Kronologi Lengkap Penyerangan Rumah Ketua FPI DKI



Dakwah Media - Penyerangan ini ditengarai buntut dari penggerebekan warga terhadap sebuah rumah di kawasan tersebut yang menjadi tempat pembagian sembako. Rumah tersebut adalah milik relawan pendukung Basuki T. Purnama-Djarot Saiful Hidayat dari kelompok NU, atau Rela-NU.

Saat dihubungi lewat telepon sesaat lalu, Habib Novel Bamukmin dari Lembaga Dakwa FPI yang juga Wakil Ketua Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) membenarkan insiden tersebut.

Dia lalu memforward tulisan "Kronologis peristiwa di Kramat Lontar" lewat aplikasi WA.

Berikut kronologinya.

Pukul 5 sore datang ke rumah kami (rumah Buya Majid/Ketua Tanfidz DPD FPI DKI) dua buah truk besar mengangkut tenda dan lain-lain. Karena memang kami tidak pesan tenda, maka kami tanyakan kepada orang tersebut. Mereka bilang, maaf salah alamat.

Ternyata mereka parkir tidak jauh dari rumah. Dan tenda tersebut dipesan oleh Saudari Ita, (Ketua Rela-NU DKI) yang beberapa waktu lalu mengadakan pengajian ternyata mendatangkan paslon nomor urut 2, Djarot, ke rumahnya. Saat itu warga menolak dan acara segera bubar.

Saudari Ita adalah putri dari ibu Hizbiyah (tokoh Fatayat NU).

Wargapun mulai curiga. Karena pernah kejadian tersebut di atas.

Akhirnya entah bagaimana Saudari Ita didatangi oleh perwakilan warga, Bang Japar (Gerakan Kebangkitan Jawara dan Pengacara (Bang Japar, red),  ACTA. Tapi si empunya rumah malah keluar sambil berteriak-teriak memaki tim ACTA, memprovokasi warga. Mereka merasa diawasi dan menuduh ACTA memfitnah mereka.

Hasil di lapangan warga mendapati tiga buah mikrolet yang diparkir untuk menjeput ibu-ibu dari acara pengajian yang diadakan oleh Timses nomor 2 di rumah bu Ani. Dari situ, ibu-ibu tersebut dibawa ke rumah Saudari Ita. Karena letaknya dekat.

Salah seorang ibu yang keluar dari rumah Saudari Ita berhasil kita rekam. Dengan membawa sebuah kantong plastik entah berisi apa. Menurutnya akan ada pembagian sembako setelah pengajian tapi tidak jadi disini. Mau dibagikan di GOR Senen sekaligus acara istighosah.

Dari dalam mikrolet warga menemukan sejumlah kotak makanan dan tumpukan sajadah yang msh baru sebagai barbuk.

Sehabis dimaki oleh Ibu Hisbiyah, pihak ACTA rencananya akan melaporkan hal ini ke Panwaslu. Ibu Hisbiyah selain memaki, juga mengancam akan melaporkan team ACTA ke Polres Jakarta Pusat.

Pantauan warga, Pak RW 07 (Bapak Murni) dan beberapa petugas kepolisian ada di dekat Jalan Sentiong. Tapi mereka diam saja dan ngobrol-ngobrol santai. Akhirnya tim ACTA dan wargapun membubarkan diri.

Jam 12 lewat Buya Majid baru pulang dari acara Isra Mi'raj di Poltangan, melihat banyak konsentrasi massa tak dikenal di sekitar Kramat. Tiba-tiba sekitar pukul 1 dini hari warga mendatangi rumah kami (Buya Majid) melapor bahwa ada konsentrasi massa berseragam Banser dan preman-preman bertampang Ambon di sekitar Kramat Raya. Warga sontak keluar dan menghalau mereka. Melihat warga kompak mereka mundur.  Tapi jumlah mereka kian banyak.

Kami pun tidak tinggal diam, saya segera menelpon laskar-laskar FPI. Banser dan preman-preman menuju rumah kami sambil berteriak, "mana kiai?" Sambil mengacungkan senjata tajam. "Mana Kiai? Keluar!" Mereka kembali merangsek masuk ke Jalan Kramat Lontar.

Di depan kantor KPJ (Komunitas Peduli Jakarta), mereka mulai memukuli orang-orang yang sedang duduk.  Di warung,  di jalan dan lain-lain. Tiga orang laskar yang sedang duduk memesan kopi jadi sasaran mereka. Begitu mereka kira-kira 10 meter dari rumah Buya Majid, sontak warga, laskar dan lain-lain berhadapan langsung. Sempat terjadi bentrok fisik dengan yang di barisan depan. Karena jumlah kami yang cukup banyak akhirnya mereka lari tunggang langgang.

Sementara kami melihat di gang ada beberapa wartawan sudah menunggu. Ada apa ini? Seperti sudah disetting. Tak ada satupun aparat yang datang. Padhaal letak Polres Jakpus cukup dekat dengan kediaman Buya Majid.

Setelah situasi mulai reda barulah Kapolres Jakpus datang ke lokasi. Dan meminta untuk tetap menahan diri. Situasi mulai kondusif dan Kapolres minta pada Buya agar warga, laskar dan lain-lain bubar. Padahal pantauan warga saat itu para preman masih ada di sekitar PMI Kramat dan daerah kawi-kawi. Hingga pagi ini situasi kembali kondusif.

Allah Maha Pelindung, Allah Maha Besar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Kramat Lontar Jakarta Pusat


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »