ADA ADEGAN GAY, Film “Beauty and the Beast” yang DITOLAK KERAS di Malaysia, Bagaimana Indonesia?



Dakwah Media - Film daur ulang “Beauty and the Beast” (2017) yang sejak awal konsepnya memicu kontroversi, bahkan di negara asalnya, resmi beredar di seluruh dunia secara serentak.

Premiere (tayang perdana) film ini berlangsung secara serentak, Jumat, 17 Maret 2017.

Meski demikian, beberapa bioskop di beberapa negara memberi catatan batasan umur bagi para penontonnya.

Rusia dan India adalah negara-negara yang menolak mengkategorikan film ini sebagai tontonan anak-anak. Di India, rating U/A yang artinya bebas ditonton semua kalangan tetapi penonton di bawah usia 12 tahun harus didampingi orang tua.

Sementara, Russia, negara yang secara tegas menolak melegalkan hubungan sejenis, pernah berupaya menolak penayangan film ini. Meskipun akhirnya mempertimbangkan untuk tetap menayangkan dengan catatan usia minimal penonton adalah 16 tahun.

Namun, negara jiran Malaysia, tetap teguh dengan keputusan untuk melarang pemutaran film tersebut di bioskop-bioskop jika “adegan homoseksual” tidak disensor oleh Walt Disney.

Pihak Walt Disney sendiri menolak untuk melakukan sensor adegan film yang disutradarai Bill Condon, seorang gay, tersebut.

Walt Disney bahkan bersikukuh memilih menarik film itu dari seluruh bioskop di Malaysia, negeri berpenduduk mayoritas Muslim yang para ulamanya tegas dan solid menolak segala bentuk homoseksualitas.

“Film ini belum dan tidak akan disensor untuk Malaysia,” kata Disney dalam sebuah pernyataan yang dirilis New York Times .

Badan Sensor Malaysia memang pernah mengirimkan permintaan agar Walt Disney menggunting adegan gay tersebut, namun jawaban Walt Disney dibatas membuat pihak Malaysia berang dan memutuskan tidak akan mengubah ketetapan mereka tentang penayangan film "Beauty and The Beast".

“Keputusan masih sama,” tegas Ketua Badan Sensor Malaysia, Abdul Halim Abdul Hamid.

Sementara Singapura memberikan rating PG alias Bimbingan Orangtua untuk film yang baru pertama kalinya secara eksplisit menampilkan adegan homoseksualitas.

Meski Singapura merupakan negeri terbuka dan pluralis, namun Singapura tak pernah main-main dalam urusan sensor film. Tercatat, tahun lalu Singapura menggunting tajam adegan ciuman dua aktor laki-laki dalam film "Les Miserables”.
Sensor ini membuktikan bahwa meski bukan negara muslim, Singapura tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan norma sosial yang berlaku secara universal.

Anehnya, Indonesia, yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, justru tak berani bersikap setegas Malaysia. Film ini tetap tayang di sejumlah bioskop Tanah Air dengan klasifikasi usia 13+ dan tanpa sensor, mulai hari ini, Jumat, 17 Maret 2017.

Jika pemerintah Indonesia terlihat adem ayem menanggapi isu global mengenai LGBT dalam film yang semestinya ditayangkan untuk anak-anak, maka sekali lagi beban untuk untuk melindungi anak-anak ada di pundak orang tua.


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »