Tiga Makanan Aditif Berbahaya untuk Anak



Ada banyak bahan makanan yang berkontribusi terhadap obesitas dan masalah kesehatan lain pada anak.

Mereka adalah bahan umum yang dijual, namun tak disadari orang tua saat membelinya. Mungkin karena harganya yang murah atau kurangnya pengetahuan orang tua akan produk ini.

Orang tua dan anak dapat dimanipulasi oleh iklan pemasaran cerdik dari perusahaan makanan. Solusinya orang tua harus membaca label dan komposisi makanan yang tertulis di kemasan makanan yang Anda beli.

Berikut adalah tiga makanan aditif berbahaya yang perlu dihindari anak, dilansir dari Livestrong.

Sirup jagung tinggi fruktosa
Sirup jagung tinggi fruktosa, pengganti gula yang dimodifikasi secara genetik. Ini adalah bahan murah yang diproduksi perusahaan makanan untuk menghemat biaya produksi dan meningkatkan margin keuntungan.
Pemanis buatan ini pertama kali diperkenalkan di Amerika pada 1982.

Sejak itu, kelebihan berat badan anak-anak di AS mencapai dua kalilipat dan tiga kali lipat pada remaja. Orang-orang dewasa ramai menderita diabetes tipe-2.

Sebuah studi di Pricenton University pada 2010 memberikan sirup jagung befruktosa tinggi kepada tikus. Profesor Bart Hoebel yang menjadi salah satu peneliti menyebutkan seluruh tikus yang menjadi obyek penelitian menjadi gemuk. Ketika ditambah lagi mereka diberi makanan tinggi lema, maka berat badannya meningkat ekstra.

Minyak terhidrogenasi dan lemak trans
Tidak semua lemak buruk untuk Anda, namun semua ilmuwan setuju bahwa lemak trans adalah pembunuh berbahaya.

Menggunakan minyak terhidrogenasi parsial atau lemak trans adalah cara industri makanan untuk meningkatkan usia pakai atau lamanya usia penyimpananan makanan, sehingga meningkatkan profit dan pada akhirnya menempatkan anak Anda dalam bahaya.

Jika Anda mengonsumsi lemak trans, kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dan menurunkan kolesterol baik (HDL). Ini akan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

Kedelai isolat
Kedelai secara alami justru menyehatkan, namun masalahnya adalah kedelai isolat dan diproses secara kimia. Kedelai isolat perlu diwaspadai orang tua. Menurut The Soyfoods Association of America, kedelai isolat sudah dipisahkan dari komponen alami kedelai itu sendiri.

Caranya periksa label makanan dalam kemasan yang Anda beli. Konsumen sering tertipu dengan iklan yang membuat mereka percaya bahwa kedelai dalam kemasan yang mereka makan sehat, misalnya protein bars, meal replacement shakes, dan kedelai untuk bahan diet lainnya.

sumber: republika

Shalat Dua Rakaat Sebelum Subuh Lebih Baik dari Dunia Beserta Isinya


Bagi umat muslim kenikmatan dunia beserta isinya tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan nikmat iman dan nikmat Islam yang ada di setiap muslim. Karena, Allah SWT akan memberikan dunia beserta isinya bagi orang beriman yang mampu menunaikan halat dua rakaat sebelum subuh.

"Kata Nabi Muhammad SAW orang yang paling kaya itu ada orang yang shalat dua rakaat sebelum subuh," kata KH Tengku Zulkarnaen saat menyampaikan tausiyahnya di Masjid Agung At-Tin, Jumat (1/1).

Tengku menyampaikan, hadist Bukhari Muslim, bahwa Rasulullah SAW menyampaikan, shalat dua rakaat sebelum subuh itu pahalanya lebih baik daripada dunia besera isi-isinya. ‎"Ada orang yang kaya seperti itu. Bilqis pun (istri Nabi Sulaiman) kekayaannya belum separuh dunia," ujarnya.

Bahkan kata dia, raja Firaun pada masanya tidak sampai memiliki kekayaan sebanyak dunia beserta isinya. Tapi bagi orang yang shalat dua rakaat sebelum subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya.

"Tapi kita tidak yakin," ucapnya.

KH Tengku memaklumi apa yang menyebabkan manusia  tidak yakin bahwa orang yang shalat dua rakaat sebelum subuh itu mendapatkan pahala dunia beserta isinya. "Karena harta itu tidak kelihatan. Perlu melihatnya itu dengan Bashirah, dengan mata iman. Tidak bisa dilihat dengan mata kepala ini," katanya.

KH Tengku menambahkan, sederhana saja kenapa pahala ibadah yang Allah berikan kepada manusia tidak diperlihatkan secara terang-terangan. "Alasannya tidak ada untuk menyimpannya," kata KH Tengku yang langsung direspon gelak tawa jamaah.

sumber: republika

Mantan Intelijen M-15 : Aksi Teroris di Paris Kemarin Bukan Ulah IS, Tapi “Orang Dalam”



Seorang mantan mata-mata Inggris memicu kontroversi dan kemarahan publik. Pasalnya, ia mengatakan serangan teroris di Paris, Prancis, yang menewaskan 130 orang bukan dilakukan oleh ISIS tetapi didalangi oleh ‘orang dalam’ Prancis sendiri.

Mantan mata-mata Inggris, David Shayler, merilis sebuah video di YouTube yang mengklaim ada banyak bukti jika ISIS tidak berada di belakang Teror Paris. Sebaliknya, ia menyatakan, ‘kekuatan gelap’ badan intelijen Barat berada di balik serangan itu.

“Saya pikir ada beberapa desain gelap dalam pola serangan yang terjadi di Paris pada hari Jumat 13 November. Sekali lagi, itu disalahkan pada ISIS, tapi tampaknya yang bertanggung jawab atas itu semua adalah sebuah operasi yang disebut operasi Gladio Style,” kata Shayler seperti dikutip dari laman Express, Rabu (30/12/2015).

Operasi Gladio Style adalah nama kode untuk operasi klandestein NATO di Italia selama Perang Dingin untuk mempersiapkan dan melaksanakan perlawanan bersenjata di sana dalam hal invasi dan penaklukan Pakta Warsawa.

Shayler bahkan menyatakan, aksi pengepungan selama dua jam yang dilakukan oleh polisi Prancis telah diatur sebelumnya. Ia bahkan mengatakan ada potongan video tentang hal tersebut yang beredar di dunia maya.(ts/acw)

sumber: eramuslim

Harta Kita yang Sesunggunya




“Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian hartamu yang Alla telah menjadikanmu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antaramu dan menafkahkan sebagian hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7)

IMAM al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini “merupakan dalil bahwa hakikatnya benda kita adalah milik Allah SWT. hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhai dan Dia titipkan kepadanya. Siapa saja yang menginfakkan hartanya dijalan Allah maka ia akan mendapatkan pahala yang berlimpah dan amat banyak.”

Beliau melanjutkan, “Ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya harta kalian bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta yang sebenarnya. Karena itu, gunakanlah kesempatan yang ada di jalan yang benar, sebelum ia hilang dan berpindah kepada orang-orang setelah kalian.”

Jadi, harta hanyalah titipan Ilahi. Jika harta yang dititipkan kepada kita Allah ambil, itu karena memang ia miliki-Nya. Tidak sepantasnya kita protes, mengeluh, tidak suka, karena pada hakikatnya kita ini fakir yang hanya dipinjami harta. Dan, sebaik-baik harta yang kita nafkahkan di jalan Allah, karena itu akan mendatangkan balasan kebaikan yang berlipat. Bahkan, harta yang kita nafkahkan di jalan Allah-lah yang merupakan harta kita yang sebenarnya. Mari kita simak hadits Rasulullah kepada Aisyah berikut ini.

Ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Aisyah tentang seekor kambing yang disembelih, apakah yang tersisa darinya Aisyah, Aisyah menjawab, “Tidak ada yang tersisa kecuali bagian bahunya.” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tersisa seluruhnya kecuali bagian bahunya.” (HR. Muslim)

Ya, hanya bahu kambing saja yang akhirnya habis dimakan. Dikunyah, masuk ke kerongkongan hingga masuk ke lambung. Sedangkan bagian kambilng yang lain disedekahkan, ia kekal di sisi Allah. Bagi Rasulullah, sedekah akan mendatangkan pahala yang banyak dan menjadi amal yang memperberar timbangan kebaikan. []

sumber: islampos

Gawat, Miras dalam Kemasan Gelas Plastik Beredar di Bogor



Ada-ada saja modus pengedar minuman keras (miras) untuk mengelabui petugas. Kali ini miras dengan kadar tinggi dikemas sejumlah pedagang dalam gelas plastik yang mirip dengan jajanan anak-anak.

Peredaran miras dengan modus baru ini terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada tutup gelas kemasan minuman ini tertulis merek Jeho dan Fzuit.

Kasubag Humas Polres Bogor AKP Ita Puspitalena mengatakan, peredaran miras dalam kemasan gelas plastik itu terbongkar oleh petugas Polsek Rumpin pada Senin siang.

Dari tangan salah seorang kurir, polisi berhasil menyita 7 dus miras di Jalan Raya Cinyurup Desa Gombang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Kemudian polisi melakukan pengembangan dan menangkap pengedar bernama Napizan (44) yang berprofesi sebagai tukang ojek di pangkalan Cemplang, Kecamatan Cibungbulang. Dari tangan pelaku, polisi juga menyita barang bukti 6 dus dengan merek yang sama.

"Barang bukti yang diamankan berupa 6 dus miras dengan merek sama, dan satu dus miras merek Big Boss Vodka, termasuk sebuah sepeda motor," kata dia.

Saat ini, kepolisian masih memburu tersangka lain, yang diduga sebagai produsen miras dalam kemasan gelas plastik itu. "Satu tersangka lainnya masih dikejar. Polisi sudah mengantungi identitas pelaku," ujar Ita.

sumber: liputan6

KEBANGKITAN UMAT, DARI MANAKAH KITA HARUS MULAI?


Oleh: Ustadz Choirul Anam (Penulis buku best seller "Kota Roma Menanti Anda", "Cinta Indonesia Rindu Khilafah", Dosen Fisika Radiasi Undip)

Banyak yang mengatakan bahwa abad 15 H atau abd 21 M adalah abad kebangkitan umat Islam, setelah umat Islam mengalami keterpurukan beberapa abad terakhir ini, apalagi setelah hancurnya pemersatu dan pengayom umat, Khilafah Islamiyah, pada tahun 1924. Saat ini, hampir dalam semua hal, umat Islam mengalami keterpurukan yang teramat memilukan dan menyayat hati. Umat bukan hanya dikungkung oleh kebodohan, kemiskinan dan keterpecah-belahan, kini umat Islam juga menjadi sasaran perampokan, penistaan, kebrutalan dan pembantaian. Dimana-mana, umat hidup dalam pembantaian, konflik, dan peperangan. Sungguh kondisi umat Islam ini sangat bertolak belakang dengan karakter umat Islam yang sejati, yaitu sebagai umat terbaik (khoiru ummah). Karena itu, kebangkitan umat menjadi tumpuan harapan.

Ada banyak sekali indikasi bahwa umat kini mulai sadar akan keterpurukannya, lalu menginginkan kebangkitan. Kini, umat sedang bergerak menuju kebangkitan dengan akselerasi yang mengagumkan. Memang tidak semua umat Islam menginginkan kebangkitan Islam, realitanya memang banyak yang mengaku Islam tetapi tak setuju dengan kebangkitan Islam. Namun, sesuatu yang amat menggembirakan, di negeri manapun, kini umat Islam merindukan kebangkitan dan persatuan umat, bahkan di negeri-negeri barat sekalipun.

Setelah kebangkitan menjadi harapan, ada beberapa tantangan baru yang harus dihadapi umat, yaitu tentang rumusan kebangkitan dan realisasi atas rumusan tersebut. Sederhananya, umat harus merumuskan tentang: apa yang dimaksud dengan kebangkitan? Bagaimana bentuknya? Bagaimana cara merealisasikan? Dan apa langkah-langkah yang harus dilakukan, terutama langkah awalnya? Bagaimana menyatukan umat yang jumlahnya lebih dari 1,5 milyar, yang tersebar di seluruh dunia dan memiliki banyak perbedaan madzhab? Inilah pemikiran besar umat. Dan tanpa kita sadari, berpikir tentang kondisi global umat, itu merupakan karakter umat Islam pada masa lampau.

Diakui bahwa dalam merumuskan kebangkitan dan tahapannya ini telah terjadi perbedaan pandangan diantara para aktivis dan antar gerakan Islam. Meski perbedaan pandangan ini hal yang wajar, tetapi sikap saling merendahkan antar beberapa aktivis dan gerakan Islam, mestinya merupakan sesuatu yang tak perlu dibesar-besarkan. Jika kita memang ikhlas berjuang li i’laa’i kalimatillah (untuk mempejuangkan agama Allah), mestinya kita tidak perlu bersikap fanatis terhadap kelompok atau gerakan kita. Kita seharusnya membuka diri untuk terus berdiskusi dan mengkaji konsep kebangkitan serta secara konsisten berusaha mengikuti model rumusan perjuangan Rasulullah saw.
Tulisan ini akan berusaha membahas beberapa hal seputar kebangkitan.

*****
Apa itu kebangkitan? Dan apa itu kebangkitan Islam?

Mendefinisikan makna kebangkitan ini sangat penting. Meskipun banyak orang meremehkan arti definisi, tetapi harus diakui bahwa seseorang bertindak dan bersikap, bahkan rela mati, berdasarkan definisi yang mereka pahami. Membuat definisi yang komprehensif (jami’an wa mani’an)atas suatu hal, termasuk tentang kebangkitan, itu tidak mudah. Iya, sungguh tidak mudah. Tetapi ini harus dilakukan, agar kita tidak keliru dalam bertindak dan bersikap. Tidak merumuskan masalah ini dengan baik dan benar, menunjukkan bahwa kita memang tidak terlalu peduli dengan urusan umat.

Saat seseorang mendefinisikan bahwa kebangkitan adalah tingginya akhlak individu masyarakat, maka aktivitas dan sikap seseorang akan tercurah bagaimana memperbaiki akhlak masyarakat. Ia akan fokus pada individu dan akhlaknya, tetapi menjadi kurang peka dan kurang perhatian dengan permasalahan kemiskinan, keterjajahan umat, tidak diterapkannya syariah Islam, terpecah-belahnya umat, bahkan dibantainya umat Islam di negeri lain. Bagi mereka, saat akhlak sudah selesai diperbaiki, insya Allah masalah-masalah lain akan dapat diselesaikan. Benarkah saat akhlak sudah diperbaiki, masalah umat akan selesai? Apa indikasi umat akhlaknya sudah baik? Bagaimana tahapan-tahapannya? Terus terang, hingga saat ini belum ada yang bisa menjelaskan runtutan dan korelasi atas cara berpikir tersebut secara sistematis dan konsisten. Saat disodorkan fakta, bahwa saat ini, usaha untuk memperbaiki akhlak telah dilakukan oleh banyak pihak, misalnya kyai, ustad dan elemen-elemen yang lain, tetapi mengapa akhlak di tengah-tengah umat tidak lebih baik, bahkan semakin buruk? Mereka akan menjawab, bahwa perusak akhlak lebih hebat daripada yang memperbaikinya? Saat ditanyakan siapa perusak akhlak? Mereka menyebutkan, misalnya media, perilaku pejabat, berbagai kebijakan perundangan, budaya asing, gaya hidup yang hedonis, dan lain sebagainya. Kesimpulannya perbaikan akhlak tidak akan pernah terjadi, karena perusaknya selalu lebih besar. Kebangkitan umat dapat diwujudkan jika perusak akhlak dapat dihilangkan. Tetapi, bagaimana cara menghilangkan perusak akhlaq? “Wah, itu butuh political will yang kuat dari pemerintah dan semua elemen masyarakat. Itu diluar wewenang kami”. Berarti, problemnya sebetulnya masalah akhlaq atau political will?

Saat sesorang mendefinisikan bahwa kebangkitan adalah tingginya tingkat ekonomi di suatu masyarakat, maka ia akan sangat concern dengan problem-problem ekonomi. Namun, biasanya ia hanya fokus pada masalah teknis pada masalah ekonomi, misalnya membuat lapangan kerja baru, membuat lembaga yang membantu permodalan, memberikan supervisi terhadap usaha baru dan lain sebagainya. Tetapi, biasanya kurang concern dengan sumber kegoncangan ekonomi di tengah-tengah umat, seperti sistem mata uang yang menyebabkan kacaunya sistem ekonomi, perjarahan sumber daya alam oleh asing yang merupakan kekayaan milik umat, dan lain sebagainya. Mereka juga tidak terlalu concern dengan rendahnya akhlak umat, tidak diterapkannya syariah Islam, terpecah-belahnya umat, bahkan dibantainya umat Islam di negeri lain. Pertanyaan berikutnya, apakah tingginya ekonomi umat itu berarti kebangkitan umat? Kebanyakan menjawab “ya”. Namun saat disampaikan fakta bahwa sebagian negeri-negeri Islam di Arab saat ini kaya raya, tetapi mengapa tetap kita sebut bahwa umat saat ini terpuruk? Mengapa umat islam tetap terjajah? Bahkan di negara kaya raya seperti Saudi dan Uni Emirat? Mereka akan menjawab, bahwa mereka memang kaya raya, tetapi tidak memiliki political will untuk membantu umat Islam lainnya. Berarti, problemnya sebetulnya masalah ekonomi atau political will?

Saat seseorang mendefinisikan bahwa kebangkitan umat adalah tingginya penguasaan sains dan teknologi, maka ia akan sangat concern dengan masalah-masalah ini. Ia akan mencurahkan tenaganya untuk membangun perkembangan sains dan teknologi di tengah-tengah umat. Ia mencotohkan bahwa bangkitnya barat dan dominasinya saat ini, adalah karena mereka menguasai sains dan teknologi. Seperti umumnya, orang-orang yang memahami hal itu, biasanya agak tidak terlalu concern dengan rendahnya akhlak umat, tidak diterapkannya syariah Islam, terpecah-belahnya umat, bahkan dibantainya umat Islam di negeri lain. Kemudian saat ditanyakan kepada mereka, saat Iran dan Pakistan berhasil membuat rudal misalnya, mengapa justru tidak membuat umat bangkit, justru umat semakin terjajah seperti sekarang ini? Bukankah itu merupakan capaian spektakular teknologi yang dibuat oleh umat Islam? Bukankah saat ini, di Indonesia, Malaysia, Mesir dan negeri-negeri muslim lainnya, memiliki ribuan bahkan jutaan ilmuwan yang hebat-hebat, tetapi mengapa mereka justru bekerja di barat? Mereka biasa menjawab: kita memiliki problem politik yang tidak mendukung pengembangan sains dan teknologi. Nah, sebenarnya kita memiliki problem politik atau teknologi?
Semuanya bermuara pada politik. Semua masalah akan dapat diselesaikan jika umat menguasai politik. Akhirnya umat beramai-ramai masuk ke ranah politik praktis dalam sistem demokrasi yang ada, baik kyai, ustadz, teknokrat, ekonom, aktivis gerakan Islam dan komponen lainnnya. Niat mereka insya Allah tulus yaitu ingin membangkitkan dan memperbaiki umat (catatan: kita husnudz dzan bahwa mereka niatnya baik. Meski tidak dipungkiri, banyak yang masuk politik praktis hanya karena interest pribadi). Apakah kondisi umat jadi lebih baik? Realitas yang terjadi bukan perbaikan umat, tetapi semakin rusaknya umat. Tiap hari kita disuguhi berita kyai tersangka korupsi, saling fitnah antar tokoh umat Islam, dan lain sebagainya. Sementara umat, masih hidup dalam kemiskinan, keterpurukan, terjajah, dibantai dan lain sebagaianya.

Sebagian lagi menjawab “Mboh lah, pusing aku!”. Pertanyaannya lagi, apakah pusing menyelesaikan masalah? Apakah umat akan bangkit dengan pusingnya kita semua? Jadi?

Itu semua terjadi karena mereka memposisikan “ciri-ciri” kebangkitan sebagai “landasan” kebangkitan. Landasan kebangkitan dengan ciri-ciri kebangkitan itu dua hal yang berbeda. Tingginya taraf ekonomi, penguasaan saians dan teknologi, akhlaq, sistem politik dan lain sebagainya, itu hanyalah ciri-ciri dari masyarakat yang sudah bangkit. Ia bukan landasan kebangkitan. Ia bukan sesuatu yang membangkitkan. Bahkan ia bukan kebangkitan itu sendiri. Menjadikan ciri-ciri kebangkitan sebagai landasan kebangkitan, bisa jadi menjadikan para aktivis frustasi, karena kebangkitan tidak kunjung terealisasi.

Kita boleh setuju atau tidak, di sinilah kemudian salah satu tokoh Muslim Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani merumuskan, bahwa an-nahdloh huwa irtifa’u darajati al-fikri, kebangkitan adalah tingginya taraf berpikir. Maksudnya, kebangkitan adalah saat masyarakat tahu apa yang sedang terjadi, tahu apa yang harus dilakukan, tahu apa saja yang jadi tantangan, tahu apa saja yang jadi hambatan, tahu apa yang harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan.

Anda bisa bayangkan, secara obyektif, apa yang akan terjadi jika orang tahu apa yang sedang terjadi, tahu apa yang harus dilakukan, tahu apa saja yang jadi tantangan, tahu apa saja yang jadi hambatan, tahu apa yang harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan? Apa kira-kira dampaknya? Jika “orang”, kita ganti dengan “masyarakat” atau “umat”, apa yang akan terjadi?

Barat bangkit, bukan karena majunya teknologi dan ekonomi. Tetapi majunya teknologi dan ekonomi terwujud, setelah mereka mendapatkan cara berpikir baru tentang kehidupan. Urutannya bukan revolusi industri, baru renaisan. Tetapi renaisan dulu, baru revolusi indutri, kemudian mereka menguasai sains dan teknologi hingga saat ini.

Awal munculnya gagasan baru itu memang muncul pada benak seseorang, kemudian gagasan yang diyakini itu terus disampaikan kepada masyarakat, sampai akhirnya masyarakat menginternalisasi gagasan tersebut, hingga akhirnya setelah waktu yang lama terjadilah kesadaran umum. Mereka memiliki cara baru dalam berpikir. Mereka jadi tahu apa yang sedang terjadi, tahu apa yang harus dilakukan, tahu apa saja yang jadi tantangan, tahu apa saja yang jadi hambatan, tahu apa yang harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Hal inilah yang kemudian memunculkan renaisan, disusul dengan revolusi industri, dan terus berlanjut hingga saat ini.

Bagaimana dengan kebangkitan umat pada zaman Rasulullah? Jika kita cermati dengan seksama, itu terjadi dengan pola yang sama. Nabi Muhammad diutus Allah swt, sehingga beliau memiliki pemahaman baru tentang kehidupan. Terjadilah kenaikan taraf berpikir beliau. Beliau jadi tahu apa yang sedang terjadi, tahu apa yang harus dilakukan, tahu apa saja yang jadi tantangan, tahu apa saja yang jadi hambatan, tahu apa yang harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan, dan konsekuensi dari tindakan dan sikap beliau. Kemudian pemahaman beliau ini beliau sampaikan (dakwahkan) kepada masyarakat, akhirnya terjadilah irtifa’ul fikri di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat menjadi seperti Rasulullah saw. Mereka apa yang sedang terjadi, tahu apa yang harus dilakukan, tahu apa saja yang jadi tantangan, tahu apa saja yang jadi hambatan, tahu apa yang harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Dan itulah yang akhirnya membawa kebangkitan Islam yang luar biasa.

Jika dilihat dari aspek ekonomi, teknologi atau hal lainnya, masyarakat Islam pada waktu itu tak ada apa-apanya dibanding denga Romawi atau Persia. Tetapi, mereka mengalami sesuatu yang luar biasa, yaitu irtifa’ul fikri, tingginya taraf berpikir tentang kehidupan. Sehingga dalam waktu dekat, mereka berhasil mengungguli Romawi dan Persia dalam segala hal.

Pembahasan di atas adalah tentang kebangkitan. Kita belum membahas kebangkitan yang benar atau salah. Barat mengalami irtifa’ul fikri yang dasarnya adalah sekulerisme, sementara dunia Islam mengalami irtifa’ul fikri yang dasarnya adalah akidah Islam.

Inilah definisi kebangkitan. Memang kelihatan abstrak bagi orang yang belum paham. Tetapi, segala sesuatu memang kelihatan abstrak bagi orang yang belum paham.

Karena itu, bisa kita lihat dalam sejarah, berapa banyak orang yang menertawakan Rasulullah saw dan para sahabatnya, saat beliau berjuang. Hal yang sama juga dialami oleh para filusuf di barat, mereka juga ditertawakan, dihina, dan ditindas oleh kekuasaan yang eksis saat itu. Tetapi, orang yang memiliki irtifa’ul fikri, mereka tahu: apa yang harus dilakukan, apa saja yang jadi tantangan, apa saja yang jadi hambatan, apa yang harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan, tidak terpesona dengan berbagai ujian, tidak menyerah dengan berbagai hinaan dan cacian.

Dan akhirnya, terjadilah perubahan yang luar biasa di dunia ini.
Mungkin muncul pertanyaan dalam masalah ini: jika umat Islam menghayati dan benar-benar memahami sekulerisme apakah umat Islam akan bangkit? Bukankah pada saat itu, umat Islam memiliki dua landasan kebangkitan sekaligus, yaitu akidah Islam dan sekulerisme? Apakah kebangkitan umat akan lebih dahsyat, dibanding hanya Islam saja atau sekulerisme saja?
Jawabnya: Ini justru membuat umat tak akan bangkit. Menggabungkan sekulerisme dan Islam, berarti mereka memang tidak paham sekulerisme, sekaligus tak paham akidah Islam.
Akidah Islam menghendaki bahwa segala sesuatu harus didasarkan pada Islam, sementara sekulerisme menghendaki segela sesuatu harus dilepaskan dari agama, termasuk Islam, kecuali urusan pribadi. Jadi, umat Islam pasti akan bingung. Mereka akan selalu berada dipersimpangan jalan: antara milih Islam atau milih sekulerisme. Apakah mengikuti Allah atau meninggalkan Allah. Akhirnya mereka tidfak kaffah dalam keduanya. Kebingungan ini akan berdampak pada: tidak yakin dengan apa yang harus dilakukan, tidak yakin apa yang harus diperjuangkan, apalagi memperjuangkan sampai titik darah penghabisan.
Di satu sisi mereka ingin mengatur kehidupannya sendiri dengan meninggalkan Allah, seperti masyarakat barat. Tetapi, di sisi lain masih takut dengan Allah. Masih khawatir kalau mati masuk neraka.

Di satu sisi mereka ingin mengikuti Allah, tetapi di sisi lain ingin mengatur kehidupannya sendiri seperti masyarakat barat. Jadi mereka bingung sendiri dengan kehidupannya dan bingung dengan apa yang harus dilakukan.

Inilah mengapa, pasca runtuhnya Khilafah, umat tak pernah bangkit. Sebab mereka selalu berada pada posisi yang membingungkan.

Jadi, kebangkitan adalah irtifa’u darajati al-fikri, tingginya taraf berpikir. Artinya, kebangkitan adalah saat masyarakat tahu apa yang sedang terjadi, tahu apa yang harus dilakukan, tahu apa saja yang jadi tantangan, tahu apa saja yang jadi hambatan, tahu apa yang harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan.

Kalau kita ingin kebangkitan Islam, maka kita harus mewujudkan pemikiran yang komprehensif dan meyakinkan tentang islam. Sehingga masyarakat tahu apa yang sedang terjadi menurut Islam, tahu apa yang harus dilakukan menurut Islam, tahu apa saja yang jadi tantangan, tahu apa yang harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan menurut Islam.

*****
Bagaimana memulai proses kebangkitan umat dan bagaimana tahapan-tahapannya? Bagaimana mengawalinya? Bagaimana peran masyarakat dan individu dalam kebangkitan?
Insya Allah akan kita bahas pada ulasan berikutnya.
Wallahu a’lam.

GEMA PEMBEBASAN SOLO RAYA: 2015, Indonesia Semakin Terjajah dan Menderita



SOLO- Puluhan Mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembebasan Soloraya, Menggelar aksi di bundaran Gladak Solo, Kamis (31/12). Dalam aksinya GEMA Pembebasan mengangkat tema Refleksi Akhir Tahun 2015: Indonesia Semakin Terjajah dan Menderita. Dalam aksinya mereka mengunakan berbagai poster dan sepanduk .

Supriyanto salah seorang aktivis GEMA Pembebasan dari dari Komisariat UMS dalam orasinya menyoroti ancaman kekerasan khususnya kekerasan seksual terhadap anak-anak dan wanita selama tahun 2015 ini yang terus meningkat prosentasenya, sebab mendasarnya adalah pembangunan masyarakat bercorak kapitalistik dan penerapan sistem sekuler-liberal di segala sisi kehidupan. Disambung oleh Dwi aktivis GEMA Pembebasan dari Universitas Bangun Nusantara memaparkan terkait JKN dan BPJS Kesehatan yang pada hakikatnya adalah asuransi sosial yang dipaksakan kepada seluruh rakyat.

Sistem jaminan sosial semacam ini lahir dari sistem kapitalisme. Dengan mewajibkan seluruh rakyat dalam asuransi ini, negara hendak berlepas tangan dari urusan layanan kesehatan rakyatnya. Artiya, negara memindahkan tanggung jawab ini ke pundak rakyat. Ujar dwi.

Banyak peristiwa politik,sosial dan ekonomi yang terjadi di sepanjang tahun 2015. Semuanya menunjukan satu hal, bahwa negeri ini terus dibelit masalah. Indonesia masih jauh dari harapan.Bahkan Indonesia makin liberal, makin terjajah dan rakyat makin mederita.

Berbagai sumber daya alam negeri ini sebagaian besar di kuasai asing, apalagi paska rezim Jokowi-JK berkuasa asing dan aseng semakin mengakar menguasai SDA Indonesia, termasuk minyak dan Gas, ujar Ibnu Sahidin Ketua Komisariat GEMA Pembebasan Universitas Sebelasmaret Surakarta.
Rahmadi selaku kordinator aksi menekankan bahwa sepanjang 2015 Indonesia ini Indonesia semakin liberal, banyak kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat dan pro kepada kepentingan asing, sehingga hakikatnya kita terjajah dan rakyat kian menderita.

GEMA Pembebasan juga menyerukan Setiap penerapan sistem sekular, yakni sistem yang tidak bersumber dari Allah SWT, Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta, pasti akan menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi umat manusia. Semua ini semestinya menyadarkan kita semua untuk bersegera kembali ke jalan yang benar, yakni jalan yang diridhai oleh Allah SWT, dan meninggalkan semua bentuk sistem dan ideologi busuk, terutama kapitalisme yang nyata-nyata telah sangat merusak dan merugikan umat manusia.

Aksi yang di ikuti Mahasiswa dari berbagai kampus se-Soloraya juga menyerukan untuk mengahiri penjajahan dan penderitaan yang ditimbulkan oleh penerapan sistem Kapitalisme-Demokrasi adalah dengan melakukan Revolusi Islam yakni Menegakkan Sistem Khilafah  ala minhaj an-nubuwwah.


Itulah bila kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini, kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. sistem yang baik hanya mungkin datang dari Zat Yang Mahabaik. Itulah syariah Islam. Adapun pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik itu. Di sinilah esensi seruan Selamatkan Indonesia dengan syariah  dan Khilafah yang gencar diserukan oleh GEMA Pembebasan. Tentu kita semua selalu mengharapkan terwujudnya kehidupan yang dipenuhi dengan kebaikan dan jauh dari keburukan; terwujudnya keadilan dan jauh dari kezaliman; terealisasinya kemakmuran dan pemerataan, bukan kenestapaan dan kesenjangan. Singkatnya, kita tentu mengharapkan kehidupan yang berlimpah dengan keberkahan. [Bayu]

Adab-adab Bergurau/Bercanda



Oleh: Dr. Zain An-Najah, Lc. MA

DIRIWAYATKAN dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bershifat gurau, Dan aku juga menjamin rumah di syurga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (HR. Abu Daud no 4167)

Pelajaran dari hadits

Pelajaran Pertama : Dibolehkan bergurau selama itu memenuhi beberapa syarat, diantaranya:

Syarat Pertama: Tidak mengandung kebohongan baik dalam perkataan maupun perbuatan sebagaimana di dalam hadits Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Abu Daud, Baihaqi, Ahmad. Berkata Syu’iab al-Arnauth: Sanadnya Hasan)

Syarat Kedua: Tidak mengandung sesuatu yang keji atau sesuatu yang kasar dan tidak senonoh, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Syarat Ketiga: Hendaknya dilakukan sekedarnya dan seperlunya, serta tidak terus menerus. Berkata al-Mula Ali al-Qari di dalm Mirqah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih (14/153):

قال النووي اعلم أن المزاح المنهي عنه هو الذي فيه إفراط ويداوم عليه فإنه يورث الضحك وقسوة القلب ويشغل عن ذكر الله والفكر في مهمات الدين ويؤول في كثير من الأوقات إلى الإيذاء ويورث الأحقاد ويسقط المهابة والوقار فأما ما سلم من هذه الأمور فهو المباح الذي كان رسول الله يفعل على الندرة لمصلحة تطييب نفس المخاطب ومؤانسته وهو سنة مستحبة

Berkata an-Nawawi: Ketahuilah bahwa bergurau yang dilarang adalah yang keterluan dan terus-menerus, karena hal itu akan menyebabkan tertawa dan mengeraskan hati, serta memalingkan dari mengingat Allah dan dari memikirkan masalah-masalah agama. Bahkan seringnya menyakitkan orang lain dan menimbulkan dendam, begitu juga bisa menjatuhkan kewibawaan dan kehormatan seseorang. Adapun jika hal-hal di atas tidak ada, maka bergurau adalah sesuatu yang dibolehkan, seperti yang kadang dilakukan oleh Rasulullah, demi kemaslahatan dan meyenangkan orang yang diajak bicara serta menambah keakraban. Dan ini semua merupakan sunnah yang dianjurkan.

Syarat Keempat: Hendaknya tidak memalingkan dari kewajiban dan mengingat Allah

Syarat Kelima : Hendaknya tidak mengandung sesuatu yang menyakiti atau menakuti orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam :

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang muslim membuat kaget sesama saudaranya yang muslim.” (HR. Abu Daud dan Ahmad. Hadits Shahih)

Syarat Keenam: Hendaknya tidak bercanda dalam hal-hal yang dilarang oleh agama. Diantaranya adalah bercanda dalam agama yang melecehkan Allah, Ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, sebagaimana yang tersebut di dalam firman Allah :

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At Taubah : 65-66)

Syarat Ketujuh : Hendaknya tidak bergurau di tempat dan waktu yang mestinya seseorang harus serius.

Pelajaran Kedua : Manfaat Bergurau.

Bergurau mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah:

  1. Supaya menambah keakraban di antara sesama.
  2. Menghilangkan rasa jenuh dan bosan.
  3. Sarana untuk bisa menghibur dan menarik seseorang untuk bisa diarahkan pada sesuatu yang baik.
  4. Melatih otak agar terus berfikir dan berkembang sebagaimana mestinya.
  5. Memberikan kegembiraan kepada orang lain.


Pelajaran Ketiga : pada dasarnya berdusta dan berbohong adalah perbuatan dosa yang diharamkan di dalam Islam, sebagiamana firman Allah:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl: 116)

Ini dikuatkan dengan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukkan, dan keburukkan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetapi dalam beberapa hal, berdusta dibolehkan, diantaranya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Ummu Kultsum bin Uqbah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِي خَيْرًا

“Orang yang mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan bukanlah termasuk pendusta.” (HR. Bukhari 2692 dan Muslim 2605)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ummu Kultsum bin Uqbah radhiyallahu ‘anha berkata:

لَمْ أَسْمَعْهُ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ: فِي الْحَرْبِ وَالْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ، وَحَدِيثِ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ، وَحَدِيثِ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan keringanan pada apa yang diucapkan oleh manusia bahwa itu berdusta kecuali dalam tiga perkara, yaitu, dalam perang, atau mendamaikan perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau cuapan isri kepada suaminya.” (HR. Ahmad).

Sumber : Islampos

DPR: Densus 88 Berulang Kali Salah Tangkap Tanpa Pernah Minta Maaf



KETUA Komisi VIII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay mengatakan berulangnya kasus salah tangkap yang dilakukan oleh Densus 88 patut disayangkan dan disesalkan.

Menurutnya, kasus salah tangkap seperti itu dinilai bisa mengurangi tingkat profesionalitas Densus 88. Apalagi, mereka yang salah tangkap juga mengalami tindak kekerasan fisik dan psikis.

“Kemarin ada lagi kasus salah tangkap. Dua orang warga Solo yang hendak ke masjid ditangkap. Setelah diperiksa, ternyata mereka bukan teroris. Sangat disesalkan ketika ditangkap mereka mengalami tindak kekerasan,” ujar Saleh Partaonan Daulay dalam keterangan pers yang diterima Islampos, Kamis (31/12) di Jakarta.

Menurut Saleh Partaonan, kasus salah tangkap yang dilakukan Densus 88 bukan yang pertama kali. Sebelum kasus ini, sudah pernah beberapa kali ada kasus serupa. Walaupun sudah jelas salah tangkap, namun pihak Densus 88 atau kepolisian RI secara kelembagaan belum pernah menyatakan permintaan maaf kepada korban dan juga publik.

Politisi PAN ini merinci sejumlah data kasus salah tangkap Densus 88. Pertengahan Mei tahun 2014, misalnya, kasus salah tangkap juga terjadi di Solo. Ketika itu yang ditangkap adalah Kadir dari desa Banyu Harjo. Begitu juga pada akhir Juli 2013, Densus 88 juga salah menangkap dua orang warga Muhammadiyah, yaitu Sapari dan Mugi Hartanto.

“Sementara pada akhir Desember 2012, Densus juga salah tangkap terhadap 14 warga Poso. Saya kira masih ada beberapa kasus salah tangkap lainnya yang sempat menjadi perhatian publik,” ungkap Mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah ini.

Berkenaan dengan kasus salah tangkap ini, Saleh Partaonan meminta Kepolisian RI untuk melakukan setidaknya dua hal. Pertama, menyatakan permintaan maaf kepada korban dan keluarganya. Bagaimanapun, korban dan keluarganya tentu merasa sangat dirugikan, baik secara fisik maupun psikis.

Kedua, melakukan perbaikan dalam prosedur penangkapan terduga teroris. Informasi intelijen yang diberikan kepada Densus 88 harus benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, Densus 88 sebagai eksekutornya tidak melakukan kesalahan seperti itu.

“Kita memahami bahwa terorisme sangat mengancam eksistensi NKRI. Namun demikian, penanganannya harus betul-betul cermat dan hati-hati. Dengan begitu, prestasi-prestasi yang dimiliki kepolisian dan khususnya densus 88 tidak ternodai,” ucapnya

sumber: islampos

Arah Pembajakan Intelektual Era MEA: Buruh Kapitalisme



Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Kota Bandung bersama LDK UMMI UNIKOM kembali mengadakan Jendela Dakwah Kampus (JDK). Bertempat di Auditorium Miracle Universitas Komputer Indonesia (22/12), JDK kali ini mengangkat tema mengenai “Arah Pembajakan Intelektual Era MEA: Buruh Kapitalisme”, dengan menghadirkan pembicara antara lain Rezaldi Harisman (Analis Muslim Analyze Bidang Pendidikan), Ridwan Rustandi (Ketua Hima Persis Jawa Barat) dan Saeful Anwar (Ketua BE BKLDK Kota Bandung).

Asean Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sempat menjadi perbincangan nasional di awal tahun 2015, walaupun memang wacana ini sudah digulirkan sejak era presiden sebelumnya. Namun, seiring berjalannya waktu tema MEA seolah hilang dari pembicaraan. Padahal, MEA akan segera dibuka. Lantas bagaimana kesiapan Indonesia dan apa sebenarnya MEA itu? Pembajakan intelektual seperti apakah yang terjadi dengan adanya MEA ini? Maka hal tersebut yang kembali didiskusikan dalam JDK edisi 7 ini.

“Keikutsertaan Indonesia dalam MEA semakin memperjelas bahwa sistem ekonomi yang dianut negeri ini adalah Kapitalisme Liberal”, tutur Rezaldi. Ia juga menambahkan bahwa yang sangat diuntungkan dengan adanya MEA ini adalah negara-negara maju yang memainkan bisnis di kawasan Asia Tenggara dengan memanfaatkan negara-negara asia tenggara.

“Ikut serta dalam MEA tanpa didukung dengan persiapan politik yang matang bukanlah kebijakan politik, tetapi Bunuh Diri Politik”, tegas Rezaldi.

Hal senada juga disampaikan oleh Ridwan bahwa MEA adalah salah satu bentuk penunjang neo-kapitalisme dan neo-liberalisme dengan ditandai oleh adanya privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi. “Pertukaran barang dan jasa, investasi, serta tenaga kerja akan semakin bebas”. Sistem Kapitalisme-Liberal menempatkan negara sebagai regulator untuk menunjang kepentingan para Kapitalis.

Adapun Indonesia digambarkan oleh sebagian intelektual yang mempunyai kepentingan seolah-olah siap, namun pada faktanya belum ada langkah-langkah strategis yang diambil oleh pemerintah untuk menghadapi MEA. “Kondisi pendidikan Indonesia masih jauh dari harapan”, tambah Ridwan.

Hal ini terbukti dengan masih tingginya angka buta huruf di daerah dan hanya 1,7 juta anak yang lulus SMA dari 4,3 juta anak yang masuk SD setiap tahunnya.

“MEA sama halnya dengan pasar bebas”, tutur Saeful. Dimana kepemilikan harta diserahkan kepada mekanisme pasar bebas. Disinilah MEA merupakan mekanisme pengelolaan ekonomi berdasarkan paradigma kapitalisme yang berbeda dengan Islam.
“Adapun terkait kerjasama dalam bidang ekonomi dengan negara lain, maka negara Islam akan melihat status negara yang bersangkutan” tambah seaful.

Acara yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai kampus di kota Bandung ini, berlangsung hangat dengan tanya jawab dari peserta.

“Solusi sistemik sangat dibutuhkan dalam menghadapi berbagai persoalan yang mendera Indonesia, Asia Tenggara Bahkan Dunia, solusi yang akan mengeliminasi Kapitalisme termasuk perangkap MEA yang dimainkannya”, tutup Saeful. [] DS.

sumber: bdg.news

Ini Awal Mula Pembentukan ISIS



Banyak pihak mempertanyakan awal mula terbentuknya pemberontak Negara Islam, Irak dan Suriah (ISIS). Apakah ISIS bagian dari operasi intelijen ataukah murni sebagai gerakan milisi.

Dalam sebuah analisis seperti dikutip Anadolu Agency, gerakan pemberontak lahir setelah invasi AS di Irak pada 2003.  Setahun setelah itu, Abu Musab al-Zarqawi mendirikan  mendirikan Jamaat al-Tawhid wal-Jihad untuk melawan pasukan AS. Setelah melalui beberapa kali transformasi, kelompok ekstremis itu akhirnya menjadi kelompok yang kini dikenal dengan sebutan ISIS.

Dengan memanasnya situasi di Irak dan Suriah, kelompok itu pun mendirikan basis strategis di timur tengah dengan menguasai sejumlah wilayah kedua negara itu.  Ideologi dan metode teror ISIS telah menjadikanya menjadi faktor utama penyebab berkembangnya islamopobia yang terjadi saat ini di dunia barat.

Pada 2006, al-Zarqawi mengumumkan pendirian Dewan Syuro Mujahidin yang bertujuan untuk menyatukan semua fraksi pasukan Sunni Irak dalam satu payung. Namun pada tahun yang sama AS membunuh Zarqawi.

Zarqawi kemudian digantikan oleh Abu Omar al-Baghdadi. Pemimpin baru ini menggantikan nama dewan tersebut menjadi Negara Islam Irak. Namun kelompok itu melemah dalam pertempuran dengan pasukan AS dan militer Irak. 

Abu Bakr al-Baghdadi lantas menggantian Abu Omar al-Baghdadi yang dilaporkan tewas pada 2010.  Setelah revolusi Suriah pecah pada 2011. Abu Mohamed al-Julai, salah satu komandan tinggi Baghdadi berselisih dan mendirikan Front Nusra. Kelompok ini bergabung dengan oposisi lain memerangi Bashar al-Assad. 

Pada 2013, Al-Baghdadi mengumumkan formasi  Negara Islam Irak dan al-Syam atau yang kini juga dikenal dengan ISIS ataupun Daesh (sebutan Arab). 

Al-Baghdadi meminta al-Julani untuk bergabung. Namun Julani memilih menolak, kendati beberapa anak buah Julani memilih bergabung dengan ISIS. 

Daesh mulai terlibat konflik di Suriah. Namun mereka lebih cenderung ingin merebut wilayah kekuasaan oposisi lain daripada memerangi Assad. ISIS ingin memperluas wilayah kekuasaannya. 

Daesh juga terlibat bentrokan dengan Fron Nusra. terutama setelah terbunuhan Abu Khaled al-Suri pada Februari 2014. Julani dalam sebuah rekaman menegaskan akan memerangi ISIS. 

Daesh juga terlibat pertempuran dengan kelompok oposisi lain seperti Pasukan Pembebasan Suriah dan pergerakan Ahrar al-Sham.

Salah satu titik balik ISIS adalah saat penyerangan ke penjara Abu Ghuraib pada Juli 2013. Saat itu 1.000 personel ISIS berhasil melarikan diri. Beberapa tahanan  termasuk sejumlah ekstremis yang kemudian nanti menjadi komandan ISIS. 

ISIS juga mengambil kesempatan dari konflik antara PM Irak saat itu Nuri al-Maliki dengan suku Suni. Kelompok ISIS juga berhasil merekrut loyali mantan presiden Irak Saddam Husein. 

Pada Juli 2014, ISIS berhasil merebut Kota Mosul, ibu kota Provinsi Nineveh. Tidak ada perlawanan berarti dari aparat Irak saat pengambilalian itu. ISIS juga merebut Raqqa di Suriah yang pada kemudian hari menjadi markas utama pemberontak.  

sumber: republika

DPR: MEA dapat Mengancam Nilai Pancasila



Bergabungnya Indonesia dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dinilai akan berdampak pada ketahanan nasional.

Anggota Komisi V DPR Sigit Sosiantomo menyatakan MEA bisa saja menggangu ideologi Pancasila. 

"MEA ini pada dasarnya liberalisasi ekonomi. Namun efeknya akan meliberalisasi semua aspek kehidupan bermasyarakat. Ketahanan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat tentunya akan terancam," ujar Sigit dalam Sosialisasi Empat Pilar di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Sigit mengatakan, pasar bebas sendiri sebenarnya tidak sesuai dengan prinsip ekonomi kerakyatan yang dianut Pancasila. Prinsip ekonomi Pancasila sangat memperhatikan ketahanan dan keberlangsungan ekonomi rakyat dan meniscayakan intervensi negara yang luas untuk menjamin tujuan tersebut. 

"Sementara dalam pasar bebas, intervensi negara sangat dibatasi. Sektor-sektor yang berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat luas dikendalikan swasta atau asing," ujat ketua DPP PKS.

Melalui MEA, warga negara asing akan berlimpah masuk ke Indonesia untuk urusan bisnis, investasi, dan mencari pekerjaan. Masuknya orang-orang asing tentu akan membawa serta budaya dan adat mereka ke Indonesia. 

Dari datangnya budaya asing secara langsung, makan dimungkinkan akan terjadi persinggungan-persinggungan budaya dalam masyarakat. Sedangkan menurut Sigit, budaya tersebut tidak semuanya sesuai dengan Pancasila.

"Ini tantangan sekaligus ancaman terhadap Pancasila," ujarnya.

Sigit menyadari globalisasi tidak dapat dihindari, sehingga pemerintah harus memperhatikan dampak-dampak yang ditimbulkan dari MEA  terhadap  nilai-nilai Pancasila.

sumber: republika

Dianggap Teroris, Kepolisian China Tembak Mati 28 Muslim Uighur



Kepolisian Cina akhir November lalu secara resmi mengumumkan ditembak matinya 28   orang   yang   mereka   anggap   sebagai   ‘’kelompok teroris’’ di   wilayah   Xinjiang, yang   mayoritas   penduduknya   Muslim.

Ini   merupakan   operasi   paling   berdarah   dalam   beberapa   bulan,   dari hasil perburuan selama   56 hari,   menyusul   serangan   terhadap   sebuah tambang   batu bara di Aksu pada bulan   September lalu   yang   menewaskan   16 orang, kata portal   web   pemerintah daerah Xinjiang,   Tianshan. Satu orang   menyerah, tambahnya.

Ini merupakan konfirmasi resmi pertama atas 2 serangan terhadap   tambang dan juga akibatnya.

Seperti diketahui, Xinjiang   adalah   tanah   air   dari   etnis   minoritas Muslim Uighur. Banyak dari mereka   mengeluhkan   tentang   diskriminasi   dan kontrol   terhadap   budaya dan   agama   mereka, dan   wilayah   Xinjiang   sering   dilanda   kerusuhan   mematikan.

Menurut portal berita pemerintah   daerah Xinjiang, Tianshan,   serangan terhadap tambang batu bara itu   merupakan “serangan   teroris dan   kekerasan di bawah komando   langsung   dari   sebuah organisasi   ekstrimis   di luar   negeri”, kata Tianshan.

Mengutip Kantor berita resmi Xinhua mengutip pernyataan pemerintah Xinjiang mengidentifikasi pemimpin serangan sebagai   Musa Tohniyaz   dan   Mamat Aysa, yang diidentifikasi berdasarkan namanya dari   etnis   Uighur.

Pernyataan   resmi   diterbitkan   tak lama   setelah   Radio Free Asia (RFA), yang didanai oleh pemerintah AS, mengatakan bahwa lebih dari   50 orang termasuk 5 polisi tewas dalam serangan   pisau   di sebuah   tambang   batu bara di Aksu pada bulan September.

Para   penyerang menargetkan penjaga keamanan, rumah pemilik tambang, dan asrama pekerja, katanya.

Awal   pekan   ini   Radio Free Asia (RFA)   mengutip   pemerintah China dan sumber-sumber lokal mengatakan   tersangka, termasuk 7   perempuan dan     anak-anak – di antara mereka ada yang   berumur 1   tahun dan 6   tahun – dilaporkan   telah   dibunuh oleh pihak berwenang China.

Label Terorisme Palsu

Beijing   menuduh bahwa separatis   Uighur   adalah   seperti   Gerakan   Islam   Turkistan   yang   berada di balik serangan di Xinjiang, yang   diklaim pihak Beijing telah   menimbulkan   gelombang   kerusuhan yang   mematikan.

Namun para pakar dari   luar negeri   meragukan   kekuatan   kelompok   itu   dan   hubungan mereka dengan   terorisme   global,   dengan   beberapa   pakar   mengatakan bahwa pemerintah Cina melebih-lebihkan   ancaman   untuk melakukan pembenaran atas langkah-langkah   keamanan   ketat mereka   di   wilayah   yang   kaya   akan   sumber daya   alam   itu.

Kelompok-kelompok HAM mengatakan   bahwa   tindakan   tersebut adalah salah satu pemicu kekerasan.

Beijing –menganggap   kecaman   dari   pemerintah-pemerintah   asing   terhadap   serangan   di Xinjiang tidak berdasar – dan malah balik   menuding   Negara-negara Barat   menerapkan “standar ganda” dengan   mengangkat isu terorisme dari serangan Paris yang menewaskan sedikitnya 129 orang itu.

“Standar ganda seharusnya tidak diperbolehkan,” kata Menteri Luar Negeri China Wang Yi hari Ahad.

“Cina adalah korban dari   terorisme,” kata pemberitaan Xinhua News   dalam   sebuah komentarnya hari Kamis malam.

“Memerangi   Gerakan   Islam   Turkistan Timur , Eastern Turkistan Islamic Movement (ETIM),, kelompok teror yang ada dalam daftar PBB, dan   kelompok   teroris   lainnya   merupakan komponen   penting dari   perjuangan   melawan   terorisme   internasional,” tambahnya.

Cina cenderung   untuk   melabeli “teroris”   untuk   semua   serangan yang   melibatkan Muslim Uighur, walaupun faktanya pemerintah Xinjiang masih sering menindas Muslim Uighur. Seperti ketika   Kepolisian Cina bulan lalu dengan cepat mengesampingkan kemungkinan “aksi teroris” ketika   serangkaian 18 ledakan   menewaskan   sedikitnya 7 orang d i wilayah selatan Guangxi.

Kata “teroris” itu   sama   dihindari Beijing   ketika ledakan bom menewaskan1 orang   dan melukai 8   orang   di luar   kantor   Partai   Komunis di   provinsi   Shanxi pada tahun   2013.

Kontak Senjata

Portal berita Tianshan mengatakan, Kepolisian   Cina   mengerahkan   sekitar   10.000   orang dari “berbagai   kelompok   etnis”   untuk   membantu   dalam   mencari   penyerang     tambang batu bara.

Berita Tianshan   ini   dilengkapi dengan   gambar yang menunjukkan para   petani   dipersenjatai   dengan   tongkat   kayu   dan alat-alat   pertanian, dan   sebuah helikopter yang juga dikerahkan dalam operasi itu

Pihak berwenang meluncurkan “serangan keras”   di   Xinjiang   setelah   bom meledak di   stasiun   kereta api   utama   di   daerah   ibukota Urumqi   tahun   lalu , ketika Presiden,   Xi Jinping   telah   mengakhiri   kunjungan ke kota itu .

Tindakan kekerasan   telah   tampak sebagai   uji coba massa   dan   beberapa   eksekusi.

Pada bulan   Maret tahun 2014, 31 orang   ditikam   hinggga mati   di   sebuah stasiun   kereta api di Kunming, di barat daya Cina, dengan 4   penyerang   tewas, dengan separatis Xinjiang dipersalahkan   dan   media   pemerintah   menganggap   itu   sebagai tragedi “11   September di Cina” .

2 bulan kemudian 39 orang   tewas dalam   serangan berdarah   di sebuah pasar di Urumqi. [IZ]

sumber: panjimas

Hukum Merayakan Tahun Baru


Oleh : K.H. M Shiddiq Al Jawi (Dosen STEI Hamfara Yogyakarta)

Tanya :
Ustadz, bolehkah seorang muslim ikut merayakan tahun baru?

Jawab :
Perayaan tahun baru Masehi (new year’s day, al ihtifal bi ra`si as sanah) bukan hari raya umat Islam, melainkan hari raya kaum kafir, khususnya kaum Nashrani. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582. Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752. (www.en.wikipedia.org; www.history.com)

Bentuk perayaannya di Barat bermacam-macam, baik berupa ibadah seperti layanan ibadah di gereja (church servives), maupun aktivitas non-ibadah, seperti parade/karnaval, menikmati berbagai hiburan (entertaintment), berolahraga seperti hockey es dan American football (rugby), menikmati makanan tradisional, berkumpul dengan keluarga (family time), dan lain-lain. (www.en.wikipedia.org).

Berdasarkan manath (fakta hukum) tersebut, haram hukumnya seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi. Dalil keharamannya ada 2 (dua); Pertama, dalil umum yang mengharamkan kaum muslimin menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar). Kedua, dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar fi a’yaadihim).

Dalil umum yang mengharamkan menyerupai kaum kafir antara lain firman Allah SWT (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS Al Baqarah : 104). Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ‘ru’uunah’ (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah SAW seakan-akan mereka mengucapkan ‘raa’ina’ (perhatikanlah kami). (Tafsir Ibnu Katsir, 1/149).

Ayat-ayat yang semakna ini banyak, antara lain QS Al Baqarah : 120, QS Al Baqarah : 145; QS Ali ‘Imran : 156, QS Al Hasyr : 19; QS Al Jatsiyah : 18-19; dll (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Wa`il Zhawahiri Salamah, At Tasyabbuh Qawa’iduhu wa Dhawabituhu, hlm. 4-7; Mazhahir At Tasyabbuh bil Kuffar fi Al ‘Ashr Al Hadits, hlm. 28-34).

Dalil umum lainnya sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad, 5/20; Abu Dawud no 403). Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan sanad hadits ini hasan. (Fathul Bari, 10/271).

Hadits tersebut telah mengharamkan umat Islam menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka (fi khasha`ishihim), seperti aqidah dan ibadah mereka, hari raya mereka, pakaian khas mereka, cara hidup mereka, dll. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As sunnah An Nabawiyyah, hlm. 22-23).

Selain dalil umum, terdapat dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir. Dari Anas RA, dia berkata,”Rasulullah SAW datang ke kota Madinah, sedang mereka (umat Islam) mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main. Rasulullah SAW bertanya,’Apakah dua hari ini?’ Mereka menjawab,’Dahulu kami bermain-main pada dua hari itu pada masa Jahiliyyah.’ Rasulullah SAW bersabda,’Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud, no 1134). Hadits ini dengan jelas telah melarang kaum muslimin untuk merayakan hari raya kaum kafir. (Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As sunnah An Nabawiyyah, hlm. 173).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, haram hukumnya seorang muslim merayakan tahun baru, misalnya dengan meniup terompet, menyalakan kembang api, menunggu detik-detik pergantian tahun, memberi ucapan selamat tahun baru, makan-makan, dan sebagainya. Semuanya haram karena termasuk menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar) yang telah diharamkan Islam. Wallahu a’lam.

CIIA: Keterlibatan Polisi Asing dalam Penangkapan Terorisme Nodai Kedaulatan RI



KABAR keterlibatan polisi asing dalam operasi penangkapan terorisme di Sukoharjo menjadi sorotan berbagai pihak. Hal ini membuktikan ada persoalan serius dalam penanganan terorisme di tahun 2015.

“Ada bukti dan banyak kesaksian dari awak media di lapangan tentang keterlibatan Polisi asing saat penangkapan di Sukoharjo. Ini berpotensi melanggar UU,” ujar Direktur the Community Ideologycal Islamic Analyst, kepada Islampos.com, Rabu (28/12).

Dikatakan Harits, kalau merasa tidak mampu, Polri seharusnya bisa minta bantuan TNI dulu. Untuk kerjasama dengan negara lain masih wajar jika di tataran tukar menukar info atau diklat saja.

“Tapi kalau sudah tindakan operasional selain aspek jurisdiksi aspek pertanggungjawaban anggaran juga pasti banyak potensi pelanggaran,” tukasnya.

Harits menyarankan agar Komisi I atau III DPR RI memberi perhatian masalah ini. Jangan sampai hanya karena faktor dolar kemudian penegakkan hukum berjalan sesuai keinginan asing atau mengakomodir keinginan asing langsung atau tidak langsung.

“Kedaulatan negara bisa runtuh hanya karena dolar,” tukasnya.

Seperti diberitakan, laporan keterlibatan Polisi Australia muncul saat Densus 88 menggerebek Budiyanto alias Abdul Karim pada hari Sabtu, (19/12/2015) di Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo. Sejumlah wartawan mengaku, melihat sejumlah polisi asing dalam operasi Densus 88 tersebut.

Dalam kesempatan terpisah Juru bicara Kepolisian Rl Anton Charliyan membantah adanya laporan itu. Anton mengklaim, pihaknya memang mencium rencana penyerangan teroris antara lain ke kantor-kantor polisi dan terhadap pejabat pemerintahan, termasuk Presiden Joko Widodo. Penangkapan itu dilakukan setelah Polri mendapat informasi dari polisi federal Amerika Serikat, FBI, dan Kepolisian Australia.
sumber: islampos

Jika tak Disengaja, Bagaimana Mungkin Berton-ton Sampul Al-Qur’an untuk Terompet



Jelang datangnya tahun baru masehi pelecehan terhadap Islam dan kaum Muslimin kembali terjadi, meski di negara yang berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia. Marak beredar terompet bersampul Al-Qur’an. Terompet bersampul Al-Qur’an itu dilaporkan beredar bebas di daerah seperti Kendal dan Pekalongan, Jawa Tengah, dan dijual di sejumlah Alfamart. 

Home » Sekilas Info » Jika tak Disengaja, Bagaimana Mungkin Berton-ton Sampul Al-Qur’an untuk Terompet BY MIRWAN CHOKY TUESDAY, DECEMBER 29, 2015 SEKILAS INFO Jika tak Disengaja, Bagaimana Mungkin Berton-ton Sampul Al-Qur’an untuk Terompet Jelang datangnya tahun baru masehi pelecehan terhadap Islam dan kaum Muslimin kembali terjadi, meski di negara yang berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia. Marak beredar terompet bersampul Al-Qur’an. Terompet bersampul Al-Qur’an itu dilaporkan beredar bebas di daerah seperti Kendal dan Pekalongan, Jawa Tengah, dan dijual di sejumlah Alfamart. Melihat fenomena tersebut, Waki

i dikenal sebagai mualaf yang ruh jihadnya membara untuk memperjuangkan Islam di bumi nusantara ini—mengatakan bahwa penghinaan itu menunjukkan kemunafikan atau kebencian seseorang terhadap apa yang dilecehkannya. “Adakah orang Mukmin yang melecehkan agamanya sendiri? Jika mengaku Muslim tentunya sifat ini sangat berlawanan dengan prinsip keimanan itu sendiri. Apalagi melindungi dan membela mereka yang sudah melecehkan Allah, Rasulullah dan Al-Qur’an,” kata Sekjen Mualaf Center Indonesia (MCI) ini kepada redaksi, Selasa (29/12). Beredarnya terompet bersampul Al-Qur’an menurut Koh Hanny, jika tidak disengaja bagaimana mungkin berton-ton Al-Qur’an dipakai sebagai bahan terompet tidak diketahui. 

Bagaimana mungkin pula ratusan ribu sandal dan sepatu berlafadzkan Allah dan Rasulullah juga tidak diketahui. “Siapapun pelakunya jelas mereka secara nyata menghina dan memusuhi Islam. Karenanya mari kita semua bersatu untuk Allah. Dan buktikan kepada Allah bahwa ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam,” tegasnya. Koh Hanny yang merupakan mantan penganut Kristen ini mengharapkan adanya persatuan kepada seluruh umat Islam agar kejadian serupa tidak terulang. “Bersama-sama kita bersatu padu membangun kembali silaturrahim dan ukhuwwah Islamiyah, mewujudkan kejayaan Islam rahmatan lil ‘aalamiin dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla di Indonesia agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” harapnya. 

Sumber: salam-online

Berikut Kronologis Beredarnya Terompet Bersampul Alqur’an



Beredarnya puluhan ribu terompet yang sebagian berbahan sampul Al qur’an membuat geram umat Islam. Saat ini sebagian terompet yang belum terjual telah ditarik dari peredaran. Hasilnya, di kota batang sebanyak 110 terompet berhasil ditarik dari peredaran, di kabupaten Pekalongan sebanyak 319 terompet, kota Pekalongan sebanyak 235 terompet, kabupaten Kendal sebanyak 145 terompet. Serta 2300 terompet berhasil diamankan di Polrestabes Semarang.

Bagaimana kronologis beredarnya terompet tersebut? Berikut penjelasan Basuki Rahmat selaku kepala cabang alfamart Semarang wilayah barat saat beraudiensi dengan anggota Jamaah Ansharusy Syariah Mudiriyah Semarang dan Front Pembela Islam (FPI) Jawa Tengah di ruang Kasat Intel Polrestabes Semarang. Selasa, (29/12/2015).

“Pada saat terompet itu mau kita jual, kita terlebih dahulu melihat samplenya.  Bentuknya seperti apa, kemasannya rusak atau tidak, namun tidak sampai membuka kemasan. Harga deal, kita pesan antara 13 ribu sampai 14 ribu. Dari sample yang diberikan, kita setuju dengan kondisi seperti itu.” Ujar Basuki Rahmat

Terompet datang pada tanggal 4 desember 2015. Kami pilih saudara Hana sebagai supplier karena tahun kemarin juga sudah pernah supply ke kami dan tahun kemarin ga ada masalah. Singkat cerita, barang sudah berada di toko. Pada hari Ahad (27/12) ada informasi di toko, ada seseorang komplain di toko masalah terompet.

“Begitu terompet dibuka kemasan yang pertama ada sampul berlafalkan Al Qur’anulkarim. Saya dapat info itu, saya perintahkan untuk tarik semuanya. Jangan dijual, dicek dahulu dari supliernya. “ tuturnya.

Dari audiensi Selasa (29/12) siang juga diketahui, bahwasanya pihak minimarket ini memesan ke supplier terompet yang bernama Hana. Kemudian Hana meneruskan ke Kasman yang berdomisili di wonogiri. Lalu Kasman meneruskan ke Sutarjo.

sumber: panjimas

Innalillahi, Adzan Dikumandangkan untuk Iringi Lagu Rohani Kristen di Natal Bersama Nasional


Adzan berkumandang di rumah jabatan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang, pada Senin petang (28/12). Namun, seruan itu dikumandangkan bukan dalam rangka panggilan shalat, tetapi untuk mengiringi lagu rohani Ave Maria yang dinyanyikan dalam peringatan Natal Bersama Nasional 2015.

Sekitar 10.000 umat Kristiani dan lintas agama dilaporkan mengikuti perayaan Natal Bersama Nasional 2015 di Kupang, NTT. Acara itu juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, sejumlah menteri, panglima TNI dan Kapolri.

Selain menampilkan kesenian lokal NTT, saat puncak acara diperdengarkan lagu rohani Ave Maria. Namun, secara kontroversial lagu Natal itu dinyanykan dengan iringan kumandang adzan.

Penampilan beriringan panggilan shalat dengan lagu rohani Kristen itu dilakukan dikatakan sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di wilayah itu. Aksi teatrikal juga menyertai dilantunkannya lagu Ave Maria yang diiringi adzan itu.

“Bagus sekali tadi lagu Ave Maria dan Adzan disajikan bersama. Padahal biasa hanya kita dengarkan di masjid, atau di televisi saat adzan Maghrib,” kata Ruma Laurensius, seorang hadirin dalam acara itu, sebagaimana dilansir JPNN.

Lagu Ave Maria karya Schubert dinyanyikan Reny Gadja dari Gereja Musafir Indonesia. Sementara adzan yang menyertai nyanyian itu dikumandangkan oleh Umarba, imam masjid Oepura yang berdiri di samping Reny.

“Ini sangat berkesan, karena sesuatu yang berbeda ternyata bisa dipadukan menjadi satu paket yang lebih indah,” kata Reny, seperti dilaporkan Kompas.com.

Mirisnya, Natal Bersama Nasional 2015 di Kupang, NTT itu tak hanya menampilkan kolaborasi adzan dan lagu rohani Kristen. Acara itu juga menampilkan lagu qasidah dari komunitas pengajian ibu-ibu di Kupang. Mereka membawakan lagu yang dipopulerkan oleh grup legendaris Nasida Ria.

sumber: kiblat.net

Daud Rasyid: Umat Islam Diberi ‘Pil Tidur’


SETIAP pergantian tahun, umat Islam tanpa kecuali ‘’dipaksa’’ untuk menerima suasana Natal dan Tahun Baru yang di-setting sedemikian rupa. Di pusat perbelanjaan, di kantor-kantor swasta maupun pemerintahan, dua kata itu masif dijejalkan. Celakanya, sebagian orang Islam dengan entengnya juga ikut merayakannya. Yang menolak ikut, dicap intoleran.

Demikian disampaikan Dr. Daud Rasyid dalam pengajian lepas dhuhur di Masjid At Taqwa Kantor PLN Pusat, Jakarta Selatan, Selasa (29/12).

Pakar Ilmu Hadits itu juga menyoroti peredaran terompet berbahan kertas sampul Kitab Al Qur’an beberapa waktu lalu. Peraga yang biasa digunakan untuk histeria menyambut tahun baru Masehi itu, ditemukan di sejumlah outlet Alfamart di Jawa Tengah.

Daud Rasyid yang alumnus Universitas Al Azhar Mesir, mengingatkan, kelakuan pedagang tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap Islam dan umatnya.

‘’Tapi kalau kita protes, kita malah diimbau-imbau agar tidak terprovokasi. Kita diberi pil tidur biar iman kita lemah dan ghiroh juang kita padam,’’ ujar dosen UIN tersebut.

Daud Rasyid menegaskan, umat Islam harus menunjukkan ‘izzah agar tidak terus disepelekan dan dilecehkan. Ia memberi contoh, pada 24 Desember lalu dirinya diajak makan di sebuah rumah makan terkenal di Medan. Sesampainya di tempat, meja dan hidangan pembuka yang dipesan panitia, sudah siap.

Namun, Daud Rasyid menolak makan di situ dan minat pindah tempat. Pasalnya, para pegawai rumah makan tersebut mengenakan atribut sinterklas. ‘’Saya tidak mau ikut dibodohi. Kita punya prinsip,’’ tandas Daud Rasyid.

Usai pengajian, dilangsungkan prosesi penglepasan da’i Dewan Dakwah. Sebanyak 19 da’i fresh-graduate alumni STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) M Natsir akan menyusul 3 kakak kelas mereka yang sudah lebih dulu bertugas di Atafufu Nusa Tenggara Timur, Penajam Kalimantan Timur, dan Cirebon, Jawa Barat.

Sembilanbelas da’i baru ini akan ditempatkan antara lain di Pulau Seram Maluku, Pulau Terong Riau, Sikakap Mentawai, Pulau Buru Maluku, Pulau Meranti Kepri, Pulau Komodo NTT, Nias, Tanah Karo, dan Pulau Enggano Bengkulu.

Pengabdian mereka didukung oleh Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah Perusahaan Listrik Negara (Lazis PLN).

Kepada para da’i, Daud berpesan agar menyampaikan materi dakwah sesuai kadar ummat setempat. ‘’Jangan langsung membahas masalah khilafiyah ibadah. Ajarkan yang prinsip-prinsip dulu saja,’’ katanya.

sumber: Islampos