BENARKAH NASIONALISME DIAJARKAN OLEH AL QURAN?


Banyak tokoh dan ustadz yang mengatakan bahwa nasionalisme adalah bagian dari ajaran islam dan dinyatakan secara eksplisit di dalam alquran, yaitu pada QS. Hujurat 13. Dalam ayat tersebut Allah berfirman, yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Dikatakan ayat ini meyebutkan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa, ini adalah ajaran tentang nasinalisme dan nation state. Benarkah demikian? Bagaimana memahami surat ini? Hal ini akan kita bahas secara ringkas.
Dalam surat Al-hujurat ayat 13 ini terdapat kata kunci yang sering digunakan untuk menjustifikasi keabsahan nasionalisme dan model negara bangsa, yaitu frase “Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian BERBANGSA-BANGSA (syu’ub) dan BERSUKU-SUKU (qoba’il). Apa sebenarnya makna dari syu’ub dan qoba’il? Bagaimana memahami ayat ini secara holistik?
Dalam bahasa arab, syu’ub merupakan bentuk plural (jamak) dari kata SYA’B, sementara itu, qoba’il merupakan bentuk jamak dari QOBILAH. Kata syu‘ub dan qaba'il merupakan kelompok manusia yang berpangkal pada satu orang tua (keturunan). Keduanya merupakan suatu level dalam hirarki kekerabatan menurut orang Arab. Menurut mereka, manusia ada dalam hirarki hubungan kekerabatan mulai dari yang terluas sampai yang tersempit. SYA’B adalah tingkatan kekerabatan paling atas (a’la darojat an nasab), seperti Rabi‘ah, Mudhar, al-Aws, dan al-Khajraj. Tingkatan di bawahnya adalah QOBILAH, seperti Bakr dari Rabi‘ah, dan Tamim dari Mudhar. Tingkatan di bawahnya lagi adalah IMARAH, seperti Syayban dari Bakr, Daram dari Tamim, dan Quraisy. Di bawahnya lagi adalah BATHN, seperti Bani Luay dari Qurays, Bani Qushay dari Bani Makhzum. Level di bawahnya lagi adalah FAKHIDZ, seperti Bani Hasyim dan Bani Umayyah dari Bani Luay. Tingkatan kekerabatan paling bawah adalah FASHILAH atau ASIROH (keluarga), seperti Bani Abd al-Muthallib.
Itulah makna sya’b dan qobilah. Pertanyaan berikutnya, apakah penerjemahan sya’b dengan BANGSA sudah sesuai? Dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa pengertian BANGSA bangsa adalah kumpulan orang yang biasanya memiliki kesamaan asal-usul keturunan, sejarah, adat, bahasa, daerah, dan kebudayaan dalam arti umum. Jadi, bangsa itu masih terlalu umum, sementara qobilah dan sya’b itu sudah sangat spesifik. Dengan demikian, sebenarnya penerjemahan SYA’B dengan BANGSA, tidak tepat. Bangsa itu sekedar kumpulan orang dengan asal-usul yang sama, sementara SYA’B itu level tertentu dalam kekerabatan. Lalu apa terjemahan yang tepat terhadap SYA’B? Terus terang, saya juga tidak tahu. Itulah salah satu alasan mengapa al quran, itu harus dalam bahasa aslinya, yaitu arab. Ketika diterjemahkan, sering sekali maknanya sudah bergeser. Mungkin akan lebih mendekati, diterjemahkan “bangsa”, dalam tanda petik.
Pertanyaan berikutnya: Apakah bangsa-bangsa yang saat ini ada benar-benar merupakan kategorisasi yang didasarkan kepada tingkat kedekatan nasab? Saya rasa sangat sulit untuk menelusuri bahwa bangsa-bangsa yang ada sekarang merupakan kategorisasi yang didasarkan atas kesamaan nenek-moyang (nasab). Bangsa-bangsa yang ada sekarang sudah sangat sulit dilacak nenek moyangnya, karena sudah bercampur dengan bangsa-bangsa lain. Lagi pula, saat ada kategori suatu bangsa, itu tingkat nasab yang ke berapa? Terus terang hal ini super-duper sulit untuk melacaknya.
Kembali ke ayat tadi, ayat al Hujurat 13 ini, bermakna bahwa Allah menciptakan manusia ada yang laki-laki dan ada yang perempuan. Lalu manusia manusia terus berkembang hingga menjadi banyak. Manusia yang banyak itu memiliki kekerabatan sendiri-sendiri berdasarkan asal-usul orang tuanya, ada sya’b (“bangsa”) ada qobilah (suku). Ini merupakan sunatullah. Manusia tidak bisa memilih agar dilahirkan di suku atau bangsa tertentu. Karenanya, manusia tidak pantas membanggakan dirinya atau melecehkan orang lain karena faktor orang tuanya, suku atau bangsanya.
Ayat ini menjelaskan, dijadikannya manusia “berbangsa-bangsa” dan bersuku-suku adalah untuk saling mengenal satu sama lain (lita’arafu). Menurut al-Baghawi dan al-Khazin, ta‘aruf itu dimaksudkan agar setiap orang dapat mengenali dekat atau jauhnya nasabnya dengan pihak lain, bukan untuk saling mengingkari. Berdasarkan ayat ini, Abd ar-Rahman as-Sa’di menyatakan bahwa mengetahui nasab-nasab merupakan perkara yang dituntut syariat. Sebab, manusia dijadikan “berbangsa-bangsa” dan bersuku-suku memang untuk itu. Karena itu, seseorang tidak diperbolehkan menasabkan diri kepada selain orangtuanya.
Jadi, perbedaan asal usul, orang tua, suku atau bangsa itu hanya untuk saling mengenal. Misalnya, siapa nama Anda? Nama saya si fulan. Di manakah alamat Anda? Di sana. Dari suku apa? Dari suku A. Inilah makna saling mengenal, bukan untuk kesombongan, atau untuk merendahkan orang lain, apalagi untuk fanatisme pada suku atau bangsa.
Dan, setelah menjelaskan kesetaraan manusia dari segi penciptaan, keturunan, kesukuan, dan kebangsaan, ayat tersebut menetapkan parameter lain untuk mengukur derajat kemulian manusia, yaitu ketakwaan. Kadar ketakwaan inilah yang menentukan kemulian dan kehinaan seseorang. Tetapi, tentu saja yang mengetahui ketaqwaan seseorang hanya Allah. Banyak ayat dan hadis yang juga menjelaskan bahwa kemuliaan manusia didasarkan pada ketakwaan semata.
Rasulullah saw. pernah bersabda: “Wahai manusia, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan kalian satu, bapak kalian juga satu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang non-Arab, orang non-Arab atas orang Arab; tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, orang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan. Apakah saya telah menyampaikan?” (HR Ahmad).
*****
Ayat ini jelas tidak bisa dijadikan dalil mengenai absahnya nasionalisme menurut Islam atau negara bangsa. Ayat ini justru untuk melarang sukuisme dan nasionalisme. Suku dan nation itu alamiah, tetapi sukuisme dan bangsaisme (nasionalisme) dilarang oleh Allah. Perbedaan suku dan bangsa itu bukan untuk gaya-gayaan, apalagi untuk isme-ismean. Perbedaan suku dan bangsa harus digunakan untuk upaya saling mengenal: lita’arafu.
Rasulullah saw. pun menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk mencabut paham Jahiliyah (isme selain islam). Ketika pembebasan kota Makkah beliau berkhutbah, sebagaimana dituturkan Ibn Umar: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah melenyapkan dari kalian kesombongan Jahiliyah dan saling berbangga karena nenek moyang. Manusia itu ada dua kelompok. Ada yang shalih, bertakwa, dan mulia di hadapan Allah. Ada pula yang fasik, celaka, dan hina di hadapan Allah Swt. Manusia itu diciptakan Allah dari Adam dan Adam dari tanah. Allah Swt. berfirman: Ya ayyuha an-nas inna khalaqnakum min dzakar wa untsa….” (HR at-Tirmidzi).
Ayat ini turun, justru untuk menghilangkan isme atas dasar keluarga atau kelompok. Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mulaikah: Ketika Fath Makkah, Bilal naik ke atas Ka‘bah dan mengumandangkan azan. Sebagian orang berkata, “Budak hitam inikah yang azan di atas punggung Ka‘bah?” Yang lain berkata, “Jika Allah membencinya, tentu akan menggantinya.” Lalu turunlah ayat ini (Asy-Syaukani, Fath al-Qadir, V/69, Dar al-Fikr, Beirut, 1983; as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur fî Tafsîr al-Ma’tsûr, VI/107, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1997)
Sementara menurut riwayat dari Abu Dawud dan al-Bayhaqi dari az-Zuhri, ia berkata: Rasulullah saw. menyuruh kaum Bani Bayadhah untuk mengawinkan salah seorang wanita mereka dengan Abu Hindun. Dia adalah tukang bekam Rasulullah saw. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, pantaskah kami mengawinkan putri-putri kami dengan maula kami?” Lalu turunlah ayat kami. (As-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, 107; Shihab ad-Din al-Alusi, Ruhul Ma’anî, XIII/314, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993).
*****
Nasionalisme (isme atas dasar nation) dan nation state (batas-batas negara atas dasar nation) bangsa merupakan corak yang mewarnai peta duni saat ini, termasuk di dunia Islam. Kaum muslimin pun hidup terpisah dalam puluhan nation state (negara bangsa). Bagi kita yang lahir setelah mapannya negara-negara bangsa tersebut, kondisi yang demikian mungkin terasa lumrah dan memang sudah semestinya. Bagi generasi sekarang, tak bisa dibayangkan, ada negara tapi dasarnya bukan nation.
Namun sebenarnya, dalam sejarah umat Islam yang membentang sejauh lebih dari 13 abad, umat islam hidup dalam negara global, bukan negara yang disekat oleh kebangsaan (nation). Sentimen kebangsaan dan tren negara bangsa di dunia Islam menemukan momentumnya bersamaan dengan matangnya gelora untuk membebaskan negeri-negeri Islam dari penjajahan Bangsa Barat pada awal abad 20-an. Maka tak heran jika batas-batas negara bangsa di dunia Islam secara umum mengikuti batas-batas pemerintahan-pemerintahan kolonial yang dulu pernah ada. Indonesia adalah contoh terbaik dalam hal ini. Pertanyaan sederhana, mengapa TIMOR TIMUR saat bergabung dengan Indonesia kok selalu ingin merdeka dan akhirnya merdeka beneran? Apakah karena mereka bukan satu bangsa dengan Indonesia? Jawabannya, sebenarnya tak ada hubungannya dengan bangsa, tetapi berhubungan dengan KOLONIALISME. Yang membedakan antara Indonesia dan Timor Timur adalah kolonialisme, Indonesia di jajah oleh Belanda, sementara Timor Timur dijajah oleh Portugal. Itulah inti masalahnya. Itulah yang membuat Timor Timur merasa BERBEDA dengan Indonesia dan merasa lebih layak memiliki negara sendiri.
Jika memang NATION STATE dasarnya memang benar-benar kesamaan bangsa, niscaya orang-orang suku Melayu seharusnya membentuk satu negara sendiri, namun kenyataannya mereka justru terpisah dan bergabung dengan suku bangsa lain di negara Indonesia, Malaysia, Brunei dan Thailand. Ini menunjukkan bahwa negara bangsa sebenarnya hanyalah KLAIM. Pernyataan yang menyatakan bahwa alqur’an mengajarkan nasionalisme juga hanya KLAIM.
Wallahu a’lam.

Baldatun Thoyibatun Warabbun Ghhofur, dengan Demokrasi?


Bagi orang muslim yang normal, pasti mereka menginginkan kehidupan yang sejahtera dan diridloi Allah, atau kalau dalam bahasa al quran disebut baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sebagai mana pada surat Saba ayat ke 15. Untuk menggapai mimpi besar itu, kaum muslimin telah berusaha sekuat tenaga, mencurahkan kemampuan dan telah melakukan banyak hal untuk itu. Namun, upaya yang dilakukan untuk mencapai visi besar itu, terkadang justru menjauhkan mereka dari visi semula. Sebab, mereka banyak yang tidak tahu cara menggapai visi besar itu. Kita bisa lihat, sat ini, masyarakat malah berkubang dengan nasionalisme, sekulerisme, demokrasi, dan lain-lain.
Untuk memperjelas visi itu, akan dibahas klasifikasi masyarakat, berdasarkan thayyibah (kesejahteraan) dan robbun ghofur (keridloan Allah). Dengan model klasifikasi ini, akan mudah bagi kita, menilai posisi kita. Selanjutnya, setelah kita memahami posisi, kita jadi tahu apa harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Dengan begitu, diharapkan kita tidak salah melangkah untuk yang ke dua kali atau ke sekian kali.
Klasifikasi masyarakat, berdasarkan kesejahteraan dan keridloan Allah, dapat dibagi jadi empat tipe. Jika menggunakan grafik, empat tipe itu berada pada kuadran I hingga kuadran IV.
Pertama, masyarakat yang sejahtera dan diridloi Allah. Keadaan inilah yang pasti diharapkan oleh semua umat islam, kecuali yang agak error pemikirannya. Keadaan ini, misalnya, terjadi pada masa para khalifah yang empat. Visi kemasyarakatn harusnya menuju ke sini.
Kedua, tidak sejahtera tapi diriloi Allah. Keadaan ini, hanyalah terjadi dalam kondisi sementara. Tidak sejahtera di sini, sebenarnya adalah BELUM sejahtera. Ini terjadi, misalnya di awal daulah islamiyah atau pada masa-masa tertentu pada perjalanan khilafah islamiyah.
Ketiga, sejahtera namun tidak diridloi Allah. Kondisi ini juga sementara. Dalam jangka tertentu, masyarakat tipe ini juga akan mengalami kehancuran. Tipe ketiga ini, misalnya seperti singapura, jepang, prancis dan negara-negara maju lainnya. Harus diakui, mereka sejahtera, tapi pasti tidak diridloi Allah, karena melanggar ketentuan Allah.
Keempat, tidak sejahtera dan juga tidak diridloi Allah. Masyarakatnya hidup dalam kemiskinan, kebodohan, terjajah dan kondisi buruk lainnya, namun juga tidak diridloi Allah, karena tidak mau taat kepada Allah. Contoh masyarakat tipe ini, misalnya dunia ketiga saat ini.
Bagaimana dengan kondisi Indonesia dan negeri-negeri Islam yang lain? Secara pribadi, saya sangat berharap berada pada tipe pertama. Tapi, jika melihat realita yang ada, dengan sangat prihatin, saya katakan, “kita berada pada posisi ke empat”. Maaf, sekali lagi maaf, saya tidak bermaksud menertawakan atau menghina diri sendiri dan panjenengan semua, tapi memang itulah realitanya. Terus terang, saya sangat sedih mengatakan ini, tapi memang begitulah kondisinya.
*****
Lalu, bagaimana caranya agar kita menjadi masyarakat yang sejahtera dan diridloi Allah?
Pertama akan kita bahas, bagaimana caranya agar masyarakat sejahtera. Untuk mencapai kesejahteraan, sebetulnya tidak sulit. Yang diperlukan hanya dua, yaitu SISTEM atau aturan yang secara rasional mengantarkan pada kesejahteraan; dan kedua sistem itu dilaksanakan oleh PEMIMPIN yang konsisten dengan sistem yang ada. Inilah yang dilakukan di Jepang, Singapura, dan lain-lain. Bagaimana agar petani sejahtera, sebenarnya gampang, buat sistem atau aturan agar petani dapat menghasilkan hasil yang optimal, lalu sediakan pasar yang baik. Sementara kesehatan, pendidikan keluarganya dan lain sebagainya memang diatur oleh negara untuk mencapai semua itu. Insya Allah mereka akan sejahtera. Untuk melaksanakan aturan yang ada, kemudian secara konsisten, dikawal dan dijaga oleh pemimpin yang visioner dan konsisten dengan visi itu. Dengan dua hal ini, insya Allah, masyarakat akan sejahtera. Jadi, kalau hanya untuk mencapai kesejahteraan, MEMANG TIDAK PERLU KHILAFAH dan SYARIAH. Kesejahteraan, bisa terjadi di dalam sistem KHILAFAH dan bisa tidak menggunakan sistem KHILAFAH.
Mohon maaf, kalau di negeri kita, aturannya sama sekali tak berpihak pada masyarakat, tapi hanya berpihak pada kapitalis asing. Sekedar contoh: Petani, harus memebeli bibit dan pupuk yang mahal. Saat panen, pasaran dibanjiri produk impor, sehingga harga jatuh. Otomatis petani rugi. Sementara itu, pejabatnya korup, tak memikirkan rakyat, tak kompeten, dan yang dipikir hanya mengebmbalikan modal kampanye dan profit taking. Bagaimana masyarakat mau sejahtera?
Kemudian, yang kedua, bagaimana caranya agar diridloi Allah? Maka dalam hal ini, tidak ada cara lain kecuali dengan ketaatan penuh kepada Allah SWT. Allah tidak akan ridlo, jika masyarakat menerapkan sistem hukum, selain sistem hukumnya Allah. Agar diridloi Allah, harus dengan penerapan syariah secara total dalam kehidupan masyarakat. Syariah Allah, tidak akan pernah dapat diterapkan secara kaffah, kecuali dalam sistem KHILAFAH ISLAMIYAH. Jadi, sangat tidak masuk akal, kita ingin diridloi Allah, tapi dengan menerapkan sekulerisme dan demokrasi. Penerapan sistem ini, justru akan mendatangkan kemurkaan dan adzab dari Allah.
Sistem syariah, jika diterapkan secara konsisten, secara empiris, juga akan mengantarkan pada kesejahteraan. Contoh sederhana, lihatlah keadaan masyarakat pada masa Umar bin Abdul Aziz. Rakyat hidup sangat sejahtera. Kuncinya satu, konsisten dengan syariah Allah. Apa mungkin, penerapan syariah tidak konsisten? Tentu sangat mungkin. Inilah yang dinamakan penyimpangan. Penyimpangan adalah penyimpangan dan tentu tidak dapat dibenarkan. Namun, menolak suatu sistem, hanya karena ada penyimpangan di dalamnya, tentu tidak bijak. Sebab, selama pelaksananya manusia, penyimpangan tetap akan ada. Tetapi, untuk sistem yang komprehensif seperti syariah, penyimpangan itu akan sangat mudah dideteksi dan kemudian diluruskan.
Terakhir, pilih mana KHILAFAH yang INSYA ALLAH diridloi Allah dan mengantarkan kesejahteraan? Atau SELAIN khilafah, yang PASTI tidak diridloi Allah dan BELUM TENTU mengantarkan kesejahteraan?
Kita telah dikaruniai akal, maka terserah kita pilih yang mana.
Wallahu a’lam.

Bangsa Tak Butuh Pilar !!!


Akhir-akhir ini kita sering mendengar pilar kebangsaan. Dikatakan ada 4 pilar kebangsaan, yaitu pancasila, UUD 1945, bhineka tunggal ika, dan NKRI. Bahkan dimana-dimana diadakan training, pelatihan dan seminar, untuk mengokohkan pilar-pilar ini. Pembahasan tentang pilar kebangsaan ini, dibahas di TV, radio, majalah, koran, pesantren, sekolahan, kampus, bahkan di masjid-masjid. Tentu saja, banyak yang kebanjiran order untuk pelaksanaan proyek ini, terutama ormas-ormas dengan massa besar, LSM-LSM, dan tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki banyak pengikut. Dalam hal ini, jika kita sedikit kritis, pasti kita akan bertanya: Benarkah ada pilar kebangsaan? Benarkah bangsa membutuhkan pilar? Apakah hal ini hanya ada di Indonesia?
Untuk membahas hal ini, kita akan merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bangsa memiliki beberapa makna, diantaranya (1) bangsa adalah kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri: Contoh Bangsa India; Bangsa Indonesia; Bangsa Mesir; (2) bangsa adalah golongan manusia, binatang, atau tumbuhan yg mempunyai asal-usul dan sifat khas yg sama; (3) bangsa adalah kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan menempati wilayah tertentu di muka bumi, dan lain-lain.
Jadi, dari beberapa definisi tentang bangsa, maka dapat disimpulkan bahwa bangsa adalah kumpulan orang yang biasanya memiliki kesamaan asal-usul keturunan, sejarah, adat, bahasa, daerah, dan kebudayaan dalam arti umum. Dengan definisi ini, maka sebenarnya bangsa tak butuh pilar. Pilar itu adalah penyokong utama, jika satu saja pilar hilang, maka bangunan itu akan runtuh. Jika memang Bangsa Indonesia beridiri dengan 4 pilar seperti diatas, maka jika satu dari 4 pilar itu hilang, maka Bangsa Indonesia akan runtuh. Benarkah?
Hal ini jelas tidak benar. Bangsa adalah masyarakat dengan kesamaan asal-usul. Bangsa tak butuh pilar. Bangsa Indonesia tak akan ambruk atau musnah, seandainya 4 pilar itu tidak ada. Bangsa Indonesia akan musnah, bukan karena kehilangan pilar-pilarnya, tapi karena faktor lain, antara lain: Pertama, misalnya karena suatu bangsa sangat durhaka kepada Allah kemudian Allah mengadzabnya hingga musnah, sebagaimana bangsa-bangsa pada masa lalu. Kedua, jika masyarakat keasikan berbuat zina sehingga tak ada lagi yang mau nikah dan punya anak (slogannya: ngapain capek-capek pelihara kambing, mendingan beli di pinggir jalan saja, tinggal menikmati, bahkan dengan menu yang variatif), maka sangat mungkin bangsa ini akan musnah. Ketiga, masyarakat kelakukannya seperti “jeruk makan jeruk”, laki-laki kawin dengan laki-laki, dan wanita dengan wanita. Otomatis tidak akan memiliki anak, sehingga tidak punya keturunan, dan kemungkinan bangsa tersebut akan musnah. Keempat, terjadinya pernikahan antar bangsa secara massal dan besar-besaran, sehingga akhirnya pada suatu generasi sangat sulit untuk mengidentifikasi nenek-moyangnya. Dalam kasus ini identifikasi suatu bangsa akan hilang secara berangsur-angsur. Kejadian-kejadian inilah yang membuat suatu bangsa akan musnah atau tak bisa teridentifikasi lagi, bukan karena pilar-pilar kebangsaan seperti yang disebutkan di atas.
Jadi, musnahnya bangsa bukan karena kehilangan pilar-pilarnya. Terlebih lagi, jika Bangsa Indonesia pilarnya empat seperti disebut diatas, bangaimana dengan kakek-nenek kita yang wafat sebelum tahun 1945. Pasti mereka tak akan mengenal UUD 1945, apalagi mengamalkan secara murni dan konsekuen, seperti para tokoh yang hebat-hebat itu. Apakah kita akan mengatakan mereka bukan bagian Bangsa Indonesia? Jika nenek-moyang kita bukan bukan Bangsa Indonesia, lalu kita semua ini anak cucu siapa? Bukankah bangsa itu masyarakat yang berasal dari nenek-moyang yang sama?
Terus terang, saat mendengar ada orang menyanyikan lagu, “ tujuh belas agustus tahun empat lima... itulah hari lahirnya bangsa indonesia....”, saya hanya bisa senyum-senyum, dalam hati saya berkata, “kok aneh sekali ya?” dan saya langsung teringat dengan Pangeran Diponegoro yang wafat sebelum tahun 1945. Lalu lagunya diteruskan “Merdeka... sekali merdeka, tetap merdeka”, hati saya berkata, “kalau merdeka, mengapa BBM naik terus, demo dimana-mana, sumber daya alam dikuasai asing, kebijakan pemerintah didekte oleh para kaum kolonialis”.
Kembali ke permasalahan pilar kebangsaan, saya juga ingin tahu apakah bangsa-bangsa lain memiliki pilar, ternyata sepanjang yang saya tahu, tidak ada satupun bangsa di dunia yang memiliki pilar. Karena itu jika ada diantara teman-teman yang tahu pilar-pilar bangsa lain, mohon saya diberitahu. Maklum saya ini orang awam, yang harus banyak diberi informasi dan masukan.
Lalu, jika 4 hal diatas bukan pilar bangsa, lalu sebetulnya apa ya? Menurut saya, 4 hal diatas, kemungkinan besar adalah pilar negara sekuler republik indonesia, bukan pilar bangsa indonesia. Mengapa saya katakan negara sekuler, karena oleh Pak Soekarno, syariah Islam dicoret dari sila pertama pancasila. Meskipun, para pejabat sendiri tidak ada yang mau, kalau disebut negara sekuler, mereka lebih senang disebut negara agamis. Menurut mereka, meskipun memang agama tidak boleh menjadi aturan, tapi paling tidak kalau ada kelahiran, pernikahan dan kematian, dilakukan prosesi dengan agama tertentu. Menurut mereka, ini sudah kaffah, karena kelahiran-pernikahan-kematian, itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Namun, terus terang, 4 hal itu, dalam prakteknya tidak lebih dari macan ompong. Dalam praktiknya, Negara Indonesia sendiri, diatur dengan ideologi lain, bukan oleh 4 pilar tersebut. Dalam setiap pengambilan kebijakan pemerintah, 4 pilar itu tak pernah ada “bunyinya”. Untuk membuktikan hal ini, saat penyerahan Blok Cepu ke Exxon Mobile, apakah ada yang menolak dengan alasan bertentangan dengan pancasila, UUD 1945, bhineka tunggal ika atau NKRI? Bahkan para pejabat itu sepakat menjualnya, karena UU Migas liberal memang mengijinkannya. Lihat pula penyerahan kekayaan alam yang lain, modusnya selalu sama. Bukankah demikian? Lalu dimana empat pilar itu?
Secara real yang, semenjak 1945-sekarang, mengendalikan bangsa ini adalah ideologi sosialisme dan kapitalsme. Ideologi sosialisme diterapkan pada zaman Pak Soekarno, dan ideologi kapitalisme pada zaman Pak Soeharto, dan ideologi kapitalisme-liberal pada zaman pasca Pak Harto hingga sekarang. Ideologi-ideologi inilah yang telah merusak dan menghancurkan Bangsa Indonesia. Ideologi-ideologi inilah yang telah secara legal menjual kekayaan alam bangsa ini kepada asing penjajah. Bahkan, bukan hanya kekayaan alam bangsa ini, tetapi bangsa ini sendiri dijual ke asing sebagai budak dan PRT, tapi biar keren mereka disebut sebagai “pahlawan devisa”.
Hanya ideologi Islam yang belum pernah diterapkan semenjak 1945-sekarang. Padahal ideologi Islam itulah yang akan menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan dan kehancuran. Ideologi Islam berasal dari pencipta alam semesta dan pencipta bangsa ini, Allah. Allah tidak ada kepentingan. Allah menurunkan Islam adalah untuk rahmat bagi sekalian alam, termasuk Bangsa Indonesia. Tapi dengan satu syarat, Bangsa ini harus mau menerapkan syariahNya yang agung. Islam itulah yang akan menyelamatkan bangsa ini dan bangsa-bangsa lain di dunia, terlebih lagi mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim, jadi sangat compatible dengan syariah Islam.
Terakhir, apakah bangsa butuh pilar? Jawabnya adalah seperti kata-kata anak saya “Joko sembung naik ojek, nggak nyambung jek!!!”.
Wallahu a’lam.

Nasionalisme, Pemersatu atau Pemecah belah?


Orang sering berpikir bahwa nasionalisme akan menyatukan masyarakat. Pendapat itu tidak semua salah, akan tetapi banyak fakta yang justru bertentangan dengan pikiran tersebut. Timor Timur lepas dari Indonesia karena nasionalisme-nya orang Timor Timur. Mereka merasa sebagai bangsa yang berbeda dari bangsa Indonesia. Meskipun, memang ada banyak faktor lain yang mendorong mereka lepas dari Indonesia. Papua juga ingin lepas dari Indonesia, salah satunya, karena merasa sebagai bangsa yang berbeda. Aceh juga demikian. Dan bisa jadi akan disusul yang lain.
Bahkan konon katanya, di Indonesia terdiri lebih dari 300an suku bangsa, yang terbanyak adalah bangsa jawa, lalu sunda, lalu batak, lalu madura, lalu betawai dan seterusnya. Jika memang yang digembar-gemborkan isu sektarian seperti nasionalisme, bisa jadi bangsa-bangsa yang ada akan bangkit rasa nasionalisme terhadap bangsanya sendiri-sendiri. Dan jika ini terjadi, Indonesia akan pecah jadi lebih dari 300 negara. Sekedar contoh, secara ilmiah, sangat sulit mencari justifikasi bahwa orang jawa merupakan satu bangsa dengan orang papua. Kalau papua dengan papua nugini, bahkan lebih mudah mencari justifikasi bahwa mereka adalah satu bangsa. Ciri paling mudah adalah kulit dan rambut mereka. Tapi, justru papua menjadi bagian dari Indonesia dan terpisah dari papua nugini. Jadi, nasionalisme (isme atas dasar nation) sebetulnya bukan pemersatu, tapi justru pemecah belah.
Bagi umat Islam, nasionalisme juga terbukti telah membawa perpecahan di tubuh umat Islam. Umat ini pecah karena masing-masing membanggakan bangsanya sendiri-sendiri. Mereka tidak mau dipimpin kecuali oleh orang sebangsanya sendiri, mereka tidak merasa saudara jika bukan dengan bangsanya sendiri. Mereka merasa memiliki nasib yang berbeda, jika memiliki bangsa yang berbeda.
Bangsa arab merasa lebih hebat dari bangsa lain, sehingga mereka tak mau dipimpin oleh bangsa lain, misalnya seperti turki. Orang turki merasa lebih hebat dari bangsa lain, termasuk arab. Sehingga mereka tak mau dibebani untuk ngurus orang arab. Inilah yang membuat khilafah islamiyah pecah belah. Di arab muncul gerakan arabisme yang membanggakan kearabannya, di turki muncul gerakan turki fatah, yang dibakar oleh nasionalisme turki. Akhir dari semua kebanggaan isme tadi, adalah pecah belahnya dunia islam. Dan isme ini pula yang menghalangi mereka bersatu hingga detik ini.
Rasulullah saw., saat melakukan haji wada’ (pamungkas) menegaskan pula, “Sesungguhnya darah-darah kalian dan kehormatan kalian haram (untuk dilanggar) oleh kalian, kecuali dengan hak Islam. Tiada keutamaan bagi orang Arab atas non-Arab dan tidak keutamaan bagi non-Arab atas orang Arab; tidak ada keutamaan bagi orang berkulit putih atas kulit hitam dan tidak pula orang berkulit merah atas kulit putih, melainkan dengan taqwa. Kalian semua berasal dari Adam. Sedangkan Adam berasal dari tanah.” Ya benar Rasulullah, kita semua adalah anak cucu Adam. Tidak ada manusia di dunia ini, kecuali dia adalah keturunan Adam. Jadi, sebenarnya tidak ada perbedaan manusia, dilihat dari asal-usul keturunannya.
Memang persatuan harus ada titik yang menyatukan. Yang menyatukan bisa saja berupa figur tokoh tertentu, kesamaan kepentingan, kesamaan nasib, kesamaan bangsa, dan pemahaman tertentu tentang kehidupan (ideologi). Jika persatuan disatukan oleh figur, maka begitu figur meninggal, selesai sudah persatuan. Jika persatuan karena nasib yang sama, begitu nasib sudah berbeda, maka persatuan juga akan hilang. Jika persatuan karena kepentingan, maka jika kepentingannya tidak tercapai, maka akan hancur persatuan itu dan yang muncul adalah perang untuk memperebutkan kepentingannya.
Jika persatuan dikarenakan kesamaan bangsa, memang hal ini bisa saja terjadi. Tetapi hal ini akan membuat konflik dengan orang dengan bangsa yang berbeda. Lihatlah konflik antar suku. Itu semua adalah karena nasionalisme. Ada yang mengatakan bahwa nasionalisme lebih luas dibanding dengan sukuisme. Pertanyaannya, seluas apa? Seluas tanah jawa? Seluas kalimantan, seluas kalimantan? Seluas Indonesia? Seluas Asia? Seluas apa? Siapa yang mendefinisikan luasnya nasionalisme? Jika kita bersatu dengan orang kalimantan, mengapa kita tidak bersatu dengan kelimantan sebelah utara (malaysia)? Kalau kita lihat peta, pasti kita akan bingung, mengapa terkadang dalam satu pulau ada banyak negara, dan terkadang ada satu negara dengan banyak pulau?
Namun, jika persatuan karena pemahaman tentang kehidupan (ideologi), maka mereka akan tetap bersatu meskipun kepentingannya, nasibnya, dan bangsanya berbeda-beda. Di dunia ini ada tiga ideologi, yaitu kapitalisme, sosialisme dan islam. Dua ideologi (kapitalisme dan sosialisme) digagas oleh manusia yang penuh dengan kepentingan pribadi, kelompok dan bangsanya, hanya ideologi islam yang datang dari Tuhan pencipta alam.
Dalam islam orang tak akan pusing dengan siapa yang jadi pemimpin, apakah bangsa jawa, bangsa arab, bangsa cina, bangsa turki atau yang lain. Yang penting pemimpin itu benar dan menjalankan kepemimpinan seperti ajaran yang mereka pahami, yaitu islam. Ini persis seperti saat kita sholat, kita tak peduli mereka orang mana, bangsa apa, kaya atau miskin, dan lain-lain, yang penting bagi kita selama imam itu menjalankan syarat rukun-nya imam, maka kita tetap akan menjadi makmum yang baik.
Tak ada nasionalisme dalam sholat, juga tak ada nasionalisme dalam islam. Nasionalisme hanya ada pada masyarakat yang masih dibakar sentimen kebangsaannya yang sempit.
Wallahu a'lam

Mesir,Kembali marak Demo Pro Mursi

Sejumlah daerah Mesir menjadi saksi demonstrasi malam menentang kudeta militer yang menggulingkan Presiden Muhammad Mursi dari Ikhwanul Muslimin pada Rabu (24/9/2014), lansir MEMO.

Enam aksi protes berlangsung di Alexandria pada Rabu (24/9) malam, termasuk di Al-Mandara, Al-Muntazah dan Al-Wardian. Slogan-slogan Rabia diangkat dalam rangka menuntut pembebasan para tahanan yang dipenjara oleh otoritas junta Mesir.

Menteri pemerintah mengatakan bahwa Dewan Menteri belum membahas usulan undang-undang yang mengatur aksi protes.

Seorang juru bicara Departemen Kehakiman Mesir mengatakan sebelumnya bahwa departemen mereka bekerja pada amandemen undang-undang yang melarang demonstrasi tanpa izin polisi.

Hukum ini telah memicu kontroversi yang luas sejak rilisnya pada November lalu dan organisasi hak asasi manusia telah menuntut penghapusan hukum tersebut. Keputusan itu digunakan untuk melakukan penangkapan beberapa aktivis politik dan untuk mengeluarkan putusan pengadilan terhadap mereka.

AS Serang Suriah, Atas nama ISIS Ini senjata Andalanya

Amerika Serikat dan para sekutunya, termasuk negara-negara Arab, telah meluncurkan serangan perdana ke Suriah untuk melawan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada Selasa, 23 September 2014. AS menggunakan beberapa perangkat keras militer yang paling canggih dan menyerang selama lima jam.

Dikutip dari Time, Selasa, 23 September 2014, sebanyak 47 rudal Tomahawk telah diluncurkan oleh kapal USS Arleigh Burke dari Laut Merah. Rudal dengan jangkauan 1.700 kilometer ini merupakan "senjata pamungkas" militer AS sejak Perang Teluk pada 1991 silam. (Baca: AS dan Sekutu Arab Mulai Gempur ISIS di Suriah)

"Target Tomahawk adalah array komunikasi ISIS yang terletak di atap bangunan. Tomahawk telah merusak sebagian besar array komunikasi," kata Direktur Operasi Kepala Staf Gabungan dari Angkatan Darat, Letnan Bill Mayville.

Serangan lainnya berasal dari boomber B-1, F-15, dan F-16. Dari pesawat tersebut beberapa rudal digunakan untuk menyerang markas, tempat pelatihan, barak, dan kendaraan tempur.

Namun, di antara semua senjata mematikan itu, "bintang utama" senjata AS adalah pesawat Angkatan Udara AS, F-22. Pesawat fighting-boomber ini telah beberapa kali menyerang daerah Raqqa, yang diyakini sebagai markas ISIS.

"Ini adalah kali pertama F-22 digunakan untuk berperang. Di dalam F-22 terdapat banyak amunisi yang siap diluncurkan dan dapat dipandu dengan GPS," kata Mayville.

Serangan terakhir datang dari pesawat F-18. Pesawat induk dari USS George HW Bush ini difokuskan untuk menyerang tempat logistik ISIS. Mayville melaporkan F-18 telah berada di lokasi yang ditargetkan. (Baca: ISIS: Serangan Udara AS Tak Berguna)

"Sebanyak 96 persen dari senjata yang digunakan adalah senjata yang akurat dan dapat dipandu," kata Mayville.

Hingga saat ini belum diketahui berapa serangan yang telah dilancarkan oleh AS. Namun, sejumlah negara Arab, seperti Bahrain, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, dilaporkan telah meluncurkan bom dan rudal dari pesawat. Hanya Qatar yang belum melancarkan serangan sejak "perang" berlangsung kemarin.

Densus Tembak Mati Muslim Shalat Ashar, Jubir HTI: “Kedzoliman Luar Biasa !”


 Prilaku biadab Densus 88 yang menembak mati seorang Muslim yang sedang shalat ashar berjamaah bersama istrinya di Dompu, membuat marah berbagai pihak termasuk Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto.
“Kurang ajar sekali Densus ini! Ini kan kedzaliman yang luar biasa!” tegasnya kepada mediaumat.com, Rabu (24/9) melalui telepon selular.
Dalam rangka menjaga agar Indonesia seolah-oleh banyak teroris, Ismail menyatakan Densus sudah semakin membabi buta. Demi momentum tersebut, akhirnya mereka menggunakan berbagai cara. Dulu mereka mengatakan bahwa mereka harus menembak karena teroris ini mengancam dan bawa senjata. Sekarang, mereka mengambil tindakan untuk orang yang bahkan baru terduga.
“Lalu, menembak mati orang yang tidak terindikasi mengancam, bahkan terakhir yang shalat ashar, mengancam apa coba?” tanyanya penuh heran.
Menurutnya, kalau Densus tidak melakukan tindakan yang propokatif tidak akan melahirkan teror baru maka tidak akan ada lagi teroris. Sebab kalau tidak ada lagi teroris, sudah tidak relevan lagi program pemberantasan teroris, dan tidak relevan lagi keberadaan institusi-institusinya sehingga Densus 88 dan BNPT dibubarkan dan dananya distop. Makanya, Densus berulang kali melakukan pembunuhan di luar jalur hukum.
Bubarkan Densus
Banyak pihak seolah diam dengan setiap kebiadaban yang dilakukan Densus, menurut Ismail, karena mereka menganggap yang dilakukan Densus sudah benar. Ya, mereka percaya dengan alibi Densus yang disiarkan berbagai televisi secara berulang-ulang bahwa mereka itu akan menyerang Densus, jadi Densus dianggap hanya sedang membela diri.
Hal itu diperparah dengan tidak disiarkannya informasi pembanding dari pihak keluarga korban kebiadaban Densus atau saksi mata. “Kami pun yang sudah mendapatkan informasi akurat dari pihak keluarga, sudah memberitakannya di media kami, mengadakan konferensi pers dan bahkan sampai audiensi dengan pihak kepolisian, tapi nampaknya belum dapat membuat Densus jera,” ungkapnya.
Maka, lanjut Ismail, umat tidak boleh tinggal diam, umat harus menuntut keadilan. “Kedzaliman Densus 88 sudah terlalu banyak, maka umat harus menuntut Densus 88 dibubarkan dan oknumnya diadili,” pungkasnya.
Densus 88 menembak mati warga Dompu Nurdin saat dia sedang shalat Ashar berjamaah di rumah orang tuanya di Desa O’o, Kecamatan Dompu, NTB, Sabtu (20/9).
“Kami sekeluarga sangat terpukul dan tidak terima dengan cara Densus, karena saat itu aku dan suamiku sedang shalat berjamaah di rumah mertuaku. Kami shalat berdua, dan beliau imamnya, namun beberapa saat kemudian Densus langsung masuk dengan menendang pintu rumah dan langsung menembak suamiku yang sedang shalat, kepala pecah dengan otak berserakan serta bagian leher tembus oleh peluru,” ungkap istri almarhum Nurdin. (mediaumat.com, 25/9/2014)

Tentang Iedul Adha, Puasa Arafah dan Metode Menentukanya

Pemerintah Arab Saudi sudah menetapkan, bahwa hari ini Kamis 25 September 2014 sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, artinya 10 Dzulhijjah 1435 H bertepatan dengan Hari Sabtu, 04 Oktober 2014. Artinya Ied ‘Adha 1435 (10 Dzulhijjah) bertepatan Hari Sabtu 04 Oktober 2014 dan hari wuquf di ‘Arafah atau hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) bertepatan dengan hari Jum’at 03 Oktober 2014
Mengenai penetapan Ied ‘Adha ini berbeda dengan Penentuan Awal Ramadhan yang memang penetapannya berbeda-beda tergantung madzhab yang digunakan. Dalil Penentuan Awal Dzulhijjah ini berbeda karena kewenangan menentukannya khusus diberikan pada penguasa Makkah yang mengurusi Haji.
Nabi bersabda, ”Haji itu ‘Arafah” (HR Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)
Dan ‘Arafah itu berlokasi di Makkah, karenanya hari ‘Arafah adalah hari dimana kita melihat jamaah haji berwuquf, maka di hari itulah disunnahkan berpuasa ‘Arafah. Karena wuquf yang berhaji itu hanya di ‘Arafah, maka puasa ‘Arafah itu terkait tempat dan waktu, yaitu saat wuquf, bukan selainnya.
Adapun sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah ini (25/09/14 – 04/10/14), maka beramal baik di dalamnya sangat disunnahkan
Nabi saw bersabda, ”Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah). Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”. Beliau menjawab “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”. (HR Bukhari)
Tentang puasa ‘Arafah, banyak pula dalil yang menyatakan keutamannya, yaitu berpuasa saat jama’ah haji wuquf di padang ‘Arafah.
Saat Rasulullah ditanya tentang puasa ‘Arafah, beliau menjawab, ”ia menghapus dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang” (HR Muslim)
Doa-doa juga sangat maqbul di hari ‘Arafah.
Nabi bersabda, ”sebaik-baik doa adalah doa hari ‘Arafah..” (HR Tirmidzi)
‘Arafah juga hari dimana Allah memberikan ampunan yang meluas bagi hamba-hamba-Nya
Nabi saw menyampaikan, “tiada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari ‘Arafah” (HR Muslim)
Bagaimana bila penetapan hari ‘Arafah dan hari ‘Ied berbeda antara ketetapan pemeintah Indonesia dan pemerintah Arab Saudi yang menyelenggarakan haji? Jawabannya sebagaimana yang sudah saya sampaikan diatas, karena haji itu di ‘Arafah, maka mestilah mengikuti ketetapan pemerintah Arab sebagai penyelenggara haji.
Mengapa?
1. Bila rakyat Indonesia semuanya mesti mengikuti ketetapan pemerintah Indonesia, lalu bagaimana dengan jama’ah haji Indonesia di Arab Saudi? apakah mereka wuquf dan ‘Ied mereka mengikuti keputusan pemerintah RI lau berbeda dengan jama’ah haji di Makkah? tentu tidak sah.
2. Berpuasa pada dua hari raya (‘Ied Fitri dan ‘Ied Adha) adalah haram, maka saat jamaah haji sudah shalat ‘Ied (sudah 10 Dzulhijjah), sementara kita di Indonesia masih berpuasa ‘Arafah (masih 9 Dzulhijjah), bukankah ini aneh? Padahal secara zona waktu, kita lebih dulu 4 jam daripada Arab Saudi. Lagipula, namanya juga puasa ‘Arafah, artinya puasa saat jama’ah haji berwuquf di ‘Arafah, bila jama’ah haji sudah shalat ‘Ied, lantas puasa kita bukan lagi puasa ‘Arafah, namun puasa ‘Ied
Jadi, penetapan awal Dzulhijjah yang mengikuti keputusan pemerintah Arab Saudi bukan perkara apapun, selain perkara dalil. Karena hak penentuan itu sudah terlisan oleh Rasulullah, “Haji itu ‘Arafah”
Namun, adapun bila ada perbedaan dalam menyikapi perihal ini, misal “Mestikah Puasa ‘Arafah Ikut Hari Wukuf di ‘Arafah? Bolehkah Berbeda Dengan Pemerintah Arab Saudi Selaku Penyelenggara Hajji Dalam Menetapkan Hari ‘Arafah”? Tentu kita kembali dalam penyikapan terhadap hukum ikhtilaf (perbedaan pendapat). Bila ada dalilnya (hujjah/argumen), maka disilakan. Bila sudah berhujjah, tak lagi perlu berhujat.
Yang harus benar-benar disadari dan dipahami, bahwa perbedaan ini dimungkinkan terjadi justru karena tidak adanya halangan politis, tidak adanya persatuan dan kesatuan di negeri-negeri Muslim, bukan disebabkan oleh perkara-perkara yang bersifat teknis. Karena banyaknya negeri-negeri Muslim, maka semua berdalil mengikuti ulil amri (pemerintah) masing-masing.
Hal ini tidak akan terjadi bila kaum Muslim berada dalam kepemimpinan Islam yang satu, di bawah kepemimpinan Khilafah Islam. Bila hanya satu Khalifahnya, tentu tidak ada perbedaan lagi diantara kaum Muslim dalam menetapkan apapun, termasuk penetapan Awal Ramadhan dan Awal Dzulhijjah.
InsyaAllah, dalam waktu dekat Khilafah Islam yang berjalan diatas manhaj kenabian akan bangkit kembali, dan mengatur seluruh kaum Muslim berdasarkan Kitabullah dan Sunnah, menyatukan perbedaan dan merekatkan ukhuwah diantara kaum Muslim.
Selamat menambah ibadah di 10 hari Dzulhijjah ini | juga siapkan untuk berpuasa di hari ‘Arafah 9 Dzulhijjah, saat jama’ah haji wuquf.

Benarkah Hizbut Tahrir Mendewakan Akal?


Banyak orang yang mengatakan bahwa HT itu terlalu mendewakan akal. Ada juga yang mengatakan bahwa HT itu muktazilah gaya baru, yang menempatkan akal di atas hukum syara'. Ada juga yang mengatakan bahwa HT itu aqlaniyyun. Dan masih banyak lagi ungkapan yang senada.
Saya sendiri tidak tahu, apa motif di balik itu, sehingga orang-orang berkata demikian. Saya hanya husnudzdon, bahwa mereka berkata begitu karena sangat perhatian dengan HT. Seandainya mereka salah paham itu wajar, karena kitab HT itu sangat banyak dan pembahasan sangat mendalam (daqiq), sehingga kalau hanya mendengar informasi yang tidak utuh, biasanya memang menimbulkan salah paham.
Pembahasan tentang akal dan peranannya, membutuhkan pembahasan yang panjang lebar. Di sini, saya akan membahas secara ringkas. Pembahasan ini dibagi dalam tiga bagian, yaitu 1. Tentang akal sebagai anugerah Allah 2. Definisi akal dan batasannya 3. Teknik menilai sesuatu (benda dan perbuatan).
1. Akal itu anugerah dari Allah yang luar biasa. Perbedaan manusia dengan hewan, adalah karena manusia dianugerahi akal, sementara hewan tidak. Karena itu, anugerah akal ini harus disyukuri dan dimanfaatkan secara optimal dengan cara-cara yang diridloi Allah. Allah sangat mendorong manusia menggunaka akalnya dan sangat membenci orang-orang yang tidak menggunakan akalnya. Bahkan Allah berfirman: "Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal" (QS. Al Baqoroh 269). "Sesungguhnya terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal" (QS. Al baqoroh 164). Dan ada ratusan ayat yang semisal dengan itu yang mendorong manusia memanfaatkan anugerah akalnya secara optimal. Namun, sebagaimana anugerah yang lain, akal ada batasnya. Sehingga akal harus dioperasikan pada wilayahnya, dan tidak boleh dioperasikan di daerah yang berada di luar kapasitasnya.
Jika itu terjadi, akal akan mengalami hang.
2. HT telah membahas definisi akal atau proses berpikir secara panjang lebar dalam satu kitab khusus yang berjudul Attafkir (bukan attakfir) karya Syeikh Taqiyuddin. Dari kajian itu, akal atau proses berpikir didefinisikan sebagai "Proses pemindahan gambaran dari suatu objek atau kenyataan (al waqi') ke dalam otak melalui penginderaan oleh panca indera, lalu diproses oleh otak dengan menggunakan informasi sebelumnya (yang tersimpan di otak), sehingga obyek atau kenyataan tersebut dapat ditafsirkan". Dari definisi itu, harus ada 4 komponen dalam proses berpikir: a. Obyek atau fakta yang terindera 2. Indra 3. Otak 4. Informasi yang tersimpan di otak.
Dengan definisi itu, mestinya kita langsung tahu potensi dan batasan akal. Akal hanya bisa bekerja pada fakta terindra, di luar itu akal sudah tak mampu. Sehingga masalah surga, neraka, halal, haram, malaikat, dan masalah gaib lainnya, semua itu di luar kemampuan akal manusia.
3. Bagaimana teknik menilai sesuatu (benda dan perbuatan)? Dalam hal ini HT telah membahas panjang lebar dalam kitab asy syakhsiyah al islamiyah juz 3. Ketika membahas hal ini, HT mengklasifikasikan dalam tiga kriteria.
a. Penilaian sesuatu berdasarkan faktanya. Maka dalam hal ini, HT menjelaskan bahwa akal merupakan alat utama untuk memberikan penilaian. Saat kita ditanya, apa warna jambu? tentu kita tidak perlu merujuk kepada nash-nash syara'. Kita cukup dengan melihatnya dan mengunakan akal kita. Lalu kita jawab: jambu itu warnanya merah, misalnya. Contoh lain, siapakah dalang dibalik penyerahan blok cepu? Tentu kita tak perlu mencarinya di alquran atau alhadits, tapi kita cukup mencarinya dari fakta-fakta politik dan kita analisis menggunakan akal sehat kita.
b. Penilaian sesuatu berdasarkan kesesuaian dengan tabiat dan fitrah manusia. Dalam hal ini, menurut HT, penilaiannya dikembalikan pada manusia. Seandainya kita ditanya, bagaimana rasa masakan dia? Tentu kita tidak perlu susah payah merujuk pada alquran atau assunnah. Cukup kita rasakan, lalu kita berikan penilaian menurut selera kita.
3. Penilaian berdasarkan halal dan haram. Dalam hal ini, HT berpandangan halal dan haram itu di luar jangkauan manusia. Sebab halal dan haram itu hubungannya dengan surga dan neraka yang berada di luar jangkauan manusia. Karena itu, kita hanya bisa menilai berdasarkan informasi dari Dzat Yang Maha Tahu, yaitu Allah. Informasi itu tertuang dalam alquran dan assunah. Bagaimana hukum makan babi? Bagaimana hukum jual beli? Bagaimana hukum riba? Bagaimana hukum nikah? Bagaimana hukum zina? Dll. Semuanya hanya kita tahu dari alquran dan assunnah. Maka dalam hal ini, HT hanya sami'na wa atho'na. Akal tak berdaya. Akal hanya digunakan untuk memahami nash alquran dan assunnah. Akal tak boleh lancang, dan ikut-ikutan menjadi sumber hukum.
Inilah pemahan HT tentang akal dan posisinya. Apakah menurut Anda, HT itu mendewakan akal. Semua terserah Anda.
Wallahu a'lam.

PILIH INDONESIA ATAU KHILAFAH?

Ketika ditanyakan kepada seorang muslim di Indonesia, pilih Indonesia atau Khilafah? Ada sebagain yang karena cintanya kepada Indonesia, dengan mantap dia memilih Indonesia. Sebagian lagi, karena kerinduannya pada Khilafah, tanpa ragu-ragu dia memilih Khilafah. Ada sebagian lagi yang bingung, dia mengatakan, pilihan ini seperti buah simalakama, di satu sisi mau pilih Indonesia tapi dia mehamai wajibnya khilafah, di sisi lain mau pilih Khilafah padahal ia tinggal di Indonesia. Ia lalu mengatakan, ini merupakan pilihan yang sangat sulit, seperti sulitnya menjawab mana yang lebih dulu ayam atau telur? Tiga jawaban itulah kira-kira yang banyak ditemukan. Tetapi di saat ketidak-jelasan mana jawaban yang benar, kemudian yang milih Indonesia dianggap sebagai orang yang nasionalis. Dialah yang dianggap sebagai pewaris sah Indonesia. Dialah yang layak menentukan siapa yang boleh hidup di Indonesia, dan siapa yang tidak layak di Indonesia. Dialah yang berwenang menentukan arah perjalanan Indonesia. Bahkan, dialah yang boleh berbicara tentang Indonesia. Dialah orang yang paling Indonesia. Dialah orang yang “darah” dan “tulang”nya adalah Indonesia, yang “tanah”, “air” dan “udara”nya adalah Indonesia, atau dengan bahasa puitis, yang “tumpah darah”nya adalah Indonesia. Sementara yang bingung dan tidak menjawab, dianggap sebagai orang bijak. Orang yang tidak milih dan bingung tadi, dianggap lebih berhati-hati, tidak fanatik, lebih berimbang, lebih fair, lebih toleran, lebih akomodatif, tidak ekstrim kiri atau kanan. Dia tidak diberi hak menentukan arah Indonesia, seperti para nasionalis, tapi dalam beberapa hal pendapatnya perlu didengarkan karena dia adalah orang yang moderat dan memiliki sikap “baik” lainnya yang layak untuk kebaikan Indonesia. Sementara yang milih Khilafah dianggap sebagai orang yang berbahaya. Lalu, dia dikatakan sebagai orang tidak punya rasa kebangsaan, yang tidak ingin kebaikan dan kemajuan Indonesia. Sebagian dikatakan sebagai orang yang naïf, dengan pikiran sempit, dan tak berperadaban. Sebagian dikatakan sebagai fundamentalis yang gagap dengan modernitas. Sebagian dikatakan sebagai orang yang tidak bisa menerima kenyataan dan lebih suka berhayal tentang romantisme historis. Sebagian dikatakan sebagai teroris, yang matinya “lebih baik” dari hidupnya. Mereka dianggap bukan Indonesia, meski “darah”nya “tumpah” di Indonesia saat kelahirannya, dan “tumpah” di Indonesia saat kematiannya di tangan para algojo Indonesia. Lalu, diopinikan, seakan-akan bangsa dan islam itu dua hal berbeda yang harus berhadap-hadapan. Padahal, jika dipahami dengan benar, pertanyaan ini sebenarnya tidak ada jawabannya, karena memang bukan pertanyaan pilihan. Atau jika tetap dijawab dengan anggapan itu adalah sebuah pertanyaan pilihan, maka jawabannya sangat mudah. Jawabannya adalah Indonesia dan Khilafah. Jawabannya menggunakan “dan”, bukan “atau”, sebab pertanyaannya bukan pertanyaan pilihan. Pertanyaan ini, sebetulnya seperti ini, pilih istri cantik atau sholihah? Ini sebenarnya bukan pertanyaan pilihan, karena cantik dan sholihah, itu bukan pilihan? Sebab, cantik dan sholihah itu bisa digabung, cantik sekaligus sholihah. Makanya saat masih sekolah, ditanya pak guru, jawaban semua siswa laki-laki kompak. Sungguh, mereka adalah siswa yang cerdas!. Ini berbeda dengan pertanyaan, pilih cantik tapi tidak solehah atau kurang cantik tapi sholehah? Ini pertanyaan pilihan, meski cantik atau kurang cantik, itu sangat subjektif. Pertanyaan diatas, juga seperti ini, pilih tinggal di Semarang atau kaya? Ini jelas bukan pertanyaan pilihan, memangnya di Semarang tidak bisa kaya? Atau kalau di luar Semarang apakah pasti kaya? Ini berbeda dengan pertanyaan, pilih di Semarang atau di Surabaya? Nah, ini adalah pertanyaan pilihan. Kembali ke pertanyaan, pilih Indonesia atau Khilafah? Ini bukan pertanyaan pilihan. Indonesia dipahami sebagai nama tempat atau nama bangsa, sementara Khilafah adalah nama sistem pemerintahan. Kenyataannya, Indonesia dalam sejarah pernah menganut sistem pemerintahan berbentuk kerajaan, lalau sekarang menganut sistem pemerintahan republik-demokrasi. Dan keduanya terbukti tidak mengantarkan pada keadilan dan kesejahteraan bagi Indonesia. Bangsa dan daerah lain, Turki misalnya, pernah menganut system kekaisaran, pernah menganut system khilafah dan sekarang system republic. Dan terbukti, saat menganut system khilafah turki menjadi sangat maju dan masyarakat adil-makmur, sementara setelah menganut system republic (turki modern), juteru menjadi kacau balau. Maka, Indonesia dan Khilafah bukanlah pilihan. Indonesia bisa menjadi Khilafah, sehingga menjadi bangsa yang adil-makmur. Ini berbeda dengan memilih berbentuk republic-demokrasi, kerajaan atau khilafah? Nah, ini adalah pertanyaan pilihan. Pilih mana kita? Mestinya, kita harus memilih yang secara empiric, normative mengantarkan masyarakat hidup dalam kesejahteraan dan ridlo Allah, atau dalam bahasa arabnya baldatun thoyyibatun warobbun ghofur. Sangat sulit dicerna, kita ingin diridloi Allah sementara dengan system yang bukan dari Allah. Jika ingin diridloi Allah, pilihannya hanya satu, yaitu menggunakan system yang dari Allah, yaitu khilafah. Mau pilih mana?