Predator Pedofilia : Jahat dan Biadab!



Dakwah Media - Keamanan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi manusia. Tanpa rasa aman manusia akan sulit menjalani hidup. Keamanan adalah keadaan bebas dari bahaya (id.m.wikipedia.org)

Semakin banyaknya kasus terkait kejahatan seksual terhadap remaja dan anak-anak membuat masyarakat terutama para orang tua merasa was-was terhadap keamanan anak-anak dan anggota keluarga mereka. Apalagi sebagian besar pelaku kejahatan seksual adalah orang yang sudah mengenal korban bahkan memiliki hubungan darah.  Kasus kejahatan seksual juga sulit terungkap karena korban merasa membuka aib dan  terkendala bukti mengingat peristiwa tersebut jarang tertangkap langsung. Selain itu masyarakat enggan menjadi saksi karena tidak mau berurusan dengan hukum.

Catatan Komisis Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  menyebutkan, angka korban pelecehan seksual terhadap anak semakin tinggi setiap tahun. "Dari 2013 ke 2014 itu naiknya 100 persen, baik itu mereka yang jadi korban ataupun pelaku (www.kpai.go.id)

Maraknya kasus kejahatan seksual tidak lepas dari berbagai faktor seperti minimnya  peran keluarga terutama ibu dalam hal pendidikan anak. Ibu yang seharusnya menjadi pendidik pertama dan utama  lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah baik untuk membantu suami dalam mencari nafkah atau untuk eksistensi diri. Pendidikan anak diserahkan kepada sekolah padahal bekal yang dibutuhkan anak dalam mengarungi kehidupan berupa akidah yang kuat seharusnya ditanamkan oleh keluarga sedini mungkin. Kemudian peran masyarakat untuk saling mengingatkan ketika terjadi tindak kejahatan di masyarakat termasuk masalah penyelewengan perilaku di antara anggota masyarakat. Kepedulian masyarakat semakin terkikis dengan adanya sikap individualis dan hak asasi manusia (HAM).

Faktor lain atas sulitnya rasa aman dari kejahatan seksual adalah peran negara sebagai penentu kebijakan.  Maraknya konten-konten porno yang bisa diakses secara bebas dari kalangan anak-anak hingga orang tua, tayangan Televisi yang tidak mendidik dan mengandung unsur pornografi dan pornoaksi serta peredaran minuman keras dan narkotika yang semakin luas mempengaruhi semakin suburnya kejahatan seksual. Di samping  itu, hukuman atas pelaku kejahatan seksual juga tidak memberikan efek jera sehingga setelah menjalani hukuman, mereka bisa saja kembali melakukan kejahatan yang sama, siapa yang bisa menjamin mereka tidak akan melakukannya lagi? Semua ini tidak terjadi dengan sendirinya tetapi dipengaruhi oleh sistem demokrasi-sekuler yang diterapkan saat ini. Sistem yang mengagungkan kebebasan termasuk kebebasan pribadi sehingga setiap orang bisa melakukan  apa saja yang mereka inginkan tanpa memperhatikan halal dan haram. Padahal dalam Islam, kebebasan berpelilaku ini akan membuat manusia lebih rendah dari binatang.

"Dan sungguh, akan Kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah." (TQS. Al-A'raf [7]: 179).

Selayaknya sudah menjadi tanggung jawab bersama terutama  negara dalam menciptakan rasa aman bagi seluruh rakyat termasuk rasa aman dari kejahatan seksual.

Tetapi apakah mungkin tercipta rasa aman dalam sistem yang mengagungkan kebebasan? Hanya sistem yang berasal dari pencipta manusia,  Allah SWT yang akan memberikan jaminan rasa aman, yaitu sistem Kekhilafahan yang mengikuti metode kenabian. WalLahu a'lam.

Oleh: Ummu Khalish (MHTI Bima)


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »