-negeri muslim, terutama Indonesia, dengan dalih modernisasi, memajukan pendidikan dan mengikuti perkembangan IPTEK. Semua ini tak lepas dari campur tangan barat untuk menghancurkan Islam lewat pendidikan.

Program-program sekulerisasi yang merasuk dan menyasar para pemuda Muslim seluruh dunia; sekularisasi kurikulum pendidikan dan lingkungan sekolah di dunia Muslim; regulasi madrasah; dan promosi besar-besaran industri periklanan, media, dan hiburan berkiblat ke Barat di negeri-negeri Muslim yang mengagung-agungkan budaya dan gaya hidup liberal sekaligus mengikis nilai-nilai Islam. Bahkan secara khusus, keyakinan-keyakinan Islam tertentu sedang ditampilkan secara buruk di mata anak-anak muda Muslim oleh pemerintah dan lembaga-lembaga sekuler dalam upaya untuk menggoyahkan kepercayaan diri akan Dien mereka.

Pada saat yang sama upaya sekulerisasi memaksa mereka untuk menerima reformasi Islam yang sesungguhnya malah sejalan dengan garis sekulerisme, atau memaksa mereka untuk meninggalkan cita-cita dan praktik keislaman tertentu dengan cara mengaitkan mereka dengan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Cita-cita ini termasuk tentang keyakinan bahwa Islam sebagai agama spiritual sekaligus politik; hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan perempuan; konsep persatuan umat global; dan penolakan terhadap demokrasi, sekularisme, dan nilai-nilai liberal; serta dukungan terhadap konsep Jihad dalam Islam; implementasi Syariah; dan penegakkan kembali negara Khilafah berdasarkan metode kenabian.

Tantangan kita saat ini harus kita hadapi dengan serius. Oleh karena itu, umat Islam harus melawan agenda global yang berupaya untuk melakukan sekulerisasi kepada pemuda Muslim, menghapus dampak yang sangat merugikan dari jalan hidup dan sistem liberal kapitalis pada generasi Muslim, dan akhirnya menghadirkan visi Islam untuk anak-anak muda kita dan bagaimana kita sebagai umat dapat menjadikan mereka memeluk Islam dengan teguh, menanamkan dengan keyakinan untuk membela Dien mereka dari berbagai serangan, dan mewujudkan kualitas untuk menjadi pelopor perubahan hakiki di dunia ini.

Kontrol dari publik sangat penting. Juga betapa penting dan strategisnya aktivitas mengoreksi penguasa sehinga harus terus dilakukan oleh umat Islam. Semua itu mestinya makin memotivasi umat untuk terus melakukan amar makruf nahi mungkar dan mengoreksi penguasa. Jika umat tidak melaksanakannya maka bencana akan menimpa umat seluruhnya, sebagaimana sabda Rasul SAW: “Tidak, Demi Allah, sungguh kalian harus memerintahkan yang makruf dan sungguh kalian melarang yang mungkar dan sungguh kalian menindak orang yang zalim dan sungguh kalian membelokkannya menuju kebenaran dan sungguh kalian menahannya dia di atas kebenaran, atau Allah membuat hati kalian saling membenci satu sama lain kemudian sungguh Dia melaknat kalian seperti Dia telah melaknat Bani Israil” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Amar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa dan menghentikan kemungkaran dan kezaliman itu pada dasarnya merupakan bentuk kasih sayang dan untuk membantu pihak yang zalim agar menghentikan tindakan zalimnya dan pihak yang dizalimi agar terbebas dari kezaliman.

Tujuannya, untuk menyelamatkan semuanya dari kehancuran. Pada hakikatnya, aktivitas itu merupakan aktivitas menyelamatkan masyarakat dari kebinasaan. Rasul saw melukiskan itu: “Perumpamaan orang yang menegakkan ketentuan Allah dan orang yang melanggarnya ibarat satu kaum yang sama-sama naik perahu, sebagian di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Mereka yang di bawah jika ingin mengambil air melewati orang yang diatas. Lalu mereka berkata, “andai kita lubangi tempat kita dan kita tidak menyusahkan orang diatas kita”. Maka jika mereka membiarkan mereka dan apa yang mereka inginkan itu maka niscaya mereka binasa seluruhnya dan jika mereka menindak mereka, niscaya mereka selamat dan selamatkan mereka seluruhnya” (HR al-Bukhari)

Oleh: Dian Mariyana (MHTIKediri)

Sebuah Catatan Tentang ‘Kebiasaan’



Dakwah Media - Dalam kehidupan ini terkadang kita terperangah oleh manusia-manusia yang memiliki satu kemampuan super, dimana kemampuannya itu terkadang ada diatas rata-rata. Sehingga kadang kala membuat kita kagum, terperangah merasa takjub atas kemampuannya.

Saat melihat seorang pesepak bola seperti lionel messi yang sangat jago dalam drible bola. Maka, kita seolah takjub dan kagum atasnya. Padahal harusnya kalo mau jujur harusnya kita jangan melihat dia sekarang. Tetapi, lihatlah dia jauh-jauh hari sebelum saat ini. Usaha keras yang ia lakukan bertahun-tahun lalu hingga ia bisa seperti sekarang. Kemudian Summy sang juara mobil jingkrak F1 berkali-kali, lalu Rossi yang juga berkali-kali menyabet gelar juara dunia moto GP. Kadang itu kita seolah merasa hebat mereka-mereka saat mereka berada dipuncak tetapi, kita melupakan satu hal. Bagaimana latihan, kerja keras dan pengkondisian mereka atas dirinya yang kemudian mendorongnya berusaha keras hingga bisa seperti sekarang ini. Dan itu semua bukan soal bakat atau kemampuan tapi semua soal habbit’s, soal kebiasaan. Bagaimana mereka menyesuaikan kondisinya agar bisa terbiasa dengan hal-hal yang tidak biasa dilakukan orang lain. Sehingga merekapun bisa berada di atas rata-rata orang pada umumnya.

Messi bisa merespon bola dengan cepat, mendriblingnya secara otomatis tanpa berpikir panjang sebab ia sudah terbiasa. Terbiasa berpikir, merespon dan berbuat hingga menghasilkan sesuatu gerakan yang otomatis. Dan semua itu tidak bisa di dapatkan secara instan tapi harus melalui ribuan atau bahkan jutaan kali latihan agar bisa menghasilkan sebuah respon yang otomatis. Dan begitulah manusia, sebab dirinya yang lemah dan serba kurang sehingga jika ia ingin menjadi sesuatu yang hebat dan “wow”. Ia harus melakukan jutaan kali latihan, membuat kebiasaan itu terus dan terus berulang hingga menjadi sesuatu yang otomatis.

Kebiasaan

Sebuah kebiasaan bisa menjadi sesuatu yang “wow, luar biasa baik!” tetapi, juga bisa menjadi sesuatu yang “wow, luar biasa buruk!”. Menjadi sesuatu yang membuat bangga luar biasa atau menjadi sesuatu yang sakit dan menyesakkan dada. Tergantung dengan kebiasaan apa yang ia lakukan. Kebiasaan baik atau kebiasaan buruk. Terbiasa taat atau terbiasa maksiat.

Ingat! Manusia berperilaku sesuai dengan pemahaman yang dimilikinya. Sehingga saat kita melihat perilaku seseorang buruk berarti ada yang salah dalam cara pandang atau cara berpikirnya. Saat cara berpikir salah itu sudah menjadi sebuah kebiasaan maka ini bisa sinyal bahaya bagi manusia. Misalkan; Kebiasaan membuang sampah ke sungai. Andaikan terpikirkan (oleh seseorang saat membuang sampah) dengan membuang sampah ke sungai berarti ia tidak usah bersusah-susah membakar sampah atau membuat ia merasa tidak usah capek-capek mencari TPA. Cukup dengan di buang ke sungai saja semua sudah beres. Maka, ini sinyal membuat bahaya. Bahaya jika kebiasaan ini berlanjut. Diturunkan ke anak cucunya. Lama-lama kebiasaan buruk ini menjadi bencana sebab bisa mendatangkan wabah penyakit dan banjir.

Ingat! Di ilmu pengetahuan alam. Jika taman tidak terbiasa di tanami bunga maka rumput liar akan tumbuh secara berkesinambungan. Agar taman tidak di tumbuhi rumput liar maka, harus ditanami bunga atau tanaman lain yang berguna. Lantas tanaman tersebut di rawat dan di jaga supaya rumput liar tak lagi tumbuh. Menjadi sinyal bahaya adalah saat seseorang tidak tahu dan tidak paham serta terbiasa mengikuti apapun sesuai arus sehingga saat di ujung jalan baru menyesal kemudian. Tidak mengenali diri, tidak paham potensi diri lantas merasa takjub dengan yang lain hingga mau saja di dekte apa saja oleh orang tersebut. Lantas menjadi kebiasaan maka, output dari ini akan menghasilkan sebuah kebiasaan buruk. Bahkan, cenderung otomatis berbuat buruk, jika memang terbiasa berbuat buruk.

Kenali Diri

Menjadi sesuatu yang penting adalah kita menngenali diri kita. Tahu segala potensi pada diri kita. Kemudian berfikir dengan cara yang benar sesuai apa yang telah di gariskan oleh Allah SWT untuk mewujudkan sebuah kebangkitan. Seperti Bangsa Arab saat awal mula kedatangan Islam. Mereka tidak mengerti tentang arti kehidupan, lantas mereka belajar tentang Islam. Sebab mereka sadar jika mereka memang tidak bisa. Kemudian menjadi menjadi orang-orang yang pertama masuk islam, pertama belajar islam. Lalu menjadi pertama yang menolong islam, pertama yang mendakwahkan dan menyebarkan islam. Hingga, kemudian kebiasaan ini berlanjut sampai detik ini. Mereka paham bahwa jika mereka ingin bangkit serta meninggalkan jahiliyah maka, mereka harus memulai kebiasaan baru. Kebiasaan menegakkan kalimat tauhid. Hingga kemudian mengantarkan mereka mengalahkan dua adidaya dunia saat itu, Persia dan Romawi. Padahal, sebelumnya Bangsa Arab bukanlah menjadi bangsa yang diperhitungkan. Tetapi pasca mereka mengenal islam dan menginternalisasikan islam dalam kehidupannya maka, merekapun menjadi matahari kedua yang menyinari dunia.

Dan semua berawal dari kebiasaan. Kebiasaan mengenal islam, mengajarkan islam, mendakwahkan islam dan menerapkan islam dalam semua aspek kehidupan. Akan tetapi, saat ini hal itu ternyata tidak tampak lagi. Sebab tatkala paham-paham semacam nasionalisme, sekulerisme, kapitalisme dan liberalisme dipaksakan di tengah-tengah kaum muslimin bangsa arab. Maka ini, membuat mereka memiliki kebiasaan baru. Kebiasaan mengabaikan saudara-saudaranya sebab ada sekat negara nasionalis. Kebiasaan berlomba-lomba akan kemewahan sebab teracuni paham kapitalisme. Serta sering berfoya-foya dan hidup hedonis sebab tercangkiti virus liberalism serta yang palin fatal adalah mengabaikan Allah SWT sebagai Rabbnya. Sebab menerapkan sistem sekuler dalam kehidupan yang menyebabkan mereka menolak aturan-aturan Allah dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dan parahnya ini sudah menjadi kebiasaan. Kebiasaan buruk yang harus segera di buang dan di hilangkan!

Kebiasaan Buruk Itu…

Kebiasaan individu yang terus berulang hingga memunculkan kemampuan di atas rata-rata tentu bisa membuat takjub semua orang. Apalagi jika kebiasaan yang baik itu di tularkan ke yang lain. Merembet sampai pada tataran mengelola urusan manusia. Tentu, akan mampu menghasilkan kehidupan yang nyaman andaikan para pemimpin suatu negeri memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik dan taat syariah. Namun, inilah Indonesia. Negeri muslim terbesar di dunia.

Terkadang masih saja di jumpai kebiasaan-kebiasaan buruk yang tak layak di miliki bangsa dengan mayoritas penduduknya yang muslim. Tentu kita paham jika Indonesia memiliki problematika yang kompleks. Tetapi, jika pada tataran pengelolaan Indonesia dengan kebiasaan-kebiasaan yang buruk maka akan mustahil jika Indonesia bisa bangkit menjadi negara adidaya. Apalagi jika kebiasaan buruk bermental terjajah sedemikian rupa melekat di benak rakyat. Sistemik, hingga membuat rakyat Indonesia secara otomatis (mohon maaf) menjadi orang-orang yang tampak seperti orang-orang bodoh. Seperti tikus yang mati di lumbung padi. Memiliki segala potensi untuk menjadikannya sebagai negara yang besar maju dan sejahterah tetapi sudah 70 tahun lebih. Sudah berkali-kali berganti pemimpin. Negeri ini belum juga mampu mewujudkan cita-cita para pejuang. Sebab mereka telah terbiasa berperilaku buruk. Diantara kebiasaan-kebiasaan buruk orang-orang Indonesia adalah:

  1. Terbiasa “Minta Bantuan Asing”. Seolah tidak mampu menyelesaikan problematika sendiri padahal ini adalah awal dari kehancuran. Ingat tidak ada makan siang gratis!
  2. Terbiasa “Ngutang” dengan dalih pembangunan. Padahal kebiasaan inilah yang menyebabkan banyak SDA kita jatuh ke tangan asing dan aseng
  3. Terbiasa “Gak Pede” dengan kemampuan pribadi. Sampai-sampai membuat wacana agar rektor perguruan Tinggi sampai pimpinan BUMNpun diwacanakan boleh di pimpin orang asing
  4. Terbiasa “Ngimpor”. Seolah menjadi ini alibi menutupi pintu ketidakmampuan meningkatkan produktivitas dalam negeri.
  5. Terbiasa “Menipu Rakyat” agar biasa menerima apa adanya tiap keadaan serba sulit. Rakyat di suruh agar terbiasa dengan banjir. Kemudian, menipu mereka dengan tidak menyebut banjir dengan istilah  “banjir” tapi dengan istilah “genangan air”
  6. Terbiasa “Melindungi seorang tersangka”. Tentu ini memiliki alasan kuat dibaliknya, terlebih jika menyangkut orang penting. Sampai-sampai membuat penista Alqur’an bebas berkeliaran
  7. Terbiasa “Mengalihkan Isu”. Ah, ini sudah menjadi makanan pokok kayaknya. Sampai-sampai rakyatpun ogah melihat berita yang tendensius tidak objektif. Yang memiliki tujuan tertentu, semisal pencitraan, dll.


Dan saya kira orang-orang Indonesia masih memiliki kebiasaan-kebiasaan yang terkadang membuat hina mereka. Lihat saja yang paling terbaru, Pilkada Serentak. Meski rakyat sudah mafhum hal terbesut adalah ajang hambur-hambur uang dan seringkali menghasilkan para pemimpin yang korupsi.Tetap saja, hal ini dilakukan. Seolah tak ada cara lain dalam mengangkat pemimpin yang amanah dan taat syariah; Kemudian mereka juga terbiasa tidak mengimani Alqur’an dengan sepenuh hati. Lihat saja pendidikan kita. Malah menghasilkan manusia-manusia yang (mohon maaf) munafik. Bagaimana bisa calon non muslim memenangkan pilkada putaran pertama di daerah mayoritas muslim? Kemudian, bagaimana bisa partai berbasis islam mendukung atau bahkan mencalonkan orang non muslim sebagai calon kepala daerah?. Tentu, ini sudah cukup untuk menjadi salah satu indikasi bukti bahwa orang-orang Indonesia terbiasa dengan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Allah SWT.

Merubah Kebiasaan

Cara mudah merubah kebiasaan buruk adalah dengan memulai kebiasaan baru yang baik. Kemudian, melakukannya secara berkala dan berulang sampai pada saat kebiasaan baik tersebut bisa muncul secara langsung, otomatis. Awalnya memang sulit, tapi jika memiliki niat kuat dan tekad yang kuat maka kebiasaan baru yang baik akan dengan mudah di wujudkan. Sama seperti saat beramal dengan selembar uang seratus ribuan. Di awal akan sulit, tetapi jika sering dilakukan. Maka, insyaallah akan mudah. Beramal dengan uang ratusan ribu bisa serasa membuang selembar sampah, meski aslinya berbeda. Ikhlas, tidak dipikirin setelahnya.

Demikian pula saat paham sekuler telah lama bercokol dibenak umat. Membuat umat menjadi lupa dengan kebiasaannya terikat dengan hukum syara’. Sehingga, ketika terjadi problematika ditengah mereka solusi yang munculpun terkadang tambal sulam dan malah cenderung membuat masalah baru, bahkan bertentangan dengan syariah.

Sudah menjadi kebiasaan umum di Indonesia jika Alqur’an hanya dipakai dalam sumpah jabatan saja. Padahal Alqur’an adalah pedoman hidup manusia. Kenapa kita tidak mau atau bahkan menolak penerapan syariah islam secara kaffah? Bukankah itu juga yang diperintahkan oleh Alqur’an?

Setiap Khutbah Jum’at, Khatib senantiasa berwasiat taqwa dimanapun kita berada. Tapi, nyatanya himbauan itu hanya sekedar menjadi kebiasaan atau rutinitas saat sholat jum’at saja. Buktinya, dalam mengelola SDA; Membuat perjanjian birateral antar negara;  Peradilan dan hukum; Mengatur pergaulan pria wanita; Muamalah ekonomi, dan sebagainya. Sampai pada saat mengelola negara-pun kita terbiasa untuk tidak taqwa dimana saja berada. Sebab kita masih suka taat kepada Allah untuk urusan yang dirasa enak-enak saja. Giliran yang menurut kita tidak enak atau bertentangan dengan nurani diabaikan atau bahkan di tentang. Syariah dan Khilafah yang sejatinya adalah ajaran islam di diskreditkan, di bully bahkan para pengembannya di intimidasi dan dimusuhi. Dan sikap seperti ini kemudian dibiasakan di masyarakat. Inikan berarti membiasakan dan membiarkan masyarakat memusuhi islam. Membiasakan masyarakat menjadi phobia terhadap islam. Oleh sebab itu, mari kita ubah kebiasaan buruk kita menjauhi islam dengan  mengkaji islam secara benar, mendakwahkannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Insyaallaj, ini akan mampu menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa kita lakukan.

Oleh: Aziz Rohman - Jombang