Kisah Mukidi dan Simalakama mimilih pemimpin kafir


Sebuah Analogi Cerdas dari Prof Fahmi Amhar menyikapi Pilkada,.. Memilih Pemimpin Kafir Atau Pemimpin Muslim Walau tak mau menerapkan Syariat? Berikut Percakapan Fiktif antara Mukidi dan Paijo

ALkisah Mukidi berada di arena pesta....
Ada lomba menghabiskan makanan di sana......
Kemudian Paijo menawari Mukidi : mau makan babi rica-rica,
atau iga bakar, tapi kemarin sapinya mati karena disiksa ?
Mukidi: Kalau saya tidak ikut makan bagaimana?
Paijo : Ya nggak apa-apa sih, tapi jadi tidak ikut lomba ...
Mukidi: Ya udah, saya puasa dulu saja, siapa tahu, makanan yang halal & thoyyib sebentar lagi juga dapat, dengan izin Allah tentu saja.
Paijo : Ya gak boleh gitu, wajib ikut, jangan duduk manis saja.
Mukidi: Mohon maaf, insya Allah tidak masalah saya tidak ikut pesta.
Paijo : Kalau situ gak ikut ikut pesta, nanti yang menang lomba makan yang suka babi rica-rica.
Mukidi : Ya bagaimana? Habis semua menunya bikin sakit perut saya!
Paijo : Yang penting yang menang jangan mereka.
Kalau sampai mereka menang, pasti itu salahmu juga!
Mukidi : Lho koq jadi salah saya? Kenapa bukan yang bikin lomba?
Paijo : Karena yang bikin lomba tidak bisa salah. Mereka itu laksana para dewa.
Mukidi: Pasti itu Dewa Simalakama ya?
Paijo : Kamu itu sok tahu aja! Merasa benar sendiri saja!


Kemudian Mukidi Pergi mengambil toa, dan berucap " Saudara saudara Ayo tinggalkan pesta Makan haram ini,...tau ndak, disamping Gedung ini ada Sapi Limusin yang siap di Sembelih lengkap dengan Siapan Bumbu dapurnya?.....ayo,keluar semua ...

Akhirnya banyak peserta yang keluar dari gedung dan ikut Seruan mukidi,..begitu juga adayang mencaci dan mengumpat mukidi...terutama para penjual babi dan Sapi Glonggongan...

Di adopsi dari status Prof Fahmi Amhar, dengan beberapa perubahan

Jajak Pendapat, 90% Netizen Setuju AHOK Dipulangkan ke China




"Tercatat hingga Tulisan ini diturunkan, lebih dari 90% responden setuju Ahok dipulangkan dan telah mendapat lebih 1100 Komentar dan Ribuan "Like" dari para netizen"
Jajak pendapat pulangkan Ahok ke China ramai dikomentari para netizen. Foto yang diunggah facebooker bernama Muhammad Rosyidi Aziz Full ini tiba-tiba mendadak ramai dan tuai banyak komentar.

Foto yang diunggah sekitar beberapa jam yang lalu tersebut mengajak masyarakat melakukan jejak pendapat bagaimana jika Ahok di suruh pulang ke China.

Sebelumnya diberitakan Ahok meradang atas munculnya video mahasiswa UI yang menolak dirinya karena dianggap sebagai pemimpin kafir.

Ahok juga mengatakan "Bila perlu dia pindah ke Timur Tengah Silakan," kata Ahok saat ditemui wartawan di balai kota Jakarta beberapa hari lalu.

Dalam laman facebooknya Rosyidi Aziz Founder Property Syariah yang sedang menunaikan ibadah Haji di Mekkah Arab Saudi ini menuliskan:
"JAJAK PENDAPAT
Karena Mahasiswa penolak Ahok disuruh ke Arab, gimana kalau Ahok juga kita suruh pulang ke China..?
1. Setuju
2. Tidak Setuju
3. Ntar, pikir-pikir dulu" ^_^"

Dalam pantauan kami foto tersebut kini masih di dominasi oleh komentar nitizen yang memilih opsi nomer 1 yakni setuju Ahok suruh pulang ke China:

Sayf Muhammad Isa Setuju banget, kirim aja ke china..
Muhammad Bairi Setuju....ok
Syariful kalau sy...mahasiswanya tetap di indonesia, tpi ahok tetap harus ke cina
Andika Hafizul Hadi Setuju pisan


Anda juga bisa ikut berpartisipasi dengan mengklik https://www.facebook.com/rosyid.aziz/posts/10207402701366318

Siapakah GEMA Pembebasan yang Siap Melawan AHOK ?


Gema Pembebasan

Bergeraknya utk membebaskan penghambaan manusia kepada manusia, menuju penghambaan hanya kepada Allah swt semata saja.

Bergeraknya bukan karena dorongan pengen ndompleng proyek dari dosen, apalagi bayaran dari politisi yg butuh menekan lawan karena kalah legalisasi aturan.

Menjadi pedoman bagi aktivis Gerakan Mahasiswa Pembebasan, turun ke jalan tidak dgn membakar ban, lempar gedung atau dorong-dorongan dgn aparat keamanan.

Menjadi pedoman bagi aktivis GEMA Pembebasan, bahwa perjuangannya adalah menjadikan ideologi islam sebagai pokok pembahasan dan solusi atas setiap permasalahan bangsa, berjuang dgn pemikiran, tanpa kekerasan.

Menjadi pedoman bagi aktivis GP, bahwa terus maju menyampaikan gagasan dgn keilmuan, bukan dgn tipu daya busuk ala politisi kampus yg berserakan.

Namun, ternyata ini membuat gerah & marah..
Mereka yg benci kepada islam, gerah dan marah atas gerakan yg diciptakan. Karena takut semakin banyak ummat yg tersadarkan.

Mereka para politisi busuk, gerah dan marah atas kebangkitan ummat yg ingin bebas dari perbudakan pemikiran dan penghambatan, karena cemas roti dan daging mereka bisa jadi terbang melayang tak mereka dapatkan.

Mereka para akademisi pembohong, gerah dan marah atas kejujuran yg diciptakan, karena mereka takut ditelanjangkan atas teori & penelitian yg mereka gembar gemborkan adalah pesanan dari pihak yg berkeinginan.

Bila mereka bungkam kami, mereka menangkap kami, atau bahkan membunuh kami, maka kami akan tetap berjuang, perjuangan yg dilakukan dgn pemikiran, bukan kekerasan, hingga kemenangan itu datang atau kami mati ditengah memperjuangkannya.
Dan, kami tahu mereka tengah mengalami kekalahan intelektual..maka, hajar terus, GP..!!

Kalo Ahok marah dan mengusir aktivis GP utk ke Arab, itu namanya kekalahan intelektual. Kalo gak bisa berargumentasi mending lebih baik diam. Lagian, masak sih takut sama aktivis yg unyu-unyu dan ganteng ini, ya kan?

Kalo ada profesor mengusir aktivis GP dari kelas & mengancam DO hanya karena diskusi, itu namanya kekalahan intelektual. Kalo gak suka mahasiswa memperjuangkan gagasan apalagi utk kebaikan ummat, ya buat apa ada dunia akademik kampus yg katanya utk pengabdian masyarakat, atau memang hanya diperuntukkan penelitian pesanan dari politisi dan aparat?

Kalo ada aktivis mahasiswa yg ada di kampus itu gak mau diajak diskusi, atau hanya turun ke jalan karena ada pesanan proyek dosen dan politisi, maka itu sudah biasa kawan. Kalo kenikmatan dunia yg menjadi tujuan, mungkin organisasi mereka bisa jadi pilihan. Tapi, apa kau mau begitu kawan?
Jadilah pejabat..yg mendukung perjuangan islam.

Jadilah dosen..yg mendorong mahasiswa nya cepat lulus, nilai bagus, namun tetap memberi apresiasi & dukungan utk mereka yg peduli ummat dgn perjuangan islam..

Jadilah aktivis islam, yg jujur dan ikhlas dalam perjuangan islam, apapun organisasi yg kau pilih sebagai pelabuhan, mau HMI, PMII, KAMMI, IMM atau pencak silat kesaktian, yg penting dukunglah kebangkitan islam..

Masyarakat berharap pada mahasiswa, karena katanya mahasiswa itu agen perubahan. Tapi, kalo mahasiswa nya justru adalah tak dapat diharapkan, lantas bagaimana kondisi ummat ini?
Mari bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam..bergerak dgn pemikiran, bukan kekerasan..
Website Resmi Gema Pembebasan :
www.gemapembebasan.or.id
Sama FP Resminya juga :
https://m.facebook.com/GerakanMahasiswaPembebasan

Dari : Muhammad Maliki ( Getua GP Malang Periode 2011)

Said Aqil Siradj Tak Mau Khilafah, Mustasyar NU : seharusnya NU yang terdepan memperjuangkan khilafah





Disaat Ketum PBNU Said Aqil Siradj getol menolak upaya perjuangan umat Islam yang menyuarakan Khilafah, KH.Masrur Afandi, Mustasyar NU justru mengatakan, 'seharusnya NU yang terdepan memperjuangkan khilafah'.

Dari arsip halaman web NU Garis Lurus bulan Maret 2015, Kiai pengasuh Pondok Pesantren Al Anshori Purworejo ini mengatakan, "Sudah semestinya NU berjuang di garda terdepan menegakkan syariah dan khilafah Islamiyyah sesuai lambang NU bola dunia diikat tali yang bermakna ukhuwwah Islamiyah secara global".

Lambang yang dibuat oleh KH. Ridwan Abdullah tersebut diperkenalkan pertama kali sebagai dekorasi di dalam Muktamar/Kongres yang dihadiri 18.000 warga nahdliyin. Lambang tersebut mengandung semangat kebangkitan, persatuan, dan perjuangan menuju Khilafah Islamiyah.

Karena itu sangat aneh pada hari ini, jika ada pejabat NU struktural yang sangat giat menyerang ide khilafah, sebagaimana diketahui beberapa waktu yang lalu Said Aqil menyatakan, "Silakan buat khilafah di negara lain, bukan di Indonesia". (erte)

Ketika Ulil Di SKAK MAT !!! #TolakPemimpinKafir



Tolak Ahok yang digalang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada hari Ahad (4/9) kemarin, rupanya sangat mengesalkan para aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL).

Dalam demo yang dihadiri ribuan massa (HTI menyebut 20 ribu massa, detikcom menyebut "cuma" seribu), berbagai pamflet dan spanduk menolak Ahok dibentangkan.

Salah satunya spanduk bertuliskan:

#IslamRahmatanLilalamin
HARAM PEMIMPIN KAFIR

Dedengkot JIL, Ulil Abshar Abdalla menganggap penolakan pada pemimpin kafir kontradiktif dengan ajaran Islam rahmatan lil'alamin.

"Spanduknya "Islam rahmatan lil alamin" tp kok mengharamkan pemimpin kafir. Apa ndak kontradiksi itu?" @ulil.

Kicauan @ulil yang sok intelek ini ditanggapi enteng tapi langsung makjleb oleh Mustofa Nahra.

"Rahmatan lil'alamin, kok mengharamkan miras. Kalau dipikir2 juga kontradiktif. Ya gak. Ya Gak," cuit Mustofa Nahra.

Ulil yang ngaku intelektual dan pernah nyantri kudunya ngerti, Islam yang merupakan agama rahmatan lil'alamin, bukan berarti SEMUA jadi HALAL. Ada yang di HARAMKAN oleh Islam dan itu sudah ditegaskan Allah SWT. 

Jadi, agama Islam rahmatan lil'alamin, bukan berarti BABI jadi HALAL, ZINA jadi HALAL, KHAMAR/MIRAS jadi HALAL, JUDI jadi HALAL.

Pun demikian, Allah SWT telah menegaskan tentang HARAM nya memilih pemimpin KAFIR.

Kontradiksi itu kalau ngaku ber IMAN kepada ALLAH, Tapi TIDAK MAU PATUH pada ALLAH, menolak ayat-ayat Allah atau memilah milih ayat-ayat Allah. Beriman pada sebagian dan ingkar pada bagian yang lain.

ITU KONTRADIKSI! (Sumber .nusanews)

HAJAR TERUS, HTI!




Boby Febrik Sedianto, mahasiwa Universitas Indonesia, dalam waktu singkat membuat geger pengguna media sosial di Indonesia. Aktivis Gema Pembebasan itu muncul dalam video berkonten politik berdurasi 1 menit 37 detik.

Video lekas menjadi riuh. Diulas dimana-mana. Pesan yang hendak disampaikan Bobby sangat jelas, menentang pencalonan Ahok dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017. Dalih yang dipakai sangat gamblang, ‘Tolak Pemimpin Kafir’.

Berbarengan dengan video Bobby, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar aksi dengan tema serupa. Klaim nya 20.000 massa termobilisasi dalam aksi tersebut. Mungkin angka sesungguhnya ada dibawah itu. Patut diduga, mobilisasinya juga tak hanya datang dari kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Seperti biasa, apa yang dilakukan HTI cepat-cepat mendulang respon balik. Terutama oleh klas menengah di media sosial. Serangan-serangan politik ke HTI berhamburan. Berputar dalam pernyataan-pernyataan semacam ‘Anti Demokrasi, tapi memanfaatkan demokrasi’ atau ‘Anti NKRI dan Pancasila, tapi hidup di Indonesia.’

Itu adalah argumen-argumen yang terus didaur ulang. Membosankan sebenarnya untuk didengar. Agar tak membosankan, biasanya disertai dengan olok-olok, hujatan, sarkasme atau meme-meme yang tendensius. Begitu terus siklusnya. Diulang-ulang.

Apa yang dilakukan HTI dengan kampanye ’Anti Kafir’-nya adalah memobilisasi massa. Jumlah mobilisasinya tak bisa dibilang kecil. Sama sekali tak bisa dipandang sebelah mata. Sementara apa yang dapat dijalankan oleh klas menengah penentangnya adalah menghardiknya di media sosial.

Jelas disini terlihat siapa yang lebih kuat, kongkrit dan terorganisir. Jelas siapa yang cuma bisa menye-menye dengan ujaran ngehek-nya, serta siapa yang benar-benar sanggup mewujudkan ujaran dalam organisasi dan pergerakan.

Ada jarak kapasitas yang membentang. Jarak yang membedakan mana tukang bacot kebocah-bocahan dan mana kelompok yang serius. Maka HTI jelas sekali terklasifikasi sebagai kelompok yang serius. HTI jelas wajahnya, tujuan dan cara untuk mengembangkan maksud-masudnya.

Tiga tahun silam, dalam ‘Muktamar Khilafah’ HTI bahkan sanggup memenuhi GBK. Sayap mahasiwa mereka, Gema Pembebasan, pun makin hari makin mendapatkan tempat di kampus-kampus besar. Boby Febrik Sedianto hanya salah satu contoh dari ribuan aktivisnya.

Keseriusan HTI juga bisa dilihat dalam keseharian pengorganisasian. Belasan tahun sudah, terbitan

HTI secara ajeg beredar diantara jamaah sholat jumat. Patut diduga oplahnya terus meningkat. Ketelatenan dalam menarik pengikut juga terbilang luar biasa. Merujuk kesaksian, mereka siap ‘menempel’ hingga bertahun-tahun bahkan hanya untuk satu orang sasaran. Kalian sanggup?

Di media sosial, -dengan Felix Siauw sebagai pengecualian-, secara organisasinal HTI hanya mendulang ‘Like’ dan ‘Share’ ratusan, jarang menembus ribuan. Tapi mereka sanggup menumpahkan ribuan hingga puluhan ribu orang di jalan jika sedang meniatkan agenda politiknya. Mulai terlihat jelas perbedaannya bukan?

Sebaliknya, klas menengah penentangnya adalah Si Mulut Besar. Sejenis generasi milenial yang mabuk ‘Like’ dan ‘Share’. Menenggak popularitas semu dari cawan kebebasan abal-abal. Klas menengah ini dikenal sebagai komplotan perisak. Bangga dan berpuas diri dengan celometannya. Jadiseleb-seleb fana dunia maya yang sesungguhnya impoten secara politik.

Sebagian lainnya adalah intelektual-intelektual adiluhung. Yang dari balik meja mengandaikan dunia ada dalam genggaman. Cukup dengan menulis ini itu dan memamerkan seberapa banyak aneka seminar telah mereka arungi. Seberapa ramai funding membiayai programnya. Sama dengan generasi milineal, mereka mandul secara politik.

Kedua spesies klas menengah ini pantas disebut pengecut. Sangat pengecut bahkan. Sebagian mereka kerap secara lantang atau malu-malu mengujarkan harapan, agar negara menindak tegas HTI. Mereka takut HTI makin membesar, tapi malas berbuat lebih, kecuali hanya membacot tak berkesudahan.

Tak ada usaha lebih. Nyaman dengan kesehariannya di sudut cafe, di balik gawai atau kongkow-kongkow bersama delegasi lembaga donor. Pemalas yang banyak omong dan cengengesan ini, bagaimana mungkin menandingi organisasi serius macam HTI. Pengecut yang menyedihkan, jelas bukan siapa-siapa dibanding kader-kader yang ditempa kesukaran dan diuji ketabahan di lapangan.

Ekspresi kepengecutan karena tak mampu vis a vis dengan HTI kemudian membanjir dalam hujatan ke media sosial. Ekspresi yang miskin daya pukul. Seolah-olah berani, tapi ciut nyali. Sekedar berani membusa di balik nikmatnya keyboard dan layar ponsel. Disana, mereka telah merasa menang atau perkasa. Menggekikan bukan?

Ada pertanyaan mudah, kalian membenci HTI? Muak dengan kampanye ‘Kafir’ atau ‘Anti Demokrasi’-nya? Dengarkan! Kebencian kalian tak akan membantu dan berguna sama sekali, sampai kalian mampu mengorganisasikan kekuatan sepadan atau melampaui mereka. Tapi rasanya kalian memang cukup puas ditakdirkan menjadi zombie-zombie internet belaka!

Maka, hajar terus, HTI ! Jangan beri mereka ampun!


oleh : Happy Nur Widiamoko, Bermukim di Kalasan.

Sumber: http://tikusmerah.com

Mahasiswa dan Pembungkaman Misi Ideologis

                       

Oleh : Muhammad Alauddin Azzam (Aktivis GEMA Pembebasan Komisariat UGM)


Trend topic video opini #tolakahok #tolakpemimpinkafir oleh saudara Boby dari Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan Komsat UI menjadi perbincangan di berbagai media sosial. Hingga hari yang ke-4 selepas viralnya opini tersebut, banyak komentar positif maupun negatif yang tercantum di berbagai laman-laman medsos, baik di facebook maupun youtube.  Dan saat ini, media akhirnga berbondong-bondong untuk mengonfirmasi mengenai sikap mahasiswa-mahasiswa yang berani menyatakan sikap penolakannya terhadap ahok. Terutama hashtag tolaknya yakni #tolakahok #tolakpemimpinkafir.


Sikap mahasiswa GEMA Pembebasan memang dinilai berani. Terlihat dari video-video yang dilakukan sudah banyak, bukan hanya mengenai #tolakpemimpinkafir. Banyak lagi video-video opini lainnya yang diserukan agar ummat ini menyadari problematika yang sangat ini sedang kompleks melanda negeri Indonesia. Sehingga, peran yang dilakukan GEMA Pembebasan sejatinya menjadi kebanggaan bagi ummat karena mahasiswa dan gerakannya masih diharapkan untuk terus kritis, khususnya dengan alasan argumentatif dan ideologis.


Bila dikatikan dengan peran mahasiswa, agent of change, iron stock, dan sebagainya, GEMA Pembebasan dan gerakan mahasiswa lainnya yang saat ini sudah menjalankan upaya muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) adalah aktivitas yang justru sejalan dengan peran mahasiswa. Belum lagi bila ditambah dengan adanya tridarma perguruan tinggi yang salah satunya melakukan pengabdian kepada rakyat. Maka, salah satu bentuk pengabdian itu adalah kritis terhadap kedzaliman yang dilakukan penguasa kepada ummat dan menjelaskan kebathilan sistemik yang melanda negeri serta solusi visioner-ideologis yang akan menyelesaikan problematika itu.
 .
Selain itu, aktivitas agen perubahan yang dilakukan oleh mahasiswa dan gerakannya, yang juga dilakukan oleh GEMA Pembebasan menjadi salah satu bahan evaluasi mendasar terhadap masalah multidimensi di Indonesia, khususnya di Jakarta. Dan hal yang jarang sekali disentuh oleh mahasiswa dan kalangan intelektual adalah gagasan-gagasann ideologis yang mengakar sehingga dapat menyelesaikan akar masalah yang saat ini terus tampak.  Gagasan mengakar dengan standar Islam itulah yang sejatinya tepat untuk menyelesaikan masalah saat ini.


Ketajaman terhadap perkara ketundukan kepada syari'at pencipta inilah yang terus diserukan oleh kawan2 GEMA Pembebasan. Mereka berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menyadarkan kita akan posisi sebagai makhluq li khaaliq (makhluk milik pencipta) sehingga terdapat konsekuensi untuk tunduk kepada perintah-Nya. Salah satunya adalah menjadikan pemimpin muslim dengan kepemimpinan Islam, dan tidak menjadikan pemimpin kafir sebagai auliyaa (penolong, pelindung, pemimpin) sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT QS. An-Nisa : 144.

Selain itu, bilamana kesadaran terhadap Allah SWT (idrak bi shilati billah) itu tidak muncul dalam diri kita. Maka, bisa dipastikan aspek-aspek ruhiyyah yang seharusnya hadir ditengah masyarakat akan hilang dan lenyap. Apalagi ketika dipimpin oleh pemimpin kafir. Bukanlah keberkahan hidup, namun justru kemurkaan Allah SWT yang akan selalu menyelimuti setiap sendi kehidupan.

Sehingga, menjadi aneh, jikalau dari seluruh aktivitas2 yang benar dan mulia ini, dihentikan bahkan DIBUNGKAM !. Padahal gagasan-gagasan mereka adalah sebuah misi-misi Ideologis untuk menyelesaikan problem. Khususnya menolak pemimpin kafir sebagai sikap ketundukan terhadap syari'at Allah SWT. Belum lagi, pemimpin tersebut secara faktual telah menyengsaran rakyat. Maka, ini menjadi sikap yang harus diapresiasi sebagai bukti cinta kepada negeri. Terlebih cinta mereka terhadap keberkahan hidup dengan aturan khaliqunnas, Allah SWT. Apakah kemudian pantas mereka sebagai mahasiswa mendapatkan pembungkaman dalam membawa misi ideologis ?

UI Dimana Riwayat Mu Kini..! Merespon Kasus Video Mahasiswa UI #TolakAhok


.
Oleh: Bambang Pranoto Bayu Aji
(Aktivis GEMA Pembebasan)
.
Sebagai sebuah entitas pendidikan tinggi di Indonesia, UI (universitas Indonesia) tentu sangat dipandang karena masuk dalam barisan kampus yang punya torehan sejarah kemilau akan perjuangan,
para mahasiswanya serta telah melahirkan banyak tokoh-tokoh yang berperan dalam setiap dinamika perjalanan negeri ini
.
Bahkan disetiap frase lembaran rezim yang berkuasa bahkan sejak sebelum itu, Universitas Indonesia (UI) selalu menempati sesuatu yang sepesial dan istimewa diantara kampus-kampus lain di negeri ini.
.
Universitas Indonesia (UI) merupakan salah satu kampus ternama di Indonesia, harusnya bisa menjadi tempat munculnya kaum intelektual para aktivis yang kritis dalam menyikapi semua ketimpangan kekuasan dan berdiri pada pihak untuk menyampaikan kebenaran.
.
Pertanyaanya apakah saat ini hal itu masih ada terjadi?
.
Apakah UI sebagai kampus ternama akan tetap kritis terhadap segala ketimpangan dan menjadi lingkungan yang mampu menumbuhkan kondisi dan budaya perlawanan terhadap rezim dan sistem yang hari ini begitu timpang, kondisi yang membuat rakyat negeri ini kian menderita?
.
Suatu pengamatan akademis mengindikasikan adanya kemerosotan budaya intelektual dalam masyarakat modern yang teknokratis dan terspesialisasi dalam proses diferensiasi.
.
Dan itu yang seringkali terjadi dimana kampus menjadi ambigu dalam bersikap justru membungkam suara mahasiswa atas nama aturan kampus dan menjadi diktator dengan tangan-tangan kekuasaanya.
.
Kalau mau jujur melihat permaslahan video mahasiswa UI yang tolak Ahok, ternyata sangat argumentatife dan sesui Fakta.!.
.
Apa yang disampaikan oleh bobby aktivis GEMA Pembebasan Komisariat UI yang juga mahasiswa kampus ini, kita sebagai orang islam maka telaah itu benar adanya.
.
Bahwa haramnya kepemimpinan kafir bagi kaum muslimin, diterangkan dalil yang PASTI. Baik dalam Al-Qur’an (AnNisa:141,144, AlMaidah 57, AlImran:28), Hadis (HR Imam Bukhari dari Ubadah bin Shamit) dan juga diperkuat pendapat para ulama baik salaf maupun khalaf.
.
Selin itu dari sisi data yang diambil BPS DKI Jakarta menyebutkan dari September 2015 hingga Maret 2016, Penduduk miskin Jakarta bertambah 15.630 orang, totalnya menjadi 384.300 orang ( http://jakarta.bps.go.id/Brs/view/id/169 ).
.
Maka sudah sepantasnya sebagai mahasiswa dari sisi dia seorang muslim dan sisi intelektualnya berbicara kritis melalui video yang diunggah di Youtube, mengingat media saat ini pasti tidak akan tertarik pada aktivitas bicara kritis dan peduli terjadap permasalahan umat. Mereka hanya sibuk naikkan ratting mengejar dollar.
.
Pihak kampus UI seharusnya tidak bertindak yang berlebihan bak diktator rezim despotik dengan memberikan tekanan kepada mahasiswanya untuk aktif berpolitik mengontrol kebijakan penguasa.
.
Bukankah fungsi kampus yang melahirkan para aktivis yang kritis? dan bukanya hal demikian sudah seharusnya terjadi?
Mengapa justru UI menjadi ambigu, dan menekan mahasiswa yang bersikap kritis?
.
Terlebih lagi kampus tak boleh mahasiswanya aktif dalam permasalahan politik serta melarang aktif dalam gerakan eksternal kampus.
.
Apakah mereka lupa? Bahwa banyak orang-orang hebat serta tokoh-tokoh negeri ini yang yang lahir dari ruang organisasi exsternal kampus.
.
Sungguh sikap yang layak disebut sebagai penghianatan intelektuaktual saat mahasiswa hanya diperlakukan sebagai objek dan mesin dari pada subjek yang berpikir dan berhendak kritis disaat ilmu-ilmu positif-empiris dianggap memiliki standart kebenaran tertinggi sehingga mengakibatkan nilai nilai moral dan religius kehilangan wibawa; dan objektivasi alam yang berlebihan mengakibatkan krisis ekologi.
.
Apa yang disebut sebagai ‘kemerosotan budaya intelektual’ adalah manifestasi dari perubahan-perubahan ekonomi dan masyarakat dalam skala global (Dawan Rahardjo, 1993)
.
Maka kampus harusnya tidak bersikap demikian dengan mengekang mahasiswanya serta memberikan tekanan atas nama norma dan etika tapi disisi lain mengerdilkan dan membunuh sikap kritis mahasiswa untuk merespon kondisi yang penuh dengan ketimpangan.
.
Melalui tulisan singkat ini saya ingin mengajak kepada seluruh mahasiswa Indonesia sudah saatnya kita begerak, bahwa tindakan diam yang kita lakukan justru akan membuat para penguasa yang adigang adiguna kian arogan membuat kerusakan.
.
Terlebih kampus pun hari ini dioprasikan sudah seperti perusahaan yang tak lagi menjadi tempat untuk bicara gagasan dan perubahan yang ada adalah tentang untung dan rugi.
.
Ini adalah pola pikir yang kapitalis liberal dimana pendidikan tak lebih sebuah bisnis manis pencetak para buruh dan menguntungkan pemilik modal.
.
Sementara aktivis gerakan yang bicara politik dan perubahan sistem dilarang. Maka ini adalah hal yang berbahaya dimana cara-cara seperti ini seringkali dipakai oleh kekuatan-kekuatan jahat para penjajah.
.
Jika aksi-aksi kita dinyatakan bersalah secara administratif, tapi disaat yang sama para dosen yang menjual intelektualitasnya demi sesuap nasi dibiarkan lenggang merusak tatanan dengan argument basi dan liberal, maka pilihan perjuangan ini harus tetap digelorakan kawan.
.
Idelisme yang dilandasi asas ideologi islam tidak pernah akan mati walau seribu halangan di rintangkan didepan matamu.
.
Hal ini memperjelas bahwa dunia kampus seperti mati suri dari aksi perpolitikan, apalagi mau lantang menyuarakan islam. Mereka yang menjadi penghianat-penghianat di era ini, para cendekiawan yang memasang wajah manis terhadap rezim dan sistem pembuat sengsara rakyat.
.
Mereka mengatakan civitas akademika harus netral tapi disisi lain menjual idelisme untuk melayani para penjahat demi fasilitas dan hidup nyaman.
.
Sementara kampus berdiri melayani kapitalisme sang pemilik modal. Maka omong kosong besar pendidikan melahirkan perubahan untuk negeri ini.
.
Maju terus kawan-kawan, saat UI hilang riwayatnya sebagai kampus yang melahirkan aktifis kritis dan tempat menyuarakan gagasan baru untuk mengehentikan arogansi kepemimpinan.
.
#TolakAhok #TolakPemimpinKafir maka lakukanlah terus sungguh dukungan itu akan terus mengalir untuk kalian yang berani berjuang meyuarakan kebenaran.
.

Tolak Pemimpin Kafir, Seniman Ini Sampaikan Aspirasinya Lewat Lukisan



Yogyakarta. Menghangatnya suasana jelang pemilukada DKI Jakarta yang mewacanakan Basuki T. Purnama (Ahok) kembali maju sebagai salah satu kandidat, mendapatkan respon keras dari elemen umat Islam, termasuk seniman lukis asal Yogyakarta, Deni Je.

Dalam deskripsi lukisan berjudul "Tolak Sang Penutup Jalan" itu, Deni menjelaskan bahwa seorang pemimpin kafir akan 'menutupi' umat manusia menuju jalan yang lurus, dengan berbagai penghalang, dan mengarahkan rakyat ke dalam kenestapaan.

Tolak Sang Penutup Jalan


Lukisan berdimensi 19 x 28 cm tersebut menggambarkan hamparan jalan dengan banyak penghalang. Di ujung jalan tersebut tampak sekumpulan bangunan serupa masjid. Terdapat tiga tikungan melenceng dengan api di masing-masing ujung jalan tersebut.

"Api yang dimaksud adalah kezaliman di dunia dan kesengsaraan di akhirat", imbuh sang pelukis, yang juga merupakan Ketua Komunitas Seni 'Khilafah Arts Network (KHAT).

Sebelumnya, 20 ribu umat Islam yang diorganisir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berkumpul di Kawasan Monas melakukan unjuk rasa dengan seruan "Pemimpin Kafir Haram". Dalam kesempatan tersebut Jubir HTI, Ismail Yusanto menyatakan, "Syarat utama pemimpin wajib muslim. Bila bukan muslim bagaimana mungkin ia bisa diharapkan menerapkan syariah dan menegakkan amar makruf-nahi mungkar, sedangkan ia tidak beriman pada syariah dan tidak memahami kewajiban amar makruf-nahi mungkar?" (erteka)

Kebangkitan Orde Baru Di Kampus UI




6 September 2016. Kepala Humas dan KIP Universitas Indonesia (UI) telah mengeluarkan sebuah surat edaran yang berisi tanggapan mengenai aksi seorang Mahasiswa bernama Boby Febrik Sediayanto, yang mengenakan atribut UI dalam seruan video-nya bertajuk, “GEMA Pembebasan UI Tolak Ahok!”

Dalam Video yang berdurasi lebih kurang 2 menit itu, Boby menyerukan agar masyarakat menolak Ahok, menolak pemimpin kafir sebagai kepala daerah DKI Jakarta, karena itu adalah tuntutan Akidah mereka sebagai seorang Muslim.

Dalam surat edaran tersebut, pihak Universitas Indonesia menyatakan bahwa aksi yang dilakukan tersebut adalah Illegal dan melanggar tata tertib, yakni Ketetapan Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia No. 008/SK/MWA-UI/2004 tentang Tata Tertib Kehidupan Kampus UI – Pasal 8 yang menyatakan bahwa “Warga Universitas Indonesia dilarang melakukan diskriminasi terhadap orang lain atas dasar agama, etnisitas, gender, orientasi seksual, orientasi politik dan cacat fisik.”

Ditambah pula, pihak Universitas Indonesia menghimbau agar kampus menjaga netralitas dan bebas dari segala politik praktis.

Sekilas kita akan mendapatkan bahwa seolah-olah Universitas Indonesia tidak berpihak pada satu kutub, netral dan menghindari sikap politik praktis. Tapi, jika kita melihat lebih jelas lagi, maka akan kita dapati bahwa sesungguhnya Universitas Indonesia tengah mengubur dirinya sendiri, Universitas Indonesia sedang bunuh diri.

Universitas Indonesia berserta pihak-pihak terkait yang bermain di dalam isu ini, sungguh sedang membawa kita kembali pada momok Orde Baru. Dimana sedang terjadi pembungkaman suara mahasiswa di dalam wilayah yang seharusnya setiap mahasiswa dapat mengutarakan apapun yang ia pikirkan, baik secara lisan maupun tulisan.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum, Bab Ketentuang Umum Pasal 1 Ayat 1, yakni, “Kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-udangan yang berlaku.

Pada Ayat 2, “Di muka umum adalah di hadapan orang banyak, atau orang lain termasuk juga di tempat yang dapat didatangi dan atau dilihat setiap orang.”

Dengan adanya undang-undang kebebasan berpendapat tersebut, apa yang telah dilakukan pihak Universitas Indonesia terhadap saudara Boby adalah illegal menurut undang-undang tersebut.

Pihak Universitas Indonesia telah merenggut Hak kebebasan berpendapat seorang warga sah Negara Republik Indonesia.

Pihak Universitas Indonesia juga telah melakukan suatu sikap paradoks dan kontrakdiktif. Di satu sisi mereka melarang sikap saudara Boby.  Padahal di dalam Ketetapan Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia No. 008/SK/MWA-UI/2004 tentang Tata Tertib Kehidupan Kampus UI – Pasal 8 disebutkan “Warga Universitas Indonesia dilarang melakukan diskriminasi terhadap orang lain atas dasar agama, etnisitas, gender, orientasi seksual, orientasi politik dan cacat fisik.”

Dengan sikap mereka melalui surat edaran tersebut, justru pihak Universitas Indonesia-lah yang tengah melakukan diskriminasi atas dasar orientasi politik. Sungguh ini perlakuan yang tidak adil dan aneh yang telah dilakukan oleh kampus sekelas Universitas Indonesia.

Bahkan apa yang dilakukan oleh saudara Boby sebenarnya memiliki perlindungan hukum dari undang-undang negara. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum, Bab III Tentang Hak Dan Kewajiban, Pasal 5. “Bahwa warga negara berhak untuk memperoleh perlindungan hukum.”

Di tambah lagi apa yang dilakukan oleh saudara Boby sesuai dengan UUD 1945 yang di dalamnya telah disepakati oleh para pendiri bangsa, bahwa UUD 1945 di jiwai oleh Piagam Jakarta, “Ketuhanan yang maha esa, dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Sangat terang di sini, bahwa apa yang dilakukan oleh saudara Boby adalah sebuah kewajiban untuk menjalankan Syariat Islam, dimana HARAM mengangkat Pemimpin Kafir, yang dalam kasus kali ini adalah HARAM mengangkat AHOK sebagai pemimpin kaum Muslimin.

Dan apa yang dilakukan oleh Boby sesungguhnya bukan langkah politik praktis. Pihak Universitas Indonesia terlalu gegabah jika memasukkan kata “menjauhi politik praktis”. Politik praktis dalam hal ini mesti kita definisikan terlebih dahulu.Politik praktis adalah semua kegiatan politik yang berhubungan langsung dengan perjuangan merebut dan mempertahankan kekuasaan politik.

Sedang apa yang dilakukan oleh saudara Boby? Kekuasaan siapa yang akan direbut? Bahkan kekuasaan politik apa yang hendak dipertahankan Boby dalam orasinya yang sebentar itu?

Kampus seharusnya menjadi laboratorium bagi semua pemikiran. Jika benar kampus adalah tempat yang netral dan tidak berpihak, seharunya kampus diam terhadap apapun yang menjadi jejak pikiran masyarakatnya. Ini jika ingin konsisten memegang kenetralannya. Bukan membungkam, bukan melarang mahasiswanya berbicara mengutarakan pendapat.

Jika Kampus, dalam hal ini Universitas Indonesia ikut-ikutan melarang segala aktivitas Mahasiswa, menenggelamkan segala aspirasi politik mereka, yang disebabkan kepedulian mereka terhadap Ummat dan Bangsa, itu sama saja Universitas Indonesia tengah mengubur dirinya sendiri sebagai ruang netral, tempat dan ring dimana segala pikiran seharusnya beradu dalam suasana diskusi yang sehat. BUKAN dengan cara LARANG! LARANG! Dan LARANG!!

Ini sama saja seperti sedang mempertahankan Status Quo,justru inilah UI sedang terjun ke dalam politik praktis. Seperti menghidupkan kembali atmosfer Orde Baru yang dulu sama-sama telah kita ludahi dan kuburkan.

Tumbangkan!!



JOGJA, 7 SEPTEMBER 2016

Vier A. Leventa

Ini dia, Video Video Mahasiswa yang membuat Panas Jakarta Hari ini #TolakPemimpinKafir




Gerakan mahasiswa Pembebasan membuat Hentakan luar biasa menjelang Pilkada Jakarta 1. Isu #HaramPemimpinKafir menjadi pembicaraan media media, Cyber Buzzer Ahok dan pendukungnya kepasan karen begitu viralnya Seruan Seruan para Aktivis gema Pembebasan ini... berikut Video Videonya

Gema Pembebasan Universitas Negeri Jakarta 



Gema Pembebasan Universitas Indonesia



Gema Pembebasan Politeknik Negeri Jakarta


Video video diatas akan update seluruh kampus Indonesia Akan menyuarakan #TolakPemimpinKafir #BuangSistemKufur

Lab Psikologi Politiknya Resmi dukung Ahok, UI Mengecam Mahasiwa yang #TolakPemimpinKafir




Sudah tak menjadi rahasia Umum bahwa beberapa dosen UI adalah pendukung Fanatik AHOK, semisal Ade Armando,Hamdi Muluk dkk. Bahkan Laboratorium Psikologi Politiknya UI yang nyata nyata Milik Kampus, Jelas menjadi konsultan Politiknya Jokowi dan Kini Ahok. akan tetapi ketika beredar Video Salah seorang Mahasiswanya menolak Pemimpin Kafir UI Memanggil dan mengintimidasi hingga memaksa meminta maaf (Baca : Video Mahasiswa UI yang Tolak Ahok, Ternyata Argumentatif dan Sesuai Fakta! ). Berikut kutipan berita Hamdi Muluk dan Lab Psikologi UI Itu Konsultan Politiknya Ahok

 Laboratorium Psikologi Politik UI telah menyimpulkan bahwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi sosok paling direkomendasikan pakar untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta menjadi bukti bahwa lembaga yang dipimpin Hamdi Muluk itu sudah menjadi konsultan politik Ahok.
Penegasan itu disampaikan pengamat politik Muslim Arbi kepada intelijen (01/08). “Kita mau tahu, pakar siapa saja yang dimintai pendapat oleh Laboratorium Psikologi UI itu, terbuka saja. Biar masyarakat tahu semua,” kata Muslim Arbi.
Menurut Muslim, masyarakat sudah tahu, Hamdi Muluk, Ketua Laboratorium Psikologi Politik UI, dulunya mendukung Joko Widodo di Pilpres 2019. “Biasanya pendukung Jokowi itu juga pendukung Ahok,” sindir Muslim.
Kata Muslim, saat ini, beberapa lembaga survei berupaya untuk menggiring opini memenangkan Ahok. “Itu bagian penggiringan opini. Metodelogi secara ilmiah mungkin betul, dan tidak salah, tetapi ada framing khusus untuk kemenangan Ahok,” ungkap Muslim.
Muslim menegaskan, survei pendapat pakar yang dilakukan oleh Lembaga Psikologi UI itu benar secara metodologi ilmiah tetapi disetting untuk kemenangan politik.
“Lihat saja pakar yang dimintai pendapat. Kalau Ikrar Nusa Bakti, J Kristiadi, kelompok CSIS, ya pasti dukung Ahok. Coba pakar politik maupun lainnya yang kritis terhadap Ahok, bisa dimasukkan tetapi tidak sebanyak yang dukung Ahok. Itu bagian dari setting metodologi survei saja,” jelas Muslim.
Sebelumnya, Ketua Laboratorium Psikologi Politik UI, Hamdi Muluk, mengungkapkan, para pakar memilih Ahok sebagai tokoh paling direkomendasikan untuk jadi gubernur DKI jika Pilkada DKI Jakarta dilakukan hari ini.
Ahok dipilih 79,74 persen pakar sebagai tokoh paling direkomendasikan. Perolehan Ahok jauh mengungguli Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sebanyak 38,8 persen dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini 38,67 persen.
Di sisi lain, Lembaga Psikologi Politik UI juga melakukan survei terkait tokoh yang tidak direkomendasikan menjadi Gubenur DKI Jakarta bila Pilkada DKI Jakarta digelar ‘hari ini’. Hasilnya, pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra menjadi tokoh paling tidak direkomendasikan (43,8 persen)

Universitas Indonesia, Engkau mau kemana ?

Video Mahasiswa UI yang Tolak Ahok, Ternyata Argumentatif dan Sesuai Fakta!



- Haramnya Kepemimpinan Kafir Bagi Kaum Muslimin, diterangkan dalil yang PASTI, baik dalam Al-Quran (AnNisa:141, 144, AlMaidah 57, AlImran: 28),  Hadis (HR Imam Bukhari dari Ubadah bin Shamit) dan juga diperkuat pendapat para ulama baik salaf maupun khalaf.

- Data dari BPS DKI Jakarta menyebutkan dari September 2015 hingga Maret 2016, Penduduk miskin Jakarta bertambah 15.630 orang, totalnya menjadi 384.300 orang ( http://jakarta.bps.go.id/Brs/view/id/169 ).  

- Ketua Pusat Kajian Ekonomi Politik UBK Salamudin Daeng menyebutkan bahwa Jakarta termasuk daerah dengan penganguran tertinggi di Indonesia  yakni   8,36% persen,   jauh di atas rata rata Indonesia. Bahkan Ketimpangan Ekonomi di Jakarta meningkat 0,04. Artinya kelompok kaya menguasai 44 persen pendapatan DKI Jakarta. Bahkan angka ini menjadikan ketimpangan DKI Jakarta adalah TERTINGGI secara Nasional. (http://m.suara.com/bisnis/2016/03/29/101916/jumlah-kemiskinan-di-dki-jakarta-terus-menerus-meningkat)

- Jakarta terpapar oleh kebobrokan kapitalisme-demokrasi, sehingga tak kunjung lepas dari jeratan kemiskinan,  penganguran dan kesenjangan sosial yang tinggi. Hanya syariah Islam-lah yang secara normatif bisa menjadi solusi atas bobroknya Kapitalisme-Demokrasi, Secara empiris Syariah Islam juga terbukti mampu menyejahterakan. Sistem Syariah akan mampu menjawab bobroknya kapitalisme-Demokrasi ketika diterapkan secara sempurna dalam bingkai negara Khilafah.

- Pemimpin kafir bermunculan disebabkan demokrasi, namun jika syariah dan Khilafah diterapkan mustahil muncul penguasa kafir.


So, kita dukung video anak UI #TolakAhok #TolakPemimpinKafir, Mari sebarkan sebanyak-banyaknya!

Turunkan Puluhan ribu massa, #HaramPemimpinKafir HTI membuat Liberal Meradang

Puluhan Ribu massa yang turun ke Monas Ahad kemarin membuat panas para pegiat liberal, wabil khusus para pendukung dan tim pemenangan Gubernur Kafir Ahok. 

Aksi yang di galang oleh HTI DPD Jakarta Raya ini sejak pagi sudah mulai mendatangkan massanya yang menyemut, Memenuhi Dua Jalan seputar Patung Kuda. Hadir tokoh tokoh ummat sebagai Orator, Ust Rohmat S.Labib,Ust Bachtiar Nasir,Ust Ismail Yusanto, Mantan Rocker Kondang Hari Moekti dll.
Kampanye ini mengusung #TolakAhok #HaramPemimpinKafir #TerapkanSistemIslam. aksi Berjalan tertib dan bersih..

Aksi pertama kali dijakarta yang mengusuh keharaman pemimpin Kafir ini ternyata membuat Meradang para dedengkot JIL sekaligus pendukung dan Tim pemenang Calon Kafir, Ahok Basuki Purnama yaitu Guntur Romli. Guntur kehilangan akal sehat kesulitan menandingi opini di sosial media, dan akhirnya mengangkat hal remeh temeh untuk menyerang Opini aksi tersebut, semisal Pendanaan, anak anak dll.. berikut saya kutip komentar dari Jurnalis Islam Shodiq Romadhon
Si Guntur Romli ngoceh menanggapi demo tolak ahok di lap monas kemarin. ga jauh2, isu yg dia angkat: keterlibatan anak2 dan soal biaya aksi.
asal tau aja:
1) si guntur adlh anggota tim sukses ahok (ini istilah mereka lho ya, walau istilah kekinian adlah: tim pemenangan). si guntur dpt bagian bidang "social media organizer". jd, kalo dia komen negatif ttg aksi ahad kemarin, dia itu lg "bekerja". beda dg sy, kalo komen di fb lg "iseng" aja...
(2) otak liberal ttg kegiatan dr dulu ga berubah. yg disorot soal "biaya" melulu. sponsor dr mana, duit dr mana, siapa yg biayai?. pertanyaan ini, memang wajar dan wajib tuk kelompok liberal. bg mrk tak ada fulus bubar. dana asia foundation stop, kegiatan jil bubar. itu mereka....
bagi kelompok islam, itu tidak berlaku. ikut demo: nyari uang saku sendiri, bawa bekal sendiri, bayar bus sendiri, bahkan masih harus urunan tuk biayai aksi/kegiatan. kalo konfrensi/muktamar bahkan hrs bayar tiket masuk juga. lalu apakah pimpinannya dpt duit?. boro2. pimpinanannya justru harus infak paling gede.
(3) soal keterlibatan anak2: ga usah kagetan dan nggumunan gitu keleeeus. aktivis2 ini jiwanya pejuang. masa bapak ibunya berkegiatan, anaknya suruh main di rumah?. siapa yg nungguin?. pembantu pun ikut diajak kalo demo, apalagi anak sendiri. wong anaknya aja seneng diajak jalan2 ke jkt, knp Guntur yg sewot?.


Demikian juga Tim pendukung dari kalangan Liberal lain, Ade Armando..tak jauh beda,hanya membahas remeh temeh bukan subtantif..

berikut Foto yang didapat redaksi dari Lapangan langsung, Aksi HTI #TolakPemimpinKafir di Monas 







Perbedaan Pajak dan Upeti di Era Modern, mana yang lebih kejam?



Oleh : Ust Choirul Anam

Menurut saya, pajak dan upeti, secara substansi tidak ada bedanya. Bedanya mungkin hanya nama dan kesan yg ditimbulkan. Upeti kesannya kuno, pajak kesannya modern.

Tetapi, intinya sama saja, yaitu mengambil harta rakyat, bahkan kalau perlu secara paksa, tanpa kompensasi secara langsung dari penguasa.

Bahkan, pajak terasa jauh lebih dzalim dibanding upeti. Sebab upeti mungkin hanya diambil dari orang tertentu. Pajak sebaliknya, diambil dari siapapun, bahkan dr bayi yang baru lahir. Saat bayi butuh susu atau popok, orang tuanya yang membelikan wajib "dipalak" dg upeti, eh pajak. Tak peduli, ia kaya atau miskin. Tak peduli, itu uang sendiri atau hutang. Pokoknya harus setor upeti.

Terkadang kita bertanya: sebetulnya ada negara dan pemerintahan itu untuk apa?

Adanya pemerintahan dan negara mestinya adalah agar rakyat bisa hidup sejahtera, harmonis, aman, tanpa gangguan orang-orang yang suka berbuat dzalim. Sebab, negara berhak menjatuhkan sanksi kepada pihak yg dzalim. Jadi, negara sebenarnya adalah "bapak besar" kita. Tempat kita mengadu, meminta tolong, dan berlindung.

Tapi apa jadinya, jika yg seharusnya "ayah besar" jadi "preman besar". Dunia ini akan terasa neraka. Rakyat dipalaki. Habis itu uangnya dipakai korupsi dan hura2. Maka benarlah saat Rasul menyatakan bahwa saat orang2 meninggalkan dakwah, amar makruf, nahi mungkar akan diadzab Allah di dunia dg dianugrahi pemimpin yg dzalim. Pemimpin yg seharusnya "ayah besar" jadi "preman besar". Mendzalimi rakyat, mengambili harta rakyat, dan tak segan menghukum dg sangat sadis siapa saja yg tak tunduk kepadanya.

Padahal di sana ada kekayaan alam yg melimpah ruah, yang jika dikelola dg benar dpt digunakan memenuhi kebutuhan rakyat dan menjalankan roda pemerintahan. Akan tetapi kekayaan itu justru dikasihkan kepada konglomerat hitam. Sebaliknya, pemerintah justru hanya concern unk memalak rakyatnya, yang sebagian mendapatkan uang dg memeras keringat dan dg cucuran air mata.

Padahal menurut Imam Ibnu Khaldun: pajak yg semakin tinggi, menandakan peradaban atau pemerintahan semakin dekat kehancuran. Sebab, pemerintahan sebetulnya adalah kesepakatan rakyat. Jika rakyat kecewa secara massal, maka detik2 kehancurannya tinggal tunggu momentum. Mmg selalu ada peluang perubahan dan semoga kondisi sekarang mengantarkan kita pd perubahan yg hakiki.

Upeti atau pajak, juga sangat dikecam oleh Rasulullah. Bahkan beliau mengatakan: la yadkhulul jannata shohibu maksin (tidak masuk surga pemungut cukai atau pengambil upeti atau pengambil pajak).

Jika memang upeti dan pajak itu sama saja, apakah layak kita yg masih dipalak dg berbagai pajak bahkan terus meningkat, lalu mengaku sebagai manusia merdeka dan hidup di alam kemerdekaan?

Mmg di sana ada perbedaan secara teknis antara pajak dan upeti. Namun perbedaan itu hanyalah masalah teknis dan hanya urusan permukaan semata.

*****

Apakah dalam Islam ada pajak?

Pajak dalam Islam disebut dharibah. Dan pajak juga ada. Tapi pajak hanya diambil negara saat tertentu saja, yaitu saat ada kebutuhan mendesak yg bersifat insidental dan harus dipenuhi. Nah pada saat itu negara boleh mengambil pajak. Pajak hanya boleh diambil dlm kondisi darurat, bukan kondisi normal.

Tetapi, pajak tidak boleh diambil dr semua rakyat. Pajak hanya boleh diambil dr rakyat yg kaya, yg kebutuhannya telah terpenuhi. Pajak sama sekali tak boleh diambil dr rakyat unk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Jika pajak tidak dijadikan sebagai pemasukan negara, lalu dari mana pemasukan negara? Jawabnya dari pos-pos lain yang sangat banyak. Misalnya dr pos kekayaan alam, fai, kharaj, dll. Dan semua itu akan lebih dr cukup unk memuhi semua kebutuhan rakyat dan juga pemerintahan. Hal itu telah diatur secara detil dalam Islam.

*****

Pilih mana: sistem yg selalu membebani rakyat dg berbagai upeti dan pajak, lalu hak-hak rakyat diabaikan begitu saja; atau milih sistem yang tidak membebani rakyat dg berbagai pungutan, sementara hak-hak rakyat ditunaikan dg adil?

Semua berpulang kepada kita. Jika kita memang senang dipalaki dg berbagai pajal dan upeti, maka sistem sekarang (demokrasi) memberikan pilihan yg ideal bagi kita. Namun, jika kita anti upeti dan berbagai pungutan dzalim, maka saatnya kita berbenah menuju perubahan yg lbh baik.

Wallahu a'lam.