8 Kisah Humor Kiai Hasyim Muzadi Bikin Gerrr tapi Langsung Membuat Kita Diam Berpikir



Dakwah Media - KH Hasyim Muzadi hari ini, Kamis (16/3/2017), telah berpulang menuju sang khalik setelah sebelumnya menderita sakit beberapa hari di Rumah Sakit Lavalette Malang, Jawa Timur lalu mengembuskan nafas terakhir di kediamannya di Kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam Malang.

Kini jenazah Kiai Hasyim Muzadi sudah dibawa ke pemakaman di Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Jawa Barat.

KH Hasyim Muzadi memang terkenal dengan sosoknya yang khas ketika berbicara runut namun tidak meninggalkan identitasnya sebagai kiai NU yang seringkali diselingi humor-humor segar.

Dalam beberapa kesempatan berbicara di sejumlah forum Kiai alumni Pondok Gontor ini mampu memberi kesan di setiap jamaah yang mendengar ceramahnya.

Berikut sejumlah cerita humor yang dilontarkan Kiai Hasyim Muzadi dan membuat jamaah Gerrr lantas diam berpikir yang dihimpun Pojoksatu.id dari beberapa pertemuan.

KH Hasyim Muzadi hari ini, Kamis (16/3/2017), telah berpulang menuju sang khalik setelah sebelumnya menderita sakit beberapa hari di Rumah Sakit Lavalette Malang, Jawa Timur lalu mengembuskan nafas terakhir di kediamannya di Kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam Malang.

Kini jenazah Kiai Hasyim Muzadi sudah dibawa ke pemakaman di Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Jawa Barat.

KH Hasyim Muzadi memang terkenal dengan sosoknya yang khas ketika berbicara runut namun tidak meninggalkan identitasnya sebagai kiai NU yang seringkali diselingi humor-humor segar.

Dalam beberapa kesempatan berbicara di sejumlah forum Kiai alumni Pondok Gontor ini mampu memberi kesan di setiap jamaah yang mendengar ceramahnya.

Berikut sejumlah cerita humor yang dilontarkan Kiai Hasyim Muzadi dan membuat jamaah Gerrr lantas diam berpikir yang dihimpun Pojoksatu.id dari beberapa pertemuan.

Sebagian besar humor ini diambil dari ceramahnya Mantan Ketum PBNU itu saat menghadiri Haul Ke-90 Pondok Gontor tahun 2016 lalu.

1. Kisah Doktor takut istri

Kiai Hasyim bercerira tentang seorang temannya yang bertitel doktor namun bisa seketika tidak turun tingkat keilmuannya. Mulanya Kiai Hasyim bercerita soal banyak ilmu yang bermanfaat tapi juga banyak ilmu yang mubazir dikarenakan tidak bisa membedakan antara ilmu dan mas’uliyatul ilm (pertanggungjawaban ilmu).

Begini bceritanya:

“Saya punya teman doktor, wah kalau di universitas dia ditakuti karena killer, tapi kalau pulang dimarahi istrinya bisa bodoh mendadak,” ujar Kiai Hasyim langsung disambut tawa hadirin.

“Nah ternyata ini guyon tapi betulan. Ilmu yang di otak itu akan goncang ketika ada goncangan dalam hati seseorang,” kata Kiai Hasyim

2. Soal Qunut dan Tidak Solat

Kiai Hasyim bercerita saat ini seorang berilmu harus diuji keilmuannya di masyarakat karena masa di mana seorang menuntut ilmu atau belajar boleh jadi berubah dengan cepat dengan masa di mana penuntut ilmu mengaplikasikan ilmunya di masyarakat.

“Masyarakat adalah alat uji yang paling muktabar di dalam keilmuan, jangan marah-marah terhadap masyarkat karena ilmunya tidak dimengerti masyarakat,” kata Kiai Hasyim.

Ketika itu Kiai Hasyim masih mondok di Pondok Gontor. Beliau mengungkapkan,

“Masyarakat kita saat ini berbeda waktu sugengnya Trimurti (Tiga orang pendiri Pondok Gontor), waktu saya masih mondok di sini keadaan masyarakat itu sederhana. Masyarakat itu ada dua, kalau ndak NU ya Muhammadiyah. Ini mau besanan saja takut, takut tidak mendapat barokah dari masing-masing golongannya. Selisih sedikit saja ribut,”

“Masing-masing ribut, satu qunut (saat solat Subuh), satu tidak qunut. Padahal di kitabnya orang NU ada qunutnya, ada tidak qunutnya,”

“Alhamdulilah sekarang ini sudah tidak ribut, karena sudah tidak solat subuh,” Sontak saja jamaah langsung Gerrr.

3. Cerita Hari Raya Id

Dulu, kata Kiai Hasyim, beda hari raya itu berkelahi.

Padahal selisih NU dan Muhammadiyah itu beda tanggalnya bukan solatnya. “Kenapa tanggalnya gak sama? Ya ngitungnya gak sama,” kata Kiai Hasyim.

Kiai Hasyim bercerita ketika semasa masih menjabat Ketum PBNU di masa pemerintahan SBY. Ketika itu Ketum Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Kiai Hasyim dipanggil untuk bertemu Pak JK.

“Saya diundang sama Pak JK (Jusuf Kalla), beliau marah-marah, ini gimana nggak bisa jadi satu NU dan MUhammadiyah hari rayanya. Repot masyarakat kalo begini,” cerita Kiai Hasyim.

“Saya tanya, caranya bagaimana, pak?” kata Kiai Hasyim.

“Ya, kompromi lah,” jawab JK. “Bagaimana kalau Muhammadiyah turun satu derajat, NU naik sedikit,”

“Oh kalo gitu langsung cash and carry saja, pak..” kata Kiai Hasyim tertawa mendengar pandangan JK. “Ini fiqhnya pedagangnya ya gini ini,” guyon Kiai Hasyim.

“Saya bilang ndak bisa begitu pak,” cerita Kiai Hasyim.

“Lha terus yang bisa bagaimana?” tanya Pak JK.

“Yang bisa itu (buat) pengertian seluruh umat Islam bahwa perbedaan (Hari Raya) itu terbuka dan memang ada. Yang kedua, ini tidak mengada-ada karena solatnya sama, tanggalnya tidak sama. Wong hari di sini dengan di Amerika saja tidak sama kok.,” ujar Kiai Hasyim lagi.

4. Kiai Hasyim Sindir Din Syamsuddin

“Saya sama Pak Din sering diundang pidato bareng, kadang saya bisa, Pak Din ndak bisa, kadang saya ndak bisa, Pak Din bisa. Tapi lebih sering saya diundang Muhammadiyah daripada Pak Din diundang NU… Padahal Pak Din ini mantan NU…,” kata Kiai Hasyim disambut Gerr hadirin.

“Kenapa dia pindah (Muhammdiyah)? Karena dia Gak kerasan saja sama NU, bukan karena teori yang tinggi-tinggi itu. Ini orang NU kok kumuh banget… haha. yYa cuman sekitar itu saja.”

“Jadi meski NU dan Muhammadiyah berbeda dalam soal Furu, tapi wawasan kebangsaannya dan wawasan keumatannya sama,”

5. Antara GP Anshor dan Pemuda Muhammadiyah

Kiai Hasyim sedang menjelaskan sekarang ini persoalan ushul (prinsip) dalam agama lebih sering dibicarakan keluar secara umum, padahal menurut Kiai Hasyim, seharusnya persoalan ushul hanya dibicarakan di kalangan ulama saja.

Oleh karenanya terkadang isi pembicaraan dan isu yang berkembang menjadi tidak karuan.

“Ada anak Anshor dan Pemuda Muhammadiyah ribut soal tahlil. Itu apakah sampai atau tidak tahlil itu kepada yang mati? Kata Anshor, ya sampai karena (alasannya) setiap kiriman ndak pernah kembali. Lha ini ngomong apa?” guyon Kiai Hasyim.

“Pemuda Muhammadiyah gak terima, dibalas jawab, lha mana tanda buktinya? haha…”

6. Lia Eden dan Mussadeq

“Saya baru diberi tahu oleh polisi. Pak Hasyim, ada orang yang mengaku Malaikat Jibril namanya Lia Eden, ada orang yang mengaku Nabi Muhammad namanya Musaddeq, dua-duanya ditangkap, dimasukan ke tahanan, lantas ditanya polisi; “Wahai Malaikat Jibril (merujuk ke Lia Eden), pernahkah kamu ketemu Nabi Muhammad ini (sambil nunjuk ke Mussadeq)? Ternyata belum pernah ketemu… hahaha”

“Lha kalau sudah sampai ini pak, ya sudah harus tegas gak usah ragu-ragu, katakan itu bukan Islam…” kata Kiai Hasyim.

7. Sandal orang Kristen

“Saya kan sering dicemooh sama orang Kristen, gimana orang Islam ini, wong ibadah kok sandalnya sering hilang,” kata Kiai Hasyim. Lantas beliau jawab, “Ya mesti saja (hilang), karena sandalnya gak dipakai, nah sampean sepatunya dipakai (ke gereja), jadi yang hilang ya bukan sepatunya, tapi sepeda motornya yang ilang…hahaha,”

8. Kiai Hasyim dibohongi tukang lampu

Kiai Hasyim bercerita kalau di Jepang mereka sangat mengamalkan akhlak-akhlak Islam di banding di Indonesia yang kadang lebih banyak tidaknya. Kalau ada yg memalsukan kualitet itu langsung ditutup.
“Sementara ketika di kita keliru terus, beli buah-buahan katanya manis tapi nyatanya kecut.,” ujar Kiai.

“Saya beli di Jalan Surabaya itu lampu yang kuno (antik) harganya mahal Rp 2,5 juta, nah kalau yang baru itu cuma seharga Rp 650 ribu.”


“Saya bilang, saya minta yang kuno pak, oh iya pak haji ini tinggal satu yang kuno, setelah diberikan pada saya ternyata kok lampu baru, keliatan sekali kan itu baru cetakan,” cerita Kiai Hasyim.

“Lho ini kan baru pak, bukan kuno,” ujar Kiai Hasyim pada tukan lampu.

“Haduh sampean ini kok rewel, sampean biarkan sajananti lama-lama kuno sendiri.. ”

“Mati aku,” kata Kiai Hasyim. “Wah, ini orang belum tau siapa yang beli ini, akhirnya saya bayar 650 ribu,” kata Kiai Hasyim cerita ke hadirin.

“Lho pak haji kurang ini uangnya,” kata tukang lampu.

“Ya nanti sisanya kalau sudah kuno…” jawab Kiai Hasyim.

Jamaah yang dengar cerita Kiai Hasyim pun ngakak.

Percapakan dengan tukan lampu pun berlanjut.

“Lho bapak dari Sidoarjo?”
“Bukan, saya dari Malang,”
“Malang mana?”
“Itu kan di Malang ada Pondok Pesantren Al-Hikam, nah itu pondok saya,”
“Waduh, bapak ini Hasyim Muzadi toh, kenapa bapak gak bilang, bisa kualat saya..”

“haduh, haduh… ini orang ini takut sama Alloh atau sama Hasyim Muzadi ini?” [psi]


Silahkan Komentar yang Santun





Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »