Radikalisme, Terorisme, Intoleransi!



Dakwah Media - Apa gambaran Anda dari tiga kata pada judul di atas? seperti duri dalam tenggorokan dan ingatan, tidak aneh imaji kata-kata ini menunjuk pada sekelompok orang Islam. Anda juga tidak kaget dalam berbagai pernyataan pemimpin Amerika dan para pemimpin Eropa lainnya jelas, membantah tuduhan terhadap Islam sebagai agama terorisme, tampaknya mereka berusaha mencitrakan dirinya tidak dalam rangka memusuhi Islam dan kaum Muslim. Ini pun tentu paradoks dengan kebijakan yang telah lama mereka lakukan, mengaitkan Islam dengan terorisme agar masyarakat takut terhadap Islam serta untuk membenarkan serangan militer mereka yang terus berulang terhadap kaum Muslim dan negeri-negeri mereka.

Anda juga tidak terkejut jika Barat selalu mengkaitkan dengan siapapun yang berafiliasi dengan ISIS ataupun yang memiliki konsep yang mirip dengannya. Mengklaim bahwa organisasi ISIS yang katanya punya kemampuan untuk menghancurkan bumi ini. Untuk itulah, tentara kaum koalisi Barat tetap berada di negeri-negeri kaum Muslim, dan merobek-robeknya dengan dalih untuk melindunginya dari organisasi negara ISIS. Maka dikampanyekan sosialisasi berbagai strategi kontra terorisme dengan embel-embel memerangi radikalisme, terorisme dan intoleransi yang mengancam kemajemukan dan demokrasi. ISIS menjadi dalih Amerika untuk melanggengkan penjajahannya di Afghanistan.

Bicara ISIS (kini banyak disebut media sebagai Daesh), para pengamat telah mencermati, (atau bisa jadi ternyata Anda berpikir hal yang sama) bahwa Amerikalah yang telah membantunya untuk tetap hidup dari waktu ke waktu, baik organisasi ini sadar atau tidak? Sudah berapa banyak pesawat-pesawat Amerika menjatuhkan senjata “dengan dalih keliru (sengaja)” untuk ISIS (Daesh)? Dan kebenaran yang tidak diragukan lagi adalah, bahwa Barat terutama Amerika adalah pihak yang paling pertama diuntungkan dari aksi-aksi organisasi siluman ini, yang sebagian besar kasus tidak tersentuh serangan Amerika, melainkan kaum Muslim yang tidak bersalah. Jadi, dalam hal ini, untuk apa Barat akan bekerja guna melenyapkannya?

Tujuan Barat di balik semua itu adalah menyudutkan siapapun yang menuntut Khilafah sebagai “komplotan penjagal” yang  kejam dan sadis, termasuk kepada non-muslim. Mereka mendistorsi Khilafah sebagai sistem yang menumpahkan darah, memperbudak kaum perempuan dan menjualnya di pasar budak, bahkan mereka juga membunuh sesama kaum Muslim yang tidak sependapat dengan mereka. Barat mengklaim kontra-terorismenya kepada ‘Daesh’ sebagai asas untuk melakukan intervensi di kawasan Timur Tengah dengan memukul semua penghalang kebijakannya, terutama mencegah tegaknya kembali Khilafah ‘ala minhajin nubuwah dengan mempertahankan propaganda dan aksi imperialismenya.

Yang jelas, para pemimpin negara-negara Barat dan para think tank-nya lebih menyadari dari kebanyakan kaum Muslim terkait pergeseran yang terjadi di tengah-tengah umat Islam bahwa kesadaran hidup di bawah naungan sistem Islam dalam format Khilafah Rosyidah, telah kuat di tengah-tengah kaum Muslim. Bagi AS dan Eropa, Khilafah adalah bahaya yang harus segera dihadapi sebelum ia menjadi kekuatan nyata. Khilafah akan menjadi bencana bagi pengaruh negara-negara Barat dan kepentingan mereka di negeri-negeri kaum Muslim. Oleh karena itu mereka berusaha untuk menipu kaum Muslim, bahwa perang itu tidak untuk melawan Islam, melainkan melawan mereka yang mendistorsi citra Islam. Ini sebagai alarm berbunyi nyaring kesadaran Barat tentang besarnya pergeseran yang terjadi di antara kaum Muslim terhadap Islam.

Pusat-pusat penelitian di Barat memberikan model-model Barat yang dibungkus dengan baju Islam. Lalu mereka memberinya label Islam moderat yang menjadi kepanjangan tangan untuk menghadapi gagasan Khilafah. AS merekayasa dan menghantarkan gerakan-gerakan Islam moderat mencapai kekuasaan di banyak negara. Mereka memaksa umat Islam untuk berintegrasi dengan sistem Barat dan mencapnya sebagai teroris dan ancaman negara kalau tidak setia terhadap nilai-nilai Barat. Agen-agen Barat meganggap bahwa siapa saja yang beraktivitas untuk mendirikan negara Islam, maka ia tidak memiliki pemahaman tentang prinsip-prinsip agama Islam. Mereka terus menerus meramalkan akan terjadinya hal-hal terburuk, yang seolah-olah akan hidup di neraka ketika kelompok Islam menduduki kursi kekuasan. Sikap dan pernyataan ini menunjukkan secara meyakinkan akan ketakutan Barat dan para anteknya atas masa depan Islam yang bersinar di negeri-negeri Islam, yang akan mengakhiri Barat dan dominasinya. Oleh karena itu, mereka para pengkhianat umat terus mengulangi dan mengekor apa yang dikatakan AS.

Tantangan terbesarnya adalah kaum Muslim yang mukhlis, yang berjuang untuk menegakkan hukum Allah. Perubahan bergerak cepat di tengah-tengah umat menuju ide Khilafah Rosyidah telah membuat Barat menyadari taruhannya pada gerakan-gerakan boneka tersebut dipastikan gagal. Pluralisme yang diklaim akan menimbulkan harmonisasi di tengah masyarakat, justru gagal dipraktekkan negara Barat sendiri. Karena itu Barat kembali ke gaya lama, yaitu mengandalkan militer untuk memadamkan suara-suara yang menuntut perubahan secara mendasar.

Satu hal yang perlu Barat sadari, tindakan arogansi dan sewenang-wenang yng merek lkukn ats dunia Islam tersebut menjadi kartu terakhir mereka untuk bermain. Mereka akan jatuh oleh kekuatan terbesar dari semua (umat) dan jalan menuju Khilafah Rasyidah akan terbentang lebar, membuat umat Islam dapat menyebarkan khair (kebaikan) dan keadilan ke seluruh dunia yang menyandang beban kapitalisme.

“Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.” (TQS. Ar Rum: 4—5)

Oleh: Umar Syarifudin (pengamat politik Internasional)





Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »