Bangunlah Kawan-Kawan Mahasiswa!



Dakwah Media - Peran mahasiswa memiliki keterkaitan erat terhadap perubahan dinamisasi politik nasional. Memang sudah seharusnya mahasiswa berperan aktif sebagai kritik sosial ditengah-tengah kebijakan. Maka, perubahan politik itu tidak akan terjadi apabila mahasiswa meninggalkan khitah perjuangan tersebut.

Pada tahun 1966 awal mahasiswa melakukan penetrasi politik yang melahirkan gerakan angkatan 66 pada Orde Baru. Perlawanan pada tahun 1966 berlatar belakang ideologis dengan tujuan membrangus komunis di Indonesia. Peristiwa tersebut sebagai langkah awal Soeharto beserta antek-anteknya masuk melalui saham-saham mega proyek investasi. Isu yang mencuat adalah penanaman modal asing Jepang.

Aroma penjajahan gaya baru mulai terendus oleh mahasiswa. Sehingga terjadilah perlawanan pada tahun 1974 yang disebut sebagai peristiwa Malari 74. Kampus di Jakarta dan Bandung sebagai poros utama membakar gairah perlawanan mahasiswa. Dalam perlawanan ini melibatkan pertentangan elite militer antara Pangkopkamtib Jendral Soemitro dan Aspri/Wakil Bakin Meyjen Ali Moertopo.

Perlawanan atas kebijakan otoriter Soeharto terus memanas, hingga pada tahun 1978 yang melahirkan generasi mahasiswa Gema 77/78. Gerakan ini muncul berawal dari statemen politik Dewan Mahasiswa ITB yang tidak percaya terhadab pemerintahan Soeharto dan tidak akan memilih Soeharto untuk menjadi Presiden ketiga kalinya. Statemen tersebut membuat langkah gerak seluruh kampus-kampus penjuru negeri. Perlawanan tersebut membuat gerakan mahasiswa moral force bereinkarnasi menjadi gerakan politik mahasiswa. Sehingga terjadilah benturan antara tantara dengan mahasiswa karena dianggab telah melakukan tindakan subversib.

Pergolakan pemikiran yang senantiasa terjadi pada mahasiswa membuat Soeharto mengeluarkan kebijakan NKK/BKK untuk mengkebiri pergerakan mahasiswa. Media masa mulai dibredeli dengan membungkam melalui UU Pokok Pers Nomor 12 tahun 1982. UU ini menjelaskan bahwa isi pemberitaan media harus dikontrol oleh Departemen Penerangan. Organisasi wartawan harus memiliki izin dengan satu organisasi yang diresmikan pemerintah yaitu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia).

Pada tahun 1979 hingga gerakan 1980-an merupakan masa-masa sulit mahasiswa. Mereka tidak diberikan peluang untuk mengutarakan segala permasalahan di negeri ini. Berbagai kegiatan diskusi senyap karena kebijakan ancaman yang otoriter. Kondisi ini menyebabkan virus apatisme hinggab dipemikiran mahasiswa. Hingga munculah sebuah gagasan yang pada saat itu ramai dibacarakan mnegenai alternative perjuangan ideologis.

Arah pergerakan mahasiswa pada saat itu mengarah pada perjuangan radikal. Menggunakan ide perjuangan buruh sebagai landasan pergerakan. Pada awal 1980-an dunia mahasiswa dan perkampusan diramaikan dengan gagasan ide gerakan berhaluan kiri. Buku revolusioner kiri tersebar di kalangan mahasiswa. Perlawanan tersebut semakin mencuat ketika 1985 telah terjadi 78 kali aksi mogok para buruh, 1987 terjadi 37 aksi mogok buruh, 1989 terjadi 19 aksi mogok buruh, 1990 terjadi 61 kali aksi mogok buruh, 1992 terjadi 251 aksi mogok para buru, tahun 1993 terjadi 300 aksi mogok para buruh, dan yang paling mengerikan pada tahun 1994 mencapi 1030 aksi yang dilakukan para buruh.

Kondisi perekonomian yang semakin memarginalkan rakyat kecil menimbulkan efek gab ekonomi. Inilah latarbelakang para buruh bergerak utuk melakukan konfrontasi secara besar-besaran.

Ide-ide kiri mulai dianggab relavan oleh mayoritas mahasiswa. Sehingga mengubah arah pemikiran dan pergolakan terhadab kaum buruh. Kondis ini telah berhasil membuat kekawatiran pemerintah. Kebijakan NKK/BKK mulai goyah, hingga tahun 1990 pelaksanaan kebijakan ini secara resmi dicabut yang pada saat itu diresmikan oleh Kemendikbud Fuad Hasan.

Paska penghapusan kebijakan NKK/BKK aktivitas pergerakan mahasiswa mulai hidub kembali. Opini-opini mahasiswa mulai terbangun. Pada tahun 1992 banyak muncul organisasi-organisasi mahasiswa.

Puncak perlawanan dari serangkaian pergolakan terjadi ketika tahun 1998 dipicu karena krisi ekonomi yang melanda Indonesia, setelah jatuhnya nilai rupiah terhadab dolar, ditambah utang negara yang semakin membumbung tinggi menyababkan turbulensi ekonomi yang mendalam. Pada fase ini pergolakan mahasiswa semakin menjadi-jadi. Hal tersebut berimbas terhadab menurunnya tingkat kepercayaan rakyat terhadab pemerintah mulai menurun, sehingga memaksa Soeharto turun kasta dari jabatannya.

Paska orde baru menajdi tantangan bagi generasi mahasiswa era reformasi. Mulailah kita membuka mata untuk langkah pembaruan dengan mengawal arah pergerakan mahasiswa dengan bijak. Dihadapan kita sedang berhadabpan dengan sebuah sistem elit buatan orang-orang kapitalisme yang memarginalkan rakyat namun menyuburkan para kolomerat. Maka perlu kita mengambil langkah strategis untuk mengubah pradigma politik kapitalisme yang jelas-jelas gagal mengatur umat.

Pertama. Tugas besar kita adalah membangunkan singa-singa mahasiswa yang sedang tertidur dalam ketenangan paska orde baru. Inilah tantangan baru bagi para aktivis mahasiswa, lihatlah mayoritas para pemuda sekarang ini, mereka tidak menyadari bahwa pemikiran mereka diarahkan menuju pemikiran kapitalisme dan sekulerisme. Asas materi menjadi idola rebutan ribuan mahasiswa, sehingga membuat mereka sedikit-demi sedikit beranjak dari khitah mahasiswa sebagai arah gerakan politik. Inilah sebabnya banyak mahasiswa mengidab penyakit apatisme. Maka perlu mahasiswa kembali kearah kitah perjuangan, yatu sebagai geraka politik dan bukan semata gerakan moral force, dengan cara memahamkan mahasiswa terhadab fakta politik yang terjadi sekarang ini untuk membangun kesadaran

Kedua. Berporos dari sejarah seharusnya membuat kita sadar dan mengambil hikmah dari setiap perjuangan para pendahulu. Kita tidak ingin masuk dilubang biawak untuk kedua kalinya. Pertanyaan yang besar harus ada didalam benak setiap aktivis mahasiswa, paska berakhirnya orde baru dan masuknya masa reformasi apakah terjadi perubahan?.

Tentu kita tidak ingin perjuangan kita sia-sia, sebatas cabut rezim dan pasang rezim karena itu semua tidaklah membuahkan solusi yang tepat. Mahasiswa sudah saatnya mengambil jalan persatuan dengan mengambil asas pemikiran yang tepat dan meyeluruh Berbagai macam ideologi masuk menjadi pemahaman mahasiswa pendahulu kita, ideologi kapitlasime dan sosialisme membuktikan bahwa ideologi-ideologi tersebut tidak pernah menyelesaikan solusi. Maka langkah strategis yang tepat adalah mengambil ideologi yang tepat sebagai pijakan gerakan politik, ideologi itu adalah Islam. Islam mampu mengubah cara pandang terkait politik yang sebenar-benarnya, serta membrangus segala politik-politik kumuh ala kapitalisme dan memotong segala konsepsi politik demokrasi terpimpin ala sosialisme. Islam tidak membedakan antara orang kaya dengan orang miskin, mereka sama dihadapan hukum syariat.

Oleh : Taufik Setia Permana – (Aktivis Gema Pembebasan) 


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »