MUI menegur keras Menag karena Hadiri Acara Tasrif Award untuk LGBTIQ



Kehadiran Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI, dalam acara ulang tahun ke-22 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) guna menyampaikan orasi ilmiah berbuntut panjang.

Acara itu memicu perdebatan karena AJI menganugerahkan Tasrif Award untuk Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Inseksual, dan Queer (LGBTIQ) dan IPT 1965 pada Kamis (25/8/2016) pekan lalu.

Kini di media sosial beredar sebuah surat teguran dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang ditujukan kepada Menag.

Surat yang ditandatangani oleh Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin, dan Wakil Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan itu memuat sejumlah poin penting dengan redaksi sebagai berikut seperti disitat dari Republika, Selasa (30/8/2016):

“Pertama, menyesalkan kehadiran Saudara Menteri Agama  pada acara tersebut, karena di samping acara itu bukan menjadi tupoksi Kementerian Agama, juga LGBTIQ sudah difatwakan oleh MUI haram hukumnya dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Kedua, kehadiran Saudara pada acara tersebut sebagai Menteri Agama, sekaligus menyampaikan orasi kebudayaan dan memberikan apresiasi dan simpati kepada kelompok LGBTIQ, dapat  dipahami memberikan legitimasi keabsahan keberadaan  kelompok LGBTIQ.

Baik ditinjau dari segi agama, hukum, maupun sosial kemasyarakatan. Hal tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Bapak sendiri pada rapat antara Komisi VIII DPR-RI dan Kementerian Agama (17 Februari 2016) menyatakan bahwa LGBTIQ sebagai masalah sosial yang mengancam kehidupan beragama, ketahanan keluarga, kepribadian bangsa, serta ancaman potensial terhadap sistem hukum perkawinan di Indonesia.

Dan pada rapat itu pula, Menteri Agama tegaskan bahwa masalah LGBTIQ mengancam generasi penerus. Bahkan LGBTIQ merupakan ancaman bagi kehidupan bangsa Indonesia yang religius.

Ketiga, ke depan kami mengharapkan kiranya Saudara lebih berhati-hati menghadiri setiap acara yang diselenggarakan berbagai pihak, sehingga tidak menimbulkan kontraproduktif  dengan perlindungan umat dan kemaslahatan bangsa.”

Sebelumnya, Menteri Agama telah mengklarifiskasi melalui pesan whatsap ihwal kedatangannya dalam acara itu.

Menag menulis, ”Saya diminta menyampaikan orasi kebudayaan dalam ultah Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke-22. Ternyata dalam acara itu juga diberikan tiga award, (Tasrif Award utk kategori lembaga/komunitas yg paling gigih memperjuangkan hak-haknya, Udin Award utk wartawan yg paling gigih dengan liputan atau kehormatan profesinya, dan SK Trimurti Award utk perempuan yg gunakan media utk berjuang).

Saya dan semua hadirin tak ada yang tahu siapa yg akan mendapatkan award di masing-masing kategori itu, sampai diumumkan pada malam itu.

Ternyata yg menjadi pemenang untuk memperoleh Tasrif Award adalah Komunitas LGBTIQ dan IPT.

Saya tentu tak bisa intervensi apapun terhadap penetapan award yang masing-masing dilakukan oleh tim penilai tersendiri.

Saya menyampaikan orasi sama sekali tak menyinggung para pemenang award tersebut. Isi orasi saya justru mengingatkan media agar bersifat obyektif dan mengacu pada konstitusi NKRI yg masyarakatnya beragama dan beragam.

Demikian penjelasan saya. Marilah berlindung kepada Allah SWT dari perbuatan zalim dan fitnah. *Lukman Hakim Saifuddin* (Menteri Agama).”

“NABI SAW MENYUAPI YAHUDI” HADITS FIKTIF ?

Oleh : KH Najih Maimoen
Dalam acara “Kongkow Budaya” seringkali disebutkan hadits “Nabi Muhammad SAW menyuapi Yahudi padahal ia tukang mencaci dan menghina bahkan menyebut Nabi sebagai orang gila” dan hadits “Kanjeng Nabi dilempari Yahudi, kemudian Beliau menanyakan dan mencari si Yahudi tersebut….”

Perlu diketahui bahwa hadits tersebut “FIKTIF” dan hanya sebagai pembenaran “Agama Kemanusiaan”, sepengetahuan kami dalam kutubussittah tidak ada, apalagi divonis kesohihannya. Na’as sekali hadits tersebut dibuat dalil tentang Aqidah.

Kalau Orang baca kitab-kitab hadits, tentu ia akan tahu bagaimana besar dosa Si pencaci Nabi dan sulitnya mendapat hidayah dari Allah Swt. Ada beberapa sahabat Nabi SAW yang membunuh Wanita Yahudi yang mencaci maki Rasululloh, ternyata beliau membenarkan tindakan tersebut, padahal membunuh Wanita itu dilarang (dalam perang). Ini membuktikan betapa hina dan terlaknat orang – orang pencacimaki Rasulullah SAW.

Yang paling menyakitkan adalah sebagian tokoh masyarakat yang mengaku ulama justru berdalil إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق, dengan ngawurnya dia bilang ” Kanjeng Nabi akhlaqnya suuuaaaaee dengan bukti memaafkan orang yang mencacinya bahkan bersedia menyuapinya meskipun ia kafir”, Subhanalloh Ini kebohongan Besar. Menyuapi adalah pekerjaan khodim, berarti kanjeng nabi adalah khodimnya Yahudi?!, Naudzubillah…. Dalam sebuah hadits Muslim disebutkan, ketika ada seorang yahudi berbicara dengan “Nada Keras” dan memanggil “Muhammad bukan Rasulullah” kepada Rasulullah SAW, para shahabat mendorong dengan keras si Yahudi sampai tersungkur, dan Rasululloh SAW melihatnya tanpa meningkari, andai benar Rasululloh SAW khodim Yahudi tentu beliau akan bersabda “Jangan begitu wahai Shahabat, akhlakmu harus dijaga, kamunharus mengalah, biarkan saja si yahudi, Islam itu menjunjung tinggi Akhlaq mulia” إنا لله وإنا إليه راجعون

Sekali lagi, jika anda paham hadits dan fiqh, Keberadaan Yahudi di Madinah benar benar dikucilkan, sama seperti kafir kafir dzimmi yang lain. Tidak seperti tuduhan intelektual intelektual abal abal yang menyatakan “Piagam Madinah Menyamakan semua Hak Hak Penduduknya”, padahal yang dimaksud persamaan antara muslim dan kafir adalah masalah hukum perdata dan pidana dst sebagai bentuk keadilan ISLAM… Kalau masalah IZZAH/ kemuliaan, jelas sekali ولله العزة ولرسوله وللمسلمين ولكن المنافقين لا يعلمون.

Dalam kitab kitab hadits diterangkan bahwa Rasululloh SAW pernah melakukan tindakan kayak kayak “Ta’zhim” kepada Yahudi, yaitu ketika ada jenazah Yahudi lewat di hadapan Rasululloh SAW, seketika itu beliau Berdiri, padahal jika anda baca syarah syarah hadits, tentu akan anda ketemukan alasan dibalik berdirinya Rasulullah SAW, yaitu karena ingat Alloh Sang Kholiq lewat malaikat maut, pekerjaan berdiri sebagai bentuk kekhawatiran tentang kematian bukan MENGHORMATI BANGKAINYA YAHUDI, camkan itu!
أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Sumber : https://ribathdeha.wordpress.com/2016/07/15/nabi-saw-menyuapi-yahudi-hadits-fiktif/

Kisah Menakjubkan Vince Focarelli, Bos Gangster Australia yang Jadi Mualaf

Vince%2BFocarelli

Jangan pernah terburu-buru mengecap buruk orang lain karena boleh jadi kenyataan yang ada tidaklah seburuk yang dituduhkan.

Seperti perjalanan hidup yang dialami bos kelompok preman sadis yang masyhur di wilayah Adelaide, South Ausrtalia ini.

Namanya Vince Focarelli. Dulu dia lelaki bengal yang banyak terlibat dalam tindak kriminal di negara itu di bawah gangster Comanchero. Sebagai pimpinan sebuah kelompok kriminal yang kerap membuat kekacauan, Vince Focarelli tentu punya banyak musuh.

Hingga ia menjadi sasaran penembakan lawan-lawannya di Dry Creek pada Januari 2012 yang menewaskan anaknya, Giovanni. Kematian anaknya membuat Focarelli sangat terpukul.

Pelan-pelan Vince Focarelli mulai menepi dari dunia kekerasan setelah ia banyak belajar dan berkontemplasi tentang hakikat hidup. Ia pun kini telah memeluk agama Islam.

1. Menjadi muallaf

Vince%2BFocarelli_2

Mantan pemimpin geng preman terkenal asal Australia ini sekarang telah bertobat dan memeluk Islam. Penampilannya berubah drastis. Bercelana cingkrang dan berjenggot lebat. Peci pun selalu bertengger di kepalanya. Dulu terkenal sangar dan kasar, sekarang begitu penyayang baik kepada keluarga maupun orang sekitarnya. 

2. Membuka restoran halal diniatkan untuk tebus dosa masa lalu

Vince Focarelli yang sekarang berganti nama menjadi "Abdussalam" (Hamba Allah 'As-Salam' Pemberi Keselamatan) sekarang memiliki keinginan jadi orang baik setelah masuk Islam. Ia ingin hidup damai, memiliki keluarga yang normal, menjauhi masalah, dan banyak membantu orang lain.

Dia sekarang membuka restoran Halal di Adelaide, kota pesisir South Australia. Dengan restorannya, dia sekarang memberi makan tunawisma dan menyumbangkan makanan untuk orang miskin. "Saya telah benar-benar menjauhkan diri dari semua aspek kehidupan gangster," katanya kepada Seven News.

[video pada program Ramadhan lalu]




Tentu perubahan drastis yang dialami Focarelli dilakukan penuh perjuangan. Banyak tantangannya sudah pasti. Namun lambat laun ia terus menjalankan ajaran Islam dengan segala kemampuannya.

Semoga perjalanan hidup Vince Focarelli menambah keyakinan kita dan menguatkan komitmen kita untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Bahwa kebaikan dan kegembiraan akan pasti datang kepada mereka yang mencarinya dengan penuh penyerahan diri kepada-Nya. 

Trend Akhir Zaman, Orang Kafir Isi Pengajian Di Pesantren




Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo (HT) memberikan motivasi kepada para santri di Pondok Pesantren Tarbiyatul Huda, Bogor, Jawa Barat, Kamis 25 Agustus 2016. Di hadapan para santri, ayah lima anak itu mengungkapkan perjalanan hidupnya yang mampu bertransformasi menjadi pribadi berkualitas dan akhirnya meraih sukses. Menurut dia, bila kita ingin memulai sesuatu harus lah dengan visi yang matang.

"Segala sesuatu harus dimulai dengan visi. Kalau tidak ada visi, waktu akan terbuang sia-sia," kata pria yang juga CEO MNC Group itu. Selain itu dia menjelaskan, ada tiga kualitas yang harus terus diasah. Pertama, kualitas vertikal atau hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Kualitas vertikal akan membuat seseorang selalu berpikir jernih dan mendapatkan tuntunan. “Kita harus mendahulukan kualitas ke atas, bagaimana memperbaiki hubungan spiritual kita dengan Tuhan,” ujar dia.

Kualitas kedua yang harus dimiliki adalah kualitas ke dalam. Selalu introspeksi, memperbaiki kekurangan atau kelemahan diri. Hary Tanoe mengingatkan, musuh terbesar setiap orang adalah dirinya sendiri. “Kalau kita malas, ya kita harus paksa untuk rajin. Kalau kita tidak disiplin, ya harus disiplin,” terangnya.

Kualitas yang ketiga, menurut Hary Tanoe adalah kualitas ke luar. Setiap orang harus memberikan yang terbaik atas tugas dan tanggung jawab yang diberikan. “Keberhasilan bukan ditentukan usia, masa lalu atau latar belakang kita. Keberhasilan ditentukan oleh kualitas kita,” tegas dia.

Pimpinan Pesantren Tarbiyatul Huda KH. Bunyamin Syarif mengatakan, ilmu dan pengalaman yang diberikan Hary Tanoe menjadi bekal berharga untuk santrinya dalam melangkah ke depan. “Para santri bisa mengambil pelajaran dari motivasi yang diberikan beliau. Semoga anak-anak menjadi pribadi yang kuat untuk menopang dan memajukan negeri ini,” ungkapnya.[okezone]

Pengamat : Bom Gereja Medan, Operasi Hitam Intelejen !!



Pengamat politik Ahmad Baidhowi mengatakan, adanya teror bom di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Medan, Sumatera Utara, Ahad (28/8) lalu adalah bagian dari operasi intelijen hitam untuk menyudutkan Islam dan mengalihkan kasus penguasa yang jadi sorotan rakyat.

“Saya melihat teror ini bentuk operasi intelijen dengan melakukan penyusupan anak-anak muda yang punya semangat Islam tinggi tentang Jihad tetapi sedikit ilmu,” ungkap Baidhowi dalam pernyataannya.

Menurutnya, dengan adanya teror bom ini nama Islam menjadi tersudut. “Maka akan muncul Islam phobia dan dianggap Islam agama teror,” jelas Baidhowi.

Kata dia, dalam operasi intelijen hitam ini bukan membentuk jaringan tetapi hanya doktrinasi bisa melalui media sosial bahkan pertemuan langsung. “Memang sengaja tidak ada jaringan tetapi simpatisan dan doktrinasi serta tindakannya sporadis,” ungkap Baidhowi.

Ia mengatakan, tindakan teror seperti di Medan ini akan terus berlanjut. “Dimulai dari Solo bom bunuh diri di depan kantor polisi, gereja di Medan dan kemungkinan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya,” paparnya.

Kata Baidhowi tindakan teror ini mempunyai tujuan besar di saat pembahasan undang-undang antiterorisme di DPR. “Saya melihat ada rangkaian ke arah pembahasan undang-undang antiterorisme di DPR,” pungkasnya.

Seperti diketahui, telah terjadi teror bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansur Nomor 75 Medan, Sumatera Utara, Ahad (28/8). Teror bom bunuh diri tersebut menyebabkan pengkotbah di gereja itu, Pastor Albert S. Pandingan, mengalami luka ringan di bagian lengan kiri.

Beberapa saksi menceritakan, peristiwa itu terjadi ketika Pastor Albert S. Pandingan hendak berkotbah di mimbar, namun tiba-tiba seorang laki-laki yang diduga berinisial IAH menghampiri pastor tersebut sambil membawa sebuah bom rakitan dalam tas dan sebilah pisau.

Fatwa Nyleneh Riyadh Badr Bajrey mengkafirkan Demonstran, Ini bantahanya




Dalam sebuah kesempatan ceramah, Ustadz Riyadh Badr Bajrey menyatakan bahwa demonstrasi haram hukumnya.

Tak hanya itu, Ustadz alumnus Mesir, Keiro, ini juga menganjurkan untuk menasehati para demonstran. Jika sampai tiga kali tidak mau diperingatkan, maka tak mengapa untuk ditumpahkan darahnya karena mereka adalah khowarij dan bughot.

Berikut penggalan ceramah beliau yang diupload oleh Channel Youtube Taman Surga pada 23 Juli 2016.


Bagaimana pendapat anda tentang demo-demo anti BBM? Itu Bahlul! kapan demonstrasi menentang BBM, BBM jadi turun? Kagak pernah. Ini anak-anak yang demo cuman caper, cuman pengin dosorot saja, pengin ngetop, pengin cari sensasi. Maka dalam Islam orang-orang seperti ini disuruh bubar sebanyak 3 kali, kalau masih tidak mau juga tumpahin darahnya! Mereka sampah masyarakat, tumpahin darahnya biar cepet karena mereka khowarij! bughot! lumayan mengurangin kepadatan penduduk di Jakarta. Cuman itulah resiko dari Negara yang berhukum tanpa Islam, yang dari rakyat dan untuk rakyat, maka akan berantakan, ribet, selesai.
Tak hanya itu, Ustadz Riyadh Badr Bajrey juga membuat kontroversi dengan menyatakan FPI sebagai Front Penghancur Islam. (Baca disini: Nyatakan Demonstrasi Haram, Ustadz Riyadh Badr Bajrey Sebut FPI 'Front Penghancur Islam')

Berikut video lengkapnya



Bantahan

Disarikan dari soal-jawab dan tulisan Prof. Abdul Hayy al-Farmawi (Profesor tafsir Universitas al-Azhar)
Beberapa tahun terakhir ini, aktivitas demonstrasi, unjuk rasa, atau aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat semakin marak. Apa sesungguhnya hukum demonstrasi menurut pandangan Islam?

Demonstrasi ataupun unjuk rasa merupakan salah satu cara untuk menampakkan aspirasi ataupun pendapat masyarakat (ta‘bîr ar-ra’yi) secara berkelompok. Secara umum, aktivitas menampakkan aspirasi atau pendapat (ta‘bîr ar-ra’yi) di dalam Islam adalah perkara yang dibolehkan (mubah). Hukumnya sama seperti kita mengungkapkan pandangan atau pendapat tentang suatu perkara. Hanya saja, hal ini dilakukan oleh sekelompok orang.

Di dalam terminologi bahasa Arab, demonstrasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Muzhâharah (demonstrasi), yaitu aksi sekelompok masyarakat di tempat-tempat umum untuk menuntut perkara-perkara tertentu yang sudah menjadi tugas negara atau para penanggung jawabnya. Para demonstran dalam aksinya tersebut biasanya melakukan pengrusakan, penghancuran, dan pembakaran barang-barang milik negara ataupun barang-barang milik individu.

2. Masîrah (unjuk rasa), hampir sama dengan demonstrasi, yaitu aksi sekelompok masyarakat untuk mendukung atau menuntut sesuatu. Akan tetapi, tidak disertai pengrusakan, penghancuran, dan pembakaran atas barang-barang milik umum maupun khusus (milik individu).
Dengan demikian, muzhâharah (demonstrasi) tidak diperbolehkan (diharamkan) oleh Islam. Alasannya, di dalamnya disertai beberapa aktivitas yang diharamkan oleh syariat Islam, seperti: mengganggu ketertiban umum; merusak, menghancurkan, dan membakar fasilitas umum maupun barang-barang milik individu masyarakat. Tidak jarang pula, demonstrasi mengakibatkan perkelahian, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Pengharamannya di dasarkan pada fakta bahwa di dalam demonstrasi terdapat sejumlah tindakan yang diharamkan oleh syariat Islam.

Meskipun demikian, ‘demonstrasi’ yang dilakukan dengan tertib; memperhatikan syariat Islam, termasuk menyangkut pendapat/aspirasi yang disampaikan; tanpa kekerasan; tidak mengganggu ketertiban umum dan hak-hak masyarakat; tidak membakar, merusak, dan menghancurkan barang-barang milik umum, negara, maupun milik individu adalah diperbolehkan. Inilah yang disebut dengan masîrah (unjuk rasa).
Masîrah (unjuk rasa) merupakan salah satu cara (uslûb) di antara berbagai cara pengungkapan aspirasi atau pendapat (ta‘bîr ar-ra’yi). Oleh karena itu, aktivitas masîrah (unjuk rasa) bukanlah metode (tharîqah)—menurut Islam—dalam melakukan proses perubahan di masyarakat. Apabila kondisinya memungkinkan, masîrah (unjuk rasa) dapat dilakukan. Sebaliknya, apabila kondisinya tidak memungkinkan,masîrah (unjuk rasa) tidak perlu dilakukan. Hal ini sesuai dengan hukum kebolehannya.

Rasulullah saw tidak pernah menjadikan dan menggunakan unjuk rasa sebagai metode untuk mengubah masyarakat jahiliah di kota Makkah menjadi masyarakat Islam. Memang, beliau pernah melakukan aktivitasmasîrah satu kali di kota Makkah. Beliau memerintahkan kaum Muslim keluar dan berjalan membentuk dua shaf barisan. Satu dipimpin oleh ‘Umar ibn al-Khaththab dan lainnya dipimpin oleh Hamzah ibn ‘Abdul Muthalib r.a. Dengan diiringi suara takbir, kaum Muslim berjalan mengelilingi Ka’bah. Yang dilakukan Rasulullah saw adalah mengambil salah satu cara (uslûb) yang tidak pernah dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat lain sebelumnya, yang ditujukan dalam rangka mengekspose dakwah Islam.
Pandangan Islam yang menjadikan masîrah (unjuk rasa) sebagai uslûb mengungkapkan aspirasi atau pendapat, yang bisa dilakukan bisa juga tidak, sangat berbeda dengan pandangan masyarakat Sosialis dan Komunis. Mereka menganggap muzhâharah (demonstrasi) sebagai salah satu metode baku (tharîqah) dalam melakukan perubahan masyarakat. Bagi mereka, demonstrasi adalah semacam antitesa untuk menggerakkan proses perubahan masyarakat ke arah yang mereka inginkan. Oleh karena itu, apa pun akan mereka lakukan; termasuk dengan jalan merusak, menghancurkan, dan membakar fasilitas-fasilitas umum, negara, maupun barang-barang milik individu.

Berdasarkan hal ini, masyarakat Sosialis atau Komunis telah menjadikan muzhâharah (demonstrasi) sebagai metode baku dan ciri khas masyarakat mereka dalam melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat. Keberadaan demonstrasi adalah keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi agar proses perubahan dapat bergulir. Dalam skala yang lebih luas lagi, mereka menyebutnya dengan revolusi rakyat. Dengan mengatasnamakan rakyat, mereka berhak menghancurkan, merusak, dan membakar fasilitas dan milik umum maupun milik individu. Tujuannya adalah untuk menghasilkan sebuah sintesa, yaitu sebuah masyarakat Sosialis atau Komunis yang mereka angan-angankan.

Bagi kaum Muslim, haram hukumnya melakukan demonstrasi (muzhâharah) seperti yang dilakukan oleh kaum Sosialis maupun Komunis; yakni dengan cara merusak, menghancurkan, dan membakar barang-barang milik masyarakat, negara, maupun milik individu. Bagi kita, kaum Muslim, darah seorang Muslim, harta kekayaan yang dimilikinya, dan kehormatannya haram ditumpahkan, dirampas, dan dilanggar oleh Muslim lainnya. Syariat Islam bahkan menjaga tiga perkara tersebut dalam pagar yang sangat rapat.
Pelanggaran terhadap tiga perkara itu digolongkan ke dalam hukum-hukum hudûd, yaitu hukum yang bentuk pelanggaran dan sanksinya hanya ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Di samping itu, kita, kaum Muslim, tidak mengenal prinsip dan kaidah ‘menghalalkan segala cara’ (al-ghâyah lâ tubarriru al-washîlah), sebagaimana yang dianut oleh masyarakat Sosialis, Komunis, dan Kapitalis. Tindak-tanduk seorang Muslim, masyarakat Muslim, dan penguasa Muslim wajib terikat dengan syariat Islam; termasuk dalam mengungkapkan aspirasi atau pendapat dengan berunjuk rasa maupun dalam melakukan proses perubahan di tengah-tengah masyarakat. Tidak pantas seorang Muslim mengaku beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, sementara dalam mengungkapkan aspirasi/pendapat dan melakukan proses perubahan masyarakat agar menjadi masyarakat Islam, mereka lakukan dengan menghalalkan segala cara, mencampakkan tolok ukur halal-haram, dan membuang tuntunan syariat Islam. 

Allah Swt berfirman:
]وَمَا كَانَ لِمُـؤْمِنٍ وَلاَ مُـؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
"Tidaklah patut bagi laki-laki Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada pilihan (selain hukum Islam) tentang urusan mereka". (QS al-Ahzab [33]: 36)

BERIKUT DALIL DALAM Al-Qur’an, As-Sunnah, Siroh Rasul saw. dan Kaidah Fiqhiyah tentang masyirah.

1. Al Qur’an
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)( QS Al-Anfaal 60).

2. Hadits Rasul saw
Seutama-utamanya jihad adalah perkataan yang haq/benar terhadap penguasa yang zhalim (HR Ibnu Majah, Ahmad, At-Tabrani, Al-Baihaqi, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)
Barangsiapa melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya, dan jika tidak mampu, dengan hatitnya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman (HR Muslim).

3. Sirah Rasul saw (Sirah juga sunnah)
Nabi saw. dengan para sahabatnya melakukan unjuk rasa atau demonstrasi meneriakkan dan menyerukan tauhid dan kerasulan Muhammad saw. di jalan-jalan sambil menelusuri jalan Mekkah dengan tetap melakukan tabligh dakwah.

Rasulullan saw. dan para sahabatnya sambil melakukan Thawaf Qudum setelah peristiwa Hudaibiyah melakukan demo memperlihatkan kebenaran Islam dan kekuatan para pendukungnya (unjuk rasa dan unjuk kekuatan) dengan memperlihatkan pundak kanan ( idhthiba’) sambil berlari-lari kecil. Bahkan beliau secara tegas mengatakaan saat itu:” Kita tunjukkan kepada mereka (orang-orang zhalim) bahwa kita (pendukung kebenaran) adalah kuat (tidak dapat diremehkan dan dimain-mainkan)”.

4. Kaidah Fiqhiyah
Sesuatu hal yang tidak akan tercapai dan terlaksana kewajiban kecuali dengannya, maka hal tersebut menjadi wajib.

Sehingga dalam hal ini suatu tujuan yang akan ditempuh dengan mengharuskan menggunakan sarana, maka pemakaian sarana tersebut menjadi wajib. Dan demonstrasi adalah sarana yang sangat efektif dalam melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, dakwah dan jihad.
Dengan demikian kami cenderung mengatakan bahwa demonstrasi sebagai sebuah sarana harus dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad demi meneggakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Memberantas kezhaliman dan kebatilan. Dan umat Islam harus mendukung setiap upaya kebaikan dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai Islam demi kejayaan Islam dan kemashlahatan umat.

Wallahu A`lam Bish-shawab,

Tak Hanya Keroyok Warga, Segerombolan TNI ini Juga Sikat Uang Kas Masjid


VIDEO: Tak Hanya Keroyok Warga, Segerombolan TNI ini Juga Sikat Uang Kas Masjid


Satuan pengaman negara, TNI kembali tercoreng. Pasalnya di media sosial tersebar rekaman CCTV yang memperlihatkan bagaimana kebrutalan oknum TNI AU Lanud Soewondo terhadap warga sipil dan berbagai barang milik masjid Al Hasanah di Sari Rejo, Medan Polonia, Medan.


Dalam rekaman CCTV nampak jelas bahwa kejadian tersebut terjadi pada tanggal 15 Agustus 2016 pukul 16:16 WIB. Terlihat sejak awal para oknum TNI membawa sejumlah senjata seperti pentungan dan perisai sembari melakukan pengejaran. Sementara beberapa lainnya masuk ke dalam masjid.
Pada menit ke-17, seorang oknum TNI menggiring seorang pria berpeci keluar area masjid dengan perlakuan layaknya terhadap seekor kucing. Diketahui pria tersebut adalah Parno, Nazir Masjid Al Hasanah. Sementara pada menit ke-18, seorang pria lain pun dikeluarkan dan dihajar beramai-ramai.

Tak hanya menggunakan pukulan dan tendangan, oknum TNI juga menggunakan pentungan terhadap warga sipil yang hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.

Tak hanya brutal kepada warga sipil, sejumlah oknum TNI juga merusak kotak infaq yang berada di depan masjid dan menendangnya berkali-kali. Setelah itu mereka kemudian mengambil uang infaq tersebut tanpa merasa berdosa.

Terkait video tersebut, sejumlah organisasi islam seperti Forum Umat Islam dan juga Majelis Ulama Indonesia Kota Medan meminta agar Presiden Jokowi dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo melakukan tindakan tegas terhadap oknum TNI tersebut agar tidak dilakukan oleh yang lainnya.

Berikut video kebrutalan oknum TNI tersebut.


(Jurnalislam/dakwahmedia)

Ratusan Siswa Gelar Unjuk rasa, tuntut Penjarakan Penganiaya Gurunya



Kepala Kepolisian Sektor Tamalate, Makassar, Komisaris Azis Yunus menyatakan Adnan Achmad dan anaknya berinisial MAS, 15 tahun, telah ditetapkan sebagai tersangka.

"Keduanya telah ditahan," ucap Azis kepada Tempo, Kamis, 11 Agustus 2016.

Azis mengatakan penyidik menerapkan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pengeroyokan. Menurut Azis, keduanya diduga telah mengeroyok guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Makassar, Dasrul, 52 tahun, di sekolah.

"Tersangka diancam hukuman 7 tahun penjara," ujar Azis.

Menurut Azis, Adnan bersama anaknya mengeroyok Dasrul di halaman sekolah. Akibat pengeroyokan itu, Dasrul mengalami luka di bagian wajah.

Di kantor Polsek Tamalate, sekitar 700 siswa menggelar unjuk rasa. Mereka mendesak polisi memproses pelaku sesuai dengan perbuatannya.

Ratusan siswa ini datang ke kantor polisi dengan menggelar long march sekitar 6 kilometer. "Ini bentuk dukungan moril kepada guru kami yang dipukul," tutur seorang siswa bernama Muhammad Fikri.

Adapun Adnan, 43 tahun, merupakan alumnus sekolah tersebut. "Dan yang dia pukul adalah orang yang pernah mengajarnya," kata Kepala SMKN 2 Makassar Chaidir Madja kepada Tempo, Kamis, 11 Agustus 2016.

Menurut Chaidir, orang tersebut benar-benar tidak memiliki rasa hormat dan penghargaan kepada guru yang saat ini mengajar anaknya. Dia menyayangkan tindakan orang tua itu yang langsung melakukan tindak kekerasan.

Chaidir menuturkan Adnan datang ke sekolah dalam kondisi emosional. Adnan, kata Chaidir, langsung melabrak masuk sekolah tanpa melapor lebih dulu ke piket penjagaan.

"Dia datang teriak-teriak dan mencari wakil kepala sekolah," ucap Chaidir.

Adnan memukul Dasrul sesaat setelah tiba di sekolah itu pada Rabu, 10 Agustus 2016. Akibat pemukulan itu, Dasrul mengalami luka-luka di wajah hingga hidungnya mengeluarkan darah. Sebelumnya, anak Adnan berinisial MAS melapor kepada ayahnya bahwa ia telah dipukul gurunya di ruang kelas.

Chaidir berujar, Dasrul adalah guru yang paling sabar dan pendiam di sekolah itu. Menurut dia, bila benar guru itu memukul siswa, penyebabnya diduga siswa itu melakukan tindakan yang kelewat batas.

"Selama ini, Dasrul tidak pernah menyentuh siswa. Berarti ada yang kelewatan dari ulah siswa ini," ujar Chaidir.

Sebelumnya, Adnan mengaku langsung memukul Dasrul ketika berpapasan di halaman sekolah, tepat setelah dia baru tiba. Menurut dia, tangannya secara spontan memukul guru itu karena tidak terima dengan sambutan yang dinilai tidak sopan.

"Dia tidak merespons baik saat saya datang. Padahal saya ingin bicara baik-baik," kata Adnan

Warga Tanjungbalai desak polisi bebaskan warga yang masih ditahan



Puluhan warga Kota Tanjungbalai mendatangi kantor DPRD Kota Tanjungbalai guna menyampaikan keluhan mereka terhadap belasan warga yang masih ditahan di Polres Tanjungbalai pada Jum’at (5/8/2016) sore.

Salah satu warga mengatakan, mereka keberatan dengan penahanan belasan warga Tanjungbalai atas insiden kerusuhan yang mengakibatkan rusaknya rumah ibadah. Menurut warga, penahanan oleh pihak kepolisian melanggar kesepakatan damai yang telah ditandatangani oleh seluruh elemen masyarakat Kota Tanjungbalai.

“Apalagi ini (penyerangan, red) kan spontan, memang karena ada pemicu saja,” kata Safrijal, salah seorang warga yang mendatangi kantor DPRD.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Tanjungbalai, Bambang Lobo, bersama Ketua Komisi A, Muhammad Yusuf, yang keluar menemui warga mengatakan, pihaknya mendapat informasi bahwa para tokoh sudah melakukan audiensi kepada Kapolri dan Kapolda Sumatera Utara meminta agar warga yang ditahan dilepaskan.

“Info dari pak Fadly (anggota DPR RI asal Tanjungbalai) bersama tokoh yang lain sedang mengusahakan agar semua bisa dibebaskan,” ujar Bambang.

Fadly Nurzal, melalui sambungan telepon, kepada warga menyampaikan, Kapolda sudah menginstruksikan kepada jajaran Polres Tanjungbalai untuk segera mengurus berkas-berkas yang perlu dilengkapi untuk proses pelepasan tahanan.

“Kami sudah menyampaikan kepada Kapolri, menjamin dengan dibebaskannya warga tidak akan ada lagi insiden kerusuhan di Tanjungbalai,” jelasnya.

“Semua prihatin, tapi ini memang butuh kesabaran dan ketenangan,” lanjut Fadly berpesan.

Dia mengungkapkan, rencananya Sabtu pagi (06/08/2016) Kapolda akan meninjau langsung proses pembebasan tahanan tersebut di Tanjungbalai.

“Saya bersama tokoh lain juga akan kesana, mudah-mudahan kami usahakan semua bisa segera diselesaikan,” tandas Fadly.

Masyarakat beserta ormas Islam yang ada di Tanjungbalai mengaku akan terus mengawal proses pembebasan tahanan, dan mendesak agar warga yang ditahan benar-benar bisa bebas demi alasan keamanan di daerah tersebut.

Berusia 17 Tahun, Alvin Putra KH Arifin Ilham Melangsungkan Pernikahan dengan Lawan Debatnya



 Muhammad Alvin Faiz, putra pertama KH Muhammad Arifin Ilham melangsungkan pernikahan dengan Larissa Chou. Akad nikah berlangsung selepas shalat Subuh, Sabtu (6/8/2016) di Masjid Az-Zikra, Sentul Bogor, Jawa Barat.

Proses menuju pernikahan Alvin yang masih berusia 17 tahun dengan Larissa ini terbilang unik. Menurut Muhammad Jibriel Abdul Rahman, pendiri Arrahmah Media yang turut hadir saat akad nikah, disebutkan bahwa sebelumnya Larissa adalah pemeluk agama Kristen.

larissa chow alvin arifin ilham2“Waktu itu Alvin terlibat debat dengan Larissa yang etnis China itu soal Islam-Kristen. Larissa kalah debat. Akhirnya memutuskan memeluk Islam. Tak hanya itu, keluarganya termasuk ayahnya Rudi Gunawan juga memutuskan masuk Islam,” ungkap Jibriel kepada Voa-Islam, Sabtu (6/8/2016) pagi.

Proses akad nikah Alvin-Larissa ini dihadiri ribuan jamaah, ulama, dan tokoh. KH Didin Hafidhuddin memberikan khutbah nikah. Sementara KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii sebagai saksi.

“Kata Kiai Didin berseloroh, akad nikah selepas Subuh ini pertama di dunia. Iya mungkin bisa dimasukin rekor Muri,” ujar Jibriel.

Pernikahan Alvin dengan Larissa ini, jelas Jibriel, memberi pelajaran bagi para pemuda-pemudi Islam yang menunda-nunda untuk menikah.

“Bagi yang masih jomblo, seharusnya malu sama Alvin dan Larissa yang baru berusia 17 tahun sudah berani mengambil kesempatan untuk membina rumah tangga,” tandas Jibriel. (ts/voaislam)

Erdogan kecewa, AS Sahabatnya Menolak Menyerahkan Gullen



Turki menyetakan kekecewaannya atas sikap Amerika Serikat yang menolak permintaan ekstradisi terhadap Fethullah Gulen. Kekecewaan itu disampaikan langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Sebelumnya, Turki mengirimkan surat permintaan ekstrdisi Gullen kepada AS pada akhir Juli lalu. Namun, sayangnya AS menolak permintaan tersebut, karena Negeri Paman Sam itu menilai bukti yang disampaikan Turki tidak begitu kuat.

Menanggapi ini, Erdogan menyatakan dirinya sangat kecewa kepada negara yang dia anggap sebagai salah satu sahabat Turki. Kekecewaan ini semakin besar, karena sebelumnya jika AS meminta Turki mengekstradisi seseorang, Ankara tidak pernah menolak, atau meminta penjelasan lebih lanjut.

"Turki telah menuntut ekstradisinya, tapi Washington telah meminta bukti keterlibatan Gullen, dan mengatakan proses ekstradisi harus sesuai prosedur. Kami tidak meminta dokumen jika AS menginginkan seseorang yang dianggap teroris," ucap Erdogan, seperti dilansir Al Jazeera pada Rabu (03/08).

Pada Selasa (02/08) Erdogan juga telah menegaskan sikap pemerintah Turki yang menuding Gulen berada di balik upaya kudeta gagal pertengahan bulan lalu.

"Kau pasti sudah buta dan mati kalau tidak memahami bahwa ia (Gulen) berada di balik semua ini," kata Erdogan dalam wawancara dengan stasiun TV Televisa yang disiarkan Selasa (2/8/2016).

"Jika kami meminta ekstradisi seorang teroris, maka kau seharusnya memenuhi itu," ujarnya.

Erdogan mengatakan, bahwa otoritas AS meminta dokumen untuk ekstradisi Gulen, yang tinggal di Pennsylvania.

"Kalau kau mulai minta dokumen-dokumen dan lain-lain, maka itu hambatan besar dalam upaya kami memerangi terorisme."

"Namun saat ini kami mengalami kesulitan karena tidak bisa menerima seorang teroris yang kami minta untuk diekstradisi," katanya.

Gulen tinggal di Amerika Serikat sejak 1999 dan membantah terlibat dalam upaya kudeta 15 Juli. Otoritas Turki telah mengirimkan paket dokumen baru ke otoritas AS untuk ekstradisi Gulen menurut Menteri Kehakiman Bekir Bozdag.

"Dalam hal memerangi terorisme, kami tidak mau kehilangan waktu, enam bulan atau satu tahun, itu tak bisa ditolerir," kata Erdogan seperti dikutip kantor berita AFP.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan pada 18 Juli bahwa Turki harus menunjukkan "bukti autentik" dan "bukan tuduhan semata" terhadap Gulen untuk ekstradisinya.

Resmi, Haris Azhar dilaporkan BNN dan TNI terkait cerita pengakuan Freddy Budiman



Curhatan terpidana mati gembong narkoba Freddy Budiman kepada Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar berbuntut panjang. Haris Azhar dilaporkan ke polisi setelah membeberkan pengakuan Freddy soal keterlibatan Mabes Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN) dan salah jenderal bintang dua TNI dalam bisnis narkobanya.

“Saya dilaporkan TNI dan BNN ke Polisi, soal tersangka saya belum tahu,” jawab Harris Azhar, saat dikonfirmasi langsung, Rabu (03/07/2016) dinihari.

Namun pihak Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) telah mengeluarkan pengumuman dan mengundang awak media untuk konfrnsi pers terkait pengumuman tersangka oleh Mabes Polri tersebut.

“Dengan ini kami (Kontras) mengundang rekan-rekan jaringan masyarakat sipil untuk menanggapi rencana pemanggilan Bareskrim yang didukung oleh Tim Hukum Mabes Polri, TNI dan BNN kepada Haris Azhar dalam waktu dekat pasca pernyataan malam ini yang disampaikan oleh Kadiv Humas Mabes Polri Boy Rafli, guna merespon itu semua, KontraS mengundang anda semua pada Rabu, (03/08/2016) Pukul 10.00 WIB di Kantor KontraS, Jl. Kramat II No. 7, Jakarta Pusat,” ungkap juru bicara Kontras Yati Andriyani.

Haris dilaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik. Namun dia tidak menyebut pemanggilannya sebagai saksi atau tersangka. “Paling Rabu dipanggilnya. Dikenakan pasal 27 atau 28 UU ITE,” katanya.

Dihubungi terpisah, Direktur Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) Bareskrim Mabes Polri Brigjen Agus Adriyanto membenarkan adanya laporan terhadap Haris Azhar. “Emang benar tadi pagi ada laporan,” ucap Agus.

Dia membantah kabar beredar yang menyebut Mabes Polri telah menetapkan Haris sebagai tersangka. “Kata siapa (tersangka)? Kan laporannnya baru pagi tadi, kita masih selidiki dan masih dalami dan periksa saksi-saksi, masih ditelaah. Belum cepat begitu kita tetapkan orang tersangka,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Haris menulis sebuah tulisan terkait testimoni Freddy Budiman yang disebut Mabes Polri dan juga BNN menerima kucuran hingga puluhan miliyar rupiah guna memperlancar bisnis haram Freddy.(ts/pm)

Ini Pesan Ustadz "Teroris", Guru Freddy Budiman Sebelum Di Eksekusi


Detik-detik terakhir menjelang eksekusi mati terhadap terpidana mati kasus narkoba di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) pada Jum’at (29/7/2016) dini hari masih menyisakan cerita yang patut digali.
Salah satunya adalah sering terdengar suara tangisan dari para terpidana mati di ruang isolasi sejak mereka menempatinya pada Senin (25/7/2016) hingga Kamis (28/7/2016) malam.
Namun, salah satu petugas Lapas Batu, Nusakambangan mengungkapkan ada satu terpidana mati yang lain daripada lainnya, yakni Freddy Budiman. Disaat terpidana mati menangis karena akan dieksekusi mati, Freddy justru tergolong cukup tegar dibandingkan lainnya.
Selama di dalam ruang isolasi Lapas Batu, Freddy lebih banyak berdoa, berzikir dan melakukan sholat. Sedangkan saat beribadah itu, petugas jaga pun mendampingi Freddy karena sesuai prosedur tetap (protap) penjagaan khusus terhadap terpidana mati.
“Freddy beberapa kali salat Ashar kemudian zikir hingga Maghrib. Penjaga pun menungguinya sampai ibadah itu rampung,” jelasnya.
Lalu, siapa yang memberikan motivasi terhadap Freddy Budiman sehingga begitu tegar menghadapi maut yang akan menjemput? Bahkan diakhir hayatnya, Freddy Budiman kata petugas itu semakin rajin beribadah.
Menurut informasi yang diperoleh , Freddy semakin dekat kepada Allah setelah mendapatkan motivasi dan nasehat dari ustadz-ustadz dan napi kasus terorisme oleh pemerintah NKRI.
Seperti diberitakan sebelumnya, Freddy Budiman mengaku mendapatkan hidayah dan rajin mendalami ilmu agama setelah ditahan di Lapas/LP Batu, Nusakambangan. Sedangkan seorang petugas LP Batu mengungkapkan, Freddy sering berdiskusi dan bertanya soal ilmu agama dari napi teroris asal Bima, ustadz Abrori al-Ayyubi yang saat itu juga berada di LP Batu.
Namun keduanya terpisah karena Freddy dipindah ke LP Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat (Jabar). Namun di LP Gunung Sindur, Freddy justru semakin rajin mengaji Al-Qur’an dan beribadah. Keduanya lalu satu Lapas lagi setelah dipindah ke LP Pasir Putih Nusakambangan beberapa waktu lalu. Tapi, keduanya berbeda sel atau kamar saat berada di LP Pasir Putih.
Setelah diputuskan akan di eksekusi mati, Freddy kemudian di isolasi di LP Batu. Mengetahui hal itu, para napi terorisme kemudian menulis surat motivasi dan nasehat kepada Freddy yang dititipkan kepada keluarganya. Berikut ini isi surat tersebut;
Pesan Untuk Akhy Freddy:
1. Sabar akhy, perbanyak doa dan istighfar, semoga Allah tetapkan antum mendapat husnul khootimah. Aamiin
2. Perbanyak doa ini ya, insya Allah semua doanya sesuai sunnah Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam.
A. Perbanyak istighfar kepada Allah
استغفر الله العظيم
Astaghfirullahal ‘adzhiim
B. Perbanyak baca zikir ini juga :
سبحان الله و الحمد لله و لا اله الا الله و الله اكبر
Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar
C. لا حول و لا قوة الا بالله
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.
D. Juga doa ini
لا اله الا انت سبحانك اني كنت من الظالمين.
Laa ilaha illa anta subhanaka inniii kuntu minadzh dzhooliilmiin.
Sabar ya akhy, serahkan semua kepada Allah, perbanyak mohon ampun, taubat, istighfar, doa dan zikir. Semoga Allah ta’ala karuniakan husnul khootimah. Aamiin.. [AH/dbs/manjanik]

Kisruh Tanjungbalai : STANDAR GANDA HAM & DEMOKRASI


Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil maka yang harus disalahkan adalah Ustadz. Sebab, kalau tidak, itu namanya diktator mayoritas. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Namun, kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya…
“Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti-demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaimana yang pro dan yang kontra demokrasi ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus-menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam…

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad saw., melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.

Maka dari itu, kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap al-Quran, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia…

*****
Paragraf di atas sengaja saya nukil dari sebuah kolom kecil Emha Ainun Nadjib, budayawan terkenal di Tanah Air. Lewat sindirannya yang tajam, ia seolah mengungkapkan kegeramannya terhadap praktik demokrasi yang sering bersikap tidak adil terhadap Islam dan kaum Muslim.
Di sisi lain, kita juga sering menyaksikan ketidakadilan terhadap Islam dan kaum Muslim atas nama

HAM yang tercermin dalam beberapa contoh kasus berikut:
Jika ada sekelompok umat Islam mengobrak-abrik tempat-tempat mesum, mereka akan dianggap bertindak semena-mena dan melanggar HAM. Mereka layak dihukum. Sebaliknya, para pelacur dan lelaki hidung belang yang biasa mangkal di tempat-tempat maksiat itu tak tersentuh. Mereka dianggap tidak melanggar HAM. Yang wanita dibiarkan karena sekadar sedang mencari penghidupan. Mereka dipandang sedang bekerja hanya karena mereka diberi status sebagai “pekerja” seks komersial. Yang laki-laki pun tak diapa-apakan karena sekadar sedang mencari hiburan. Apalagi mereka telah membayar uang sekian kepada pengelola pelacuran, yang kebetulan dipajaki oleh Pemda setempat sebagai salah satu sumber pendapatan.

Ketika umat Islam menghujat kelompok sesat seperti Ahmadiyah atau al-Qiyadah al-Islamiyah, kaum liberal ribut sembari menuduh umat Islam tidak dewasa, tidak menghormati kebebasan dan melanggar HAM. Bahkan fatwa “sesat” MUI yang dinisbatkan kepada kelompok sesat itu mereka pandang sesat. Sebaliknya, ketika ada sekelompok umat Islam menyuarakan aspirasinya tentang perlunya Indonesia menerapkan syariah dan menegakkan Khilafah, atas nama kebebasan dan HAM pula kaum liberal mencap mereka sebagai musuh kebebasan, dan syariah yang diusungnya berpotensi melanggar HAM dan mengancam keragaman.

Demikianlah, atas nama HAM pelaku asusila dibela, sementara pelaku amar makruf nahi mungkar dicerca; para penoda kesucian agama Islam dibiarkan, sementara MUI yang berniat melindungi kehormatan Islam disalahkan. Atas nama HAM, pelaku perselingkuhan (perzinaan) dipandang wajar, sementara pelaku poligami dianggap kurang ajar; para para penolak pornografi-pornoaksi dicaci-maki, sementara para pelakunya dipandang pekerja seni. Atas nama HAM pula, para pejuang syariah dituduh memecah-belah, sementara para pengusung sekularisme dan liberalisme dianggap membawa berkah.

Itulah secuil gambaran tentang betapa bobroknya demokrasi dan HAM. Tak ada demokrasi meskipun itu mayoritas, asal yang mayoritasnya adalah Islam. Tak ada HAM walaupun terjadi pelanggaran hak asasi, asal pelanggaran hak asasi itu menimpa umat Islam.

*****
Di samping jelas-jelas bobrok, demokrasi dan HAM juga nyata-nyata tidak jelas juntrungannya. Dalam demokrasi, katanya rakyat yang berdaulat. Faktanya, yang sangat adikuasa adalah para pemodal kuat. Ralph Nader, pada tahun 1972 menerbitkan buku, Who Really Runs Congress? Buku ini menceritakan betapa kuatnya para pemilik modal mempengaruhi dan membiayai lobi-lobi Kongres dalam pemerintahan Amerika Serikat. Adapun Hedrick Smith, lewat bukunya, The Powergame (1986), menegaskan bahwa unsur terpenting dalam kehidupan politik Amerika yang “demokratis” adalah: (1) uang; (2) duit; dan (3) fulus. Dengan begitu, benarlah apa yang diteriakkan oleh Huey Newton, pemimpin Black Panther, pada tahun 1960-an, “Power to the people, for those who can afford it (Kekuasaan diperuntukkan bagi siapa saja yang mampu membayarnya).”

Dalam tataran praktiknya, demokrasi juga menghasilkan sejumlah kerumitan. Sejak berdirinya pada tahun 1776, Amerika Serikat—sebagai kampiun demokrasi di dunia—memerlukan waktu 11 tahun untuk menyusun konstitusi, 89 tahun untuk menghapus perbudakan, 144 tahun untuk memberikan hak pilih kepada kaum wanita, dan 188 tahun untuk menyusun draf konstitusi yang “melindungi” seluruh warganegara (Strobe Talbott, 1997).

Bahkan setelah ratusan tahun hingga hari ini, demokrasi Amerika belum juga “rela” memberikan kursi kepresidenan kepada seorang wanita. Padahal demokrasi—katanya—menjunjung tinggi kesetaraan dan memberikan hak politik yang sama kepada laki-laki maupun perempuan.

Anehnya, dengan perjalanan masa lalu yang demikian kelabu serta masa kini yang penuh dengan ironi dan kontradiksi, Amerika dengan pongahnya memberikan kuliah tentang demokrasi—juga HAM—kepada negara-negara berkembang yang mayoritasnya negeri-negeri Islam. Lebih aneh lagi adalah para pemuja demokrasi dan HAM dari kalangan Muslim, yang tetap buta terhadap kebobrokan demokrasi serta menutup mata terhadap kebejatan negara adikuasa AS sebagai pengusung utamanya.
Benarlah Sir Winston Churchill (PM Inggris pada masa PD-II) yang pernah mengatakan, “Demokrasi bukanlah sistem yang baik; dia menyimpan kesalahan dalam dirinya (built-in-error).”
Wamâ tawfîqi illâ billâh. [Arief B. Iskandar]

Polisi Tetapkan 7 Tersangka, Meliana Pengumpat Azan cuma jadi saksi




Polisi menetapkan 7 orang tersangka dalam kasus kerusahaan berbau SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan) di Tanjung Balai.

“Situasi sudah terkendali dan saat ini sudah kondusif. Kita menetapkan 7 orang tersangka untuk kerusuhan di Tanjung Balai. Proses hukum tetap berjalan, tapi saat ini kita lebih mengutamakan situasi,” terang Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting, Minggu (31/7/2016).

Menurutnya, warga yang telah ditetapkan sebagai tersangka merupakan pelaku langsung kerusuhan. Sedangkan, Meliana, wanita etnis Tionghoa yang meminta pengurus Masjid Almakshun, untuk mengecilkan suara mikropon masjid itu sehingga memicu kerusuhan, tidak dijadikan sebagai tersangka. “Kalau Meliana tidak, dia bukan tersangka. Dia sebagai saksi,” tambahnya.

Disinggung soal ucapan Meliana yang berujung pada kerusuhan, Kombes Rina tidak bersdia mengomentarinya. Dia hanya menyebut, 7 tersangka itu merupakan pelaku langsung kerusuhan. “Belumlah ya, belum mengarah ke situ (maksudnya tersangka),” tukasnya.


Sumber : medansatu