Amelia Nasution Meninggal, Tak Ada Rasa Aman untuk Pengungkap Kebenaran di Era Jokowi



Dakwah Media - Di era Pemerintahan Joko Widodo, tidak ada lagi rasa aman untuk para pencari keadilan yang mengungkap kebenaran. Hal itu tercermin dari meninggalnya Amelia Nasution, siswi SMKN 3 Padang Sidempuan yang mengungkap adanya kecurangan pada pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2017.

Pendapat itu disampaikan pengamat politik Muhammad Huda kepada intelijen (13/04). “Di era Jokowi, orang bisa semaunya melakukan pelanggaran hukum karena tidak kepastian hukum. Kasus meninggalnya pembongkar UNBK Amelia Nasution membuktikan para pencari keadilan tidak mendapat rasa aman,” tegas Muhammad Huda.

Kata Huda, kondisi masyarakat merupakan cerminan dari prilaku dan kebijakan elit penguasa. “Kalau elitnya tidak menegakkan keadilan, maka yang di bawah akan berbuat sama, dan ini terjadi di masyarakat,” papar Huda.

Huda menegaskan, tidak adanya rasa keadilan karena aparat penegak hukum tidak tegas dan berpihak pada kelompok tertentu. “Harusnya penegak hukum netral dan menegakkan keadilan,” pungkas Huda.

Oknum guru di SMK Negeri 3 Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara telah mengintimidasi Amelia Nasution karena mengungkap kecurangan UNBK.

Ditengarai, akibat dari aksi bullying oknum guru tersebut menjadi penyebab Amelia meminum racun rumput. Amelia akhirnya meninggal dunia setelah sempat dirawat di RSUD Padang Sidempuan pada Senin (10/04).

Amelia sempat menuliskan status di akun Facebook: “Waktu USBN anak Ibu itu (E) sama kawan-kawannya dikasih kunci jawaban. Sedangkan yang lain tidak”. Akibatnya, Amelia dan dua temannya mendapat intimidasi dari oknum gurunya yakni, Ey, KS, dan FO.

Dalam dugaan intimidasi itu disertai kata-kata “Penjara aja orang itu selama empat tahun biar terus mampus”. Bahkan Amelia ditakuti harus membayar denda di pengadilan sekitar Rp 750 juta. [itj]


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »