Ahok dan Potret Buram Kaum Intelektual Cebong



Dakwah Media -  Ahok, panggilan akrab Basuki Purnama Tjahja, namanya melambung dalam pusaran kehidupan publik Indonesia. Lambungan nama Ahok berjalan beriringan dengan beberapa ujaran yang keluar dari mulut Ahok.

Banyak sebab namannya Ahok melambung. Jika ditullis faktor penyebab lambungan Ahok, bisa dirilis dalam beberapa poin. Tapi cukuplah satu poin saja untuk dipatri dalam penyebab lambungan namanya: ujaran yang kasar.

Seorang pemimpin seperti Ahok, setidaknya harus mematuhi kaidah kepatuhan dan kepatutan. Patuh terhadap etika kehidupan sebagai pemimpin dan sebagai warga negara Indonesia dan patut terhadap cara dia berkomunikasi di area publik.

Kepatuhan dan kepatutan ini harus bersinergi dalam diri seorang pemimpin. Sinergi itu bersandar pada tutur kata dan laku lampah sehari-sehari seorang pemimpin, yang tugasnya mengayomi warga.

Tapi Ahok keluar dari rel kepatuhan dan kepatutan. Ujaran-ujaran yang disebar dari dalam diri Ahok, menuai banyak protes dan kecaman dari masyarakat, yang diwujudkan dalam berbagai bentuk aksi, yang dihadiri jutaan masyarakat dari seluruh pelosok Indonesia.

Apa yang bisa menggerakan jutaan masyarakat (umat Islam) hadir dalam satu gerakan Aksi Damai Umat Islam? Tak lain, perasaan dinistakan oleh sosok Ahok. Penistaan ini memang bagi sebagian orang, terutama kalangan yang pro Ahok, dan khususnya kaum intelektual cebong dianggap hanya trik untuk menjatuhkan Ahok dari kursi Gubernur DKI Jakarta. Benarkah? Tidak juga.

Kaum intelektual cebong berdalih bahwa surat Al Maidah ayat 51, yang diutarakan di Kepulauan Seribu, bukanlah bentuk ujaran kebencian. Berbagai dalih pun disodorkan. Mereka melakukan tafsir terhadap ayat 51 itu tak terkait dengan kata pemimpin. Mereka kemudian menyodorkan argumen lain bahwa dalam surat An-Nisaa ayat 139, kata ‘’auliyaa’’ yang dipersoalkan pada surat Al Maidah: 51, diterjemahkan sebagai ‘’teman-teman penolong”.

Inilah permainan kaum intelektual cebong. Mereka merasa paling punya kapasitas untuk melakukan tafsir karena bekal ilmu agama di pesantren dan pendidikan di luar negeri. Dan hal yang aneh, mereka melakukan kecaman terhadap para penafsir lain, di luar kubu mereka.

Dan sorak sorai pun dirayakan kaum intelektual cebong ketika hasil suara di Kepulauan Seribu yang menang Ahok. Mereka memberi simpulan, dengan kememangan suara Ahok di Kepuluan Seribu, artinya masyarakat Kepulauan Seribu, tidak merasa dinista oleh ucapan Ahok. Sungguh, argument yang amat lemah karena melihat perolehan suara dalam kaca mata yang amat skripturalis. Mereka tak membaca fenomena perolehan suara itu dalam konteks politk, yang di dalamnya, ada unsur uang, produksi dan political games.

Yang menggelikan dari uaran-uaran kaum intelektual cebong, adalah fenomena perolehan suara Ahok yang unggul dari dua kompetitor lain di TPS Habib Rizieq Syihab (HRS). Mereka, kaum intelektual cebong, tak memahami bagaimana political games dimainkan oleh kubu Ahok. Tak membaca penggiringan para pencoblos untuk menusuk di TPS HRS. Tak melihat populasi pencoblos di TPS HRS, mayoritas Cina dan Kristen. Mereka hanya melihat hasil. Sungguh, nalar kaum intelektual cebong sudah dibutakan.

Benih Pencitraan

Seorang calon kepala daerah harus mengemas dirinya menjadi publik figur dalam hitungan sekejap. Memproduksi brosur, spanduk, baliho serta membutuhkan penyebaran informasi di berbagi media. Saat bersinggungan dengan media inilah banyak fakta objektif sang calon yang dikubur.

Ketika seseorang calon kepala daerah bersinggungan dengan media, tentu orientasinya bagaimana persoalan sang calon bisa dikemas dengan baik. Kemasan-kemasan ini, kadang kala membutuhkan polesan pencitraan yang baik agar tampilan sang calon mendapatkan empati dari warga.

Kemasan-kemasan yang bersifat personal kadang menutup sisi gelap sang calon. Inilah kepentingan budaya populer. Inilah kepentingan industri, di mana dua elemen ini (budaya populer dan industri) merupakan satu tangga untuk menuju jenjang kekuasaan.

Ketika sang calon berhadapan dengan media, di sinilah persoalan lahir. Persoalan itu lebih mengarah pada sikap independen media dalam menyiarkan pemberitaan sang calon. Pada titik inilah, Ahok mampu memainkan peran sebagai sosok yang seolah-olah bersih, tanpa cela. Dengan dukungan Sembilan cukong Cina, Ahok bisa memainkan peran apa saja.

Ahok paham betul permainan seperti ini. Seperti kita tahu, dalam lingkup Pilkada 2017, produksi kekuasaan berjalan begitu massif. Orang-orang berebut menuju jenjang kekuasaan. Berlomba-lomba membangun pencitraan diri agar mampu menaruh simpati publik.

Pola pembangunan pencitraan diri inilah yang mau tak mau bersinergi dengan budaya populer. Bagaimana seorang calon kepala daerah bisa dikenal atau populer di mata warga dalam hitungan beberapa bulan. Pola populerisasi ini, tentu membutuhkan biaya, kapital, dan modal.

Ahok, mampu memainkan persoalan biaya, kapital dan modal. Dan Pilkada 2017 DKI Jakarta, ia ingin membuktikan bahwa dirinya masih layak menjadi Gubernur DKI Jakarta. Tapi yang terlupakan dalam diri Ahok, soal asas kepatuhan dan kepatutan sebagai pemimpin. Kata-kata anjing, tai dan maling keluar dari mulut Ahok. Apakah patut seorang pemimpin berkata amat kasar ke warganya?

Jadi bagi saya, persoalan Ahok bukan pada Cina dan Kristen tapi cara pada cara berujar yang amat kasar dan amat meresahkan warga. Dan untuk kaum intelektual cebong, pekerjaan intelektual itu mampu bersikap kritis terhadap realitas di luar dirinya. Kaum intelektual yang baik, mampu menjaga jarak dengan kekuasaan dan diharapkan mampu memberi masukan kritis atas berbagai penyimpangan yang beredar di wilayah birokrasi.

Terakhir saya teringaT ucapan Pierre Bourdieu…

Power of constituting the given through utterances, of making people see and believe, of confirming or transforming the vision of the world and, thereby, action of the world and thus the world itself…– Bourdieu: 1991; p. 170

“…..kuasa untuk mengubah dan menciptakan realitas, yakni mengubah dan menciptakannya sebaga sesuatu yang diakui, dikenali, dan juga sah, untuk membuat orang melihat dan percaya, untuk memperkuat atau mengubah cara pandang terhadap dunia dan bagaimana mengubah dunia itu sendiri.”

Penulis: Edy A. Effendi (Jurnalis Senior dan dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) [pii]


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »