Kondisi Generasi: Antara Harapan dan Keprihatinan



Dakwah Media - Sungguh prihatin. Kasihan sekaligus  geram hati ini melihat pelajar di depan kelas  yang seharusnya  menjaga adab, justru tak ada rasa malu. Mereka dengan asyiknya ngobrol dan pegangan tangan, saling pukul manja, bahkan terkadang saling rangkul.  Tidak ada jarak lagi antara mereka, bahkan terkadang bisa mengalahkan kemesraan pasangan suami isteri di depan umum. Pemandangan semacam itu sudah biasa kita temui dimana-mana. Baik di lembaga pendidikan apalagi di tempat umum. Kondisi pelajar saat ini belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Kita juga prihatin terhadap maraknya seks bebas di kalangan remaja yang jumlahnya kian berlipatganda. Namun sejauh ini upaya yang dilakukan pemerintah untuk menangani persoalan seks bebas di kalangan remaja belum menampakkan hasil yang optimal. Terbukti dari terulangnya kasus-kasus seks bebas dengan pelaku remaja. Hal itu terjadi karena penanganan yang dilakukan tidak menyentuh akar persoalannya. Selama ini pemerintah hanya fokus pada pencegahan penyakit menular seksual (PMS), tapi bukan pada faktor-faktor yang mendorong munculnya perilaku seks bebas.

Ada beberapa sebab remaja di tanah air menjadi demikian permisif, serba boleh dalam pergaulan termasuk seks pranikah. Salah satu faktor utama adalah merosotnya nilai agama. Mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim. Akan tetapi keislaman yang marak di negeri ini lebih tampak sebatas ritual ibadah belaka. Termasuk di kalangan remaja. Akibatnya remaja muslim di tanah air menjelma menjadi generasi galau. Memperturutkan hawa nafsu termasuk nafsu syahwat.

Banyak orang tua yang sudah merasa puas bila anaknya melakukan shalat, bisa membaca al-Quran, dan menutup aurat. Akan tetapi orang tua dan masyarakat kurang peka dengan kemaksiatan lain seperti pacaran. Padahal aktifitas asusila, seperti meraba lawan jenis, berciuman hingga berzina sudah dianggap hal yang biasa dalam pacaran yang dilakukan para remaja.

Merosotnya pemahaman agama menyebabkan keimanan masyarakat juga semakin tipis. Tidak ada lagi perasaan takut pada remaja untuk melakukan perbuatan asusila. Orang tua juga tidak merasa berdosa membiarkan anaknya berpacaran, dan masyarakat juga tidak menganggapnya sebagai permasalahan. Padahal keimananlah yang bisa menjadi rem penahan seorang muslim dari berbagai kemaksiatan termasuk perzinaan.

Faktor  kemajuan teknologi yang tidak bisa terbendung lagi. Barat kapitalis menjadikan  teknologi sebagai senjata untuk merusak pelajar muslim. Terlebih bagi remaja yang tidak terbentengi oleh keimanan yang kuat. Sehingga mudah terjerumuskan pada kemaksiatan.  Kecanggihan teknologi bisa membawa manfaat tapi juga bisa menghancurkan ummat.

Pendidikan atau sekolah yg berbasis islami tak sanggup menjadi  benteng atau sebagai pencegah runtuhnya moral mereka. Visi misi  yang melangit hanya formalitas belaka, tapi pada kenyataannya yang terlaksana hanya yg cocok dengan kebutuhan jasmani sesaat. Tidak ada bedanya dengan sekolah barat yang kapitalis. Mereka lebih senang jika sukses dunia meski aqidah rapuh. Nilai agama yang seharusnya menjadi system yang mengatur kehidupan sehari hari, mereka abaikan. Agama dipisahkan dari kehidupan sehari hari. Agama hanyalah urusan pribadi semata, cukup waktu lahir, menikah dan mati saja. Itulah ciri Negara sekuler.

Bagaimana mungkin akan tercipta insan yg berakhlaqul karimah jika sistem islam masih dipisahkan dalam kehidupan. Mereka tidak dipahamkan akan kewajiban menjadi seorang muslim yg utuh/kaffah. Berbeda ketika sistem islam yang diterapkan. Islam yang merupakan system ciptaan sang pencipta, akan mengatur semua permasalahan hidup sesuai fitrah manusia.  Pendidikan islam akan menjadikan aqidah sebagai landasan utama bagi pelajar. Aqidah kuat maka pelajaran lain maupun tehnologi secanggih apapun tidak gampang bisa merusak mental generasi emas tersebut.

Itu semua akan terlaksana jika ada sebuah Negara yang peduli dan bertanggung jawab melaksanakannya, sehingga peran  orang tua,guru dan masyarakat akan maksimal. Generasipun akan menjadi manusia yang  bisa dihandalkan dan tidak menjadi beban bahkan sampah masyarakat. Untuk itu  mari  kita satukan pemikiran demi  masa depan dan akhirat generasi kita dengan  berjuang bersama menerapkan syari'at islam sebagai kunci kesuksesan hidup dalam bingkai khilafah ar rosyidah.

Oleh : Erna Agustin (Pemerhati Remaja)


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »