Menanamkan Aqidah Sejak Dini Pada Anak

Menanamkan Aqidah Sejak Dini Pada Anak

Ilustrasi. (123rf.com)

Ilustrasi. (123rf.com)



dakwatuna.com – Ayah-Bunda, sebagai muslim tentu kita harus mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Dalam hal ini, salah satu ajaran Rasulullah saw. adalah mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri pada bayi yang baru lahir.


“Rafi’ ra. meriwayatkan bahwa aku melihat Rasulullah saw. menyerukan adzan ke telinga Hasan bin Ali ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fathimah ra.” (HR. Tirmidzi).


Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan aqidah sejak dini kepada anak. Panca indera yang pertama kali berfungsi pada bayi adalah indra pendengaran. Meski bayi baru dilahirkan, tetapi ia sudah bisa mendengar suara. Bahkan, sejak dalam kandungan pun sebenarnya indra pendengaran bayi sudah berfungsi.


Bayi sudah bisa menangkap suara-suara tertentu sejak masih dalam kandungan ibunya. Karena itu, ketika bayi lahir, Islam mengajarkan kepada umatnya agar menyerukan adzan dan iqamah di telinga bayi. Dengan demikian, kalimat yang pertama didengar oleh bayi adalah kalimat tauhid.


Ayah-Bunda, ajaran Islam yang paling fundamental adalah tauhid atau aqidah. Mengumandangkan adzan dan iqamah pada bayi adalah upaya menanamkan fondasi tauhid yang kuat pada anak. Selanjutnya, fondasi tauhid ini harus dibangun menjadi bangunan tauhid yang kokoh seiring dengan tumbuh kembang anak. Dengan demikian, ketika tumbuh remaja dan dewasa, anak memiliki bangunan tauhid yang kokoh. Ia tidak terombang ambing oleh bentuk-bentuk kemusyrikan yang membinasakan.


Mari kita belajar kepada Luqman. Bagaimana Luqman menanamkan tauhid sejak dini kepada anak-anaknya. Demikian salehnya sosok Luqman, baik sebagai individu maupun sebagai Ayah, sehingga kisahnya diabadikan dalam Alquran.


Alquran menerangkan, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberikan pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).


Nabi Ibrahim as. dan Nabi Yaqub as. pun berwasiat kepada anak-anaknya agar teguh memegang aqidah Islam. Karena, hal ini sangat fundamental. Menentukan keselamatan dan kebahagiaan hidup di akhirat. Dan, sungguh, kehidupan akhirat itulah kehidupan sebenarnya dan abadi.


Alquran menerangkan, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yaqub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 132 – 133).


Oleh karena itu, ketika bayi Anda lahir, segera sambut dengan menyerukan adzan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya dengan penuh kekhusyukkan. Mudah-mudahan bayi Anda kelak tumbuh menjadi anak saleh dan salehah yang memiliki tauhid yang kokoh.


Selain itu, Rasulullah saw. juga mengajarkan kepada umatnya agar berdoa memohonkan perlindungan kepada Allah bagi bayi Anda agar dilindungi dari gangguan setan yang terkutuk. Saat bayi dari seorang muslim terlahir, sudah pasti setan akan berusaha menanamkan pengaruhnya. Ia akan mengganggu bayi itu. Karena itulah, penting bagi setiap orangtua mendoakan bayinya.


Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Hasan dan Husain lahir, Rasulullah saw. memanjatkan doa kepada Allah memohon perlindungan bagi kedua cucunya dengan doa berikut ini.


أُعِيْذُ كُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ.


“Aku mohonkan perlindungan bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, jiwa yang jahat, dan dari setiap mata yang memperdaya.”


Kemudian, Rasulullah saw. bersabda,


هٰكَذَا كَانَ اَبِي اِبْرَاهِيْمُ يُعَوِّذُ اِسْمَاعِيْلَ وَاِسْحَاقَ.


“Demikianlah bapakku, Ibrahim, memanjatkan doa perlindungan bagi Ismail dan Ishak.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Demikian pula halnya dengan yang dilakukan oleh ibundanya Maryam. Ketika Maryam lahir, ibundanya berdoa kepada Allah memohon perlindungan bagi anaknya dan keturunannya kelak agar tidak diganggu setan. Hal ini dikisahkan dalam Alquran berikut ini.


“Maka ketika melahirkannya, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.’ Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. ‘Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 36).


Oleh karena itu, mari kita berdoa kepada Allah memohon perlindungan-Nya agar anak-anak kita dilindungi dari godaan dan tipu daya setan yang terkutuk. Karena, Allah-lah Tuhan semesta alam yang menguasai seluruh makhluk. Allah-lah sebaik-baik pelindung dan penjaga. Semoga anak-anak kita tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak saleh dan salehah, penyejuk mata bagi orangtuanya, dan senantiasa mendoakan orangtuanya. Aamin.



Muhammad Syafi’ie el-Bantanie


Tentang Muhammad Syafi’ie el-Bantanie


Lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan yudisium cum laude ini dikenal sebagai penulis, penceramah, trainer, dan pembicara publik. Ia menulis sejak kuliah dan hingga kini telah menulis dan menerbitkan 43… [Profil Selengkapnya]







Kapolres Bogor: Pemberian Maaf Az Zikra Bisa Jadi Bahan Pertimbangan Hakim

Kapolres Bogor: Pemberian Maaf Az Zikra Bisa Jadi Bahan Pertimbangan Hakim


Secara pribadi pihak Az Zikra sudah memberikan maaf kepada para tersangka untuk kepentingan manusiawi, tetapi meminta pihak kepolisian tetap melaksanakan proses hukum.




Hidayatullah.com–Kepala Polres Bogor AKBP Sonny Mulvianto Utomo mengatakan, Kamis (05/03/2015), pemberian maaf yang dilakukan oleh pihak korban Az Zikra terhadap pelaku penyerangan Majelis Az Zikra bisa menjadi bahan pertimbangan bagi hakim untuk menjatuhkan vonis hukuman kepada para tersangka.


“Tetapi bisa jadi para tersangka juga akan dijatuhi pasal berlapis,” kata Sonny saat menanggapi pertanyaan terkait laporan yang diadukan pihak DKM Jami’ As-Sa’adah Mutiara Sentul Bogor atas penyerangan yang sama oleh para tersangka saat meminta paksa untuk membatalkan tabligh akbar di Masjid Jami’ As-Sa’adah.


Ia menyampaikan, pihaknya sejauh ini belum sampai melakukan penyidikan terhadap siapa aktor di balik penyerangan Az Zikra.


“Meski demikian proses penyidikan akan terus kami lakukan,” janji Sonny.


Juru Bicara Az Zikra Ahmad Syuhada, mengatakan, secara pribadi pihak Az Zikra sudah memberikan maaf kepada para tersangka untuk kepentingan manusiawi, tetapi meminta pihak kepolisian tetap melaksanakan proses hukum.


“Secara kemanusiaan kami memang sudah memaafkan tetapi hukum harus terus berjalan. Sebab Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam selalu mengajarkan pada umatnya untuk tidak menjadi seorang pendendam,” papar Syuhada.


Syuhada juga menyampaikan terima kasih kepada pihak kepolisian Polres Bogor yang selama menangani kasus penyerangan Az Zikra sudah bersikap kooperatif serta betul-betul telah menjalankan amanahnya sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.*






Olimpiade Halal akan Kembali Digelar Tahun Ini

Olimpiade Halal akan Kembali Digelar Tahun Ini

image

Olimpiade Halal 2014



JAKARTA, muslimdaily.net - Setelah sukses menggelar Olimpiade Halal tahun lalu, LPPOM MUI akan kembali menggelarnya tahun ini. Olimpiade Olimpiade Halal 2015 digelar lebih luas dan melibatkan para siswa setingkat SMU tidak hanya di dalam negeri tapi juga internasional.


Olimpiade Halal adalah ajang kompetensi dalam bidang Agama khususnya Islam bagi para siswa SMA/SMK/MAN/ Sederajat. Uji kompetensi ini dilaksanakan setiap tahun dan digelar secara online melalui program Halal Learning Online (H@LO) LPPOM MUI. Kompetisi ini merupakan seleksi untuk mendapatkan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia.


Ada beberapa tahapan untuk meraih gelar sebagai juara Olimpiade Halal, babak penyisihan dan babak final. Para Finalis adalah peserta yang lolos babak penyisihan dengan nilai terbaik di setiap Provinsi di Indonesia. Gelar juara dapat diperoleh bagi siswa yang lolos babak final dengan 6 peringkat terbaik (juara 1 sampai juara harapan 3). Memperebutkan Trophy, Sertifikat dan Tabungan Pendidikan dengan total sebesar Rp. 25.000.000,-


Adapun pendaftaran melalui www.halolppommui.com, ditutup sampai 19 April 2015. Kompetisi berlangsung secara individual maupun lewat sekolah atau lembaga pendidikan lainnya dengan jumlah peserta tidak dibatasi. Untuk biaya kepesertaan sebesar Rp, 50,.000,- untuk tiga (3) orang siswa.


“Kepada para peserta, adik-adik siswa SMU semuanya, kami undang turut serta berkompetisi dalam majelis ilmu yang sangat bermanfaat ini“ ungkap Lukmanul Hakim, direktur LPPOM MUI dalam laman resmi halalmui, Kamis (05/03).


Terkait materi lomba yang diujikan terdiri dari pengetahuan Halal dan Haram sesuai Al Qur’an dan Hadits, Prosedur Sertifikasi Halal dan Sistem Jaminan Halal (dapat diunduh setelah melakukan pendaftaran), pengetahuan studi Islam dan pengetahuan umum tingkat SMA/SMK/MAN/ Sederajat.


“Kami membuka pintu bagi perusahaan bersertifikat halal untuk dapat bersama-sama mendukung kesuksesan pelaksanaan event ini,” tambah Lukman.


Untuk informasi lebih lanjut terkait Olimpiade Halal dapat menghubungi pihak panitia dengan no. telepon (0251-8358748/0878.577.666.84) atau email sosprolppom@halalmui.org.





Masyarakat Buddha di Muenang Nan Protes Rencana Pembangunan Masjid

Masyarakat Buddha di Muenang Nan Protes Rencana Pembangunan Masjid

image

MUENANG, muslimdaily.net – Sekitar 800 orang bergabung dalam aksi protes terhadap usulan pembangunan sebuah masjid di Mueang Nan, ibukota provinsi Nan di Thailand utara. Seorang Biksu Buddha, yang mewakili para demonstran, menyerahkan surat protes kepada petugas provinsi.


Mayoritas penduduk Thailand beragama Buddha dan sekitar 5 persen dari populasi adalah Muslim. Mayoritas Muslim Thailand hidup di bagian selatan negara itu, yang sebelumnya dikenal sebagai Kerajaan Pattani. Bahkan, beberapa kelompok Muslim menganjurkan pemisahan wilayah ini dari Thailand.


Penduduk desa, yang berasal dari Ban Buppharam dan kabupaten tetangga lainnya, menyatakan bahwa komunitas Muslim gagal untuk berkonsultasi dengan mereka tentang masjid.


Pada sidang pertama dilakukan pada bulan Januari, tetapi komite Muslim setempat gagal mencapai konsensus tentang masalah ini.


Dalam wawancara yang dilakukan oleh The Bangkok Post, penduduk desa bersikeras bahwa masjid tidak perlu di provinsi ini. Laporan itu mengatakan sebagain orang takut adanya kemungkian tujuan politik atau agama yang tersembunyi dalam pembanguan masjid”yang dapat menimbulkan keresahan dan kekerasan di bagian lain dari Thailand.


Bertepatan, situs yang diusulkan menjadi masjid itu hanya dua kilometer jauhnya dari kuil Buddha dan ada beberapa yang tidak senang dengan hal ini. Orang-orang berpendapat dalam permohonannya bahwa masjid dapat membuat “polusi suara” atau akan menyebabkan ketegangan karena “perbedaan dalam gaya hidup dan budaya”.


Rikkraisak Kanta (55), menjelaskan ke media lokal alasan untuk menentang masjid.


“Penduduk desa tidak memiliki masalah dengan umat Islam tetapi protes ini adalah karena kami tidak senang dengan lokal pemerintah lokal (provinsi) yang mengizinkan pembangunan masjid ini dalam masyarakat Buddha. Kami harus melakukan audiensi publik sebelum konstruksi masjid ini memiliki dampak pada komunitas kami. Jika (pemerintah) provinsi berlanjut dengan pembangunan, masyarakat Nan akan terus protes,” ujarnya.


Seorang wakil Muslim mengatakan saat ini terdapat 60 Muslim di Nan dan mereka harus melakukan perjalanan 130 kilometer ke provinsi yang berbeda untuk melakukan ibadah mereka. Pemimpin Muslim lainnya juga membela proyek dengan mengutip dampak positif terhadap pariwisata. Dia mengatakan bahwa “wisatawan dari provinsi tetangga, termasuk orang asing dan individu yang beragama Islam, dapat mengunjungi masjid. Ini akan menyebabkan pengeluaran lebih banyak di wilayah ini.”


Gubernur Nan Ukrit Puengsopha mencoba untuk mengambil jalan tengah. Dia mengatakan bahwa Muslim di provinsi iti dapat memulai dengan membangun balasah, yang merupakan tempat sementara ibadah sebelum membangun masjid permanen. Masyarakat dapat meng-upgrade menjadi sebuah masjid yang lebih besar bila umat Islam lebih banyak wilayah tersebut, katanya. (GVO)





Mufti: Alat Bacaan Al-Qur’an di Pekuburan tak Sesuai Ajaran Islam

Mufti: Alat Bacaan Al-Qur’an di Pekuburan tak Sesuai Ajaran Islam

image


KUALA LUMPUR, muslimdaily.net – Penjualan alat yang mengeluarkan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an di atas tanah-tanah pekuburan mendapat reaksi negatif dari kalangan tokoh agama.


Dua mufti negeri berpendapat, alat bacaan surah Yasin serta tahlil otomatis di pemakaman menggunakan tenaga surya itu menjurus kepada perbuatan yang tidak dianjurkan dalam Islam.


Mufti-mufti tersebut menegaskan, sebaik-baik doa untuk orang tua yang sudah meninggal adalah datangnya dari anak-anak mereka sendiri terutama setelah selesai menunaikan shalat.


Mufti Perak, Tan Sri Harussani Zakaria menggambarkan alat semacam itu sebagai ‘mengarut’ serta bid’ah dan meminta mereka yang menjalankan bisnis tersebut di situs-situs sosial supaya menghentikan penjualannya.


“Orang juga janganlah terpengaruh dengan alat-alat seperti ini karena sangat jelas menjurus ke praktek bid’ah,” katanya, Kamis (05/03) seperti dikutip utusan.


Alat ‘sistem audio Mp3 bacaan Quran 24 Jam’ yang dijual melalui Facebook diinformasikan dapat digunakan pada tujuh malam pertama, tahlil otomatis pada hari ke-40 dan hari ke-100 setelah kematian serta pada tanggal ulang tahun kematian.


Pemilik akun Facebook, Muntazir Masrallah yang mempromosikan alat tersebut menulis, dengan menggunakan alat tersebut, akan ‘menghemat duit, tidak perlu upah orang membaca al-Quran dan tahlil serta tidak perlu membuat kenduri’.


“Mari berebut memesan! Satu inovasi bid’ah hasanah, “katanya.


Sedangkan, Mufti Selangor, Datuk Mohd. Tamyes Abd. Wahid berpendapat, penjualan alat semacam itu dengan alasan untuk ‘menceriakan’ kuburan almarhum sebagai sesuatu yang ‘salah dalam slam’.


Menurutnya, alat seperti itu juga tidak sejalan dengan firman Allah yaitu: “Berdoalah kamu kepada-Ku niscaya Aku perkenankan doa permohonan kamu.”


“Kalau hendak sandarkan doa kepada kaset atau rekaman, apalagi melibatkan kematian, memang ini salah dalam Islam,” ujarnya.





Felix Siauw: Harus Ada Regulasi Buku-buku Syiah di Indonesia

Felix Siauw: Harus Ada Regulasi Buku-buku Syiah di Indonesia


Ketika Menteri Agama memberi kata pengantar terhadap buku Syiah, menurutnya, justru memancing problem yang lebih besar



Felix Siauw: Harus Ada Regulasi Buku-buku Syiah di Indonesia

Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com


Ustadz Felix Siauw di arena IBF 2015




Hidayatullah.com- Kata pengantar Lukman Hakim Saifuddin pada sebuah buku tentang Syiah turut disoroti Ustadz Felix Siauw. Felix menyayangkan sikap Menteri Agama (Menag) RI tersebut.


Menurut Felix, persoalan seperti buku-buku Syiah di Indonesia tidak ada regulasinya. Kalau pun ada, katanya, justru terkadang menguntungkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


“Seperti kasus-kasus yang terakhir kita lihat bahwa Departemen Agama (Kemenag. Red) justru ketika harusnya mereka berfungsi mengademkan umat, tapi ternyata, ya mohon maaf, kadang-kadang beberapa langkahnya kita lihat malah justru memberikan hal-hal yang bisa memecah-belah umat,” ujarnya kepada hidayatullah.com di arena Islamic Book Fair (IBF) ke-14, Istora Senayan, Jakarta, baru-baru ini.


Seharusnya, lanjut Felix, Kemenag berkonsultasi terlebih dahulu kepada ulama-ulama sebelum menentukan suatu langkah yang akan dilakukan.


Namun ketika malah memberi kata pengantar pada buku Syiah, misalnya, hal itu, menurut Felix, justru memancing problem yang lebih besar lagi.


“(Kemenag telah) memberikan angin-angin segar pada (Syiah. Red) yang harusnya nggak diberikan,” ujarnya, Rabu (04/03/2015).


Disinggung penyebaran berbagai buku ataupun majalah terbitan Syiah, Felix meyakini perlunya regulasi dari pemerintah.


“Karena kalau regulasi ini sudah tidak ada ya, percuma. Artinya, seberapa pun kita menerbitkan (buku anti Syiah), ya, ujungnya kekuatan uang yang lebih berpengaruh,” ujarnya.


Diberitakan sebelumnya, Felix mengaku sudah mendapat laporan soal dugaan adanya buku-buku Syiah di IBF 2015. Dia pun membagikan tips untuk menyiasati hal itu. [Baca tipsnya di sini!]*






Membuat Anak Jatuh Cinta dengan 6S

Membuat Anak Jatuh Cinta dengan 6S

Ilustrasi - Ibu memakaikan kerudung ke anak (blogspot.com - serambidakwah)

Ilustrasi – Ibu memakaikan kerudung ke anak (blogspot.com – serambidakwah)



dakwatuna.com - Tulisan ini terinspirasi dari link twitter @Anakjugamanusia yang selalu membuat hati tertampar dan terharu. terkadang seperti berkata, “Wake Up mommy!, Learn Mommy!. Seperti salah satu cuitannya, “Ketika menerapkan 6S (salam, sapa, santun, sopan, sabar, sayang), anak mana yang tidak akan jatuh cinta pada kita”. Hmmmm, jatuh cinta, ya jatuh cinta.


Ketika anak jatuh cinta pada kedua orang tuanya, indah bukan? Ya tentu hubungan yang terjadi akan lebih kuat. Tidak ada Bos dan bawahan, tidak ada orang tua galak, tidak ada anak penakut di rumah, tapi “liar” di luar rumah. Pada saat tanki cinta anak terpenuhi di rumah, dia tidak akan mencari cinta atau perhatian di luar rumah, kecuali ketika dia mencari pasangan hidupnya kelak.


Kita bahas yang pertama, salam. Salam dalam Islam berupa Assalaamu’alaikum wr. wb. Indah bukan ketika kita bertemu anak di rumah, ketika dia bangun tidur, ketika dia pulang dari sekolah, kita menyapanya dengan ungkapan salam tersebut. Atau bisa kita tambahkan, “Assalamu’alaikum sayang”, “Assalamu’alaikum bayi kecil mommy”, So lovely.


Kedua, sapa. Ya, menyapa anak ketika berpapasan di rumah, menyapa anak ketika dia bermain. Terbayang begitu banyak intensitas kita bersentuhan secara psikis dan tentunya mengajarkan juga agar ramah terhadap orang-orang yang akan dia temui nanti.


Ketiga, santun. Santun? anak juga manusia hanya saja secara fisik berbeda dengan manusia dewasa. Meskipun demikian anak memiliki kebutuhan untuk dihormati sebagaimana manusia seutuhnya. dan otomatis anak juga akan belajar untuk menghormati orang tua, orang dewasa lainnya, dan bahkan menghormati dirinya sendiri.


Keempat, sopan. Darimana anak belajar kesopanan, apabila kita tidak menunjukkan seperti apa itu sikap sopan karena anak adalah peniru ulung. Sebagai orang tua, kita harus menjadi contoh terbaik untuk anak-anak kita.


Kelima, sabar. Kehidupan adalah sekolah sabar yang berhenti ketika manusia kehilangan nyawanya. Salah satu bagian dari sekolah sabar yaitu ketika membesarkan anak dari mulai bayi sampai dia dewasa. Sabar memang tak berbatas, kemampuan kita sebagai manusia yang terbatas untuk bisa sabar. Tapi percayalah mommy, kita pasti bisa. Sedikit demi sedikit untuk bersabar. Mulai dari satu hari tidak memarahi anak ketika melakukan kesalahan. Lihatlah mommy, anak adalah manusia yang sedang belajar juga. Wajar jika dia melakukan kesalahan. mari saling belajar. Ketika anak sedang belajar mengenai kehidupannya, kita pun belajar untuk menambah tanki kesabaran kita.


Keenam, sayang. Ini adalah yang terakhir, sayang. Banyak ungkapan sayang yang dapat kita berikan untuk anak-anak kita, Moms. Pelukan, kecupan sayang, genggaman tangan ketika berjalan beriringan, usapan kecil di kepala, bahkan sepiring nasi goreng ketika dia sarapan. Masih ingatkah ketika kita menanti bayi mungil lahir selama 9 bulan lamanya, ketika tangisan kecilnya pertama kali kita dengar pada saat kelahirannya, ketika dia nyaman tertidur saat kita peluk, ketika dia pertama kali memanggil kita dengan sebutan mama, ibu, mommy, bunda.


Pada akhirnya kita menyadari waktu kita untuk menggenggam tangan anak-anak kita, memeluknya manja, menguncir rambutnya yang panjang sangatlah singkat. Tapi sebagai orang tua kita dapat menggenggam hati anak-anak kita selamanya, seumur hidupnya. Selamat menerapkan 6S.





Dianggap Lebih Biadab dari Hewan, Pengacara Turki Ogah Bela Anggota ISIS

Dianggap Lebih Biadab dari Hewan, Pengacara Turki Ogah Bela Anggota ISIS

Berita Internasional Update

Pengadilan sebelumnya meminta Kementerian Kehakiman agar memindahkan persidangan anggota ISIS itu ke luar wilayah Nigde, dengan alasan keamanan




Hidayatullah.com—Para pengacara yang ditugaskan untuk membela 3 tersangka anggota ISIS dalam kasus pembunuhan di Provinsi Nigde telah mengundurkan diri, karena menilai perbuatan kliennya sangat buruk bahkan melebihi binatang liar.


Seorang warga sipil dan dua petugas keamanan terbunuh ketika para penyerang terduga anggota ISIS itu dilaporkan melancarkan tembakan ke arah pos pemeriksaan yang dijaga oleh polisi dan gendarmarie pada Maret 2014. Sebelas tersangka, termasuk ketiga orang itu, telah diajukan ke pengadilan.


Dilansir Today’s Zaman dari kantor berita Dogan, Asosiasi Pengacara Nigde dipaksa untuk menunjuk pengacara guna mendampingi ketiga tersangka itu, yang tetap bungkam saat persidangan pertama. Tiga pencaranya yang ditugaskan oleh asosiasi itu, Hurriyet Toker, Nail Gunduz dan Murat Turan hari Kamis (4/3/2015) meninggalkan ruang pengadilan saat sidang kedua digelar di Pengadilan Tinggi Pidana Nigde, setelah menyatakan bahwa mereka mengundurkan diri dari kasus itu.


Ketika para wartawan menanyakan alasan ketiga pengacara itu mengundurkan diri, Gunduz berkata, “Anda bisa membela hewan, tetapi [para tersangka] ini bahkan bukan binatang. Mereka bukan manusia. Itu mengapa saya meninggalkan kasus ini.”


Menurut kantor berita Dogan, pengadilan sebelumnya meminta Kementerian Kehakiman agar memindahkan persidangan ke luar wilayah Nigde, dengan alasan keamanan dan resiko akan menyulut kemarahan publik. Tetapi kemeneterian menolak permintaan itu.


Ketiga terdakwa, yang menghadiri persidangan lewat konferensi video dari penjara di Ankara, tetap memilih bungkam di persidangan kedua dan menolak menjawab pertanyaan hakim.


Ketiga orang yang diduga kuat anggota ISIS itu, Cendrim Ramadani, Benyamin Xu dan Muhammad Zakiri, ditangkap dan dijebloskan ke penjara di Ankara menyusul aksi penembakan tersebut.


Salah satu dari sebelas tersangka dalam kasus itu adalah seorang warga Suriah keturunan Turkmen yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok Free Syrian Army (FSA), dan kelompok-kelompok radikal seperti ISIS, serta afiliasi Al-Qaidah. Selain orang itu ada Haisam Toubaljeh, yang dikalangan pers Turki dikenal sebagai Heysem Topalca. Menurut laporan Hurriyet Daily, dia adalah tersangka dalam kasus penembakan di Reyhanli. Dia juga diyakini terlibat dalam sejumlah kasus penyelundupan dan juga pengiriman hulu-hulu ledak roket ke Suriah yang dicegat aparat keamanan Turki pada Nopember 2013 di Adana.*






Wanita di Yordania 90% Berpendidikan, Hanya 16% Masuk Pasar Tenaga Kerja

Wanita di Yordania 90% Berpendidikan, Hanya 16% Masuk Pasar Tenaga Kerja

Berita Internasional Update

Sebanyak 89,9 persen perempuan di atas usia 15 tahun ke atas di Yordania adalah wanita berpendidikan.




Hidayatullah.com—Hanya sekitar 16 persen wanita yang masuk pasar tenaga kerja pada tahun 2013, demikian menurut data yang dirilis Departemen Statistik Yordania hari Rabu (4/3/2015).


Data itu, yang dirilis dalam rangka Hari Wanita Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret, menunjukkan bahwa 53,9 persen dari wanita yang masuk dunia kerja memilih profesi di sektor pendidikan dan 45,8 persen bekerja di sektor medis dan sosial, lapor Jordan Times.


Menurut Departemen Statistik, yang setiap tahun mengeluarkan data itu dalam rangka Hari Wanita, sebanyak 89,9 persen perempuan di atas usia 15 tahun ke atas di Yordania adalah wanita berpendidikan.


Beralih ke sektor kehakiman, Departemen Statistik melaporkan bahwa jumlah hakim wanita di Yordania naik dari 6,2 persen tahun 2009 menjadi 16 persen di tahun 2013.


Jumlah perempuan yang memiliki properti juga tercatat mengalami kenaikan pada periode yang sama, kata Departemen Statistik.


Tahun 2009 wanita pemilik tanah mencapai 17 persen, sementara pemilik apartemen 22,1 persen. Tahun 2013, jumlah wanita pemilik tanah naik menjadi 20,2 persen dan 24,7 persen memiliki aset berupa real estate.


Wanita pengguna internet tahun 2013 di Yordania mencapai 43,5 persen.


Populasi Yordania sampai akhir 2013 berjumlah 6.530.000 jiwa, yang mana 48,5 persen di antaranya adalah perempuan.


Persentase wanita yang tidak pernah menikah tahun 2013 mencapai 33,4. Sementara di kalangan pria jumlahnya 43,6 persen.


Angka perceraian di kalangan laki-laki Yordania 0,4 persen, sedangkan di kalangan perempuan 1,2 persen.*






Pelaku KDRT di Aljazair Bisa Dipenjara 20 Tahun dan Bahkan Seumur Hidup

Pelaku KDRT di Aljazair Bisa Dipenjara 20 Tahun dan Bahkan Seumur Hidup

Berita Internasional Update

Sekitar 100-200 wanita tewas setiap tahun di Aljazair akibat KDRT.




Hidayatullah.com—Parlemen Aljazair hari Kamis (5/3/2015) meloloskan undang-undang yang mengkriminalkan kekerasan terhadap wanita di dalam rumah tangga (KDRT).


Dalam undang-undang itu dikatakan bahwa suami yang melukai pasangannya bisa dihukum penjara hingga 20 tahun, dan memungkin hakim memberikan hukuman seumur hidup jika kekerasan dalam rumah tangga itu berujung pada kematian.


Undang-undang itu disetujui lewat pemungutan suara di parlemen yang dihadiri oleh lebih dari separuh dewan perwakilan rakyat Aljazair yang beranggotakan 462 orang.


Menurut Abdelallah Djaballah dari Partai Al-Adala, sebuah partai Islam, undang-undang baru itu merupakan balas dendam kepada suami dan pria secara umum. Menurutnya, legislasi itu berusaha “memecah belah keluarga.”


Berbeda dengan Djaballah, seorang anggota parlemen dari Front Pembebasan Nasional mengatakanan kepada AFP bahwa hari Kamis ketika UU itu diloloskan adalah “hari besar”.


Sekitar 100-200 wanita tewas setiap tahun di Aljazair akibat KDRT, menurut laporan statistik yang dikutip media lokal.


Sementara itu Amnesty International menyeru agar dilakukan amandemen guna menghapus pasal yang memungkinkan korban selamat dari KDRT memaafkan pelakunya, dengan memperingatkan bahwa hal itu merupakan “preseden berbahaya.”


“Kegagalan untuk membatalkannya akan mengakibatkan para wanita yang melaporkan kekerasan dalam rumah tangga menghadapi resiko serius, berupa kekerasan atau pemaksaan kepada mereka untuk membatalkan pengaduannya,” kata Amnesty.*






Az-Zikra: 34 Pelaku Penyerangan Pemukiman Az-Zikra Mengaku Syiah

Az-Zikra: 34 Pelaku Penyerangan Pemukiman Az-Zikra Mengaku Syiah


Semua tersangka di tahanan Polres Bogor serempak mengangkat tangan dan mengakui mereka betul-betul orang Syiah



Az-Zikra: 34 Pelaku Penyerangan Pemukiman Az-Zikra Mengaku Syiah

salah satu penyerang pemukiman Az-Zikra




Hidayatullah.com- Juru Bicara Majelis Az Zikra, Sentul, Bogor, Jawa Barat Ustad Ahmad Syuhada mengatakan semua tersangka kasus penyerangan Jamaah Majelis Az Zikra mengaku jika semuanya adalah orang Syiah.


“Mereka (semua tersangka yang ke-34 itu, red) menyatakan diri jika memang betul-betul orang Syiah,” kata Ustad Syuhada kepada wartawan di komplek Pemukiman Muslim Az Zikra setelah dirinya bersama rombongan selesai menemui para tersangka di tahanan Polres Bogor, Jawa Barat, Kamis (05/03/2015) Siang.


Ustad Syuhada menyampaikan ketika dia bertanya kepada para tersangka “Siapa yang bener-benar Syiah angkat tangan?” Saat itu, kata Ustad Syuhada sekitar 18 orang tersangka langsung mengangkat tangan menyatakan diri bahwa mereka orang Syiah.


Kemudian setelah itu, sambung Ustad Syuhada, ada salah satu tersangka yang dengan lugunya bertanya “Ustad kalau yang baru belajar tentang Syiah gimana?”


Dari pertanyaan itu, Ustad Syuhada menegaskan kepada para tersangka, baik yang baru belajar Syiah ataupun yang memang orang Syiah, semua bisa angkat tangan.


“Ternyata semua tersangka yang ke-34 dalam tahanan Polres Bogor serempak mengangkat tangan dan menyatakan diri mengakui bahwa mereka memang betul-betul orang Syiah,” pungkas Ustad Syuhada.*






Akan Pergi ke Suriah, Pria Amerika Ini Didakwa Mendukung Teroris

Akan Pergi ke Suriah, Pria Amerika Ini Didakwa Mendukung Teroris

Berita Internasional Update

Jika terbukti mendukung teroris Dandach bisa mendekam di penjara selama 25 tahun.




Hidayatullah.com—Seorang pria California, Amerika Serikat, yang berusaha pergi ke Suriah tahun lalu telah didakwa dengan tuduhan berusaha bergabung dengan kelompok bersenjata ISIS. Demikian diumumkan kerjaksaan hari Rabu (4/3/2015).


Adam Dandach, 21, yang juga dikenal sebagai Fadi Fadi Dandach, dituntut dengan tuduhan berusaha memberikan dukungan kepada kelompok teroris asing dan memalsukan aplikasi paspor guna memfasilitasi terorisme.


Dia juga didakwa menghalangi proses peradilan dengan berusaha menghancurkan beragam rekaman dan catatan setelah penangkapannya bulan Juli tahun lalu.


Jika terbukti bersalah atas semua dakwaan itu, Dandach bisa mendekam di penjara selama 25 tahun.


Menurut dokumen pengadilan, ketika ditangkap Dandach mengatakan kepada agen-agen FBI bahwa dirinya berusaha pergi ke Suriah dengan tujuan berbaiat kepada ISIS.


Dia menambahkan bahwa “dia yakin membunuh tentara Amerika adalah perbuatan yang dibenarkan,” imbuh dokumen itu seperti dikutip AFP.


Dandach ditangkap ketika berusaha naik pesawat tujuan Turki dari bandara di California pada 3 Juli 2014. Dia dijadwalkan akan muncul di pengadilan pada 16 Maret.*






Terapi Stres

Terapi Stres


Banyak cara untuk mengobati atau menterapi orang yang stres. Ada yang menuliskan kekesalan hatinya di kertas dan kemudian kertasnya dibuang atau dibakar. Ada pula yang curhat kepada orang lain. Ada yang mengadu kepada Allah SWT. Dan, ada juga yang mengobati stres dengan cara berbelanja.


Dikisahkan, seorang suami yang sedang tugas ke luar kota menelepon istrinya yang sedang sakit di rumah. “Mama, sudah ke dokter? Kata dokter sakit apa?” tanyanya.


Dari balik telepon istrinya menjawab, “Sudah, mas. Kata dokter aku stres. Katanya obatnya bukan obat tapi jalan-jalan. Saya harus makan pizza di Italia, beli parfum di Perancis, beli jam tangan di Swiss, makan sea food di Jepang, facial di Korea. Mas, kapan kira-kira bisa menemani aku?”


Sang suami menarik nafas panjang, kemudian menjawab, “Mama, coba ganti dokter ya.”


Salam SuksesMulia!


Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook





Konsep Firdaus Memorial Park Dikagumi

Konsep Firdaus Memorial Park Dikagumi


Peserta dari Brunei Darussalam berencana mengusulkan konsep pemakaman wakaf semacam Firdaus Memorial Park kepada pemerintah.




Hidayatullah.com–Peserta Seminar Internasional Filantropi ke III berkesempatan mengunjungi Firdaus Memorial Park (FMP), Kamis (5/3/2015) pagi. FMP merupakan pemakaman Muslim berstatus wakaf yang dikelola oleh Wakaf Pro 99


Sejumlah peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, terlihat antusias berkunjung ke pemakaman yang mengusung konsep syar’i, hijau, dan asri ini.


Haji Anwar, peserta dari Brunei Darussalam kepada wartawan mengungkapkan kekagumannya.


“Konsep ini mengagumkan. Motivasi, untuk rakyat Brunei. Ikhtiar yang bagus dari pengelola,” kata Haji Anwar.


Karena kekagumannya ini, Haji Anwar berencana akan mengusulkan konsep pemakaman wakaf ini kepada pemerintah Brunei Darussalam.


Sementara itu, Ahmad Zaki peserta dari Malaysia mengaku, pemakaman hijau dan asri ini sudah banyak terdapat di Malaysia. Hanya saja bersifat profit.


“Di Malaysia sudah ada, memorial park. Tapi yang bikin orang-orang China, eksklusif. Jika posisi makamnya di bukit tertinggi, maka itu akan lebih mahal harganya,” terang Ahmad Zaki.


Ahmad Zaki mengatakan akan mengupayakan konsep FMP ini dilakukan di Malaysia.


Direktur Wakaf Pro 99, Asep Irawan mengatakan, FMP ini memang didedikasikan untuk kaum dhuafa.


“Dengan wakaf 10 juta rupiah, pewakaf mendapatkan empat kavling pemakaman. Dua kavling untuk pewakaf, dua kavling untuk kaum dhuafa. Satu kavling dapat menampung tiga jenazah,” jelas Asep.


Kata Asep, FMP seluas 31 hektar ini rencananya akan terintegrasi dengan pesantren tahfiz, masjid, taman terbuka hijau, pertanian, dan peternakan.*






Tips Ustadz Felix, Cara Pembeli dan Penerbit Antisipasi Buku Syiah

Tips Ustadz Felix, Cara Pembeli dan Penerbit Antisipasi Buku Syiah


Baru-baru ini tersiar kabar di media sosial, seseorang yang mengaku pengunjung IBF 2015 kaget atas keberadaan sebuah majalah Syiah di Istora Senayan.



Tips Ustadz Felix, Cara Pembeli dan Penerbit Antisipasi Buku Syiah

rmol


Seorang pelajar memilih buku di Islamic Book Fair di Istora Senayan, Jakarta.




Hidayatullah.com- Belakangan ini, jejaring sosial diramaikan kabar adanya buku-buku pro Syiah pada Islamic Book Fair (IBF) ke-14. Menyikapi kabar itu, Ustadz Felix Siauw berbagi tips untuk pembeli dan penerbit guna mengantisipasi buku-buku Syiah.


Kepada umat Islam pengunjung IBF, ia menyarankan agar memilih buku dengan cermat, serta mempertimbangkan aspek aqidah.


“Ketika kita membeli buku, kita sudah memahami bahwa buku ini adalah sumber informasi. Maka kita harus memastikan bahwa sumber buku ini, pertama, aqidahnya benar,” ujarnya kepada hidayatullah.com usai berbelanja buku di arena IBF, Istora Senayan, Jakarta, Rabu (04/03/2015).


“Bahwa aqidahnya adalah aqidah ahlus sunnah. Kalau selain itu kita tidak perlu (beli), bahkan kita harus menjauhi segala macam pasokan-pasokan informasi selain daripada aqidah ahlus sunnah tadi,” lanjutnya yang datang ke IBF bersama keluarga.


Untuk para penerbit yang anti-Syiah, Ustadz Felix berpesan agar mereka memperbanyak buku pro aqidah ahlus sunnah.


“Sebenarnya, kalau penerbit tidak bisa apapun selain menerbitkan lebih banyak lagi (terbitan yang memperkuat) aqidah-aqidah ahlus sunnah,” ujarnya.


Ustadz Felix mengaku, selama ini sudah mendapatkan beberapa laporan mengenai terbitan pro Syiah di IBF. Namun ia mengaku belum melihat secara langsung buku ataupun majalah yang diduga itu.


“Artinya (belum melihat) secara langsung dengan judul atau dengan tendensi (pro Syiah). Paling beberapa laporan-laporan saja,” ujar dai yang pernah menyalurkan bantuan untuk umat Islam secara langsung di Suriah ini.


Majalah Anak Terbitan Syiah?


Seperti diketahui, baru-baru ini seseorang yang mengaku pengunjung IBF 2015 kaget atas keberadaan sebuah majalah milik Syiah di Istora Senayan. Kabar itu tersiar di media sosial.


Dalam pesan berantai yang diterima hidayatullah.com pada Selasa (03/03/2015), tertulis, sang pengunjung membeli beberapa buku anak yang dijual murah, namanya IRFAN. Sebelumnya ia mengira itu majalah Muslim. Namun ternyata dewan redaksi majalah itu disebutnya sebagai orang-orang Syiah.


Pada Rabu kemarin, media ini menyusuri semua stan pameran IBF di lantai 1 dan sebagian lantai 2 Istora Senayan. Sepanjang pengamatan sejak siang hingga malam itu, tak ditemukan majalah IRFAN. Sejumlah penjaga stan buku anak-anak pun tak tahu-menahu perihal majalah itu.


Namun, hidayatullah.com menemukan dua buah buku pro Syiah di sebuah stan penerbit yang berpusat di Bandung. Masing-masing buku itu berisi sepak terjang seorang ulama dan sebuah gerakan yang sama-sama Syiah asal Lebanon.*






Inggris Larang Iklan Wisata yang Sebut Al Quds Milik Israel

Inggris Larang Iklan Wisata yang Sebut Al Quds Milik Israel

Berita Internasional Update

Badan pengawas iklan Inggris menginstruksikan brosur yang berjudul "Israel Land of Creation" tidak muncul lagi di surat kabar.



Inggris Larang Iklan Wisata yang Sebut Al Quds Milik Israel

Kota tua Al Quds yang di antaranya terdapat kompleks masjid Al Aqsha.




Hidayatullah.com–Badan pengawas iklan Inggris (ASA) Rabu (4/3/2015) melarang peredaran iklan pariwisata pemerintah Zionis Israel yang menunjukkan Kota Tua Al Quds (Yerusalem) adalah bagian dari negara itu.


Iklan yang berupa brosur yang dipublikasikan di surat kabar itu memperlihatkan panorama Kota Tua Al Quds dengan tulisan “Israel memiliki semuanya”.


Dilaporkan Al-Arabiya, ASA menyatakan, tulisan di iklan tersebut menyiratkan Al Quds, yang termasuk dalam salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO, merupakan bagian dari Israel.


Masyarakat internasional menganggap bahwa Kota Tua Al Quds merupakan bagian dari wilayah Palestina yang diduduki Zionis Israel. Sementara, Israel mengklaim bahwa Kota Tua Al Quds merupakan bagian dari ibu kota negara tersebut.


Sengketa ini kemudian menjadi makin panas karena Kota Tua Al Quds merupakan kota suci bagi tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi, di mana terdapat Masjid al-Asqa, Tembok Ratapan, dan Gereja Makam Suci.


ASA kemudian menginstruksikan agar brosur yang berjudul “Israel Land of Creation” ini tidak muncul lagi.


“Kami memahami bahwa status wilayah tersebut merupakan subyek dalam sengketa internasional,” bunyi pernyataan dari ASA, dikutip dari Al-Arabiya, Rabu (4/3/2015).


“Oleh karena itu kami menganggap iklan ini dapat menyesatkan konsumen untuk memercayai bahwa Kota Tua Al Quds adalah bagian dari Israel dan sehingga mereka mengambil keputusan transaksional yang seharusnya tidak mereka ambil,” bunyi pernyataan dari ASA.


Brosur tersebut memperlihatkan foto yang menunjukkan simbol Kota Tua berwarna emas dan Kubah Shakhrah yang merupakan situs suci bagi umat Muslim, dengan bangunan modern Al Quds Barat sebagai latarnya.


Teks pada foto tersebut berbunyi: “Semua orang cinta dengan Kota Tua, dengan gangnya yang sempit dan bebas mobil, penuh peziarah dan suasana riuh ramai.”


Dalam pembelaannya, Kantor Pariwisata Pemerintah Zionis Israel membantah brosur tersebut mengindikasikan Al Quds Timur dan Kota Tua sebagai bagian dari negara Israel.


“Mereka mengatakan iklan itu tidak berusaha untuk membuat pernyataan politik, karena tidak pantas bagi sebuah iklan untuk melakukan hal itu,” bunyi pernyataan dari ASA.


“Sebaliknya, mereka percaya bahwa brosur tersebut memberikan informasi praktis yang menjelaskan pengunjung dapat pergi ke tempat-tempat yang tercantum dalam iklan tersebut, seperti Kota Tua Al Quds, yang hanya bisa dikunjungi melalui perjalanan ke Israel,” bunyi pernyataan dari ASA.*






Menjalin Hubungan Dekata Dengan Tetangga Yang Baik Maupun Yang Jahat

Menjalin Hubungan Dekata Dengan Tetangga Yang Baik Maupun Yang Jahat

Khutbah Jumat Lengkap

Khutbah Pertama:


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه،ُ ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ))، ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً))، ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً*يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً)). أما بعد :


فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثاَتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.


Ibadallah,


Tak dipungkiri, manusia tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Artinya ia mutlak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di sinilah, manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bertetangga. Islam pun telah menggariskan etika sosial untuk menciptakan jalinan yang harmonis antar keluarga. Sehingga kehidupan manusia terpenuhi atmosfer yang penuh dengan spirit tasaamuh (toleransi), ta’awun (tolong menolong) dalam kebaikan dan taqwa. Penyakit ananiyah (egoisme), su’uzhan (buruk sangka), tajassus (sikap memata-matai), menggunjing aib orang lain, dan sederet akhlak tercela lainnya tidak endapatkan tempat. Keamanan, ketentraman dan roda kehidupan yang didasari saling tepa selira dan menghormati dapat semakin kokoh.


Ibadallah,


Tetangga adalah sosok yang akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Tak jarang, tetangga kita lebih tahu keadaan kita ketimbang kerabat kita yang tinggal berjauhan. Saat kita sakit dan ditimpa musibah, tetanggalah yang pertama membantu kita. Tak heran, jika Islam begitu menekankan kepada kita untuk berbuat baik kepada terangga, karena dampak hubungan yang harmonis antar tetangga mendatangkankan maslahat yang begitu besar. Rasulullah ﷺ bersabda.


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَ اليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إلى جَارِهِ


“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik kepada terangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


وَأحْسِنْ مُجَاوَرَةَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا


“Dan berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang muslim.” (HR. Ibnu Majah).


Dua hadits di atas mengindikasikan bahwa berbuat ihsan (baik) kepada tetangga merupakan salah satu simbol kesempurnaan iman seseorang. Sebab antara iman dan ketinggian akhlak seorang muslim berbanding lurus. Semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin mulia pula akhlaknya kepada siapapun, termasuk kepada para tetangganya. Keluhuran akhlak seseorang bukti kesempurnaan imannya.


Dalam hadits yang lain, Rasulullah menggambarkan arti pentingnya kedudukan tetangga dengan mengatakan.


مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ


“Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tentangga, hingga aku yakin ia (seorang tetangga) akan mewariskan harta kepadanya (tetangganya).” (Muttafaqun ‘alaihi).


Berkaitanmakna berbuat ihsan (baik) kepada tetangga, Syaikh Nazhim Sulthan menerangkan: “(Yaitu) dengan melakukan beragam perbuatan baik kepada tetangga, sesuai dengan kadar kemampuan. Misalnya berupa pemberian hadiah, mengucapkan salam, tersenyum ketika bertemu dengannya, mengamati keadaannya, membantunya dalam perkara yang ia butuhkan, serta menjauhi segala perkara yang menyebabkan ia merasa tersakiti, baik secara fisik atau moril. Tetangga yang paling berhak mendapatkankan perlakuan baik dari kita adalah tetangga yang paling dekat rumahnya dengan kita, disusul tetangga selanjutnya yang lebih dekat. Aisyah pernah bertanya,”Wahai Rasulullah, aku memiliki dua orang tetangga. Maka kepada siapakah aku memberikan hadiah diantara mereka berdua?”. Beliau menjawab.


إلى أقْرَبَهُمَا مِنْكِ بَابًا


“Kepada tetangga yang lebih dekat pintu rumahnya denganmu.” (HR. Bukhari).


Oleh karena itu, Imam Bukhari menulis judul bab khusus dalam Shahihnya Bab Haqqul Jiwar Fii Qurbil Abwab (Bab Hak Tetangga Yang Terdekat Pintunya). Ini merupakan indikator kedalaman pemahaman beliau terhadap nash-nash tentang hal ini.


Lebih lanjut, Syaikh Nazhim memaparkan tentang kriteria tentang tetangga. Yang Pertama : Tetangga muslim yang memiliki hubungan kekerabatan. Dia memiliki tiga hak sekaligus. Yaitu ; hak bertetangga, hak Islam, dan hak kekerabatan. Yang Kedua : Tetangga muslim (yang tidak memiliki hubungan kekerabatan), maka ia memiliki dua hak. Yaitu ; hak bertetangga dan hak Islam.


Yang Ketiga : Tetangga yang hanya memiliki satu hak. Yaitu tetangga yang kafir. Dia hanya memiliki hak sebagai tetangga, dengan dasar keumuman nash-nash yang memerintahkan berbuat ihsan kepada tetangga, yang mencakup tetangga muslim dan non-muslim. Seperti yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ terhadap tetangga Beliau yang beragama Yahudi.


Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash bahwa ia menyembelih seekor kambing kemudian bertanya (kepada keluarganya). “Sudahkah kalian berikan sebagian kambing tersebut kepada tetangga kita yang Yahudi?. Beliau bertanya sampai tiga kali., kemudian berkata,”Aku telah mendengar Nabi bersabda.


مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أنَّهُ سَيُوَرِّثُه


“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tetangga, hingga aku yakin ia akan memberikan harta warisan kepadanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).


Imam Ibnu Hajar Al Asqalani menyatakan. “Penyebutan (istilah) tetangga mencakup (tetangga) yang muslim maupun yang kafir, yang ahli ibadah ataupun yang fasik, teman ataupun musuh, yang senegara ataupun dari negeri lain, yang bisa memberikan manfaat ataupun yang akan membahayakan, yang masih kerabat ataupun bukan saudara, yang dekat rumahnya ataupun yang jauh. Tetangga memiliki (perbedaan derajat) tingkatan antara satu dengan lainnya. Tetangga yang memiliki derajat tertinggi adalah yang terhimpun padanya seluruh sifat-sifat istimewa, kemudian (tingkatan selanjutnya adalah) yang banyak memiliki sifat-sifat luhur, dan (tingkatan yang terakhir) adalah yang paling sedikit sifat-sifat baiknya.


Ibadallah,


Berikutini beberapa etika pergaulan dengan tetangga yang selayaknya kita perhatikan:


Pertama: Hendaknya kita mencintai kebaikan untuk tetangga kita sebagaimana kita menyukai kebaikan itu untuk diri kita. Bergembira jika tetangga kita mendapat kebaikan dan kebahagiaan, serta jauhi sikap dengki ketika itu. Hal ini mencakup pula keharusan untuk menasehatinya ketika kita melihat tetangga kita melalaikan sebagian perintah Allah, serta mengajarinya perkara-perkara penting dalam agama yang belum ia ketahui dengan cara yang baik dan penuh hikmah. Nabi ﷺ bersabda,


وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ أَوْ قَالَ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ


“Dan demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah seseorang beriman hingga ia mencintai untuk tetangganya, atau beliau berkata, untuk sudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Muslim).


Kondisi tetangga berbeda-beda, ditinjau dari tingkat keshalehan mereka. (Prinsip) yang mencakup seluruhnya adalah keinginan kebaikan untuk tetangga tersebut, dan nasehat kepadanya dengan cara yang baik, mendoakannya agar mendapatkan petunjuk, menjauhi sikap yang menyakitinya, dan mencegah tetangga yang tidak shalih dari perbuatan yang menganggu atau dari kefasikan dengan cara yang bijak, sesuai dengan tahapan beramar ma’ruf nahi mungkar. Serta mengenalkan kepada tetangga yang kafir tentang Islam dan menjelaskan kepadanya kebaikan-kebaikan agama Islam dan memotivasinya untuk masuk Islam dengan cara yang baik pula.


Kedua: Saat musibah melanda tetangga kita dan dia dirundung kesedihan dan terbelit kesulitan, sebisa mungkin kita membantunya, baik bantuan materi ataupun dukungan moril. Menghibur dan meringankan beban penderitaannya dengan nasehat, tidak menampakan wajah gembira tatkala dia dirundung duka. Menjenguknya ketika sakit dan mendoakan kesembuhan untuknya serta membantu pengobatannya bila memang dia membutuhkannya. Rasulullah ﷺ bersabda,


لَيْسَ المُؤْمِنُ الَّذِيْ يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إلى جَنْبِهِ


“Bukanlah seorang mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR. Bukhari).


Ketiga: Hindari sejauh mungkin sikap yang dapat menyebabkan tetangga kita merasa tersakiti, baik berupa perbuatan ataupun perkataan. Contohnya, mencela, membeberkan aibnya di muka umum, memusuhinya, atau melemparkan sampah di muka rumahnya sehingga menyebabkan ia terpeleset ketika melewatinya, dan jenis gangguan lainnya. Nabi ﷺ bersabda,


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَ اليَوْمِ الآخِر فَلاَ يُؤْذِيْ جَارَهٌ


“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari).


Keempat: Kunjungilah tetangga pada hari raya dan sambutlah undangannya jika dia mengundang kita. Rasulullah ﷺ bersabda,


حَقُّ المُسْلِمِ على المُسْلِمِ خَمْسٌ : رَدُّ السَّلاَمِ وَ عِيَادَةُ المَرِيْضِ وَ اتِّبَاعُ الجَنَائِزِ وَ إجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَ تَشْمِيْتُ العَاطِسِ


“Hak muslim atas muslim yang lain ada lima: menjawab ucapan salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin.” (HR. Bukhari).


Kelima: Berikanlah toleransi kepada tetangga kita selama bukan dalam perkara maksiat. Didiklah keluarga kita untuk tidak berkata-kata keras atau berteriak-teriak sehingga mengganggu tetangga. Janganlah kita mengeraskan suara radio kita hingga mengusik ketentraman tetangga, terutama pada malam hari. Sebab, mungkin diantara mereka ada yang sedang sakit, atau lelah, atau tidur atau mungkin ada anak sekolah yang sedang belajar. Dan ketahuilah, mendengarkan musik adalah perkara haram, apalagi jika sampai mengganggu tetangga, maka dosanya menjadi berlipat ganda. Rasulullah bersabda,


خَيْرُ الأصْحَابِ عِنْدَ الله خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَ خَيْرُ الجِيْرَانِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ


“Sebaik-baik sahabat adalah yang paling baik terhadap sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik terhadap tetangganya.” (HR. Tirmidzi).


Dan hendaklah kita tidak bersikap kikir terhadap tetangga yang membutuhkan bentuan kita, selama kita bisa membantunya. Rasulullah ﷺ bersabda,


لَا يَمْنَعْ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِي جِدَارِهِ


Janganlah seorang diantara kalian melarang tetangganya untuk meletakkan kayu di tembok rumahnya.(HR. Bukhari dan Muslim).


Berkenaan dengan hadits di atas ada beberapa pelajaran yang berkaitan dengan hak tetangga yaitu: Yang pertama : Saling membantu dan bersikap toleran sesama tetangga merupakan hak-hak tetangga (yang wajib dipenuhi) sekaligus merupakan wujud kekokohan bangunan masyarakat Islam. Yang kedua : Jika seseorang memiliki rumah, kemudian ia memiliki tetangga dan tetangganya itu ingin menyandarkan sebatang kayu di temboknya tersebut, maka boleh hukumnya bagi si tetangga untuk meletakkannya dengan izin atau tanpa izin pemilik rumah, dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan mudharat bagi si empunya rumah.


Keenam: Berikanlah hadiah kepada tetangga, walau dengan sesuatu yang mungkin kita anggap sepele. Karena saling memberi hadiah akan menumbuhkan rasa cinta dan ukhuwah yang lebih dalam. Rasulullah ﷺ pernah menasehati Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu:


إذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فأكْثِرْ مَاءَهُ ، ثُمَّ انْظُرْ أهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ ، فأصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ


“Jika suatu kali engkau memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah tetanggamu, dan berikanlah mereka sebagiannya dengan cara yang pantas.” (HR. Muslim).


Ketujuh: Tundukkanlah pandangan kita terhadap aurat tetangga, jangan pula menguping pembicaraan mereka. Apalagi sampai mengintip ke dalam rumahnya tanpa seizinnya untuk mengetahui aib mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


قُلْ لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ


“Dan katakanlah kepada laki-laki beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka”.” (QS. An Nur: 30).


Ibadallah,


Ketahuilah wahai akhi muslim … Islam mengajarkan kita untuk menjadi seorang bisa bermanfaat bagi orang yang lain, atau bila kita tidak bisa memberi manfaat kepada orang lain, paling tidak kita menahan diri jangan sampai menyakitinya. Apalagi terhadap tetangga, mereka memiliki hak sangat besar yang wajib kita tunaikan. Bukankah Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia?. Maka berbuat baik kepada tetangga merupakan cerminan baiknya keimanan seseorang. Dan sebaliknya, menyakiti tetangga merupakan simbol ahlul jahl (orang yang tidak mengerti ilmu).


Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang sahabat,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fulanah rajin shalat malam, rajin pula shaum pada siang hari dan gemar bersedekah, tapi dia menyakiti tetangganya dengan lisannya! Maka Beliau ﷺ menjawab:


لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ أهْلِ النَّارِ. قَالَ : وَ فُلاَنَة تُصَلِّيْ المَكْتُوْبَةَ وَ تَصَدَّقُ بِأثْوَارِ مِنَ الأقِطِ وَ لاَ يُؤْذِيْ أحَدًا ؟ فَقَالَ: هِيَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ


“Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Lalu sahabat itu bertanya lagi,”Fulanah (wanita) yang lain rajin shalat lima waktu, gemar bersedekah dengan sepotong keju dan tidak pernah menyakiti seorang pun?” Maka Beliau menjawab,”Dia termasuk penduduk surge”. (HR. Bukhari).


Ibadallah,


Menyakiti seorang muslim tanpa alasan yang benar adalah perkara yang haram. Akan tetapi menyakiti tetangga lebih keras lagi keharamannya.


Dari Miqdad bin Al Aswad ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,


لأنْ يَزْنَيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أنِ يَزْنِيَ بامْرَأةِ جَارِهِ وَ لأنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرةِ أبْيَاتٍ أيْسَرُ لَهُ مِنْ أنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ


“Sungguh, jika seorang laki-laki berzina dengan sepuluh wanita itu masih lebih baik baginya daripada ia berzina dengan istri tetangganya, dan sungguh jika seorang laki-laki mencuri dari sepuluh rumah itu lebih ringan (dosanya) daripada ia mencuri dari rumah salah seorang tetangganya.” (HR. Ahmad).


Zina merupakan dosa besar yang diharamkan Allah Tabaaraka wa Ta’ala, dan Allah telah menetapkan hukum-hukum yang bersifat preventif bagi para pelakunya. Akan tetapi melakukan perbuatan zina dengan istri tetangga tingkat keharaman, kekejian dan kejahatannya lebih berat lagi. Demikian pula halnya dengan mencuri (di rumah tetangga).


Dari Syuraih bahwa Nabi ﷺ bersabda,


وَ الله لاَ يُؤْمِنُ وَ الله لاَ يُؤْمِنُ وَ الله لاَ يُؤْمِنُ قِيْلَ مَنْ يَا رَسُوْلَ الله؟ قَالَ: الَّذِيْ لاَ يَأمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَه


“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman”. Beliau ditanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari).


Dalam hadits ini terdapat penekanan besarnya hak tetangga, karena beliau ﷺ sampai bersumpah tentang hal itu. Bahkan beliau mengulangi sumpahnya sampai tiga kali. Dalam hadits tersebut juga terdapat isyarat penafian iman dari seseorang yang menyakiti tetangganya, baik dengan ucapan ataupun dengan perbuatan. Maksud (penafian disini) adalah (penafian) iman yang sempurna, dan tidak diragukan lagi bahwa seorang yang bermaksiat keimanannya tidak sempurna.


Juga hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ.


يَا رَسُوْلَ الله ُأيُّ ذَنْبٍ أعْظُمُ؟ قَالَ: أنْ تَجْعَلَ لله نِدًّا وَ هُوَ خَلَقَكَ . قُلْتُ : ثُمَّ أي؟ قَالَ : أنْ تَقْتُلَ وَلَدَ كَخَشْيَةَ أنْ يُطْعَمَ مَعَكَ. قُلْتُ : ثُمَّ أي؟ قَالَ : أن تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارَكَ


Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?. Beliau menjawab,”Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Ia yang menciptakanmu”. Aku bertanya lagi,”Kemudian dosa apa?. Beliau menjawab,”Engkau membunuh anakmu karena khawatir ia akan mengambil jatah makananmu”. Aku bertanya lagi,”Lalu dosa apai?. Beliau menjawab,”Engkau menzinahi istri tetanggamu”.(HR. Bukhari dan Muslim).


Inilah di antara hak-hak tetangga yang harus kita jaga. Apabila masing-masing orang menjaga hak-hak ini, tentu akan tercipta kehidupan yang sangat nyaman dan aman. Satu orang memiliki sifat ini terhadap tetangganya. Kemudian tetangganya berlaku demikian juga kepada tetangganya. Dan seterusnya.. Maka kita akan benar-benar merasakan betapa indahnya agama kita. Agama Islam yang mulia.


اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى هُدَاكَ وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، وَوَفِّقْنَا لِكُلِّ خَيْرٍ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ


أَقُوْلْ هَذَا الْقَوْلَ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.


Khutbah Kedua:


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.


Ibadallah,


Memiliki tetangga yang baik dan mau hidup rukun dengan kita merupakan satu kenikmatan hidup. Namun terkadang, kita diuji Allah dengan memiliki tetangga yang tidak baik akhlaknya dan gemar mengganggu kita. Untuk menghadapi tetangga semacam itu ada beberapa tips dan nasehat yang perlu dilakukan:


Pertama: Bersabarlah anda dalam menghadapi gangguan tetangga. Atau memilih pindah rumah jika memang hal itu memungkinkan. Allah berfirman,


وَلاَتَسْتَوِي الْحَسَنَةُ و َلا َالسَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ


“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34).


Membalas kejahatan tetangga dengan perbuatan baik merupakan salah satu etika bertetangga yang diajarkan Islam. Yaitu agar kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama, al-Hasan al-Bashri berkata, “Tidaklah berbuat ihsan kepada tetangga (hanya dengan) menahan diri tidak menyakiti tetangga, akan tetapi berbuat ihsan kepada tetangga (juga) dengan bersabar dan tabah menghadapi gangguannya”.


Nabi ﷺ bersabda,


ثَلاَثَةٌ يَحِبُهُمُ الله، …….وَ الرَّجُلُ يَكُوْنَ لَهُ جَارٌ يُؤْذِيْهِ جَارُهُ فَيَصْبِرُ عَلَى اذَاهُ حَتَّى يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا مَوْتٌ أوْ ظُعُنٌ


“Tiga golongan yang dicintai Allah,……..dan laki-laki yang memiliki tetangga yang menyakitinya, kemudian ia bersabar menghadapi gangguannya hingga ajal memisahkan mereka.” (HR. Ahmad).


Kedua: Jika Anda tidak mampu bersabar menghadapi gangguan tetangga, sementara tidak mungkin bagi Anda untuk pindah rumah, maka terapkan nasehat Rasulullah ﷺ yang dikisahkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:


“Seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi mengeluhkan tetangganya. Maka Rasulullah menasehatinya, “Pulanglah dan bersabarlah”. Lelaki itu kemudian mendatangi Nabi lagi sampai dua atau tiga kali, maka Beliau bersabda padanya, “Pulanglah dan lemparkanlah barang-barangmu ke jalan”. Maka lelaki itu pun melemparkan barang-barangnya ke jalan, sehingga orang-orang bertanya kepadanya, ia pun menceritakan keadaannya kepada mereka. Maka orang-orang pun melaknat tetangganya itu. Hingga tetangganya itu mendatanginya dan berkata,”Kembalikanlah barang-barangmu, engkau tidak akan melihat lagi sesuatu yang tidak engkau sukai dariku.” (HR. Abu Dawud).


Ibadallah, jamaah Jumat yang semoga diridhai Allah,


Tiada gading yang tak retak.Tidak ada manusia yang sempurna. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap diri kita. Latar belakang yang berbeda menciptakan pribadi yang berbeda. Wacana yang perlu kita kembangkan, bagaimana kita dapat meredam perbedaan yang ada, selama tidak melanggar rambu syariat. Menjalin komunikasi positif dengan menjungjung tinggi akhlak pergaulan. Selamat menuai pahala dari tetangga Anda.


وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.


اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَ الإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ وَفِّق جَمِيْعَ وُلَاةِ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ قَوْلٍ سَدِيْدٍ وَعَمَلٍ رَشِيْدٍ.


اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتَ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .


عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .


(Diadaptasi dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005M).


www.KhotbahJumat.com





Bicara Tanpa Pahala

Bicara Tanpa Pahala

Khutbah Jumat Lengkap

Khutbah Pertama:


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ بَلَّغَ الرِسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ، وَمَا تَرَكَ خَيْراً إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا تَرَكَ شَرّاً إِلَّا حَذَّرَ الْأُمَّةَ مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .


أَمَّا بَعْدُ:


مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ. وَتَقْوَى اللهَ جَلَّ وَعَلَا: عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابَ اللهِ، وَتَرْكٌ لِمَعْصِيَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ.


Ibadallah,


Waktu adalah modal untuk melakukan amal shalih. Orang yang mengerti hakikat ini, maka dia tidak akan menggunakannya kecuali untuk perkara yang bermanfaat. Dia akan berusaha memanfaatkan segala potensi diri untuk mendapatkan pahala sebanyak mungkin. Diantara yang bisa mudah dimanfaatkan untuk menabung bekal disisi Allah ‘Azza wa Jalla adalah lidah. Dengan lidah, seseorang bisa berdzikir dan saling nasehat-menasehati sehingga meraih banyak pahala. Namun sebaliknya, lidah juga bisa mengakibatkan dosa dan menyeret seseorang ke neraka, jika tidak dimanfaatkan untuk kebaikan. Kesadaran seseorang terhadap fungsi dan bahaya lisan ini akan mendorong dirinya untuk menjaga lidah, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat.


Berikut khotib nukilkan beberapa bencana yang dapat ditimbulkan oleh lidah. Dengan harapan agar kita menjauhinya setelah kita memahaminya. Karena kita tidak akan bisa menghindarinya kalau kita belum mengetahui berbagai bencana ini. Di antara bencana-bencana itu adalah :


Pertama: Membicarakan Sesuatu Yang Tidak Bermanfaat.


Nabi Muhammad ﷺ bersabda,


إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكَهُ مَا لَا يَعْنِيهِ


“Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi).


Ibadallah,


Sesuatu yang tidak bermanfaat itu, bisa berupa perkataan atau perbuatan; perkara yang haram, atau makruh, atau perkara mubah yang tidak bermanfaat. Oleh karena itu, supaya terhindar dari bahaya lisan yang pertama ini, hendaklah seseorang selalu sesuatu yang mengandung kebaikan. Jika tidak bisa, hendaknya diam. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan sesuatu yang baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim).


Walaupun ini berat, namun seyogyanya seorang hamba yang ingin selamat di akhirat agar selalu berusaha untuk melakukannya. Diriwayatkan bahwa Muwarriq al-‘Ijli rahimahullah berkata, “Ada satu perkara yang aku sudah mencarinya semenjak duapuluh tahun lalu. Aku belum berhasil meraihnya. Namun aku tidak akan berhenti mencarinya”. Orang-orang bertanya, “Apa itu wahai Abu Mu’tamir?” Dia menjawab, “Diam (tidak membicarakan-red) dari sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku”.


Kedua: Berdebat Dengan Cara Batil Atau Tanpa Ilmu.


Nabi ﷺ bersabda,


إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ


“Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Mendebat dalam hadits ini maksudnya adalah mendebat dengan cara batil atau tanpa ilmu. Sedangkan orang yang berada di pihak yang benar, sebaiknya dia juga menghindari perdebatan. Karena debat itu akan membangkitkan emosi, mengobarkan kemurkaan, menyebabkan dendam, dan mencela orang lain. Nabi ﷺ bersabda,


أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ


“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya. (HR. Abu Dawud).


Mengingkari kemungkaran dan menjelaskan kebenaran merupakan kewajiban seorang Muslim. Jika penjelasan itu diterima, itulah yang dikehendaki. Namun jika ditolak, maka hendaklah dia meninggalkan perdebatan. Ini dalam masalah agama, apalagi dalam urusan dunia, maka tidak ada alasan untuk berdebat.


Ketiga: Banyak Berbicara, Suka Mengganggu Dan Sombong


Masalah-masalah ini dijelaskan oleh Nabi ﷺdengan sabda beliau ﷺ :


إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ


“Sesungguhnya termasuk orang yang paling kucintai di antara kamu dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaqnya di antara kamu. Dan sesungguhnya orang yang paling kubenci di antara kamu dan paling jauh tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaihiqun. Para sahabat berkata: “Wahai Rsulullah, kami telah mengetahui al-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, tetapi apakah al-mutafaihiqun? Beliau menjawab: “Orang-orang yang sombong”. (HR Tirmidzi dan Ahmad).


Setelah meriwayatkan hadits ini, imam Tirmidzi rahimahullah mengatakan, ”ats-Tsartsar adalah orang yang banyak bicara, sedangkan al-mutasyaddiq adalah orang yang biasa mengganggu orang lain dengan perkataan dan berbicara jorok kepada mereka”.


Imam Ibnul Atsir rahimahullah menjelaskan: “ats-Tsartsarun adalah orang-orang yang banyak bicara dengan memaksakan diri dan keluar dari kebenaran. al-Mutasyaddiqun adalah orang-orang yang berbicara panjang lebar tanpa hati-hati. Ada juga yang mengatakan, al-mutasyaddiq adalah orang yang mengolok-olok orang lain dengan mencibirkan bibir kearah mereka”.


Imam al-Mundziri rahimahullah mengatakan: “ats-Tsartsar adalah orang yang banyak bicara dengan memaksakan diri. al-Mutasyaddiq adalah orang yang berbicara dengan seluruh bibirnya untuk menunjukkan kefasihan dan keagungan perkataannya. al-Mutafaihiq hampir semakna dengan al-mutasyaddiq. karena maknanya adalah orang yang memenuhi mulutnya dengan perkataan dan berbicara panjang lebar untuk menunjukkan kefasihannya, keutamaannya, dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Oleh karena inilah, Nabi ﷺ menafsirkan al-mutafaihiq dengan orang yang sombong.


Tetapi tidak termasuk sajak yang dibenci, lafazh-lafazh yang disampaikan khatib, kalimat indah untuk memberi peringatan, asal tidak berlebihan dan aneh. Karena tujuannya adalah untuk membangkitkan hati dan menggerakkannya menuju kebaikan, kalimat yang indah, dan semacamnya.


Ibadallah,


Keempat: Mengucapkan Perkataan Keji, Jorok, Celaan, Dan Semacamnya.


Semua hal ini tercela dan terlarang. Nabi ﷺ bersabda,


لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ


“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan lain-lain).


Keji dan jorok adalah mengungkapkan perkara-perkara yang dianggap tabu dengan kata-kata gamblang. Biasanya tentang lafazh-lafazh jima’ dan yang berkaitan dengannya. Orang-orang yang sopan akan menjauhi ungkapan-ungkapan itu dan mengunakan kata-kata sindiran, sebagaimana dicontohkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ.


Betapa banyak perkataan keji dan jorok tersebar di zaman ini, di koran-koran, majalah-majalah, buku-buku, novel-novel, radio, HP, atau lainnya. Bahkan ada perkara yang lebih buruk dan lebih keji dari sekedar ucapan !! Namun yang bisa merasakan keburukannya adalah orang-orang yang hatinya masih hidup. Sedangkan orang yang hatinya sakit atau mati, maka dia tidak akan merasakan keburukannya, bahkan mungkin sebaliknya, dia akan merasa nikmat. Sebagaimana luka yang hanya dirasakan oleh orang yang masih hidup, sedangkan orang yang mati, dia tidak akan merasakan sakit akibat luka. Wallahul Musta’an.


Kelima: Keterlaluan Dalam Bercanda.


Yaitu semua waktunya digunakan untuk bercanda dan membuat orang tertawa. Sesungguhnya banyak canda akan menjatuhkan wibawa, menyebabkan dendam dan permusuhan, serta mematikan hati. Nabi ﷺ bersabda,


لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ


“Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu akan mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah).


Apalagi jika banyak bercanda ini ditambahi dusta, maka jelas akan lebih berbahaya. Nabi ﷺ memperingatkan dengan sabda beliau ﷺ,


وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ


“Kecelakaan bagi orang yang menceritakan suatu, lalu dia berdusta untuk membuat orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya ! Kecelakaan baginya !.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).


Ibadallah,


Di zaman dahulu, bercanda dan membuat tertawa itu hanyalah dilakukan oleh pribadi-pribadi tertentu. Namun sekarang, grup lawak bermunculan seperti jamur di musim hujan, diperlombakan, dan dipertontonkan serta dibayar dengan honor tinggi. Setan telah menjerat banyak orang dalam kesesatan dan memanfaatkan mereka sebagai perangkap. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjaga kita dari segala jebakan setan.


Namun jika canda itu dilakukan kadang-kadang dan dengan perkataan yang benar serta dilakukan kepada orang-orang yang membutuhkannya, seperti anak-anak, wanita, sebagian orang laki-laki, sebagaimana canda Nabi ﷺ, maka hal itu tidak mengapa. Karena canda akan menyenangkan hati dan menyegarkan suasana. Sebagian ulama menyatakan bahwa canda dalam perkataan itu seperti garam dalam makanan.


بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِهَدْيِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ وَقَوْلُهُ القَوِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.


Khutbah Kedua:


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتِ، لَهُ الْحَمْدُ أَمَرَ بِالفْضَائِلِ وَالصَّالِحَاتِ، وَنَهَى عَنِ الْبَغْيِ وَالعُدْوَانِ وَالرَّذَائِلِ وَالْمُنْكَرَاتِ، أَحْمَدُ رَبِّي عَلَى نِعَمِهِ الظَاهِرَاتِ وَالْبَاطِنَةِ الَّتِي أَسْبَغَهَا عَلَيْنَا وَعَلَى المَخْلُقَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلَهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنَ الأَقْوَالِ وَالأَفْعَالِ وَالإِرَدَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَ اللهُ بِالْبَيِّنَاتِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ السَّابِقِيْنَ إِلَى الخَيْرَاتِ.


أَمَّا بَعْدُ:


فَاتَّقُوْا اللهَ –عَزَّوَجَلَّ- وَأَطِيْعُوْهُ، وَكُوْنُوْا دَائِمًا عَلَى حَذْرٍ وَخَوْفٍ مِنَ المَعَاصِي، فَإِنَّ بَطْشَ اللهُ شَدِيْدٌ.


Ibadallah,


Keenam: Membicarakan Suatu Yang Bathil.


Maksudnya adalah menceritakan perbuatan-perbuatan maksiatnya, seperti berbangga dengan perbuatan bermabuk-mabukan atau kemungkaran yang lain. Nabi ﷺ bersabda:


كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ


“Semua umatku mu’afan (akan diampuni dosanya; atau tidak boleh dighibah) kecuali orang-orang yang melakukan dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan buruk pada malam hari, kemudian di waktu pagi dia mengatakan, ”Hai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan ini”. Padahal di waktu malam Allah ‘Azza wa Jalla telah menutupi perbuatan buruknya, namun di waktu pagi dia membongkar tutupan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim).


Oleh karena itulah, barangsiapa yang telah bertaubat dari perbuatan dosa, hendaklah dia menutupi aib dirinya, tidak perlu bercerita kepada orang lain.


Ketujuh: Perkataan Yang Salah Berkaitan Dengan Masalah Agama, Apalagi Jika Berkaitan Dengan Sifat-Sifat Allah ‘Azza wa Jalla.


Kesalahan lisan yang satu ini, tentu susah diatasi kecuali oleh para ahli ilmu dan ahli bahasa. Orang yang malas atau tidak bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan bahasa, maka perkataannya tidak lepas dari ketergelinciran. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mema’afkan kesalahan akibat ketidaktahuan. Diantara contoh perkataan yang salah berkaitan dengan masalah agama yaitu perkataan ‘Apa yang Allah dan engkau kehendaki’. Dalam hadits dijelaskan :


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقُولُ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ فَقَالَ بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ


Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki berkata: “Ma sya’allah wa syi’ta” (apa yang Allah dan engkau kehendaki), maka beliau bersabda : “Bukan begitu, tetapi (katakanlah) : “Ma sya-Allah wahdah” (apa yang dikehendaki oleh Allah semata)”. (HR. Ahmad).


Hikmah larangan ucapan “Ma sya-Allah wa syi’ta” (apa yang Allah dan engkau kehendaki), dan semacamnya adalah karena ucapan itu merupakan bentuk menyekutukan kehendak Allah. Karena kata sambung “dan” bermakna mengumpulkan, menyamakan dan menyekutukan. Yang benar, dalam menggabungkan kehendak hamba dengan kehendak Allah ialah dengan menggunakan kata “kemudian”. Karena kata “kemudian” mengandung makna urutan (berikutnya) dan ada selang waktu. Hal ini karena kehendak Allah ‘Azza wa Jalla mendahului kehendak hamba. Maka tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi kecuali yang dikehendaki oleh Allah ‘Azza wa Jalla . Semua yang Allah ‘Azza wa Jalla kehendaki maka pasti terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi.


Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menjelaskan: “Dalam hadits-hadits ini terdapat dalil bahwa ucapan seseorang kepada yang lain “ma sya-Allah wa syi’ta” (apa yang Allah dan engkau kehendaki) dinilai syirik dalam syariat. Dan ini termasuk syirik dalam kata-kata. Karena memberikan kesan bahwa kehendak hamba sederajat dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sebabnya adalah karena menggabungkan dua kehendak tersebut. Contoh yang lain adalah perkataan sebagian orang-orang awam dan orang-orang seperti mereka yang mengaku berilmu : “Tidak ada bagiku selain Allah dan anda”, “Kami bertawakkal kepada Allah dan kepada anda”. Dan seperti perkataan sebagian para penceramah: “Dengan nama Allah dan dengan nama tanah air”, atau “Dengan nama Allah dan dengan nama bangsa”, dan kata-kata syirik yang sejenisnya wajib ditinggalkan dan bertaubat, dalam rangka beradab kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala“.


Selain yang telah disebutkan diatas, sesungguhnya bencana-bencana lidah masih banyak, seperti ghibah, namimah, dusta, dan lain sebagainya. Namun sedikit yang kami sampaikan ini mudah-mudahan sebagai pemacu bagi kita semua untuk selalu menjaga lidah kita dari keburukan dan selalu menghiasinya dengan kebaikan. Al-hamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.


وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.


اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَآمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ.


اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .


Diadaptasi dari tulisan Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari di majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/Shafar 1430/2009M


www.KhotbahJumat.com





Museum Smithsonian Larang Pengunjung Gunakan Tongsis

Museum Smithsonian Larang Pengunjung Gunakan Tongsis

Berita Internasional Update

Galeri-galeri terbesar di Australia juga telah memberlakukan peraturan serupa.




Hidayatullah.com—The Smithsonian, kelompok museum dan riset terbesar di dunia, melarang pengunjungnya menggunakan tongsis yang kini populer di kalangan wisatawan pengguna kamera telepon genggam.


Tongsis (tongkat narsis, tongkoat eksis) alias tongkat selfie, digunakan para wisatawan untuk mengambil gambarnya sendiri dengan menggunakan kamera di ponsel. Tongkat bantuan itu pertama kali populer di kawasan Asia, lalu menyebar ke seluruh dunia. Namun belakangan, tongsis banyak dikecam karena dianggap mengganggu ketika dipergunakan di tempat-tempat keramaian publik.


“Kami mendorong para pengunjung museum untuk mengambil selfie dan membagikan pengalaman mereka, tetapi tinggalkan tongkat-tongkat selfie itu di dalam tas,” bunyi pernyataan Smithsonian seperti dikutip BBC (5/3/2015).


“Ini merupakan tindakan preventif untuk melindungi pengunjung dan obyek-obyek yang ada, khususnya ketika kondisi ramai pengunjung,” kata Smithsonian.


Kelompok museum paling terkemuka di dunia yang berbasis di Amerika Serikat itu menjelaskan bahwa kebijakan itu diambil tanpa ada peristiwa apapun yang melatarbelakanginya dan semata-mata sebagai tindakan pencegahan.


The Smithsonian terdiri dari 19 museum dan galeri yang terletak di ibukota Amerika Serikat, National Zoological Park dan sembilan pusat riset. Setiap tahunnya museum dan galeri yang dikelola Smithsonian kedatangan lebih dari 28 juta pengunjung.


Sebelumnya lembaga ini telah melarang pengunjung menggunakan tripod, monopod, serta membawa tas punggung berukuran besar.


Larangan serupa diterapkan belum lama ini bagi wisatawan yang berkunjung ke museum dan galeri di Amerika lainnya, seperti Metropolitan Museum of Art dan Modern Museum of Art di New York, Getty Center di Los Angeles, serta Cleveland Museum of Art.


Galeri-galeri terbesar di Australia juga telah memberlakukan peraturan serupa.


Tongsis bahkan dilarang dibawa oleh penonton pertandingan-pertandingan sepakbola di liga-liga besar Eropa, serta pertunjukan musik terbesar di benua itu semacam O2 dan Wembley Arena.


Namun, kebanyakan institusi kesenian di Eropa belum melarang tongsis. Museum Louvre di Paris dan Tate Museums di London masih memperbolehkan pengunjung berselfie dengan bantuan tongsis.


Tongsis juga masih bisa dipergunakan di Museum of Natural History di New York.*






Pendidikan Berkarakter atau Berakhlak? [2]

Pendidikan Berkarakter atau Berakhlak? [2]


Dengan pemaknaan pendidikan karakter seperti yang dikemukakan Thomas Lickona, maka seorang Muslim bisa saja mengadakan kemusyrikan



Pendidikan Berkarakter atau Berakhlak? [2]

Foto sekelompok anak SD yang sedang berjalan di atas trotoar melewati seorang pengemis. Salah satu anak mengacungkan jari tengah ke arah pengemis. Inilah contoh kegagalan pendidikan. Foto ini sempat menjadi pembicaraan netizen di Barat (ilustrasi)




Sambungan artikel PERTAMA


Oleh: Syahrullah Asyari


DALAM kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Karakter adalah akumulasi dari seluruh ciri pribadi seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai dan pola-pola pemikiran. Adapun kata ‘akhlak’ berasal dari bahasa Arab ‘khuluqun’ yang secara bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Melihat arti ‘karakter’ dan ‘akhlak’ dari sisi bahasa, nampaknya sama. Akan tetapi, dalam ajaran Islam, akhlak ini mengandung makna media yang menunjukkan adanya hubungan antara Khaliq dan makhluk, serta antara makhluk dan makhluk.


Kata ‘akhlak’ bersumber dari kalimat yang tercantum dalam Al-Qur’an, (artinya) “Sesungguhnya Engkau (Muhammad) mempunyai (khuluq) yang agung.” (QS.Al-Qalam: 4).


Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, maksud ayat ini adalah benar-benar memiliki agama yang agung. Tidak ada agama yang lebih Aku cintai dan lebih Aku ridhai dari agama itu. Yaitu agama Islam. Jadi, Allah subhanahu wata’ala menjadikan agama Islam ini seluruhnya adalah akhlak. Maka, siapa saja yang menambahkan akhlak lain di luar akhlakmu berarti ia telah menambahkan hal baru dalam agamamu. Adapun menurut Hasan radhiyallahu ‘anhu, yang dimaksud dengan akhlak yang agung itu ialah adab-adab Al-Qur’an. Selain itu, Ibnul Qayyim mengatakan: “Maksudnya ialah engkau memiliki akhlak yang hanya diberikan kepadamu di dalam Al-Qur’an.


Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu anha pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha menjawab: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” Adapun menurut imam An-Nawawi, maksudnya adalah mengamalkan Al-Qur’an, mematuhi hukum-hukumnya, mengikuti adab-adabnya, mengambil pelajaran dari perumpamaan-perumpamaan dan kisah-kisahnya, merenungkan maknanya dan membacanya dengan cara yang baik.


Demikian juga, hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, (artinya) “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Bukhari, Muslim dan Al-Hakim).


Menurut Fadhlullah Al-Jailani, maksud hadits ini adalah: “Tidak ada agama yang sepi dari nilai-nilai akhlak yang mulia. Tetapi nilai-nilai akhlak yang mulia itu belum pernah dihimpun seluruhnya dalam salah satu agama di masa lalu sampai Allah subhanahu wata’ala menghimpun semua akhlak yang baik di dalam agama Islam. Inilah yang dimaksud dengan kata ‘untuk menyempurnakan akhlak yang baik’.


Semakin jelas, makna kedua istilah tersebut berbeda. Apabila dimasukkan ke dalam proses pendidikan menjadi ‘pendidikan karakter’ atau ‘pendidikan akhlak’, implementasinya pun jelas berbeda. Kalau kita meninjau ‘karakter’ dari lensa ‘akhlak’, maka pembatasan ‘pendidikan karakter’ oleh Thomas Lickona hanya pada hubungan horizontal antarmanusia di dalam masyarakat (individu dengan individu lain) akan menjadi keliru, karena Lickona memberikan pemaknaan yang sangat sempit.


Dalam Islam, hubungan horizontal bukan hanya antarmanusia, tetapi antarmakhluk Allah ‘azza wajalla yang lain, termasuk hubungan antara manusia dengan jin, manusia dengan malaikat, manusia dengan binatang, dan antara manusia dengan alam. Bahkan, mengenai aturan berakhlak seperti ini, bukan hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga berlaku bagi bangsa Jin.


Dari alasan yang telah diuraikan di atas, kiranya umat Islam sadar akan perbedaan makna antara ‘karakter’ dan ‘akhlak’ yang kelihatannya mirip atau dianggap sama secara bahasa, padahal secara istilah sebenarnya berbeda dan ternyata menyangkut perkara besar, yaitu akidah. Karenanya, penting bagi umat Islam untuk tidak memasyarakatkan istilah karakter, tetapi akhlak. Bukan pendidikan karakter, tetapi pendidikan akhlak atau secara komprehensif pendidikan Islam. Wallahu A’lam Bishshawab.*


Penulis adalah Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar, ulla_math05@yahoo.co.id






Dubes Amerika untuk Korsel Terluka Kena Sabetan Pisau Nasionalis Korea

Dubes Amerika untuk Korsel Terluka Kena Sabetan Pisau Nasionalis Korea

Berita Internasional Update

Sebagian warga Korea Selatan meyakini kehadiran militer Amerika Serikat justru akan menghambat unifikasi kedua Korea.




Hidayatullah.com—Duta besar Amerika Serikat untuk Korea Selatan, Mark Lippert, terluka akibat sabetan pisau oleh seroang penyerang di ibukota Seoul.


Lippert, 42, sedang menghadiri jamuan makan pagi ketika dia disabet di bagian wajah dan tangan kirinya.


Pejabat AS di Korsel itu kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perwatan atas luka-lukanya yang tidak membahayakan nyawa itu.


Pelaku serangan diidentifikasi sebagai seorang pria berusia 55 tahun yang aktif mengikuti aktivitas militan nasionalis Korea.


Petugas berhasil meringkus pelaku dan menahannya.


Dilansir BBC dari kantor berita Yonhap, menurut keterangan polisi serangan terjadi pada hari Rabu 22:40 GMT ketika Dubes Lippert menghadiri sebuah acara di pusat kebudayaan di Seoul.


Pelaku beteriak “Korea Selatan dan Utara harus bersatu!” sebelum menyabet Dubes Lippert dengan pisaunya.


Pelaku –yang diketahui pernah melempar batu beton ke arah duta besar Jepang untuk Korsel– juga menyuarakan penentangannya terhadap latihan gabungan militer rutin antara Korsel dan AS, yang saat ini sedang berlangsung.


Korea Utara menyebut latihan militer gabungan itu, yang melibatkan lebih dari 200.000 personel, sebagai latihan untuk melakukan invasi ke wilayahnya dan Korsel berjanji akan melakukan pembalasan.


Menurut laporan wartawan BBC di Seoul, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pelaku adalah agen dari Korea Utara.


Sebagian warga Korea Selatan meyakini kehadiran militer Amerika Serikat justru akan menghambat unifikasi kedua Korea.


Sementara itu Presiden AS Barack Obama dikabarkan telah menelepon Lippert dan mendoakannya cepat sembuh.


Departemen Luar Negeri AS mengatakan “sangat mengecam tindak kekerasan ini.”


Lippert, bekas asisten menteri pertahanan AS, ditunjuk sebagai duta besar untuk Korea Selatan pada 2014.


Menurut laporan Associated Press istri Lippert melahirkan anaknya di Korsel dan memberikan putra mereka nama tengah khas Korea.*






Wanita Tangguh Abad 21

Wanita Tangguh Abad 21

Ilustrasi. (islamimadina.blogspot.com)

Ilustrasi. (islamimadina.blogspot.com)



dakwatuna.com - Orang yang berjasa, menolong serta menjaga kita seringkali kita sebut sebagai pahlawan. Sebuah kata yang terkadang kita tak pernah tau definisi sesungguhnya ketika hendak dilontarkan dalam sebuah pertanyaan “apa definisi pahlawan?”, sehingga kita harus mencari dan kembali membuka buku-buku kamus berbahasa Indonesia. Namun ‘pahlawan’ dapat kita gunakan untuk menyebut siapapun yang telah berjasa dalam hidup kita.


Dan anggap pula, pahlawan itu ialah sosok yang tangguh, yang tak pernah gentar hadapi musuh. Yang tetap bertahan walau diterpa ombak dan badai. Superhero misalnya, pada film fantastis mereka hendak sebagai pemeran utamanya. Tak ada cerita akhir yang menggambarkan bahwa mereka kalah walau melemah. Maka “membela yang menang” itu sebuah keniscayaan. Kita mengingat dan mengagung-agungkan nama pahlawan.


Tapi kita bukan bicara superhero, bukan pula pahlawan ksatria dengan ototnya melawan kejahatan. Tapi kita bicara tentang keanggunan wanita dalam jasanya yang telah membuat kita mengingat dan mengheningkan cipta.


Dalam pelajaran sejarah dan kesenian kita disuguhkan sebuah lagu, dalam syairnya


“Ibu kita kartini, putri sejati.. putri indonesia, harum namanya”


Ibu Kartini. Beliau adalah sosok ibu, yang bangkit dari keterpurukan dan kesedihan mendalam. Yang telah memberikan pengaruh besar bagi bangsa ini, Bangsa Indonesia. Ia berusaha keluar dari zona-zona yang memenjarakannya, ketika seusai masa Sekolah Dasar ia dipingit sampai waktu hendak ia akan menikah. Terlahir dari kehidupan ekonomi keluarga yang biasa-biasa saja sehingga ia tidak dapat melanjutkan sekolah. Namun ia bangkit,memperjuangkan sesuatu yang ia pikir merupakan haknya dan hak-hak kaum wanita lainnya. Kini tanda jasanya telah jelas, kaum wanita sudah bisa sekolah dengan bebas dan di mana saja baik di dalam maupun di luar negeri. Gerakan emansipasi wanita telah berhasil. Kartini telah berjasa besar dalam menghantarkan kaum wanita Indonesia menuju mimbar kehormatam dan kebebasan.


Kita juga mengenal Cut Nyak Dien, sosok wanita kelahiran Aceh yang tak pernah takut melawan penjajah Belanda. Mengajak seluruh Rakyat Aceh untuk terus berjuang, ketika kala itu ia tersulut karena Masjid Besar Aceh dibakar hangus oleh Belanda. Sampai ia ditangkap dalam kondisi rabun karena tua telah meliputinya. Hingga bertemu ajalnya pada tahun 1908 dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh, Sumedang, sebuah komplek pemakaman para bangsawan Sumedang, tak jauh dari pusat kota.


Mungkin kita juga mengenal para pahlawan wanita seperti Cut Nyak Meutia, Raden Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, atau Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Mereka semua tangguh dan berjasa pada masanya, yang pengaruhya dapat dirasakan hingga sekarang. Merekalah wanita tangguh yang namanya harum, pada abadnya dan abad kekinian.


Namun masih adakah mereka di abad ini?


Sudah jelas proses terjadi manusia dalam Alquran surat Al-Hajj ayat 5: ”Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging, yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.


Setetes mani, segumpal darah, segumpal daging, di dalam rahim. Ya, di dalam rahim seorang ibu. Dan digambarkan dengan ‘yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna’. Jadi proses terjadinya kita tidak instan. Bahkan ada peluang untuk gagal.


Ibu tetap bertahan. Menjaga kita selama 9 bulan mengandung kita dalam rahimnya. Setelah 9 bulan berlalu, kita lahir dengan tangisan yang membanggakan. Ibu tersenyum setelah kesakitan. Dan saat itu kita membuka mata, melihat inilah dunia. Kemudian lagi-lagi ibu, merawat, menyusui, hingga tumbuh besar dan sudah saatnya memasuki usia belajar di Sekolah Taman Kanak-kanak. Lagi, ibu mengantar dan memantau segala aktivitas yang kita lakukan semasa di sekolah. Sampai akhirnya pulang kembali ke rumah dengan Ibu.


Kini kita telah dewasa. Ada yang sudah menjadi orang-orang berhasil dengan menyandang jabatan-jabatan tinggi dalam organisasi, institusi dan lainnya. Adapula yang masih hanya nongkrong di pinggir jalan, merokok dan tawuran, mabuk dan memakai obat-obatan. Inilah potret generasi.


Maka tantangan dan indikator keberhasilan abad sekarang adalah generasi. Sederhananya, segalanya tentang bab syukur. Bersyukurlah dan menjadikan seorang ibu sosok pahlawan sejati, tanpa mengharap imbalan dan pamrih. Pahlawan wanita yang tangguh, karena kasih dan sayangnya sepanjang masa walau perilaku kita tak sesuai dengan ekspetasi dan harapannya.


Wanita tangguh di abad 21 itu adalah ibu,


Kalau saja hari ini kita tidak ditakdirkan untuk melihatnya tersenyum, malah terbujur kaku. Itu artinya, Allah telah mengistirahatkannya. Allah telah menyimpan ketangguhannya sampai pada waktu yang ditentukan, dan kebaikan kelak terlahir bermuara pada doa anak-anaknya yang shalih.



Fauhadanis Nadif


Tentang Fauhadanis Nadif


Mahasiswa Desain Grafis 2012 di Politeknik Negeri Jakarta. Ketua Lembaga Dakwah Kampus Fikri PNJ. Senang membaca dan menulis, dan visualisasi dalam desain grafis [Profil Selengkapnya]