Masa Depan Suriah Tidak ditentukan AS, Tapi Anda (Umat Islam)



Dakwah Media - "Assad tidak seharusnya memiliki masa depan untuk Suriah dengan tindakan yang ia telah lakukan dan kami sedang mempertimbangan respon yang tepat dengan melihat resolusi yang PBB berikan karena pelanggaran hukum internasional," ujar Tillerson seperti dilansir BBC, Jumat (7/4).

Assad, AS, Rusia

Assad dan para pendukung internasional konsisten melawan rakyat Suriah. Sejak itu pertanyaan sulit telah ditanyakan berulang kali, mengapa Amerika tidak campur tangan dalam konflik berdarah itu? Pemerintahan AS bahkan membuat garis merah yang tidak boleh dilanggar untuk meredakan kecaman internasional mengenai kelambanan AS di Suriah. Dan ketika garis merah itu dilanggar, Assad lolos dari hukuman karena menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri. Namun, meskipun terdapat catatan kejahatan Assad yang mengerikan, Amerika tanpa malu-malu tetap mendukung dia.

Di masa lalu, negara-negara seperti Amerika Somalia, Sudan, Irak, Libya, Yaman dan lain-lain menyerang didasarkan pada argumen yang sangat rapuh seperti intervensi kemanusiaan dan senjata pemusnah massal. Bahkan saat ini, Washington juga menggunakan dalih intervensi kemanusiaan di Sudan Selatan untuk mengerahkan pasukannya untuk memastikan mengalirnya minyak. Tapi di Suriah, baik logika intervensi kemanusiaan, ataupun penggunaan senjata kimia tidak berlaku seruan bagi AS untuk melakukan aksi militer. Mengapa Amerika enggan untuk campur tangan?

Amerika maupun Rusia yang putus asa untuk membunuh kaum Muslim, karena perlawanan umat makin kuat, sehingga mereka terus melanjutkan rencananya sesuai dengan solusi Amerika dalam kondisi tertatih-tatih. Anomali sikap dan taktik AS adalah manifestasi kegagalan demi kegagalan Amerika melalui agennya ketika menjalankan pesanan AS. Hal yang terlihat, Assad tidak lagi memiliki cukup pasukan untuk tetap menopangnya agar tetap berkuasa.

Mantan Duta Besar Amerika untuk Suriah, Ryan Cocker, Suriah berbeda. Dia mengatakan, “Saya kira kami membuat kesalahan tepat di awal dengan menganggap bahwa Suriah seperti Mesir, seperti Tunisia, seperti Libya. “Cerita bahwa Suriah agak berbeda benar-benar menggelikan. Serangan udara banyak dilakukan oleh negara Yahudi di Suriah, yang merusak pilar utama cerita ini bahwa pertahanan udara canggih Suriah adalah kendala utama bagi intervensi AS.

Faktor Islam

Dalam konteks Krisis Suriah, Barat masih menyakini bahwa Islam yang bertanggung jawab atas munculnya ekstremisme. Ini benar-benar kebencian dan kebodohan. ini merupakan bagian dari serangan ganas terhadap Islam dan pemeluknya, dengan sebutan lain kolot dan kaku, bahkan Islam disebutnya sebagai musuh pemikiran, ilmu pengetahuan dan kemajuan.

Benar, kaum Muslim menolak untuk meyakini keyakinan kufur Barat. Juga benar bahwa Islam tidak akan untuk mengubah konsep dan hukumnya supaya sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma Barat. Semua itu adalah fakta, tapi itu tidak menghasilkan para ekstrimis. Ini adalah fakta, tetapi hal ini tidak mengurangi dan mengecilkan kemampuan Islam, justru semakin menguatkan kebenaran Islam sebagai ideologi bagi manusia yang memiliki pemikiran, berupa konsep, tolok ukur, dan nilai-nilai yang menentukan karakteristik masyarakat Muslim, menyediakan untuk manusia segala yang dia butuhkan, serta mewujudkan cita-cita hidup sejahtera, damai, aman dan tenteram yang menjadi impian setiap manusia, dengan tetap menghargai akal pemberian Allah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya.

Kembali bicara Suriah, apakah Khilafah akan kembali ke Suriah atau tidak, satu hal yang pasti adalah pengaruh Amerika berkurang, karena negara itu harus semakin bergantung pada mantan lawan politiknya, yakni Rusia, dan negara yang terbuang di wilayah itu, yakni Iran, untuk menstabilkan kendali Amerika atas Suriah dan wilayah Syam.

Perjuangan Umat untuk mewujudkan kemenangan di Suriah telah memberikan nilai yang paling berharga dengan buah pahala dengan menikmati kemenangan dari Allah Swt. berdirinya Khilafah adalah bagian dari kemenangan itu, sebagai perwujudan kebenaran kabar dari Rasulullah Saw. yang memberi kabar gembira akan datangnya khilafah yang berjalan pada metode kenabian itu. Rakyat Suriah tidak menyerah, walau sudah dibasahi oleh darah para mujahidin yang syahid. Dengan pertolongan Allah para pengkhianat-pengkhianat yang menjadi kaki tangan Amerika akan kalah, dan bumi asy Syam tidak bisa dikotori oleh mereka.

Oleh: Umar Syarifudin (pengamat politik Internasional)


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »