Bank-bank di Eropa Mulai Di Ujung Tanduk



Industri  perbankan di Eropa mulai tergiring nasibnya ke ujung tanduk. Baru-baru ini pasar kredit Jerman, di Berlin, secara tiba-tiba mulai berhenti menerbitkan utang.  Perlambatan ekonomi global telah membawa lembaga keuangan di Eropa dalam keadaan genting. Sebuah “stress test” terhadap goncangan ekonomi global dilakukan baru-baru ini pada bank-bank di Eropa, dan umumnya tidak lolos ujian.

Bank of England bergegas  meyakinkan pasar global bahwa pemberi pinjaman  di Inggris tetap dalam posisi yang kuat untuk menghadapi goncangan keuangan global, tapi di wilayah Eropa yang tersisa mungkin  akan mengalami  turbulensi.

Otoritas Perbankan Eropa (European Bank Authority ), sebuah lembaga Uni Eropa, mengkordinasikan stress test  atas  51 lembaga pemberi pinjaman dari seluruh blok yang menyatakan keprihatinan. Hasil  tes menunjukkan  bahwa sebagian besar bank-bank Eropa dalam kondisi tidak siap menahan guncangan.   Demikian laporan Hangthebankers.com.



Salah satu hasil stress test terburuk adalah kemungkinandi8alami oleh  lembaga keuangan yang paling sistematis dan penting di Eropa, Deutsche Bank.  Sebanyak 98% keuntungan tahunan merosot, memicu kekhawatiran bahwa hal itu mungkin menjadi  “Lehman Brothers dari 2016” menciptakan efek domino menginfeksi aset dari sistem keuangan global, serupa yang terjadi pada perusahaan ini 2007/8 lalu.

Sama buruknya dengan berita tentang  Deutsche Bank,  adalah nasib lembaga keuangan yang paling rentan di Eropa,  Banca Monte dei Paschi di Siena (BMPS), Italia, satu nank tertua di dunia. BMPS dilaporkan sarat dengan pinjaman beracun dan hipotek dan mungkin  masuk ke dalam wilayah negatif – atau kebangkrutan.

Demikian perkembangan mutakhir perbankan di Eropa. Bilakrisis berkelanjutan bisa dipastikan efek dominomnya akan merambah ke mana-mana. (Zaim Saidi)

MENIKAH MUDA ITU HEBAT


Menunda pada usia muda dengan alasan belum tamat kuliah bukan syarat sah. Menikah adalah hal penuh keindahan pasangan yang saling mencintai dan tidak ada patokan berapa usia yang tepat untuk menikah.  Semua itu kembali pada kemampuan dan kesiapan sangat dianjurkan untuk dilakukan. Fenomena untuk menjalin hubungan dalam usia muda adalah salah satu hal postif. Ini beberapa rahasia dibalik menikah muda
Kebahagiaan
Persentase tertinggi orang yang merasa sangat puas dengan kehidupan pernikahan adalah mereka yang menikah di usia 20-28 tahun. Sebab mereka umumnya belum memiliki banyak ego-ambisi. Pasangan muda lebih mudah menerima pasangan hidup Bahkan, ketika sang suami belum mapan secara ekonomi dan akibatnya hidup “pas-pasan”, mereka tetap bisa enjoy dengan kondisi tersebut.

Mudah Adaptasi
Pasangan berusia muda memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru juga kepribadian. Hal yang demikian tidak terjadi pada pasangan pengantin yang telah berusia matang.

Belajar Kedewasaan
Belajar menjadi lebih dewasa dengan orang yang dicintai adalah fase hidup yang menyenangkan. Bisa menjadi lebih bertanggung jawab. Daripada sebelumnya saat belum menikah, seseorang lebih bertanggung jawab karena tuntutan atau keadaan yang memaksa harus seperti itu.

Emosi Yang Stabil
Terbukti lebih cepat mendewasakan pasangan tersebut. Dalam arti, menikah dan berumah tangga membuat seseorang lebih terkontrol emosi Ini dipengaruhi oleh ketenangan yang hadir sejalan dengan adanya pendamping dan tersalurkannya “kebutuhan batin.”
Hasil studi sosiolog Norval Glenn dan Jeremy Uecker pada tahun 2010 mendukung hal ini. Menurut hasil studi tersebut, menikah pada usia muda akan lebih bermanfaat dari sisi kesehatan dan mengontrol emosi.

Mencapai Impian
Di sinilah letak serunya menikah muda.Pasangan masih memiliki semangat yang tinggi dalam mengejar cita-cita.Dukungan yang diberikan pun lebih konkrit dan nyata dalam suatu tindakan

Semakin Sukses
Pandangan seseorang untuk menunda menikah dengan alasan mencapai jenjang karir tertentu atau hidup mapan terlebih dahulu. Padahal, saat seseorang telah menikah, ia menjadi lebih tenang, merasakan sakinah. Dengan ketenangan dan stabilnya emosi ini, ia bisa lebih fokus dalam meniti karir dan beraktifitas apa pun. Karena tidak mengherankan jika banyak individu yang sukses di usia 40-an adalah mereka yang menikah di usia 20-an.
Kesehatan

Peluang memperoleh anak lebih tinggi, dibandingkan pengantin wanita berusia lebih dari 35 tahun. Ini adalah keuntungan menikah muda. Usia yang muda mampu mengimbangi pertumbuhan generasinya kelak hal ini didukung dengan kesehatan.

Menikahlah
Buat yang sudah siap untuk berumah tangga, tidak salah untuk meneruskan hubungan dengan seseorang menuju ke jenjang kepastian. Saatnya membangun kehidupan yang indah dengan menikah.  Yuk raih berkah bersegeralah

Sumber : alfawazmedia.com

Komentar : Sebagai Muslim tentu harus terikat Hukum Syara, Islam tidak mengenal pacaran. Segeralah menikah apabila sudah siap. Kapan siapnya? Artikel ini mungkin bisa sedikit membantu menjawab :)

Habib Rizieq: Pemerintah Jangan Hanya Buru Santoso, Tapi Juga Laskar Kristus



Imam besar Front Pembela Islam, Habib Rizieq Syihab menghimbau kepada pemerintah Republik Indonesia untuk menangkap pelaku pembantaian Poso pada tahun 1998-2000. Menurutnya, pemerintah seharusnya tidak hanya memburu dan membunuh Santoso tapi juga harus memberangus Laskar Kristus.

“TEGAKKAN KEADILAN DI POSO … !!! Pemerintah RI di POSO jangan hanya menyerang Pesantren Ust.Adnan Arsal di Tanah Runtuh, menangkap Ust.Hasanuddin dan menahan Basri, lalu memburu dan membunuh Santoso cs dengan dalih Penegakan Hukum. Tapi Pemerintah jg wajib proses hukum hgg tuntas LASKAR KRISTUS yg bantai 2000 Umat Islam di Poso sepanjang thn 1998 hingga tahun 2000,” kata Habib dalam akun twitter pribadinya @syihabrizieq pada Selasa (26/07).


Selanjutnya, ia menyebutkan 16 nama yang terkait dengan kasus pembantaian umat Islam di Poso. “Sbgmn disebut dlm persidangan oleh tereksekusi mati Cornelis Tibo dkk, yaitu : 1. Yanis Simangunsong, 2. L Tungkanan, 3. Eric Rombot, 4. Mama Wanti, 5. Luther Maganti, 6. Drs. J. Santo, 7. J. Kambotji, 8. Drs. Sawer Pelima, 9. Pdt. Renaldy Damanik, 10. Paulus Tungkanan, 11. Angki Tungkanan, 12. Lempa Deli, 13. Yahya Patiro (mantan Sekab Poso), 14. Jenderal H, 15. Jenderal R, dan 16. Jenderal T,” jelasnya

[next]
Habib juga meminta kepada pemerintah untuk memeriksa wanita bernama Melly, wanita kelahiran Malei-Poso. Menurutnya, warga pernah menyaksikan Melly datang ke salah satu basis Kristen Poso, Tentena pada akhir Mei tahun 2000. Dalam kunjungan yang didampingi bule Belanda tersebut, setelah dari Tentena wanita itu lalu diantar ke Debua dan Sangginora, Poso Pesisir.

“Sehingga pada awal-awal konflik Poso bergulir, Melly santer “disebut-sebut” sebagai salah seorang “Pemasok Dana” untuk pihak Kristen. Hal tersebut sesuai dengan Laporan Majalah pekanan Al-Chairaat Edisi 07/Tahun ke-29 Minggu II, Sept 2000,” ungkapnya.

Maka ia meminta pemerintah menghadapkan mereka semua yang bersangkutan ke pengadilan untuk pembuktian salah atau tidak bersalah.

“Jika Pemerintah RI tdk proses hukum 17 nama tsb maka jgn salahkan Kalangan jihadis manapun yg buru & targetkan para Pembantai Umat Islam. Ayo …, tegakkan keadilan tanpa pandang SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) … !!! Justice for All …Allaahu Akbar … !” pungkasnya. (kiblat)

Inilah Identitas Warga yang Disebut Picu Kerusuhan di Tanjungbalai




 Adalah, Herlina (46), istri dari Hong Tui warga Jalan Karya, Kelurahan Tanjungbalai 1, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, yang disebut-sebut sebagai pemicu pembakaran Kelenteng, rumah ibadah warga Tionghoa di Tanjungbalai, Jumat malam hingga Sabtu dinihari (30/7/2016).

Keterangan yang diperoleh, Herlina, seorang ibu tiga anak itu, disebut-sebut sempat memaki seorang imam yang sedang mengumandangkan adzan salat Isa di masjid Al Maksum.

“Informasi sementara dari masyarakat bahwa, warga chinese tersebut membuat keributan di mesjid dan memaki imam yang sedang adzan di masjid karena tidak senang akan adanya adzan di mesjid hingga menyebabkan umat islam menjadi marah,” demikian diunggah laman media sosial facebook RRI Tanjungbalai.

Baca :

Menurut Kadek, awalnya kasus ini tidak sampai meluas. Karena jamaah masjid sudah mencoba menyelesaikannya dan memanggil pihak kepolisian. “Bahkan perempuan itu sudah dibawa ke kantor polisi. Tapi sekitar pukul 22.30 WIB, massa semakin banyak lalu merusak rumahnya,” beber Kadek.
Kediaman Herlina di Jalan Karya, Kelurahan Tanjungbalai 1, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, dirusak warga, Jumat malam (29/7/2016).

Kediaman Herlina di Jalan Karya, Kelurahan Tanjungbalai 1, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, dirusak warga, Jumat malam (29/7/2016).

Keterangan yang diperoleh dari Kadek Rossoneri, Ketua KNPI Kecamatan Tanjungbalai Utara, saat ini Herlina diamankan polisi di Polres Tanjungbalai.

Informasi yang diterima Kadek, sikap perempuan tersebut bukan kali ini saja. Sebelumnya, di bulan Ramadhan, dia juga berulah dengan marah-marah saat suara adzan berkumandang di masjid.

“Yang saya dengar dia tidak mengalami gangguan jiwa. Normal dan sehat. Tak tau juga alasannya kenapa sampai marah-marah dengar suara adzan,” jelasnya.

Sejauh ini belum diperoleh keterangan alasan Herlina bersikap seperti itu. Namun akibat perbuatannya, situasi Kota Tanjungbalai saat ini masih mencekam. Hampir seluruh rumah ibadah warga Tionghoa Tanjungbalai dirusak dan dibakar massa

Hukum Menjatuhkan Talak dalam Keadaan Marah




Menurut Wahbah Zuhaili marah (ghadhab) ada dua. Pertama, marah biasa yang tak sampai menghilangkan kesadaran atau akal, sehingga orang masih menyadari ucapan atau tindakannya. Kedua, marah yang sangat yang menghilangkan kesadaran atau akal, sehingga seseorang tak menyadari lagi ucapan atau tindakannya, atau marah sedemikian rupa sehingga orang mengalami kekacauan dalam ucapan dan tindakannya. (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/343).

Para fuqaha sepakat jika suami menjatuhkan talak dalam keadaan marah yang sangat (kategori kedua), talaknya tidak jatuh. Sebab ia dianggap bukan mukallaf karena hilang akalnya (za`il al-aql), seperti orang tidur atau gila yang ucapannya tak bernilai hukum. Dalilnya sabda Nabi SAW,“Diangkat pena (taklif) dari umatku tiga golongan : anak kecil hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga waras.” (HR Abu Dawud no 4398). (Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, 5/215; Sayyid Al-Bakri, I’anah al-Thalibin, 4/5; Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/343; Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 29/9).

Namun fuqaha berbeda pendapat mengenai talak yang diucapkan dalam keadaan marah biasa (thalaq al-ghadbaan). Pertama, menurut ulama mazhab Hanafi dan sebagian ulama mazhab Hambali talak seperti itu tak jatuh. Kedua, menurut ulama mazhab Maliki, Hambali, dan Syafi’i, talaknya jatuh. (Hani Abdullah Jubair, Thalaq al-Mukrah wa al-Ghadbaan, hal. 19; Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahfan fi Hukm Thalaq al-Ghadban, hal. 61).

Pendapat pertama antara lain berdalil dengan hadits ‘A`isyah RA bahwa Nabi SAW bersabda,”Tak ada talak dan pembebasan budak dalam keadaan marah (laa thalaqa wa laa ‘ataqa fi ighlaq).” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah). (Musthofa Al-‘Adawi, Ahkam Al-Thalaq fi al-Syari’ah al-Islamiyah, hal. 61).

Pendapat kedua antara lain berdalil dengan riwayat Mujahid, bahwa Ibnu Abbas RA didatangi seorang lelaki yang berkata,”Saya telah menjatuhkan talak tiga kali pada isteriku dalam keadaan marah.” Ibnu Abbas menjawab,”Aku tak bisa menghalalkan untukmu apa yang diharamkan Allah. Kamu telah mendurhakai Allah dan isterimu telah haram bagimu.” (HR Daruquthni, 4/34). (Hani Abdullah Jubair, Thalaq al-Mukrah wa al-Ghadbaan, hal. 24).

Menurut kami, yang rajih (kuat) adalah pendapat kedua, yakni talak oleh suami dalam keadaan marah tetap jatuh talaknya. Alasannya, hadits ‘A`isyah RA meski menyebut talak orang yang marah tak jatuh, tapi yang dimaksud sebenarnya bukan sekedar marah (marah biasa), melainkan marah yang sangat. Imam Syaukani menukilkan perkataan Ibnu Sayyid, bahwa kalau marah dalam hadits itu diartikan marah biasa, tentu tidak tepat. Sebab mana ada suami yang menjatuhkan talak tanpa marah. (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1335).

Kesimpulannya, suami yang menjatuhkan talak dalam keadaan marah dianggap tetap jatuh talaknya. Sebab kondisi marah tidak mempengaruhi keabsahan tasharruf (tindakan hukum) yang dilakukannya, termasuk mengucapkan talak. Kecuali jika kemarahannya mencapai derajat marah yang sangat, maka talaknya tidak jatuh. Wallahu a’lam.

KH Shiddiq Al Jawie

Kronologi Lengkap Kerusuhan Tanjungbalai



Berikut ini kronologis kerusuhan antara warga Tanjungbalai dengan masyarakat etnis Tionghoa pada Jumat, (29/07).

1. Pada hari Jum’at tgl 29 Juli 2015 sekitar pkl 21.00 Wib, bertempat di Jln.Karya Lingkungan II Kelurahan TB.Kota I Kec.Tanjungbalai Selatan Kota Tanjungbalai telah terjadi keributan antara masyarakat Etnis Tionghoa dgn masyarakat pribumi.

Masyarakat Etnis Tionghoa yg bernama Erlina, umur 46 thn, Pekerjaan ibu rumah tangga, memprotes dan melarang pengeras suara dari Masjid Al Maksum hingga memicu masyarakat pribumi ± 50 orang melakukan aksi spontanitas melempari rumah Erliana. Merasa tidak terima mereka melaporkan ke Kepala Lingkungan (Kepling) dan dibawake kantor Lurah TB. Kota I Kec. Tanjungbalai Selatan.

2. Pada pkl 21.35 Wib, Pengurus Masjid Al Maksum dan Masyarakat Etnis Tionghoa yg bernama Erlina dan Suami beserta Kepling mendatangi Kantor Lurah Kelurahan TB. Kota I Jln.Juanda untuk didamaikan. Dikarenakan tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak yang ribut, akhirnya diarahkan ke Kantor Polsek Kota Tanjungbalai.

Saat ini pengurus Masjid Al Maksum dan masyarakat Etnis Tionghoa yang bernama Erlina dan Suami beserta Keliling sedang diperiksa di Kantor Polsek Kota Tanjungbalai. Ketua MUI Bpk. H. Syahron Sirait dan Sekretaris FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Bpk. Marolop sudah di Polsek Kota Tanjungbalai.

3. Pada hari Sabtu tgl 30 Juli 2016 sekitar pkl 00.45 Wib, bertempat di Pantai Amor Jalan Asahan Kel.Indra Sakti Kec.Tanjungbalai Selatan Kota Tanjungbalai telah terjadi pelemparan, pembakaran dan pengrusakan Vihara, Kelenteng beserta kendaraan roda empat. Adapun Vihara dan Kelenteng yang dirusak dan dibakar, sbb :

A. Vihara dan Kelenteng dibakar dan dirusak :

1) Vihara Tri Ratna (dibakar) dan 3 Unit kendaraan roda 4 dibakar Jln. Asahan Kel. Indra Sakti Kec. Tanjungbalai Selatan.
2) Vihara Avalokitesvara (dibakar) Jln.Teuku Umar Kel.Indra Sakti Kec.Tanjungbalai Selatan.
3) Kelenteng Dewi Samudra (dibakar) Jln.Asahan Kel.Indra Sakti Kec.Tanjungbalai Selatan.
4) Kelenteng Ong Ya Kong (dibakar) Jln.Asahan Kel.Indra Sakti Kec.Tanjungbalai Selatan.
5) Kelenteng Tua Pek Kong (dibakar) Jln.Asahan Kel.Indra Sakti Kec.Tanjungbalai Selatan.
6) Kelenteng Tiau Hau Biao (dibakar) Jln.Asahan Kel.Indra Sakti Kec.Tanjungbalai Selatan.
7) Kelenteng Depan Kantor Pengadaian (dibakar) Jln.Sudirman Kel.Perwira Kec.Tanjungbalai Selatan.
8) Kelenteng (dibakar) Jln.M.T.Haryono Kel.Perwira Kec.Tanjungbalai Selatan.
9) Kelenteng Huat Cu Keng (dibakar) Jln.Juanda Kel.TB.Kota I Kec.Tanjungbalai Selatan.
10) Kelenteng (dirusak) Jln.Juanda Kel.TB.Kota I Kec.Tanjungbalai Selatan.
11) Yayasan Sosial (dirusak) dan 3 Unit Kendaraan roda 4 dirusak Jln.Mesjid Kel.Indra Sakti Kec.Tanjungbalai Selatan.
12) 3 Unit rumah (dirusak).

B. Kerugian Materil diperkirakan milyaran rupiah untuk korban jiwa nihil, situasi saat ini sudah kondusif, massa yang ribuan sudah terpecah dan sebagian sudah kembali ke rumah masing-masing.

C. Untuk mengantisipasi kejadian susulan setiap Vihara dan Kelenteng dijaga dan diamankan oleh TNI dan Polri. Jalan² penghubung menuju ke Kota Tanjungbalai ditutup dan dijaga oleh Aparat.

D. Untuk antisipasi menjelang Sholat Subuh TNI dan Polri tetap melaksanakan Patroli dan Siaga.

Baca : Tidak Hanya Pelarangan Adzan, Ini yang Bikin Warga Tanjung Balai Marah

Tidak Hanya Pelarangan Adzan, Ini yang Bikin Warga Tanjung Balai Marah



Kerusuhan terjadi di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utama, Sabtu (30/07/2016) dini hari. Kericuhan bermula saat seorang warga etnis Cina yang identitasnya belum diketahui, warga Jalan Karya Tanjung Balai, mengamuk saat mendengar suara adzan di masjid Al Maksum Jl. Karya Tanjung Balai tepatnya di depan rumahnya sendiri.

Masjid AL Maksum, Muazin di protes ketika Azan


Warga yang tidak terima dengan sikap warga etnis Cina tersebut akhirnya marah, dan informasi tersebut beredar di media sosial sehingga memicu kemarahan yang meluas hingga terjadi sejumlah pembakaran Vihara. 
“Dari keterangan masyarakat bahwa warga tersebut membuat keributan di mesjid dan memaki imam yang sedang adzan di masjid karena tidak senang akan adanya adzan di mesjid hingga menyebabkan umat Islam menjadi marah,” bunyi status yang beredar di media sosial, dikutip dari dnaberita.com

Mediasi tak buahkan hasil

Sekretaris Forum Umat Islam (FUI) Tanjung Balai, Ustaz Luthfi Ananda Hasibuan mengatakan peristiwa tersebut menjadi puncak kemarahan warga akibat sikap warga etnis Cina yang selama ini arogan. "Mereka suka menyepelekan, suka semena-mena, jika kesenggol sedikit langsung marah dan tak segan-segan mengajak berkelahi," ujarnya saat dihubungi Suara Islam Online, Sabtu (30/7/2016).




"Dan sudah menjadi rahasia umum, sekitar Vihara sering terjadi prostitusi, mereka menjual anak-anak kita dari kaum muslimin," tambah Ustaz Luthfi.
Karena itulah, kata dia, warga sudah lama geram. "Selama ini kita sudah bersikap sabar, namun karena sudah keterlaluan dan kemarahan warga tak terbendung jadi sekarang ini puncaknya," ungkapnya.

Baca : Kronologi Lengkap Kerusuhan Tanjungbalai

Inilah Identitas Warga yang Disebut Picu Kerusuhan di Tanjungbalai

Sebenarnya, lanjut Ustaz Luthfi, jika masyarakat dari golongan manapun bisa saling menghormati dan menghargai itu tidak akan ada masalah. "Kalau kita gak diganggu, agama kita gak diusik, itu gak akan ada masalah," jelasnya. 
"Karena itu kita berharap kedepannya mereka tidak bersikap semena-semena lagi, dan jangan mengusik agama kita," harap Ustaz Luthfi. 

Lecehkan Ulama dan Agama Islam, Netizen Minta Polisi Tangkap Orang Dalam Video Ini



Seseorang yang belum diketahui identitasnya melakukan pelecehan terhadap Ulama dan agama Islam. Orang tersebut mengunggah aksinya dalam sebuah video berdurasi 3:22 menit.

Dalam video tersebut orang tersebut mengatakan bahwa jangan mempercayai para ulama dan mengaggap bahwa keyakinan akan surga dan neraka adalah sebuah kedustaan.


Selain itu orang tersebut menklaim bahwa umat Islam yang masih mempercayai Ulama masuk dalam kategori manusia yang “tolol”.

Kecaman langsung berdatangan dari para netizen yang menganggap bahwa orang dalam video tersebut sangat melecehkan agama Islam.



“Dia melecehkan kita seluruh umat Islam. Mohon di share biar cepet ketangkep.Paling2 nanti mewek nih klo udh ketangkep” Ujar netizen bernama Alvaro.

Berikut ini isi videonya:


Hikmah Taubatnya Freddy Hingga Khatamkan Al Quran 10 Kali sebulan


Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Oleh karena itu, hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru ia harus selalu memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan dan akhir hayat yang baik (husnul khatimah)

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar lagi dibenarkan, “Sesungguhnya setiap kamu dihimpunkan kejadiannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, lalu berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan kepadanya ruh dan diperintahkan untuk mencatat empat perkara: mencatat rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, akan tetapi catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka. Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta, akan tetapi catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli surga, ia pun masuk ke surga” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca pengakuan Freddy sebelum dihukum mati : Pengakuan Ex Gembong Narkoba Freddy Budiman , Aparat Lebih bandit dari bandit

Semoga dengan taubat nashuha Saudara Freddy Budiman (rahimahullah) diterima Allah, diawal hidupnya memang beliau melakukan amalan-amalan ahli neraka dengan mengedar narkoba, namun pada detik-detik akhir hayatnya beliau masuk Islam dan menjadi muslim yang taat dan mempersiapkan diri dengan bertaubat dan beramal dengan amal-amal shalih, baca al Quraan sampai khatam 10 kali saat Ramadhan kemarin, dan bersiap untuk bertemu Allah, dia tau ajalnya sudah dekat, dan sungguh bahagia beliau mempersiapkannya dengan baik, sedangkan kita? kapan kita mati juga belum tau? apakah sempat bertaubat dari kesalahan dan dosa-dosa kita? wallahu a'lam..semoga Allah mengampuni kita semua, dan diberi rezeki mati khusnul khatimah...

Innalillahi waa inna ilaihi rojiun, Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu...
Allahumma Aamin.. (M Jibriel)

Pengakuan Ex Gembong Narkoba Freddy Budiman , Aparat Lebih bandit dari bandit



Cerita Busuk dari seorang Bandit :

Kesaksian bertemu Freddy Budiman di Lapas Nusa Kambangan (2014)

Ditengah proses persiapan eksekusi hukuman mati yang ketiga dibawah pemerintahan Joko Widodo, saya menyakini bahwa pelaksanaan ini hanya untuk ugal-ugalan popularitas. Bukin karena upaya keadilan. Hukum yang seharusnya bisa bekerja secra komprehensif menyeluruh dalam menanggulangi kejahatan ternyata hanya mimpi. Kasus Penyeludupan Narkoba yang dilakukan Freddy Budiman, sangat menarik disimak, dari sisi kelemahan hukum, sebagaimana yang saya sampaikan dibawah ini.

Di tengah-tengah masa kampanye Pilpres 2014 dan kesibukan saya berpartisipasi memberikan pendidikan HAM di masyarakat di masa kampanye pilpres tersebut, saya memperoleh undangan dari sebuah organisasi gereja. Lembaga ini aktif melakukan pendampingan rohani di Lapas Nusa Kambangan (NK). Melalui undangan gereja ini, saya jadi berkesempatan bertemu dengan sejumlah narapidana dari kasus teroris, korban kasus rekayasa yang dipidana hukuman mati. Antara lain saya bertemu dengan John Refra alias John Kei, juga Freddy Budiman, terpidana mati kasus Narkoba. Kemudian saya juga sempat bertemu Rodrigo Gularte, narapidana WN Brasil yang dieksekusi pada gelombang kedua (April 2015).

Saya patut berterima kasih pada Bapak Sitinjak, Kepala Lapas NK (saat itu), yang memberikan kesempatan bisa berbicara dengannya dan bertukar pikiran soal kerja-kerjanya. Menurut saya Pak Sitinjak sangat tegas dan disiplin dalam mengelola penjara. Bersama stafnya beliau melakukan sweeping dan pemantauan terhadap penjara dan narapidana. Pak Sitinjak hampir setiap hari memerintahkan jajarannya melakukan sweeping kepemilikan HP dan senjata tajam. Bahkan saya melihat sendiri hasil sweeping tersebut, ditemukan banyak sekali HP dan sejumlah senjata tajam.

Tetapi malang Pak Sitinjak, di tengah kerja kerasnya membangun integritas penjara yang dipimpinnya, termasuk memasang dua kamera selama 24 jam memonitor Freddy budiman. Beliau menceritakan sendiri, beliau pernah beberapa kali diminta pejabat BNN yang sering berkunjung ke Nusa Kambangan, agar mencabut dua kamera yang mengawasi Freddy Budiman tersebut.
Saya mengangap ini aneh, hingga muncul pertanyaan, kenapa pihak BNN berkeberatan adanya kamera yang mengawasi Freddy Budiman? Bukankah status Freddy Budiman sebagai penjahat kelas “kakap” justru harus diawasi secara ketat? Pertanyaan saya ini terjawab oleh cerita dan kesaksian Freddy Budiman sendiri.

Menurut ibu pelayan rohani yang mengajak saya ke NK, Freddy Budiman memang berkeinginan bertemu dan berbicara langsung dengan saya. Pada hari itu menjelang siang, di sebuah ruangan yang diawasi oleh Pak Sitinjak, dua pelayan gereja, dan John Kei, Freddy Budiman bercerita hampir 2 jam, tentang apa yang ia alami, dan kejahatan apa yang ia lakukan.

Freddy Budiman mengatakan kurang lebih begini pada saya:
“Pak Haris, saya bukan orang yang takut mati, saya siap dihukum mati karena kejahatan saya, saya tahu, resiko kejahata yang saya lakukan. Tetapi saya juga kecewa dengan para pejabat dan penegak hukumnya.
Saya bukan bandar, saya adalah operator penyeludupan narkoba skala besar, saya memiliki bos yang tidak ada di Indonesia. Dia (Boss saya) ada di Cina. Kalau saya ingin menyeludupkan narkoba, saya tentunya acarain (atur) itu, saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai dan orang-orang yang saya telpon itu semuanya nitip (menitip harga). Menurut Pak Haris berapa harga narkoba yang saya jual di Jakarta yang pasarannya 200.000 – 300.000 itu?”

Saya menjawab 50.000. Fredi langsung menjawab:
“Salah. Harganya hanya 5000 perak keluar dari pabrik di Cina, makanya saya tidak pernah takut jika ada yang nitip harga ke saya. Ketika saya telepon si pihak tertentu ada yang nitip Rp 10.000 per butir, ada yang nitip 30.000 per butir, dan itu saya tidak pernah bilang tidak, selalu saya okekan. Kenapa Pak Haris?”

Fredy menjawab sendiri. “Karena saya bisa dapat per butir 200.000, jadi kalau hanya membagi rejeki 10.000- 30.000 ke masing-masing pihak di dalam institusi tertentu, itu tidak ada masalah. Saya hanya butuh 10 Miliar, barang saya datang. Dari keuntungan penjualan, saya bisa bagi-bagi puluhan miliar ke sejumlah pejabat di institusi tertentu.”
Fredy melanjutkan ceritanya. “Para polisi ini juga menunjukkan sikap main di berbagai kaki. Ketika saya bawa itu barang, saya ditangkap. Ketika saya ditangkap, barang saya disita. Tapi dari informan saya, bahan dari sitaan itu juga dijual bebas, saya jadi dipertanyakan oleh Bos saya (yang di Cina). Katanya udah deal sama polisi, tapi kenapa lo ditangkap? Udah gitu kalau ditangkap kenapa barangnya beredar? Ini yang main polisi atau lo?’”

Menurut Freddy, “Saya tau pak, setiap pabrik yang bikin narkoba, punya ciri masing-masing, mulai bentuk, warna, rasa. Jadi kalau barang saya dijual, saya tahu, dan itu temukan oleh jaringan saya di lapangan.”di
Fredi melanjutkan lagi. “Dan kenapa hanya saya yang dibongkar? Kemana orang-orang itu. Dalam hitungan saya selama beberapa tahun kerja menyeludupkan narkoba, saya sudah memberi uang 450 Miliar ke BNN. Saya sudah kasih 90 Milyar ke pejabat tertentu di Mabes Polri. Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2, di mana si jendral duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba. Perjalanan saya aman tanpa gangguan apapun.”

Saya prihatin dengan pejabat yang seperti ini. Ketika saya ditangkap, saya diminta untuk mengaku dan menceritakan dimana dan siapa bandarnya, saya bilang, investor saya anak salah satu pejabat tinggi di Korea (saya kurang paham, korut apa korsel- HA), saya siap nunjukkin dimana pabriknya, dan saya pun berangkat dengan petugas BNN (tidak jelas satu atau dua orang). Kami pergi ke Cina sampai ke depan pabriknya. Lalu saya bilang kepada petugas BNN, mau ngapain lagi sekarang? Dan akhirnya mereka tidak tahu, sehingga kami pun kembali.

Saya selalu kooperatif dengan petugas penegak hukum. Kalau ingin bongkar, ayo bongkar. Tapi kooperatif-nya saya dimanfaatkan oleh mereka. Waktu saya dikatakan kabur, sebetulnya saya bukanh kabur, ketika di tahanan, saya didatangi polisi dan ditawari kabur, padahal saya tidak ingin kabur, karena dari dalam penjara pun saya bisa mengendalikan bisnis saya. Tapi saya tahu polisi tersebut butuh uang, jadi saya terima aja. Tapi saya bilang ke dia kalau saya tidak punya uang. Lalu polisi itu mencari pinjaman uang kira-kira 1 Miliar dari harga yang disepakati 2 Miliar. Lalu saya pun keluar. Ketika saya keluar, saya berikan janji setengahnya lagi yang saya bayar. Tapi beberapa hari kemudian saya ditangkap lagi. Saya paham bahwa saya ditangkap lagi, karena dari awal saya paham dia hanya akan memeras saya.”

Freddy juga mengekspresikan bahwa dia kasihan dan tidak terima jika orang-orang kecil, seperti supir truk yang membawa kontainer narkoba yang justru dihukum, bukan si petinggi-petinggi yang melindungi.

Kemudian saya bertanya ke Freddy dimana saya bisa dapat cerita ini? Kenapa anda tidak bongkar cerita ini? Lalu freddy menjawab:
“Saya sudah cerita ke lawyer saya, kalau saya mau bongkar, ke siapa? Makanya saya penting ketemu Pak Haris, biar Pak Haris bisa menceritakan ke publik luas, saya siap dihukum mati, tapi saya prihatin dengan kondisi penegak hukum saat ini. Coba Pak Haris baca saja di pledoi saya di pengadilan, seperti saya sampaikan di sana.”

Lalu saya pun mencari pledoi Freddy Budiman, tetapi pledoi tersebut tidak ada di website Mahkamah Agung, yang ada hanya putusan yang tercantum di website tersebut. Dalam putusan tersebut juga tidak mencantumkan informasi yang disampaikan Freddy,y yaitu adanya keterlibatan aparat negara dalam kasusnya.

Kami di KontraS mencoba mencari kontak pengacara Freddy, tetapi menariknya, dengan begitu kayanya informasi di internet, tidak ada satu pun informasi yang mencantumkan dimana dan siapa pengacara Freddy. Dan kami gagal menemui pengacara Freddy untuk mencari informasi yang disampaikan, apakah masuk ke berkas Freddy Budiman sehingga bisa kami mintakan informasi perkembangan kasus tersebut.

 Oleh : Haris Azhar dari KontraS

===

Apa komentar anda?

Putuskan Lewat Partai, Ahok Resmi Tunjuk Nusron Wahid Sebagai Ketua Tim Sukses



Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Yorrys Raweyai  mengatakan Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Indonesia I (Sumatera dan Jawa) DPP Partai Golkar, Nusron Wahid menjadi Ketua Pemenangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017.

Yorrys mengatakan, terpilihnya Nusron sebagai ketua pemenangan merupakan keinginan dari Ahok sendiri.

"Nusron, Ketua Pemenangan, dia (Ahok) telepon saya. Ya sudah kami bilang siap saja. Kebetulan, Ahok yang minta Pak Nusron," kata Yorrys di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Rabu, 27 Juli 2016.

Yorrys menuturkan, sejak bulan Ramadan, Partai Golkar bersama dengan dua partai pendukung Ahok yang lain, yakni Partai Hanura dan Partai Nasdem, serta relawan Basuki, Teman Ahok terus melakukan pertemuan.

Sampai pada akhirnya, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham bertemu dengan Ahok. Lantas, setelah pertemuan itu, sore harinya Ahok menelepon Yorrys dan mengatakan memilih maju lewat partai politik dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Dalam telepon itu kami berbincang deklarasikan tanggal 27 (hari ini). Pokoknya hari ini deklarasi Ahok, besok di DPP mendukung Jokowi, sudah selesai," kata Yorrys. (vivanews/dakwahmedia)

Beredar Kabar, Cerita Lain di Balik Insiden Salah Tembak Brimob Vs Kopassus di Poso



Insiden salah tembak anggota Brimob terhadap salah seorang Satgas Intel Kopassus dari Tim I, Serda Muhammad Ilman, semakin membuka mata masyarakat.

Hal itu disampaikan oleh pengamat terorisme Mustofa B Nahrawardaya. Ia mengungkapkan, bila sesama aparat saja bisa salah tembak, bagaimana dengan warga sipil?

“Makanya saya memaklumi jika warga di sana meminta Polisi segera keluar dari Poso. Ini jadi bukti-bukti, sehingga terbuka kan ternyata seperti ini persoalannya,” kata Mustofa Nahrawardaya kepada Panjimas.com, Kamis (28/7/2016).

Ia menduga, insiden salah tembak pun kemungkinan besar juga terjadi terhadap warga sipil di Poso.

“Apa pun bisa terjadi, wong salah tembak kepada korps saja terjadi, apalagi kepada warga sipil, itu pun itu bisa terjadi,” ujarnya.

Untuk itu, ia meminta seluruh korban yang meninggal dunia yang ditembak aparat kepolisian, termasuk satuan Densus 88, seharusnya diselidiki.

Soal Senjata Milik Kelompok Santoso

Seperti diberitakan sebelumnya, Serda Muhammad Ilman, anggota Intelrem 132/Tadulako tewas tertembak Brimob di Poso, ia tergabung dalam Satgas Intel Kopassus dari Tim I.

Seperti dilansir MNC Media, bintara TNI AD ini sebelumnya bersama Tim 1 yang terdiri dari lima personel TNI dan dua warga sipil hendak mengambil senjata anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso yang ditimbun pada suatu tempat.

Kelima personel TNI dari Tim 1 tersebut dipimpin Kapten Inf Khalef dari Sanda (Sandhi Yudha) Kopassus, Serma Agus Den Intel Dam VII/Wirabuana, Erwin Sanda Kopassus, Pratu Marfil Sanda Kopassus dan Serda M Ilman.

Menurut sumber, saat anggota Satgas Intel melakukan penggalian dan pencarian senjata tersebut diberondong Tim anggota Brimob Pos Sekat Towu. Akibatnya, Serda M Ilman tewas akibat luka tembak di kepala.

Namun, terkait insiden tersebut, ada cerita lain yang menyebar melalui broadcast di media sosial. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Mustofa Narawardaya. Dari informasi yang didapatnya, senjata itu justru bukan ditanam oleh kelompok Santoso.

“Saya menerima bermacam broadcast dengan berbagai pembahasaan, lalu saya telepon ke beberapa tokoh di sana, mereka juga mengungkapkan hal yang sama. Katanya yang menimbun itu dari diduga oknum Brimob sendiri, lalu TNI mendatangi lokasi itu karena mendapatkan informasi dari masyarakat. Ketika TNI datang ke sana, diberondong, matilah dia,” ungkapnya.

Apa pun itu, Mustofa berharap ada klarifikasi dari pihak terkait. Ia juga menyebut bahwa insiden salah tembak itu pada dasarnya adalah sebuah keteledoran aparat. (Panjimas)

Ketika “YANG TERJADI” Tidak Sesuai “YANG SEHARUSNYA”


Dalam kehidupan ini, dalam segala hal, kita berharap agar “yang terjadi” sesuai dengan “yang seharusnya”. Namun, realitanya, suka atau tidak, terkadang apa “yang terjadi” tidak sesuai dengan apa “yang seharusnya”. Seharusnya tidak ada kedzaliman, tetapi realitanya kedzaliman terjadi dimana-mana. Seharusnya rakyat tidak hidup miskin karea sumber daya alam yang melimpah, tetapi realitanya rakyat hidup dalam kemiskinan. Seharusnya kita swasembada pangan karena area pertanian kita sangat luas dan sangat subur, tetapi realitanya kita impor hampir dalam semua komoditas pertanian. Seharusnya, pemimpin mengurusi rakyatnya, tetapi realita pemimpin tak mau mengurusi rakyatnya. Ia hanya mengurusi diri sendiri dan kelompoknya, serta mengabaikan rakyatnya secara umum. Dan seterusnya.

Tak terkecuali, dalam Islam, apa “yang terjadi” terkadang tidak berjalan sesuai dengan “yang seharusnya”. Zina itu seharusnya tidak terjadi karena diharamkan Allah, tetapi realitanya zina itu terjadi dimana-mana, bahkan dilegalkan asal sesuai dengan aturan perundangan. Pencurian itu seharusnya tidak terjadi karena diharamkan oleh Allah, tetapi realitanya pencurian terjadi dimana-mana dengan modus yang sangat beragam. Riba itu seharusnya tidak terjadi karena diharamkan Allah, tetapi realitanya riba terjadi di semua aspek, bahkan riba terkadang diwajibkan. Saat ada yang berzina seharusnya dirajam atau dijilid, tetapai realitanya pelaku zina tidak diapa-apakan, bahkan terkadang diidolakan. Saat ada yang mencuri, seharusnya dipotong tangannya (saat syaratanya terpenuhi), tetapi kenyataanya saat ada pencuri tertangkap hanya dipenjara atau jika dihakimi massa pelakunya dibakar hidup-hidup.

Seharusnya, syariah Islam itu ditegakkan, tetapi kenyataannya banyak syariah Islam yang diabaikan. Seharusnya umat Islam itu bersatu, tetapi kenyataannya umat Islam berpecah belah. Seharusnya, umat memiliki pemimpin (Imam atau Khalifah), tetapi kenyataannya umat Islam sekarang tak punya pemimpin. Seharusnya sistem pemerintahan bagi umat Islam itu Khilafah, tetapi keyataannya sistem pemerintahan bagi umat Islam bermacam-macam: ada yang demokrasi (republik) dan ada yang kerajaan.

*****
Apa yang mesti dilakukan saat “yang terjadi” tidak sesuai dengan “yang seharusnya”? Lagi-lagi banyak diantara kita, umat Islam, tidak melakukan apa “yang seharusnya”, bahkan bertentangan dengan “yang seharusnya”.

Saat kedzaliman dimana-dimana, seharusnya kita terlibat untuk mengubahnya sesuai kemampuan kita, tetapi realitanya kita justru ikut terlibat dalam kedzaliman itu. Sebab, dengan terlibat dalam kedzaliman itu, kita akan mendapatkan “rizki non-blok” yang memang banyak diburu oleh manusia. Bagi kita yang memiliki pendidikan tinggi, kedzaliman itu dicarikan dalih dan justifikasi, bahwa seakan kedzaliman itu bukanlah kedzaliman. Seakan-akan kedzaliman itu hanyalah penafsiran subyektif orang-orang yang sakit hati karena tidak dapat jatah. Dengan demikian tampak bahwa kedzaliman itu sesuatu yang wajar saja dan sah secara akademik.

Saat kemiskinan dimana-mana dan sumber daya alam dikuasai oleh asing, seharusnya kita terlibat untuk mengubahnya, tetapi realitanya kita justru berperan agar rakyat tetap dalam kemiskinan dan penguasaan sumber daya alam oleh asing. Tentu dengan mengambil sikap itu, kita akan mendapatkan recehan yang dapat kita gunakan untuk memuaskan hasrat dan nafsu kita. Bagi kita yang memiliki pendidikan tinggi, adanya berbagai kemiskinan dan penguasaan sumber daya oleh asing akan dicarikan dalih dan justifikasi bahwa hal itu memang benar secara akademik. Lalu dikatakan, ekonomi yang sehat adalah ekonom yang liberal yang mengikuti pasar bebas. Bahwa banyaknya investor asing yang masuk dan menguasai sumber daya alam kita, itu justru bagus, karena ekonomi akan berputar dan meningkatkan pendapatan perkapita. Dengan berbagai dalih, akhirnya penguasaan sumber-sumber daya alam itu tampak sebagai sesuatu yang lazim.

Saat import terjadi dengan sangat masif bahkan sampai mematikan para petani, seharusnya kita bertindak dan beteriak untuk menghentikannya. Tetapi realitanya, kita justru bertindak dan berteriak untuk membiarkannya. Justru kita menjadi orang yang paling semangat mencari dalih, bahwa berbagai import itu untuk kebaikan, yaitu ketahanan pangan kita. Dengan berbagai alat dan media, kita propagandakan kebijakan yang rusak dan merusak itu, seakan-akan sebagai suatu yang baik dan tepat demi kebaikan masyarakat.

Saat para pemimpin sibuk mengurus urusan pribadi dan kelompoknya serta mengabaikan rakyatnya, seharusnya kita menasehati dan meluruskannya sesuai dengan kemampuan kita. Tetapi realitanya kita justru menjadi kaki tangan mereka dan menjadi alat propaganda untuk membenarkan apa yang dilakukan para pemimpin. Justru kita menjadi pengkritik terhadap orang-orang yang menasehati dan mengkritik para pemimpin tersebut. Kita katakan bahwa orang yang mengkritik hanya bisa ngomong, sementara para pemimpin telah membuktikan dengan “kerja, kerja dn kerja”. Kita katakan bahwa orang yang mengkritik belum tentu bisa lebih baik dari pemimpin saat ini. Kita pura-pura lupa bahwa masalahnya adalah para pemimpin yang abai terhadap kewajibannya, bukan membandingkan kebaikan pemimpin sekarang dengan pengkritik.
Dan seterusnya, dan seterusnya.

*****

Kita umat Islam sering lupa atau pura-pura lupa dengan “yang seharusnya”. Saat zina terjadi dimana-mana, kita bukannya berusaha menghentikannya sesuai kemampuan kita, tetapi kita justru menjadi pembenar atas maksiyat besar tersebut. Kita katakan bahwa itu adalah hak asasi mereka. Lalu kita mencari bebagai dalih, bahwa para wanita melakukan itu adalah demi mencari sesuap nasi guna menyambung hidup diri dan keluarganya. Bahkan kalau perlu, kita dramatisasi yang akan membuat orang-orang menangis karena mendengar cerita pilu yang mengiris-iris jiwa dari perjuangan para wanita panjaja zina ini. Dengan demikian akan tampak, bahwa para penjaja zina adalah para pejuang yang mulia, sementara para penentang zina adalah mereka yang tak tak punya empati dan suka menang sendiri.

Saat pezina dalam suatu kasus tertangkap basah dan tidak bisa membuat dalih lagi, bagi kita umat Islam seharusnya dirajam atau dijilid, tetapi kita sekali lagi menjadi pahlawannya dengan memperjuangkan bahwa dia dibebaskan saja. Lagi-lagi kita menjadi seperti seorang “ahli hikmah”, yang memfatwakan bahwa zina itu hanya fisiknya saja, bisa jadi hatinya lebih mulia dibanding orang yang tak mau zina. Belum tentu kita lebih suci dari mereka. Kalaupun mereka zina, itu urusan pribadi mereka, yang dijamin oleh hak-hak asasi manusia yang telah disepakati oleh para tokoh-tokoh kita. Kalau perlu dibantu untuk dinikahkan saja, jika itu pasangan yang belum menikah. Kalau perlu diberi modal saja, jika itu para wanita penjaja zina. Dengan begitu, mereka tidak akan zina lagi. Padahal, upayanya ini merupakan penyubur tindakan zina di masyarakat.

Demikian pula sikap kita terhadap pencurian, riba dan berbagai jenis kemaksiyatan besar yang lain. Kita bukan beusaha menhentikannya, namun justru mencari berbagai dalih. Bahkan kalau perlu dari al-qur’an dan hadits, tentu kita tafsirkan sesuai nafsu kita. Namun, agar tampak akademis, kita cari-cari para penafsir bergelar dan representatif, tetapi yang menafsirkan dalil sesuai dengan shahwatnya.
Kemudian terhadap diabaikannya syariah, kita pun juga menjadi pembenar dengan mencari berbagai dalih. Saat ada yang memperjuangkan syariah, kita berupaya mengaburkan dengan berbagai pertanyaan nyinyir guna membuat bingung: syariah yang mana? Sekarang syariah sudah diterapkan, tak perlu diperjangkan lagi? bukankah sholat itu syariah? Bukankah sholat tidak dilarang? Bukankah bank syariah sudah diijinkan? Syariah yang mana lagi yang diperjuangkan?

Kita pun terus menerus menjadi garda terdepan perlawanan terhadap perjuangan syariah. Yang kita lakukan dan kita katakan, intinya adalah bagaimana menghambat perjuangan syariah, salah satunya dengan mengaburkan dan membuat bimbang tentang syariah. Kita katakan bahwa syariah itu dari Allah, sementara kalau interpretasi manusia itu namanya fikih. Jadi, mereka yang mengembar-gemborkan penegakan syariah, itu hakikatnya hanyalah mengembar-gemborkan fikih. Buktinya, ulama dan kelompok lain memiliki pemahaman yang beda. Itu bererati hanya interpretasi (tafsiran) mereka. Dan itu artinya yang disuarakan hanyalah fikih. Padahal fikih itu sangat beragam. Sehingga orang-orang yang menyuarakan fikih, berarti tak paham keragaman. Mereka itu hanyalah orang-orang atau sekelompok orang yang didorong oleh nafsunya untuk memaksakan pendapat fikihnya kepada orang lain, yang memiliki pemahaman fikih berbeda.
Luar biasa bukan?

Demikian pula, terkait dengan Khilafah. Kita pun berusaha mencari-cari dalih untuk menentangnya. Tentu, ada 1001 satu dalih dan alasan. Kita katakan bahwa Khilafah itu hanyalah imamah (kepemimpinan). Indonesia dan semua negara yang sekarang ada adalah imamah. Berarti bicara Khilafah sudah tak relevan lagi.

Pada saat yang lain, kita katakan bahwa tak ada dalil yang memerintahkan untuk menegakkan Khilafah. Ayat-ayat dan hadis-hadits yang bicara Khilafah itu hanya berita (ikhbar) bukan tuntutan (thalab) atau amar (perintah). Lalu kita mencari-cari berbagai kaidah ushul fiqih untuk menjustifikasi pendapat kita.

Pada saat yang lain lagi, kita katakan bahwa tidak ada bukti empiris dan historis tentang sejarah Khilafah. Khilafah itu hanya empat atau lima, yaitu pada masa khulafaur rasyidin. Setelahnya hanyalah mulkan (kerajaan). Jadi, setelah masa khulafaur rasyidin, khilafah tidak relevan lagi, termasuk hari ini. Kita pun berusaha mencari-cari justifikasinya.

Pada saat lain lagi, kita katakan bahwa hidup benegara itu urusan kesepakatan. Lalu para tokoh dan ulama kita membuat kesepakatan negara yang seperti ini, bukan Khilafah. Mustahil para tokoh-tokoh dan ulama kita tak paham Khilafah. Lebih faqih mana orang-orang yang berteriak-teriak tentang Khilafah pada zaman sekarang dibanding dengan para ulama pendiri bangsa dulu?
Tentu masih banyak lagi bebagai dalih yang kita sampaikan. Intinya, kita sampaikan tak perlu Khilafah dan cukup dengan apa yang ada saja. Apa “yang terjadi” saat ini sudah selaras dengan apa “yang seharusnya”.

*****

Syariah dan Khilafah adalah kewajiban, atau sesuatu “yang seharusnya”. Tetapi realitanya “yang terjadi” atau “yang ada” saat ini, bukanlah syariah dan Khilafah. Sebetulnya dalil tentang wajibnya syariah dan Khilafah itu teramat sangat banyak. Jika kita lihat di dalam al-qur’an, hadits, dan ijma shahabat, kita akan mendapat gambaran yang gamblang tentang wajibnya syariah dan Khilafah. Bahkan jika kita melihat kitab-kitab ulama mu’tabar, tidak ada satu pun ulama mu’tabar yang meagukan kewajiban Khilafah. Tetapi, memang tetap saja ada orang yang meragukannya. Jangankan tentang syariah dan Khilafah, dalil haramnya zina dan riba, meskipun itu dalil yang qath’i. Tetapi sekali lagi, pada zaman sekarang, itu pun dikaburkan dan diragukan.

Orang-orang yang hidup pasca hancurnya Khilafah, yaitu setelah tahun 1924 M, karena saat itu Khilafah tidak lagi menjadi sesuatu “yang terjadi” atau “yang ada”, bahkan “yang terjadi” adalah sesuatu yang bertentangan dengan Khilafah, yakni pemerintahan model negara-bangsa, maka orang-orang mulai bingung mengaitkan antara “yang seharusnya” dengan “yang terjadi”. Mulailah muncul berbagai penafsiran dan interpretasi seperti yang telah dikemukakan di atas.
Saat “yang terjadi” tidak sesuai dengan “yang seharusnya”, memang ada beberapa pilihan untuk menyelaraskannya.

Pertama, yang paling mudah untuk menyelaraskan adalah dengan menafsirkan ulang (reinterpretasi) apa “yang seharusnya”, sehingga seakan-akan apa “yang terjadi” sudah selaras dengan apa “yang seharusnya”.

Upaya ini hanya membutuhkan usaha minimalis, dan relatif tidak ada resiko. Misalnya, saat kita katakan bahwa Indonesia sudah Khilafah, atau kita katakan Khilafah tidak perlu lagi di zaman sekarang, atau kita katakan Khilafah tidak wajib, maka seakan-akan apa “yang terjadi” sudah sesuai atau selaras dengan apa “yang seharusnya” dalam Islam. Ini adalah upaya paling mudah, dan tentu saja paling disukai oleh orang-orang kafir barat. Kalau seandainya, tidak ada kesadaran bahwa kkta diawasi Allah dan Allah tidak bisa ditipu dengan berbagai interpretasi, saya pun lebih setuju dengan pendapat ini. Sebab dengan menganut pendapat ini, kita tidak perlu bersusah payah berjuang, apalagi perjuangan yang sangat beresiko. Kita cukup mengubah apa “yang seharusnya”, maka seakan-akan “yang terjadi” sudah selaras dengan “yang seharusnya”. Dengan demikian, waktu dan energi kita dapat difokuskan untuk mengejar hasrat duniawi.

Sekedar contoh, dalam Islam “seharusnya” riba adalah haram. Tetapi, “kenyataannya” riba menjadi tulang punggung ekonomi kapitalisme saat ini. Maka, dengan pendekatan pertama, yang dilakukan sangat mudah, yaitu tinggal menafsirkan ulang tentang riba. Dengan begitu, maka “apa yang terjadi” tidak masuk kategori riba, dan secara otomatis sudah selaras dengan “yang seharusnya”. Kita tetap menikmati riba, tetapi tidak terganggu dengan dalil yang mengharamkan riba, karena definisi riba “sudah kita perkosa” sesuai kemauan kita. Kita tetap merasa dan dianggap sebagai orang yang sangat sholih, bahkan kalau perlu sebagai PENIKMAT SPIRITUALITAS KELAS TINGGI, meski semua harta yang kita dimakan berasal dari riba.

Kedua, pendekatan ini sangat berat, yaitu mengubah apa “yang terjadi” agar sesuai dan selaras dengan apa “yang seharusnya”.
Pendekatan kedua ini sangat berat dan beresiko, sebab pasti di masyarakat sudah terlanjur banyak yang menikmati apa “yang terjadi”. Berjuang mengubah apa “yang terjadi” sama artinya berhadapan dengan para penikmatnya. Jika para penikmanya adalah para pemilik modal dan para pejabat, artinya perjuangan mengubah apa “yang terjadi” harus berhadapan dengan kekuatan modal dan kekuasaan. Padahal kekuatan modal dan kekuasaan ini dapat memaksa semua kekuatan lain, seperti kekuatan media, kekutan militer, kekuatan massa, kekuatan intelektual dan lain sebagainya.
Sementara para pejuang dengan pendekatan kedua tidak memiliki kekuatan fisik apa-apa. Sehingga tampak terjadi pertarungan yang tak imbang. Bagi para pemburu dunia, termasuk para intelektual dan orang-orang bergelar keagamaan, akan mencai selamat dengan cara bergabung dengan para penikmat yang tampak pasti menang secara fisik, karena memiliki bebagai kekuatan untuk menang, yaitu untuk mempertahankan apa “yang terjadi”.

Namun, banyak yang lupa, di balik kekuatan fisik yang terlihat, ada kekuatan dahsyat yang tak terlihat, yaitu kekuatan Allah, yang akan diberikan kepada siapapun yang menolong-Nya dengan cara memperjuangkan apa “yang seharusnya”. Kekuatan dahsyat yang tak terlihat inilah, yan akhirnya membuat apa “yang terjadi” akan selalu berubah. Tak ada yang abadi dari apa “yang terjadi”, meski ia didukung oleh semua kekuatan fisik yang ada.

Sejarah pada masa lalu, selalu membuktikan bahwa apa “yang terjadi” akan diubah oleh para pejuang yang memperjuangkan apa “yang seharusnya”, meski ia tak memiliki kekuatan apapun yang terlihat. Sejarah para Nabi terdahulu, Nabi Muhammad, dan generasi-generasi Islam membuktikan hal itu.
Apakah sejarah akah terulang, bahwa apa “yang terjadi” akan berubah menjadi apa “yang seharusnya”? Fakta historis menunjukkan: bahwa sejarah akan terulang, bahwa apa “yang terjadi” akan berubah, meski para pendukung apa “yang terjadi” mempertahankan dengan sekuat tenaga.
Wallahu ‘lam.

Oleh : Ust Choirul Anam (Dewan Penasehat Redaksi)

Pulau Madu : Pulau Indah Langka Air Tawar


Pemandangan alam di Pulau Madu memang indah tetapi karena krisis air tawar  di pulau kecil paling tenggara Provinsi Sulawesi Selatan tersebut tentu saja bermasalah. Masalah tersebut dialami juga oleh sekitar 1500 jiwa warga Desa Onesatonde yang menghuni pulau terpencil di sebelah timur gugusan pulai Bonerate  tersebut.

Menurut Kepala Desa Onesatonde Lageno, krisis air tawar merupakan  masalah besar bagi warga yang tinggal di pulau yang lebarnya satu kilometer dan panjang delapan kilometer tersebut. “Sampai sekarang  belum ada solusi!” ungkap Lageno.

Setiap menggali sumur, yang keluar hanyalah air payau. Untung saja, ada satu satunya sumur air tawar yang berjarak seratus meter dari pemukiman. Sehingga, setiap harinya warga harus rela antri berjam jam agar mendapatkan air untuk kebutuhan minum dan memasak. “Itu pun pada Oktober sampai Desember sumur biasanya kering,” ungkapnya.

Pada 2013, tim Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) survei ke pulau yang dapat ditempuh sekitar sepuluh jam  melalui perjalanan laut dari Pulau Adonara, Nusa Tenggra Timur,  atau sekitar 1,5 hari dari Makassar.

Berdasarkan survei tersebut BWA menyimpulkan masalah dapat atasi dengan pengadaan mesin desalinasi air payau.  “Mesin ini dapat memfilter air payau menjadi air tawar, sehingga dapat dikonsumsi warga,” ungkap Darminto, penanggungjawab program Water Action for People (WAfP) BWA.
Oleh karena itu, BWA berencana membuat project wakaf sarana air bersih berupa mesin desalinasi yang dilengkapi dengan teknologi prepaid.



Kapasitas mesin yang akan dipasang untuk Onesatonde sekitar 20.000 liter per hari. Dengan asumsi per kepala keluarga (KK) membutuhkan air tawar 50 liter untuk minum dan masak, maka dibutuhkan sekitar 15 ribu liter perhari untuk 300 KK yang ada. Berarti ada sekitar 5 ribu liter air cadangan per hari.

Mesin ini rencananya didesain bersifat mobile (mudah dipindahtempatkan) sehingga mudah dipindahkan ke kampung yang lain yang membutuhkan air bersih.

Agar sarana wakaf dapat bertahan lama, maka BWA akan melakukan pendampingan  dalam pengelolaan dan manajemen sarana air bersih ini. Sistem Prepaid yang diterapkan juga diharapkan mampu memberikan edukasi kepada warga agar menggunakan air bersih seperlunya. Serta dapat terkumpulnya dana operasional untuk membeli solar , menggaji pegawai operasional dilapangan serta keperluan operasional lainnya.

Project ini meliputi empat pekerjaan.  Pertama, pembuatan sumur sebagai sumber air baku dan MCK.

Kedua, desalinasi air payau menggunakan mesin dengan kapasitas 20.000 liter untuk memenuhi kebutuhan memasak dan minum warga.

Ketiga, distribusi air tawar melalui hidrant umum di dua titik yang ditampung dalam tangki air kapasitas 2.250 liter di masing-masing titik. Menggunakan teknologi prepaid system.

Keempat, transfer pengetahuan dan teknologi pada masyarakat setempat agar dapat mengelola dan memelihara sarana wakaf air bersih.

Dengan adanya mesin desalinasi ini, diharapkan kesulitan air bersih yang dialami oleh saudara-saudara kita di Pulau Madu dapat terselesaikan. Dan lebih dari itu, kondisi kesehatan warga  semakin baik dan bekerja lebih giat lagi untuk membangun desa. Dan insya Allah, di setiap teteas air payau yang diubah menjadi air tawar akan mengalirkan pahala bagi wakif hingga ke surga, Aamiin.

Rubah air payau di Pulau Madu dengan kepedulian Anda melalui Badan Wakaf Al Quran Dumpet Dhuafa Republika yang digalang Melalui Kitabisa.com atau Melalui Link INI 

Intel Korem yang salah tembak oleh Brimob Tergabung dalam Tim 1 Kopassus



Serda Muhammad Ilman anggota Intelrem 132/Tadulako yang tewas tertembak Brimob di Poso ternyata tergabung dalam Satgas Intel Kopassus dari Tim I. Berdasarkan sumber MNC Media, bintara TNI AD ini sebelumnya bersama Tim 1 yang terdiri dari lima personel TNI dan dua warga sipil hendak mengambil senjata anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso yang ditimbun pada suatu tempat.

"Ke lima personel TNI dari tim 1 tersebut dipimpin Kapten Inf Khalef dari Sanda (Sandhi Yudha) Kopassus, Serma Agus Den Intel Dam VII/Wirabuana,  Erwin Sanda Kopassus, Pratu Marfil Sanda Kopassus dan Serda M Ilman," kata sumber tersebut.

Menurut sumber, saat anggota Satgas Intel melakukan penggalian dan pencarian senjata tersebut diberondong Tim anggota Brimob Pos Sekat Towu. Akibatnya Serda M Ilman tewas akibat luka tembak di kepala.

Saat ini jenazah anggota Satgas Tinombala tersebut sudah dievakuasi ke rumah sakit di Poso.

Jilbab Tidak Sama dengan Kerudung



Memang dalam pembicaraan sehari-hari umumnya masyarakat menganggap jilbab sama dengan kerudung. Anggapan ini kurang tepat. Jilbab tak sama dengan kerudung. Jilbab adalah busana bagian bawah (al-libas al-adna) berupa jubah, yaitu baju longgar terusan yang dipakai di atas baju rumahan (semisal daster). Sedang kerudung merupakan busana bagian atas (al-libas al-a’la) yaitu penutup kepala. (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al-Fuqaha`, hal. 124 & 151; Ibrahim Anis dkk, Al-Mu’jam Al-Wasith, 2/279 & 529).

Jilbab dan kerudung merupakan kewajiban atas perempuan muslimah yang ditunjukkan oleh dua ayat Al-Qur`an yang berbeda. Kewajiban jilbab dasarnya surah Al-Ahzab ayat 59, sedang kewajiban kerudung (khimar) dasarnya adalah surah An-Nur ayat 31.

Mengenai jilbab, Allah SWT berfirman (artinya),”Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min,’Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ (QS Al-Ahzab : 59). Dalam ayat ini terdapat kata jalabib yang merupakan bentuk jamak (plural) dari kata jilbab. Memang para mufassir berbeda pendapat mengenai arti jilbab ini. Imam Syaukani dalam Fathul Qadir (6/79), misalnya, menjelaskan beberapa penafsiran tentang jilbab. Imam Syaukani sendiri berpendapat jilbab adalah baju yang lebih besar daripada kerudung, dengan mengutip pendapat Al-Jauhari pengarang kamus Ash-Shihaah, bahwa jilbab adalah baju panjang dan longgar (milhafah). Ada yang berpendapat jilbab adalah semacam cadar (al-qinaa’), atau baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan (ats-tsaub alladzi yasturu jami’a badan al-mar`ah). Menurut Imam Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (14/243), dari berbagai pendapat tersebut, yang sahih adalah pendapat terakhir, yakni jilbab adalah baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan.

Walhasil, jilbab itu bukanlah kerudung, melainkan baju panjang dan longgar (milhafah) atau baju kurung (mula`ah) yang dipakai menutupi seluruh tubuh di atas baju rumahan. Jilbab wajib diulurkan sampai bawah (bukan baju potongan), sebab hanya dengan cara inilah dapat diamalkan firman Allah (artinya) “mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Dengan baju potongan, berarti jilbab hanya menutupi sebagian tubuh, bukan seluruh tubuh. (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’i fil Islam, hal. 45-46).

Jilbab ini merupakan busana yang wajib dipakai dalam kehidupan umum, seperti di jalan atau pasar. Adapun dalam kehidupan khusus, seperti dalam rumah, jilbab tidaklah wajib. Yang wajib adalah perempuan itu menutup auratnya, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, kecuali kepada suami atau para mahramnya (lihat QS An-Nur : 31).

Sedangkan kerudung, yang bahasa Arabnya adalah khimar, Allah SWT berfirman (artinya),”…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” (QS An-Nur : 31). Dalam ayat ini, terdapat kata khumur, yang merupakan bentuk jamak (plural) dari khimaar. Arti khimaar adalah kerudung, yaitu apa-apa yang dapat menutupi kepala (maa yughaththa bihi ar-ra`su). (Tafsir Ath-Thabari, 19/159; Ibnu Katsir, 6/46; Ibnul ‘Arabi, Ahkamul Qur`an, 6/65 ).

Kesimpulannya, jilbab bukanlah kerudung, melainkan baju jubah bagi perempuan yang wajib dipakai dalam kehidupan publik. Karena itu, anggapan bahwa jilbab sama dengan kerudung merupakan salah kaprah yang seharusnya diluruskan. Wallahu a’lam.



Muhammad Shiddiq al-Jawi

Subhanallah! Pengayuh Becak Ini Meninggal Dalam Posisi Sujud Saat Salat Ashar



Jamaah shalat ashar di Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng, Banda Aceh, sontak saat melihat dan menemukan Mustafa (61), seorang jamaah yang ikut bersama-sama shalat ashar di masjid tersebut telah meninggal dunia.

Warga Meunasah Bak Trieng Gampong Lamreung, Kecamatan Krueng Barona, Jaya, Aceh Besar itu, diketahui telah tiada saat sujud terakhir pada pelaksanaan shalat Ashar bersama jamaah lainnya di Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng.

Informasi diperoleh Serambinews.com, kepergian Mustafa menghadap illahi rabbi dalam sujud terakhirnya usai shalat ashar itu diketahui para jamaah masjid lainnya yang berdiri di samping almarhum dalam satu shaf.

Seusai shalat ashar berjamaah dilaksanakan di masjid itu, berselang sekitar 5 menit, almarhum terlihat tak kunjung bangun dari sujud akhirnya itu.

Namun, posisi sujud almarhum, masih dalam kondisi semula. Karena menaruh curiga telah terjadi sesuatu dengan Mustafa, sehingga jamaah masjid itu menyampaikan ke Tgk Marwan, Imam Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng, Banda Aceh..

Kecurigaan jamaah itu pun benar, ketika tubuh korban disentuh masih dalam kondisi sujud shalat itu, langsung terkulai. Tubuh korban yang jatuh itu pun langsung disambut jamaah lainnya.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol T Saladin SH didampingi Kapolsek Ulee Kareng AKP Immarsal, mengatakan almarhum sehari-hari bekerja mengayuh becak barang dan sering terlihat di pusat Kecamatan Ulee Kareng. "Beliau sering menerima jasa pengangkutan barang, mulai semen serta barang-barang lainnya," ungkap AKP Immarsal, kepada Serambinews.com, Selasa (26/7/2016).
Kabar meninggalnya Mustafa, pengayuh becak barang itu pun dengan cepat merebak ke masyarakat luas. Bahkan kabar itu berkembang dengan cepat ke sejumlah media social, seperti facebook, salah satu pemilik akun facebooknya atas nama Azwir Nazar. Kabar duka yang dibagikan di dinding media sosial facebook miliknya itu pada Senin (25/7/2016) sekitar pukul 21.30 WIB itu, hingga pukul 12.52 WIB siang ini  yang dipantau Serambinews.com, telah dilihat dan disukai oleh netizen sekitar 5.100 orang.

Lalu 1.126 kali dibagikan dan 997 komentar yang umumnya mendoakan almarhum dan berdecak rasa kagum serta terharu dengan kondisi almarhum yang meninggal dalam kondisi sujud terakhir dalam shalat jamaah di Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng, Banda Aceh.(*)

Polisi di Aceh yang tak hafal Alquran dihukum push up


Salah satu bentuk ibadah dalam agama Islam adalah membaca Alquran. Dengan membaca ayat suci itu, kaum muslimin akan mendapat pahala dari Allah SWT. Apalagi jika sampai hafal surat-surat dalam Alquran, itu akan menjadi kebanggaan dan kepuasan sebagai umat Islam.
Hal ini pula yang dilakukan oleh Kapolres Aceh Tenggara AKBP Edi Bastari. Dia dengan senang hati memberikan hadiah kepada para anggota muslim yang mampu mengahafal surat pendek Alquran. Tak tanggung-tanggung, reward yang diberikan kepada anggota berprestasi ini pun berupa jam tangan.

Namun bagi yang belum bisa menghafalnya, Edi menghukum anak buahnya dengan push up. Tindakannya tersebut supaya semua anggotanya terpacu dalam menghafal Alquran. Sebab, dia mengharapkan, personelnya bisa menjadi tauladan di masyarakat.

"Misalkan ketika melaksanakan salat berjamaah, bisa menjadi imam di masjid atau musala," kata Edi.

Okky : Fenomena Awkarin, Orang tua Jauhkan Gadget dari anak anda !!


BELAKANGAN drama remaja Awkarin membuat netizen terusik. Seorang remaja Karin Novilda (18) alias Awkarin, ramai diperbincangkan karena video blognya (vlog ), 'Gaga’s Birthday Surprise & My Confessions' menjadi viral.

Video berdurasi sekitar 26 menit tersebut memperlihatkan perempuan yang baru saja lulus SMA ini mempersiapkan kejutan untuk Gaga, yang dikenal netizen sebagai pasangan Karin. Tapi yang mengejutkan dalam video tersebut, dia meluapkan unek-uneknya tentang hubungan cintanya yang kandas dengan Gaga.

 Sambil bercucuran air mata, Karin juga curhat tentang perasaan atas pedasnya komentar netizen di Instagram. Karin dianggap sebagai perusak moral bangsa karena kerap mem-posting foto seksi, pergaulan bebas, dan menjawab komentar haters dengan bahasa ‘kebun binatang’.

Melihat fenomena remaja seperti Karin, apa yang salah dengan remaja saat ini sehingga kebablasan meluapkan emosinya? “Pengaruh gadget memang luar biasa, anak bisa menyelami dunia tanpa batas. Ini adalah dampak dari tidak adanya lagi filter-filter yang bisa masuk ke dalam diri seseorang yang diterima dari negara mana pun, di mana budayanya berbeda dengan kita,” kata Oki Asokawati dari kepada Okezone, di Jakarta.

Mantan model yang menamatkan pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Psikologi ini juga menambahkan kalau budaya asing yang mungkin tak layak diterapkan di sini (Indonesia) ternyata sudah masuk ke kehidupan remaja sekarang. “Bahasa kotor dan gaya pacaran orang barat itu kita dapat dari film atau youtube. Ini yang harus disaring remaja, bahawa tidak semua tontonan itu boleh ditiru. Orangtua juga lupa mengajarkan anak tentang budaya ketimuran kita yang berbeda dengan mereka,” sambungnya.

Jika dulu orangtua bisa melihat anaknya main di mana dan apa yang dilakukan, sekarang tidak. “Maka benar ada hadis yang mengatakan, ‘Didiklah anak sesuai dengan zamannya’. Artinya kalau dulu orangtua aman, anak main di dekat pohon kecapi atau main sepada keliling komplek. Tapi sekarang, orangtua tidak tahu apa yang dilakukan anak dengan gadget-nya di kamar,” lanjut Oki. Untuk itu ia mengimbau kepada orangtua, jangan tenang-tenang saja melihat anak berada di kamar. Dampingi mereka, pantau apa yang mereka lakukan dengan gadget-nya

Dikira Kelompok Santoso, Intel Korem Tewas Ditembak Brimob


Seorang anggota TNI Serda Muhammad Ilman dari Satuan Tim Intelrem 132/Tadulako, tewas tertembak pasukan Brimob yang melakukan penyergapan dan kontak senjata dengan kelompok Santoso.

Dari informasi dari sumber resmi di lapangan, satu kompi pasukan Brimob, melakukan penembakan terhadap tujuh orang diduga anggota kelompok Santoso, di Desa Towu, Kecamatan PPU, Kabupaten Poso, dekat Pos Sekat Towu.
Ternyata, ketujuh orang tersebut bukan anggota kelompok Santoso. Melainkan anggota Satgas 1 Intelijen Tinombala yang dipimpin oleh Kapten Inf Khalef.

"Anggota Satgas Intelijen Tinombala pada saat melaksanakan tugas menindak lanjuti info dari jaring terkait penimbunan sanjata api disekitar Tower Desa Towu," kata sumber itu, kepada wartawan, Rabu (27/7/2016).

Diduga tidak ada koordinasi dan dianggap sebagai kelompok Santoso, anggota satgas itu disergab pasukan Brimob yang langsung melakukan penembakan. Dalam serangan ini, satu orang anggota Satgas Intelijen Tinombala tewas di tempat.

Korban mengalami luka tembak bagian kepala, dan meninggal dunia di lokasi kejadian. Korban diketahui bernama Serda Muhammad Ilman dengan NRP 21130100250292 dari Satuan Tim intelrem 132/tdl.

Saat ini, korban telah dievakuasi ke Rumah Sakit (RS) Poso untuk divisum. Sementara itu, beredar versi lain di lapangan yang menyebutkan, ada enam orang diduga kelompok Santoso terlibat baku tembak dengan Tim Satgas Tinombala.

Akibat baku tembak itu, dua orang diduga dari kelompok Santoso berhasil tertangkap dan satu orang lainnya tewas. Sedang tiga orang lainnya masih terlibat kontak senjata.

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, masih belum ada keterangan resmi dari pihak Satgas Tinombala. Aparat yang dikonfirmasi di lapangan pun enggan memberikan komentar.


sumber : Sindonews

M. Natsir : Ikhtilaf Bukan Sumber Perpecahan


Ikthilaf (perbedaan pendapat) sebenarnya merupakan akibat logis dari terbukanya pintu ijtihad. Jadi bukan sebagai sumber tafarruq (perpecahan). Sumber tafarruq dan permusuhan adalah ananiyah (egois) dan nafsu syaithaniyah. Berikut ini pokok-pokok kajian Dr. Mohammad Natsir tentang hal itu, yang diangkat dan disarikan dari bukunya, Fiqhud-Da’wah.

Timbulnya ikhtilaf di kalangan kaum muslimin dalam berbagai masalah furu’iyah, adalah suatu hal yang wajar dan logis. Itu sebagai konsekuensi dari terbukanya pintu ijtihad. Sejak zaman Rasulullah saw., baik tafaquh fiddin (pendalaman pemahaman Islam) secara umum, maupun ijtihad secara khusus, sudah mulai memasyarakat di kalangan para sahabat. Oleh karena itu, ikhtilaf pun sudah mulai muncul di kalangan mereka. Namun demikian, hal itu tidak membuat mereka berpecah belah.

Para sahabat senantiasa berpegang teguh pada petunjuk Risalah itu sendiri:
“Maka apabila kamu bersilang pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah dia kepada Allah dan Rasul.” (an-Nisa’ 59).

Di kalangan para imam mujtahid terkemuka pun demikian. Antara satu dengan lainnya, dalam banyak hal, saling berbeda pendapat, terjadi ikhtilaf. Imam Syafi’i misalnya, banyak hasil ijtihadnya yang berbeda dengan gurunya, Imam Malik. Demikian pula Imam Hanbali, tidak sedikit hasil ijtihadnya yang berbeda dengan gurunya, Imam Syafi’i. Sementara itu, Imam Abu Hanifah pun demikian. Hasil ijtihadnya, banyak yang berbeda dengan ketiga imam mujtahid yang tersebut lebih dahulu. Walhasil, ikhtilaf sebagai dampak yang logis dari ijtihad, sama sekali tidak menjadi masalah di kalangan para imam mujtahid tersebut.

Mereka juga senantiasa berpegang teguh kepada pedoman yang telah dipakai oleh para shahabat Nabi saw. Yaitu merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, bila terjadi silang pendapat. Bahkan dengan penuh tawadhdhu’, masing-masing mengingatkan dengan tegas terhadap murid dan pengikutnya, agar jangan sekali-kali mengklaim bahwa fatwa atau hasil ijtihad para imamnya itu sebagai pendapat yang final, yang tidak bisa diganggu gugat lagi.

Dengan ungkapan dan gayanya masing-masing, para imam mujtahid itu menyuruh untuk meninggalkan fatwa atau hasil ijtihadnya, bila ternyata di kemudian hari, fatwa dan hasil ijtihadnya itu tidak sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Jadi al-Qur’an dan Sunnah Rasul lah yang senantiasa harus menjadi pegangan dan pedoman, sedang fatwa atau hasil ijtihad para imam itu dikalahkan.

Pesan Imam Syafi’i antara lain: “Bila kamu jumpai dalam kitabku sesuatu yang menyalahi Sunnah Rasul saw. maka ambillah Sunnah Rasul tersebut dan tinggalkanlah apa yang kufatwakan.“ (al-Baihaqi, al-Manar IV-693).

Pesan Imam Malik bin Anas, antara lain: “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar. Oleh karena itu, perhatikanlah pendapatku. Maka setiap pendapatku yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah, ambillah dia. Sedang setiap pendapatku yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah dia!” (Ibnu Abdil- Barr, al-Manar IV-572).

Ketika Imam Abu Hanifah ditanya oleh salah seorang muridnya, tentang bagaimana sikap yang harus dilakukan bila ternyata fatwa atau hasil ijtihad beliau di kemudian hari menyalahi al-Qur’an atau Sunnah Rasul, beliau menjawab: “Tinggalkanlah pendapatku, bila ternyata dia menyalahi Kitab Allah, dan tinggalkan pula pendapatku, bila dia ternyata menyalahi Sunnah Rasulullah.” (Imam Syaukani, al-Qaulul Mufiid 23) .

Semakin tinggi bobot seorang Mujtahid, semakin tinggi pula kadar tasamuh (toleransi)-nya terhadap “hak” dan “kesempatan” orang lain untuk berijtihad dan berbeda pendapat. Baik orang lain itu kebetulan hidup sezaman, ataupun sesudahnya. Mereka berijtihad dengan mengerahkan segenap potensinya, dengan penuh tanggung jawab, dan disertai dengan ketulusan hati, mendambakan keridhaan-Nya semata.

Sebagaimana telah dimaklumi, Imam Syafi’i rahimahullah tidak segan-segan untuk merevisi dan memperbaiki fatwanya sendiri, bila memang ternyata perlu dikoreksi. Sehingga kita kenal istilah Qaul Qadiim (pendapat lama) dan Qaul Jadiid (pendapat baru). Qaul Qadiim merupakan kumpulan fatwa-fatwanya ketika masih tinggal di Irak. Sedang Qaul Jadiid merupakan kumpulan fatwa-fatwanya setelah beliau hijrah ke Mesir.

Begitu tinggi tawadhdhu’nya sehingga di kesempatan yang lain, beliau berkata: “Setiap masalah apa saja yang ternyata dijumpai hadits shahih dari Rasulullah saw. menyalahi pendapatku, maka aku tentu rujuk kepadanya dan meninggalkan pendapatku itu. Baik di saat hayatku maupun sesudah matiku.” (Imam Syaukani, al-Qaulul Mufiid 24).

Untuk ruju’ (kembali pada kebenaran al-Qur’an dan Sunnah), bila ternyata memang keliru, bagi mereka bukan suatu ‘aib (cela), tapi sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan, suatu tindakan yang mulia dan terpuji. Betapa “kologial”nya, segar dan tulus hubungan pribadi di antara mereka, sekalipun fatwa-fatwa mereka dalam banyak masalah saling berbeda, bahkan terkadang saling bertolak belakang. Imam Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan, Imam Syafi’i pernah berkata kepada kami: “Apabila kamu menjumpai suatu hadits shahih, maka sampaikanlah kepadaku, supaya aku dapat berpegang kepadanya” (al-Manar, IV-694).

Di balik ketoleransianya yang demikian tinggi, mereka juga penuh tanggung jawab, berani menanggung resiko dalam mempertahankan pendapat dan hasil ijtihadnya. Imam Malik in Anas misalnya, rela dihukum pukul di hadapan umum daripada harus melepaskan pendirian yang diyakininya. Imam Ahmad bin Hanbal, bersedia dirantai oleh pihak penguasa, KhalifahMa’mun, karena beliau menolak kehendak khalifah yang menyuruh untuk mengubah sikap dan pendiriannya tentang suatu aqidah. Sementara Imam Abu Hanifah, lebih suka dimasukkan penjara ketimbang dipaksa menjadi Qaadhi di masa Khalifah al-Mansur. Bahkan akhirnya, beliau wafat dalam penjara.
Lebih dari itu semua, para imam pantang pula menggunakan kekuasaan duniawi untuk memonopoli dan memaksa pikiran orang banyak agar bersedia menerima pendiriannya. Imam Malik misalnya, ketika Khalifah Harun al-Rasyid bermaksud hendak mendekritkan fatwa beliau sebagai “mazhab resmi” yang harus dianut oleh seluruh warganya, maka Imam Malik berkeberatan dan meminta agar Khalifah jangan melakukan hal itu (Imam Syukani, al-Qaulul Mufiid 28).

Demikianlah para sahabat dan imam mujtahid di kalangan ulama salaf telah meragakan teladan yang indah, baik dengan perkataan maupun dengan sikap dan perbuatan, bagaimana mempraktikkan ijtihad, mencurahkan segenap potensi untuk mencari kebenaran dan bertahkim (berhukum) kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul, dengan penuh tanggung jawab dan disertai toleransi demikian tinggi serta ketulusan hati demi mendambakan keridhaan Allah semata. Sehingga ikhtilaf yang terjadi di antara kalangan mereka tidak melahirkan perpecahan. Keutuhan umat tetap terpelihara, tanpa kejumudan (kebekuan), dan ketuguhan pendirian dapat dilestarikan, tanpa keta’ashuban (fanatik).

Sumber Tafarruq  

Pernah Imam Ghazali memberi nasihat kepada mereka yang hendak memasukki pembahasan masalah-masalah khilafiyah (perbedaan pendapat), hendaknya terlebih dahulu memenuhi ketentuan-ketentuan yang sudah muttafaq alaih, sudah menjadi konsensus di kalangan umat Islam, dan prinsip ini harus dipegang dengan teguh. Taqwa dan wara’ (kebersihan ruhani dan kebersihan dari segala kemungkaran) misalnya, yang sudah disepakati oleh semua ahli agama sebagai perbekalan hidup, harus tetap dijaga dan selalu menjadi acuannya. Segenap yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dijauhi, dan segenap yang diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dipatuhi, Itulah antara lain, menurut Imam Ghazali , bekal-bekal untuk memasuki pembahasan maslah-masalah khilafiyah, agar tidak terjerumus dalam forum “jadali” (perdebatan yang semata untuk mencari menang dan kepuasan nafsu), yang akhirnya berakibat perpecahan (Qisthatul Mustaqiim, Tafsir Muhammad Abduh, jilid III, 15).

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu sekalian ke dalam keselamatan (kedamaian) secara utuh, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan, karena dia itu sesungguhnya musuhmu yang nyata.” (QS. al-Baqarah 208).

Sementara Syaikh Muhammad Abduh, dalam mengomentari ayat 153 dan 159 dari surat al-An’am, antara lain mengatakan, “Ayat-ayat ini menjadi hujjah bagi para ulama “Ushul” (baca: Ushul Fiqh) yang berpendapat bahwa haq (kebenaran) itu adalah satu, tidak berbilang. Alangkah baiknya, apabila mereka yang berpegang pada prinsip ini, mewajibkan atas diri mereka, untuk tetap berpadu (sepakat) pada setiap kali mereka menemui perbedaan paham, lalu membahasnya untuk mencari kebenaran, tanpa ta’ashub dan tanpa nifaq, sehingga apabila mereka dapat melihat kebenaran tersebut, mereka akan bersepakat atasnya. Tapi, bila sebagian dari mereka belum dapat melihatnya, mereka harus tetap tekun mencarinya dengan ikhlas, tanpa seorang pun di antara mereka yang memusuhi dan tidak ada pula yang menjadikannya sebagai alat untuk perpecahan. Jalan haq adalah persatuan dan bersserah diri kepada Allah, sedang jalan-jalan syaithan adalah perpecahan dan permusuhan. Hal ini memang telah dimaklumi di kalangan manusia, namun karena kecerdikan syathan dalam merayu dan memikat manusia untuk mengajak kepada jalan-jalan yang ditempuhnya itu, digambarkannya seolah-olah ada keuntungan dan kebaikan dalam perpecahan dan permusuhan, maka pada akhirnya dari kalangan manusia banyak yang terpengaruh ….”

Dengan demikian, kiranya sudah tidak sulit lagi bagi kita, untuk mencari sumber perpecahan secara jujur. Yaitu, karena luputnya keikhlasan hati, sementara ananiyah dan nafsu syaithaniyah datang menggantikannya.

“Maka sudahkah engkau perhatikan, ihwal orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah pun membiarkan dia sesat, walaupun dia tahu bagaiamana jalan yang seharusnya ditempuh.” (QS al-Jaatsiyah, 23).

Bila nafsu syaithaniyah telah menjadi kendali, menjadi acuan yang mesti dituruti, maka segala macam perpecahan, bahkan permusuhan dalam bentuk apa saja bisa terjadi.
Bila ananiyah telah bercokol dalam hati, maka muncullah penyakit riya’, angkuh, ta’ashub, mau benar dan menang sendiri, dan lain sebagainya dari penyakit yang sejenisnya. Selanjutnya, bila riya’ telah terjangkit di kalangan pemimpin dan ulama, sementara ta’ashub juga sudah melanda para pengikut dan umat, maka untuk ruju’ dari kekeliruan menjadi terhalang. Terhalang oleh gengsi dan prestise diri maupun golongan. Mereka lebih suka bertahkim kepada khalayak ramai, kepada jumlah murid dan pengikut masing-masing. Para murid dan pengikut dibiarkan berdebat satu sama lain, di mana saja mereka bertemu sambil membagi-bagi api neraka. Karena perdebatan mereka lebih banyak diwarnai oleh ejekan dan celaan, demi membela dan menegakkan tuah Tuan Guru masing-masing.

Adapun din (Islam) itu sendiri, malah jauh telah tercecer di tengah jalan. Ia tidak lagi dirasakan sebagai milik Allah, akan tetapi seolah-olah sudah menjadi milik dan monopoli masing-masing golongan, untuk melayani kehendak dan kepentingan golongannya masing-masing.
“Sesungguhnya orang-orang yang membagi agama mereka, sehingga menjadi beberapa golongan yang berpisah-pisah, bukanlah engkau Muhammad dari golongan mereka sedikit pun.” (QS. Al-An’am 159).

Jadi bukan ikhtilaf itu sendiri yang menyebabkan timbulnya tafarruq, tapi karena lepasnya keikhlasan dari diri kita, sementara ananiyah dan nafsu syaithaniyah datang bercokol menggantikannya.

Artikel Dr.Mohamad Natsir ini diambil dari Majalah Al-Muslimun No. 271, Desember 1992 dan ditulis ulang serta disunting tanpa mengurani inti tulisan oleh Muhammad Cheng Ho, Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB).

sumber: jejakislam.net