Khilafah, Hizbut Tahrir dan Tantangan



Dakwah Media - “publik makin paham, bahwa sejak berdirinya, Hizbut Tahrir konsisten menawarkan pemikiran politik Islam dengan argumentsi yang kuat, yang di dalamnya terlihat jalan untuk membebaskan umat dan dunia dari efek jahat penjajahan Barat. mengungkap berbagai solusi secara jernih dan cemerlang, serta tidak berpartisipasi dalam permainan kotor sistem kapitalisme dan turunannya yang berbahaya dan tidak mengendarai sistem yang korup saat ini, dalam upaya mewujudkan sistem Islam …” Ujar Umar Syarifudin, pengamat politik internasional.

Benar, seruan penegakan Daulah Khilafah Islamiyah semakin membahana di seantero negeri bahkan dunia. Tentu perkembangan ini tidak lantas menjadikan dakwah ini semakin mudah dan lancar, bahkan dengan bergulirnya waktu banyak sekali upaya-upaya untuk menghentikannya. Upaya-upaya itu kian berdatangan silih berganti dengan bermacam-macam bentuk dan bergantinya pemeran yang satu dengan yang lain. Tentu sutradara politik tetap itu-itu saja.

Penting untuk kita ketahui dan pahami bahwa dakwah khilafah itu muncul sebenarnya untuk menawarkan solusi terbaik dan fundamental atas problematika umat yang terjadi di negeri ini dan juga dunia. Problematika itu muncul akibat diterapkannya sistem kufur kapitalisme demokrasi di negeri-negeri kaum muslimin secara paksa. Penjajahan adalah suatu produk yang sangat jelas terlihat oleh kita yang dihasilkan dari sistem kapitalisme demokrasi. Selain itu, kemiskinan sistemik, konflik horisontal, liberalisasi pendidikan dan budaya, sekularisasi agama, pragmatisme politik, kehancuran generasi, dsb pun nyata-nyata terjadi sebagai imbas penerapan sistem kufur itu. Sungguh suatu fakta yang menyedihkan bagi umat islam.

Khilafah bukan sekedar sistem pemerintahan Islam, melainkan merupakan kekuatan penjaga akidah. Khilafah juga pengokoh kesatuan umat, pencegah separatisme, penjaga sumberdaya alam dari keserakahan kapitalis negara besar, pemelihara jiwa dan darah manusia dari imperialis yang haus darah. Khilafah adalah penerap syariah yang membebaskan manusia dari kegelapan, sekaligus penebar rahmat pada seluruh bangsa manusia. Namun, negara-negara kapitalis pimpinan Amerika Serikat (AS) tidak akan rela kezhalimannya dihentikan. Mereka pun melakukan propaganda terhadap Islam dan Khilafah sebagai kekuatannya.

Khilafah adalah sistem pemerintahan yang disukai oleh Allah bagi umat Islam, kewajibannya tidak bisa dihindari dan hal ini harus diupayakan untuk terus-menerus dilakukan. Kaum Muslim telah berada di bawah naungannya selama berabad-abad, khilafah benar-benar  menjadi pelindung bagi kaum muslimin. Sejak keruntuhan Khilafah pada tahun 1924 Masehi di tangan penjahat pada masa itu, Mustafa Kemal, umat Islam menjadi khilangan seorang gembala yang peduli bagi urusan mereka, yang melindungi Islam dan membela kaum muslim. Kita telah menjadi seperti anak yatim di sebuah pesta para penjahat, dan kebanggaan dan martabat umat tidak akan kembali hingga kembalinya Khilafah pada metode kenabian dan realisasi atas kabar gembira ini dari Rasulullah SAW.

Kini, umat Islam bergembira menyambut partai politik yang berupaya untuk memberikan tawaran solusi yang berasal dari nilai-nilai islam, yakni tawaran untuk mencampakkan kapitalisme demokrasi lalu menegakkan sistem khilafah. Hizbut Tahrir adalah partai politik Islam yang berupaya melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan menegakkan khilafah. Hizbut Tahrir berkesimpulan jika problematika umat itu muncul akibat diterapkannya sistem kufur dan dicampakkannya sistem pemerintahan dari Allah SWT, maka solusinya adalah mencampakkan sistem kufur dan menegakkan kembali sebuah sistem pemerintahan yang berasal dari Wahyu Allah yakni Khilafah. Ini merupakan suatu logika sederhana dan wajar.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun berganti tahun dakwah Hizbut Tahrir berkembang ke seluruh pelosok dunia hingga ke negeri ini. Di Indonesia pun sambutan dakwah semakin lama semakin menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Hanya saja, sebagaimana yang telah kami sebutkan bahwa bukan berarti denga adanya perkembangan ini lantas tak ada lagi hambatan dan rintangan, justru tantangan itu kian membesar.

Demi menghadang khilafah, beberapa langkah yang ditempuh AS, antara lain:

  1. AS menuduh kelompok Islam yang melawan peradaban kapitalisme yang menjajah dan menzhalimi umat Islam khususnya dan negara-negara dunia ketiga umumnya sebagai kelompok ekstrimis. Amerika mendorong agar kaum Muslim, khususnya penguasa dan tokoh masyarakat, untuk memusuhi kelompok-kelompok tersebut. Bahkan, Bush menegaskan bahwa musuh umat Islam adalah kelompok-kelompok Islam yang melawan penjajahan peradaban Barat, musuh itu bukan AS.
  2. AS mendudukkan bahwa Islam yang dikatakan ekstrim itu berasal dari Timur Tengah, bukan dari yang lain. Dari sini, Bush hendak mengatakan bahwa Islam tersebut harus ditolak karena bukan lahir dari lokal. Karenanya, dalam konteks Indonesia, yang tidak ’indonesiawi’, termasuk Khilafah, harus ditolak. Padahal, walisongo yang menyebarkan Islam di sini mayoritas adalah utusan Khilafah (lihat, Jejak Syariah dan Khilafah di Indonesia, hal. 12-15).
  3. AS mendorong para pemuka umat Islam agar lebih bersuara keras mengecam kelompok-kelompok radikal yang menyusup ke masjid-masjid, serta mengecam organisasi-organisasi yang mengatasnamakan Islam, mendukung dan membiayai aksi-aksi kekerasan. Dari sini dapat dimengerti bila kelak muncul pencekalan penggunaan masjid bagi organisasi Islam tertentu, tudingan tanpa dasar terkait rebutan masjid, dan suara lantang kecaman terhadap kelompok-kelompok Islam yang dianggap membahayakan kepentingan kapitalisme yang diusung AS.
  4. AS mempropagandakan Khilafah secara tidak berdasar, seperti tudingan penerapan Islam berdasar atas ideologi kebencian (padahal perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan) dan totaliter (padahal perlawanan terhadap kebiadaban dan hegemoni). Pihak yang tidak cermat, akan termakan oleh propaganda tersebut. Karenanya, umat Islam sejatinya berdialog tentang hakikat Khilafah, bukan menari diatas genderang AS.
  5. AS menggandeng tangan para penguasa untuk mencegah kembalinya Khilafah. AS mencapnya sebagai serangan terhadap peradaban kapitalisme. Padahal, Khilafah adalah perlawanan terhadap perilaku penjajahan dan kezhaliman kapitalisme pimpinan AS, lalu mewujudkan peradaban manusia yang modern dan beradab. Tidaklah mengherankan, bila para penguasa dunia Islam saat ini belum dapat menerima Khilafah sebagai solusi yang digali dari al-Quran dan as-Sunnah maka penyebabnya bukanlah ketidaksesuaian Khilafah bagi dunia Islam melainkan kuatnya tekanan AS terhadap mereka. Dan mereka pun terpedaya.

Selanjutnya, kami memohon kepada Allah SWT untuk meneguhkan langkah kami dalam perjuangan dakwah ini hingga pertolongan itu benar-benar datang dan nyata-nyata kami saksikan. Kami pun menyeru agar seluruh umat Islam segera menyatukan visi perjuangan menegakkan khilafah, sehingga kemuliaan itu akan mampu kita raih bersama-sama. Dan tak lupa kami berdoa untuk kehancuran sistem Kapitalisme demokrasi yang telah memperburuk kondisi.

Oleh: A. R. Zakarya 


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »