Demokrasi Sembako



Dakwah Media - Kresek berisi sembako telah mewarnai jagad politik negeri ini. Rakyat yang mudah terbeli tak dapat dipungkiri. Sembako menjadi primadona untuk menarik massa. Demokrasi dipenuhi dengan trik dan intrik yang mudah ditebak. Jadilah demokrasi politik di negeri ini diwarnai ‘demokrasi sembako’. Loe beri gua terima. Loe ngasih kenapa ditolak?

Harga mahal ‘suara tuhan’ dalam pencoblosan harus dibeli. Siapa bohir dan penyandang dana tak perlu dipikir. Yang penting suara bisa kembali dalam bilik-bilik penuh rahasia antara dia dan Sang Pencipta. Politik demokrasi akan senantiasa mencoreng wajahnya sendiri. Upaya jujur dalam kemenangan suatu kontestasi pemilihan ibaratkan dream don’t come true. Begitu pun merias demokrasi agar ideal dan sesuai dengan teorinya sama  saja dengan menenun, lalu kain tenun itu diurai kembali. Sia-sia.

Teori-teori keagungan demokrasi harus segera diakhiri. Jika tidak rakyat akan semakin masuk dalam permainan abu-abu pemburu kuasa. Rakyat akan senantiasa buta politik, karena tidak dididik dengan pendidikan politik yang benar. Demokrasi tak mampu mendorong rakyat untuk berpartisipasi aktif dalam politik. Hal ini dikarenakan ulah politisi dan pemburu kuasa yang menunjukan anomali dan jauhnya hati dengan rakyat yang  jadi pemilihnya.

Demokrasi sembako telah memberikan pelajaran berharga bahwa rakyat negeri ini masih mudah dibeli. Ideologi yang sahih tak ada di benak kepalanya. Rakyat ibaratkan buih yang terobang ambing di tengah badai politik. Kue kuasa yang secuil diperebutkan elit politik telah menegasikan rakyat yang seharusnya diurusi kehidupannya.

Demokrasi sembako, money politic, politisasi agama, penyebaran hoax dan fitnah, dan kecurangan lainnya akan senantiasa melekat dalam demokrasi. Mustahil menghilangkan penyakit itu jika rakyat tidak lagi memiliki alternatif politik yang sahih. Pun elite politik juga harus menyadari bahwa keyakinan demokrasi sebagai sistem terbaik harus dirubah. Inilah saatnya politik Islam tampil menggeser dominasi daya rusak demokrasi.

Oleh: Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »