Nasional

Dunia Islam

Tsaqofah

Terbaru

Introspeksi Kebebasan Berekspresi (Bercermin Pada Kasus Inul)



Dakwah Media - Advokat Peduli Ulama melaporkan pedangdut Inul Daratista ke Polda Metro Jaya. Inul dilaporkan atas komentarnya di Instagram yang dianggap menghina ulama. Pantauan detikcom, di Mapolda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman Kavling 55, Jakarta, Senin (27/3/2017), Advokat Peduli Ulama tiba sekitar pukul 15.15 WIB. Mereka datang untuk melaporkan Inul dengan Pasal 310-311 KUHP dan UU ITE Pasal 28. "Pasal 310-311 KUHP, dengan UU ITE Pasal 28, yang mau kita laporkan," ujar salah seorang anggota Advokat Peduli Ulama, Dahlia Zein. (https://news.detik.com/berita/d-3458070/dianggap-hina-ulama-inul-daratista-dilaporkan-ke-polda-metro)

Berikut adalah kutipan komentar Inul di Instagram miliknya yang telah tersebar luas di media sosial:
Yg sok alim dan oraknya di dengkul pasti mikirnya agama gak mikir beliau gubernur bpk kita semua' hahahhaa aku seh gak lihat beliau lg nyalonin lagi ... aku cuma bayangin yg pake syurban bisa mojok ama wanita sambil main sex skype itu piyeee critane bisa jadi panutan ???! Jgn merusak moral kita soal Rasis-Sara-dan agama ' aku gak main politik tp aku cukup bangga duduk berdampingan org yg menjaga jakarta saat ini' dan aku tak ikut campur urusan politik krn bukan bidangku !!! Klo org yg mau ceramahin aku akan sy block dn pastinya yg gak suka silahkan unfollow ' krn aku bukan kerugian sm org yg otak pikiran didengkul ' sekali lagi saya org yg nasionalismenya tinggi .!!! Yg koment apekkk tak block !!! Sorry,". (http://www.jawapos.com/read/2017/03/28/119265/ini-komentar-instagram-inul-yang-dituding-menghina-ulama)

Kebebasan Kebablasan

Setiap manusia yang waras harus mengakui bahwa kebebasan untuk menghina jauh lebih buruk dan lebih drastis. Kebebasan ekspresi yang kebablasan membuat publik menjadi sangat cemas. Para pendukung kebebasan berbicara menganggap ini merupakan hak untuk menolak ketidakadilan dan kejahatan yang terjadi di masyarakat dan dalam dunia politik. Namun dalam kasus ujaran yang menghina dari artis ini, minus argumen yang disajikan yang beradab dan juga tidak memberikan kontribusi bagi masyarakat untuk bersikap arif. Hal ini bisa menciptakan api fitnah dan kebencian.

Kasus Inul adalah sebuah potret kecil dari sebuah sistem negara yang selalu membanggakan kebebasan berbicara, cermin sebuah kultur barat yang sangat bangga dengan sebutan masyarakat demokrasi. Sementara seruan untuk melawan penjajah dianggapseruan terhadap kebencian, seruan untuk menentang penjajahan Zionis Israel dianggap seruan kebencian, Seruan untuk menerapkan syariah Islam dan Khilafah tanpa kekerasan dianggap sebagai seruan kebencian.

Secara lebih jauh terdengar seperti paradoks, kebebasan berbicara yang dianggap sebagai hak konstitusional. Lalu mereka berpolemik berputar-putar seputar pengaturannya. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan para pendukung kebebasan berbicara tidak yakin atas ide ini dan ini menunjukkan demokrasi sangat ambigu. Maka dari itu, sudahlah kita sudah tidak percaya dengan gembar gembor kebebasan berekspresi, yang membawa masyarakat menuju ke titik yang rendah. Para propagandis liberalisme itu tengah menuai hasil yang mereka tanam sendiri.

Termasuk sikap hipokritme kebebasan berujar dan supremasi hukum demokrasi yang ditunjukkan secara gamblang pada kasus Ahok, akan semakin mempertebal ketidakadilan. Percayalah dengan sikap hipokrit ini masalah tidak akan pernah selesai. Ini justru akan semakin menimbulkan luka dan kemudian akan menimbulkan pertentangan yang lebih dalam. Karena persoalan ditanggapi dengan cara yang tidak benar maka akan menimbulkan persoalan baru.

Oleh: Ainun Dawaun Nufus (Pengamat Sospol)

Panji Rasulullah Adalah Cermin Aqidah Umat, yang Menyatukan Umat Islam Dalam Kesatuan



Dakwah Media - Perang peradaban yang dipimpin oleh negara-negara Barat terhadap Islam adalah phobia tegaknya kembali negara Islam. Negara-negara besar menggunakan cara-cara barbarisme dan permusuhan ini untuk memprovokasi masyarakat agar memusuhi kaum Muslim, serta berusaha untuk mengaburkan hukum-hukum Islam dan citra kaum Muslim. Barat berkomitmen untuk melestarikan tindakan barbar dan nilai-nilai tercela.

Kebohongan seruan-seruan kebebasan yang senantiasa diteriakkan oleh negara-negara Barat, dan kegagalannya dalam mempraktekannya di depan kaum Muslim. Semua ini menegaskan bahwa seruan untuk kebebasan, terutama kebebasan beragama adalah seruan yang bertujuan untuk memerangi Islam dan mencabutnya dari hati kaum Muslim.

Tampak jelas pula bahwa memerangi Islam atas nama ekstremisme dan terorisme hanyalah pembenaran bagi berbagai politik dalam dan luar negeri negara-negara Barat. dengan semua ini negara-negara Barat berusaha untuk menciptakan jurang antara masyarakat di Barat dengan Islam. Rezim-rezim kufur Barat menjauhkan masyarakat Barat untuk dapat merasakan keadilan Islam. Padahal hanya Islam mampu meyakinkan akal dan sesuai dengan fitrah.

Sesungguhnya cahaya Islam yang agung akan menyingkirkan kegelapan peradaban Kapitalisme yang telah mengacaukan tatanan kehidupan dunia. Anda harus optimis, saat ini peradaban Barat benar-benar telah bangkrut meskipun negara-negara besar yang mengembannya memiliki kekuatan materi yang luar biasa dan mengontrol media-media lokal dan internasional. Peradaban Islam berabad-abad lamanya telah menyinari dunia dengan keadilannya. Bahkan hal itu disaksikan sendiri oleh kawan dan lawan.Islam mewajibkan seorang muslim untuk membela saudaranya muslim sampai ia merasa gembira karena kegembiraan saudaranya dan menderita karena derita saudaranya.

Islam tidak mempercayai ide-ide fantasi Barat. Islam menetapkan bahwa kehidupan, kehormatan, darah, kekayaan, agama, ras dan pikiran harus dilindungi oleh Negara Islam. Semua warga Khilafah dijamin hak-hak atas hal-hal itu, terlepas dari apakah mereka Muslim atau non-Muslim. Islam juga melindungi hak-hak non-Muslim untuk beribadah tanpa takut diintimidasi atau fitnah atas kepercayaan mereka. Oleh karena itu, terlarang bagi seorang Muslim untuk menghina kepercayaan non-Muslim, menumpahkan darah mereka, membahayakan tempat ibadah mereka dan menodai harta milik mereka.

Dalam perjuangan menuju kemenangan, sikap umat Islam haruslah mengangkat panji Islam, serta menolak cara-cara rezim sekuler dan kezalimannya. Umat Islam harus sadar pentingnya persatuan dan membangun sikap politik atas dasar “Lā Ilāha Illalllāh, tidak ada Tuhan selain Allah”, dengan meninggikan rāyah (bendera)-nya di atas bendera-bendera dan simbol-simbol lainnya, menjadikan bendera (tauhid) ini sebagai standar persatuan Islam.

Al-Liwâ’ berwarna putih, bertuliskan Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh warna hitam. Al-Liwâ’ diberikan kepada panglima (amir) pasukan atau komandan pasukan dan menjadi pertanda posisinya. Al-Liwâ’ berpindah-pindah mengikuti posisi panglima atau komandan itu. Dalil pemberian al-Liwâ’ kepada amir pasukan:

Nabi saw memasuki Mekah pada waktu Fathu Mekah dan liwâ’ beliau berwarna putih (HR Ibn Majah dari jalur Jabir)

Ar-Râyah berwarna hitam, bertuliskan Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh warna putih. Ar-Râyah ada bersama para komandan divisi pasukan (batalyon, kompi, dan unit lainnya). Dalilnya, bahwa Rasul saw. di mana beliau adalah amir pasukan di Khaybar, bersabda:

Sungguh aku berikan ar-Râyah besok kepada seorang laki-laki yang melalui tangannya akan ditaklukkan (benteng), ia mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya … lalu Beliau memberikannya kepada Ali ra. (Muttafaq ‘alayh).

Hendaknya janganlah umat terjebak oleh intrik dan penipuan yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah. Sebab Allah SWT membela orang-orang yang beriman: “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (TQS. Al-Hajj [22] : 38). Kita harus menyadari akan keburukan Barat, para pemikir dan media-medianya, serta mengerti dengan pasti akan niat buruknya terkait apa yang mereka promosikannya. Ketika mereka membuat solusi, selalu memprioritaskan kepentingannya dengan tujuan memperkuat hegemoni, intimidasi, memperkuat pengaruh para pemilik modal dalam menghadapi kerusakan permanen meski harus mengorbankan pihak-pihak yang lemah di antara mereka.

Panji (ar Rayah) Rasulullah (Saw), adalah cermin aqidah umat, yang menyatukan umat Islam dalam kesatuan, Negara Khilafah yang berjalan pada metode kenabian yang memegang kemuliaan dan keridhoan dari Tuhan mereka. Tekad umat Islam untuk terus berjuang merealisasikan kehidupan Islam dalam tatanan syariah menjadi ekspresi dari kesatuan umat yang ingin menyingkirkan hegemoni kolonialisme Barat, dan alat-alatnya dari para penguasa pengkhianat.

Ketika Anda mendengar pepatah “jarum jam tidak akan berputar kembali ke belakang”. Sementara, kita melihat kereta kembalinya Islam sedang mendekat dengan cepat dengan tegaknya Khilafah yang akan mengibarkan bendera al-uqāb, yang disulam dengan darah, umur, tenaga dan keikhlasan para pengemban dakwah. Khilafah akan memaksa setiap penguasa agar berlaku adil, dan menerapkan hukum-hukum Allah. Sehingga manusia akan hidup bahagia, jauh dari kezaliman, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Kaum Kafir penjajah takut mendengar kata al-Khilafah Rasyidah apalagi pendiriannya. dalam konstelasi politik internasional mulai merasakan bahwa ajalnya sudah dekat. Selanjutnya akan berkibar rāyah (bendera) al-‘uqāb, bendera Rasulullah saw. membersihkan bendera-bendera perpecahan. Ya, hanya rāyah (bendera) al-‘uqāb saja yang akan dikibarkan, bukan bendera imperialisme. dan Khilafah akan datang dengan keadilan dan kemuliaan dalam waktu dekat, dari sisi yang tidak mereka perkirakan, atas izin Allah mengulangi yang terjadi pada kisah-kisah mereka dahulu:

dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (QS al-Hasyr [59]: 2)

Oleh: Umar Syarifudin 

Melepaskan Diri Dari Subordinasi Serta Sifat Mengantek Kepada Barat



Dakwah Media - Fakta dunia hari ini, penuh problem kronis akibat kerakusan kapitalisme, dari mulai kelaparan, korupsi, pengusiran kaum muslim, human trafficking, penyalahgunaan obat bius, kemiskinan di berbagai belahan dunia, eksploitasi anak dan perempuan, hegemoni Negara adidaya dan segudang masalah lain. Secara singkat posisi Barat terhadap kaum Muslim serta perlakuannya terhadap mereka, tampak sekali bahwa keadaan kaum Muslim hari ini telah sampai pada level yang paling rendah. Semua fakta tersebut membutuhkan penyelesaian secara terintegrasi/menyeluruh,baik dari sudut pandang masalah atau sudut pandang solusi. Kaum muslimin harus tetap optimis.

Menurut David Mason dalam bukunya, Akhir Abad Amerika, “Amerika tidak lagi berada dalam puncak kepemimpinan setelah menikmati puncak keemasan selama 50 tahun terakhir. Kini negeri ini telah bangkrut. Kita tidak lagi memimpin dalam politik, ekonomi dan sosial. Kita tidak lagi dikagumi orang dan tidak menjadi panutan pertumbuhan ekonomi dan pengembangan politik seperti dulu. Jadi ini adalah pergeseran global baik bagi AS dan dunia.”

Setelah keruntuhan Uni Soviet, kekuatan Barat membutuhkan Islam sebagai musuh baru  dan musuh eksternal untuk menggalang orang-orang Barat mecetuskan Perang Salib baru. Umat Islam dalam keadaan lemah sehingga mudah dituduh dan dilabeli teroris. Serangan 9/11  direncanakan dan dilaksanakan oleh CIA untuk menjustifikasi agresi Amerika untuk mencapai hegemoni global dengan alasan perang melawan terorisme. Sikap ini digunakan untuk menyerang dan menduduki Afganistan dan Irak. Ketika kebohongan tuduhan tentang senjata pemusnah massal Irak terungkap, pemerintah Amerika berubah haluan dengan menyatakan bahwa tujuan dari perang di Irak adalah untuk mempromosikan demokrasi, bukan untuk mencari senjata pemusnah massal. Ya, keruntuhan Kapitalisme akan terjadi cepat atau lambat, sebagaimana Sosialisme; karena asasnya telah rusak, demikian pula berbagai sistem kehidupan yang dibangun di atas asas itu.

Meskipun umat islam telah dikalahkan dan Khilafah dihancurkan, cahaya iman keislaman sebagai ideologi masih belum padam dari jantung dan pikiran sebagian mereka yang ikhlas. Ulama dan pemikir berusaha membangkitkan umat melalui dakwah, membangun gerakan untuk meredam arus pembusukan umat serta mengembalikan kemuliannya dengan menerapkan Islam sebagai pandangan hidupnya. Hari ini umat Islam menolak model sekular Barat dan menyadari untuk kembali ke Islam. Berbagai survey dari tahun ke tahun, termasuk yang dilakukan oleh Pew Forum, menunjukan prosentase yang besar dari umat Islam di banyak negara bahwa mereka menginginkan syariah menjadi hukum resmi negara.

Perlu dipahami, musuh-musuh Islam sesungguhnya tidak akan pernah kasihan kepada kita. Mereka tidak pernah mengharapkan kebaikan untuk Islam dan umatnya. Agama kufur sejatinya hanya satu. Mereka semua telah melepaskan anak panahnya kepada kita dari busur yang sama. Bukti-bukti akan hal itu sangatlah banyak. Di antaranya, kaum Kafir telah memposisikan kita dalam sangkar tuduhan dusta dan bohong terhadap agama dan Nabi kita yang mulia melalui mulut para orientalis, media massa serta lembaga-lembaga Barat; baik politik maupun keagamaan. Dengan penuh kebohongan, Islam dituduh sebagai agama yang keras, keji, ekstrem dan pembunuh. Selain itu ada tuduhan-tuduhan bohong dan predikat yang sangat memalukan yang diarahkan pada kaum Muslim, seperti tidak memiliki harga diri, oportunis, fundamentalis, teroris, gemar menzalimi dan beberapa tuduhan-tuduhan lain. Semua itu merupakan tuduhan yang dibuat-buat.

Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta (QS al-Kahfi: 5).

Selanjutnya dukungan Barat terhadap setiap penguasa yang zalim, diktator dan penjahat selama masih berjalan sesuai dengan kepentingan mereka. Penguasa diktator semacam ini selalu didukung dan didorong untuk berbuat zalim, merampok, dan mengkorupsi kekayaan umat yang kemudian disimpan di bank-bank Barat.

Tentu, tidak ada yang bisa melawan intrik ini, kecuali negara Khilafah yang tegak di atas metode kenabian, yang mengemban ideologinya kepada umat, sehingga umat sadar terhadap semua konspirasi yang dirancang untuk melawannya, yang bertujuan menghancurkan ideologi sebagai poros penting bagi sistem kehidupannya. Solusi satu-satunya adalah hendaknya kita bersatu dan melepaskan diri dari subordinasi serta sifat mengantek kepada Barat, disertai dengan berjuang menegakkan Daulah Islam. Hendaknya, keyakinan kita kepada Allah sangatlah kuat. Hendaknya seluruh kekuatan yang kita miliki kita gunakan di jalan yang benar menuju penegakan Daulah Khilafah.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (TQS. Al-Anfal [8] : 36).

Oleh: Mahfud Abdullah (Kediri)

Mengkritisi Pernyataan ‘Politik Kalau Dicampurkan Dengan Agama Akan Galak…’



Dakwah Media - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin, berbeda pendapat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait politik dan agama. Menurutnya, politik dan agama tidak bisa dipisahkan harus saling menopang agar kehidupan berbangsa menjadi kuat.

Pernyataan Ma'ruf Amin ternyata berbeda dengan pemikiran Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj. Dia justru sependapat dengan Jokowi jika agama tidak boleh disatukan dengan politik. "Itu pendapat saya kok, tidak ada agama dalam politik dan tidak ada politik dalam agama. Itu pendapat saya," kata Said usai menghadiri acara pelantikan dan peringatan Harlah Muslimat NU ke-71 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (28/3).
"Politik kalau dicampurkan dengan agama akan galak, akan radikal, akan mudah mengkafirkan, akan mudah mengganggap oposan menjadi kafir," pungkas Said. (https://www.merdeka.com/peristiwa/ketua-pbnu-politik-kalau-dicampur-dengan-agama-akan-galak-radikal.html)

Berhati-Hatilah dalam Berujar

Mari kita renungi pelajaran dari kitab Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn, karya Imam al-Mawardi, Umar bin Abdul Aziz berkata: “Siapa saja yang tidak mengalkulasi perkataan dari perbuatannya, maka banyak kesalahannya.” Sebagian ahli hikmah berkata: “Akal seseorang bersembunyi di bawah lisannya.” Sebagian ahli balaghah berkata: “Penjaralah lisanmu, sebelum kamu dipenjara dalam waktu yang lama, atau jiwamu binasa. Tidak ada sesuatu yang lebih utama dari memenjara dalam waktu yang lama terhadap lisan yang sedikit benar, namun banyak bicara.” Abu Tammam ath-Tha’iy berkata: Di antara ahli hikmah mengatakan bahwa lisan seseorang termasuk bayangan hati. Sehingga sebagian ahli hikmah mengurangi kesempatan berbicara, dan berkata: “Apabila Anda duduk bersama orang-orang bodoh (dalam satu forum), maka diamlah. Dan apabila Anda duduk bersama para ulama (dalam satu forum), maka diamlah. Sesungguhnya diammu ketika bersama orang-orang bodoh, maka itu akan menambah kesabaran. Sementara diammu ketika bersama para ulama, maka itu akan menambah pengetahuan (ilmu).

Betapa banyak penguasa yang bekerja dengan hawa nafsu dan pandangannya, bukan dengan ilmu. Lalu mereka sebut itu sebagai politik. Padahal, politik itu adalah syariah. (al-Maqdisi, al-Furu’, juz VI/425)

Masyarakat memilih tokoh-tokohnya karena Islam, yang hari ini Islam telah Anda angkat sebagai slogan. Umat Islam musti tetap waspada dan mawas atas apa yang sedang direncakan atas musuh-musuh Islam dan agen-agen mereka. Tokoh-tokoh muslim hendaknya menjadi suara umat yang tertindas. Mengungkap kebohongan mereka dan menunjukkan penerapan Islam dalam seluruh sendi kehidupan sebagai satu-satunya solusi, bukan malah sebaliknya. Hendaknya tokoh-tokoh kaum muslimin loyal untuk memperjuangkan Islam dalam segala lini kehidupan, menentang sekulerisasi yang memisahkan agama dari kehidupan, termasuk politik, serta tidak terjebak dalam permainan demokrasi berbahaya untuk mencapai kekuasaan dengan mengendarai sistem yang korup saat ini, sebagaimana halnya Nabi SAW yang menolak berpartisipasi dan menggunakan sistem yang korup di Mekkah.

Dengan mengkritik ‘politik kalau dicampurkan dengan agama akan galak, akan radikal, akan mudah mengkafirkan, akan mudah mengganggap oposan menjadi kafir‘, ini termasuk ungkapan pengabaian sejarah peradaban Islam, dimana di bawah Khilafah keadaan menjadi stabil dan memiliki sistem pemerintahan yang memiliki legitimasi di mata rakyatnya. Khilafah merupakan bagian integral dari Islam normatif, dan telah mendapat tempat yang mapan dalam hukum Islam klasik, dan bukan beberapa penyimpangan zaman modern. Penerapan syariah dalam bingkai khilafah bukanlah seperti apa yang kita lihat di Irak, Arab Saudi, Turki, Pakistan dan Suriah pada hari ini.

Maka sangat penting bahwa umat Islam tidak tertipu – berbagai upaya monsterisasi penerapan syariah secara kaffah – dan tidak buta oleh rencana adu domba dalam tubuh umat. Kita semua perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia.  Juga penting bagi umat Islam menyadari bagaimana Asing akan menggunakan krisis politik dan ekonomi untuk memperkuat program menghambat ekspresi Islam masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, mendorong untuk saling curiga sesama Muslim. Yang ingin mereka tanamkan pada masyarakat pada saat sekarang adalah bahwa mengembalikan penerapan syariah Islam dalam konteks bernegara adalah masalah besar di dalam masyarakat, padahal Islam sebagai jalan hidup kaum muslim.

Kita harus mampu melawan makar yang dijalankan oleh pemerintah Barat dan agen-agennya kepada kita, untuk meninggalkan landasan  dan praktek Islam dan keyakinan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai liberal sekuler atau yang menentang kezaliman penguasa.

Bangunlah dari kelalaian Anda! Kita, umat Islam harus menyadari kekalahan, hendaknya segera berikhtiar serius mewujudkan kebangkitan, daripada terus berduka karena tekanan musuh-musuh terhadap Islam. Kita harus memiliki kepercayaan diri dan membuat kita proaktif dalam menghadapi serangan terhadap Islam yang tampaknya tidak kenal lelah ini.

Semoga Allah Swt menjadikan kita untuk istiqomah berpegang teguh, menerapkan dan memperkuat Islam dalam diri kita dan mampu mewujudkan dalam penerapan Negara sebagaimana yang diwahyukan kepada kita kepada Nabi kita tercinta Nabi Muhammad (Saw).

Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka dg hukum yg diturunkan oleh Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian yg Allah turunkan kepadamu. Ketahuilah, sesungguhnya Allah menghendaki menimpakan musibah kepada mereka, karena dosa-dosa mereka. Sesungguhnya kebanyakan manusia itu fasik (Q.s. al-Maidah: 49).

Oleh: Umar Syarifudin (pengasuh Majelis Taklim al Ukhuwah)

Surat dari Bunda



Dakwah Media - Karena Kau Begitu Berharga.

Untuk  Ananda tersayang
Assalamualaikum..

Apa kabar, Nak? Dalam carut marut zaman yang sudah begitu tua dan mendekati akhirnya, Bunda harap Kau baik-baik saja, selalu dalam rahmatNya.

Nak, akhir-akhir ini Bunda cemas. Bunda sudah lihat di media sosial, trend anak muda sekarang, banyak yang  suka memainkan permainan berbahaya yang tidak menghargai  nyawa. Itu lho, Nak. Permainan berbahaya de ngan menekan dada temannya kuat-kuat sampai orangnya pingsan - nyaris mati- lalu mereka tertawa, bergantian melakukannya. Nama permainan itu skip out challenge atau pass out challenge. Mereka menganggap  pingsan hampir mati sebagai lucu dan menyenangkan. Padahal itu jelas merusak sel-sel otak lho, Nak.  kau tahu kan, bahwa  pelaku permainan ini pingsan akibat terputusnya oksigen ke otak (hipoksia) yang jelas merusak sel-sel otak, dan jika tidak beruntung pasti pingsannya akan bablas tak bangun lagi alias mati. Sudah banyak jatuh korban.

Kalaupun tidak tewas,  orang yang melakukan permainan ini jadi berkurang kemampuannya dan bisa kecanduan untuk melakukan lebih, bahkan sampai nyawanya hilang. Menurut Bunda sih, hanya orang dengan mental disorder alias kelainan jiwa atau sudah bosan hidup yang bisa menganggap nyaris mati dan kebahayaan semacam ini sebagai tantangan, lucu dan menyenangkan. Bagaimana menurutmu, Nak?

Bunda juga lihat, sepertinya sekarang banyak orang yang tidak tahu makna hidup, sehingga bunuh diri pun dijadikan game, dianggap solusi, jadi trending topik bahkan banyak pelaku mengunggah  aksi bunuh dirinya live di sosmed, sampai menjadi viral. Kau juga sudah melihatnya kan, Nak? Bagaimana menurutmu perbuatan tersebut?

Bunda juga dengar berita yang sedang panas, tentang maraknya berbagai kejahatan dan penyimpangan seksual macam sex bebas, LGBT, bahkan belakangan ini marak terungkap kasus pedofilia. Kau tahu, Nak, bahkan hewan saja tidak melakukan perbuatan tak bermoral semacam itu. Lalu bagaimana bisa manusia yang mengaku beradab melakukan perbuatan semacam itu, lalu menyebutnya sebagai modern dan atas nama Hak Azasi Manusia? Siapa  yang memberi hak pada manusia untuk melakukan penyimpangan?

 Jika kebebasan diperturutkan begitu saja pasti terjadi kerusakan dan kekacauan di muka bumi ini. Pikirkan itu, Nak. Agar kau tak kebablasan mempertuhan dan memuja kebebasan.

Bunda mengharapkan kau selamat di dunia ini dan di kehidupan setelah mati, Nak. Maka gunakanlah akalmu, berpikirlah mendalam dan jawablah pertanyaan mendasar ini dengan sepenuh kemampuan dan sepenuh kesadaranmu. Apapun yang akan kau lakukan, nak,  tetaplah ingat:

Siapa dirimu?

Kau adalah putra Ayah, Bunda. Kau adalah cowok keren vokalis band andalan sekolahmu. Kau bintang kelas. Ya, itulah dirimu.

Tapi  jika pun kau gagal dan orang orang menganggapmu pecundang, ataupun jika karena suatu sebab kau kehilangan kecantikan atau keindahan rupamu, dan jika suatu saat kau menghadapi cobaan beraat hingga kau merasa sendiri dan serasa  tak sanggup lagi..

 Ketahuilah, Nak, semua status dunia itu tak ada yang abadi. Tapi ada satu status dasar (asasi)  yang tak akan berubah meskipun dunia telah binasa.

 Ingat satu hal, Nak. Status dasar yang abadi itu adalah bahwa  Kau adalah manusia, makhluk ciptaan Allah. Dan jalan hidup yang telah kau pilih  sejak dulu, kau adalah seorang muslim. Kau tahu kan, Nak, artinya menjadi muslim adalah berserah diri kepada Allah. Kau adalah hamba Allah.
Setelah kau mengenali dan tahu siapa dirimu lalu carilah jawaban selanjutnya. Untuk apa kau ada di dunia ini? 

Allah telah memberitahu untuk apa manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Jika lupa buka lagi kitab sucimu QS Adz-Dzariyat:56. Dan bagi seorang muslim maka hidupnya punya kewajiban dan tanggungjawab  untuk menjalankan segala kehendak Allah dan menjauhi larangan-Nya. Juga untuk amar ma’ruf nahi munkar menyampaikan yang hak dan mencegah yang bathil. Beramal  sebaik mungkin di kehidupan dunia yang singkat untuk bekal kehidupan akhirat yang abadi. Jadi hidupmu itu sungguh amat sangat berarti, Nak. Jangan kau sia-siakan sedetik pun. Apalagi hanya hidup mati demi bola, hidup untuk makan atau pacaran. Atau melakukan permainan berbahaya yang gak jelas tujuannya. Hidupmu terlalu berharga,Nak. Kerahkan upayamu untuk mencapai tujuan hidupmu saja nak. Dan tujuan hidup ini adalah : Untuk meraih ridlonya Allah.

Jika kau sudah tahu siapa dirimu, dan apa tujuan hidupmu, maka jawablah pertanyaan terakhir ini: Kemana kau akan pergi setelah kehidupan dunia ini? 

Hidup manusia begitu terbatas. Kematian akan datang kapan saja  tanpa kita ketahui.  Kau pikir ke mana jiwa manusia pergi setelah mati? Apa iya sudah selesai dan menghilang begitu saja. Secara logika saja dalam ilmu fisika, dikenal hukum kekekalan energi. Sedangkan jiwa manusia, bisa dianggap  sebagai bentuk energi. Selamanya energi itu tak hilang, hanya berubah bentuk dan berubah dimensi. Demikian juga jiwa manusia. Sebagai muslim, kita mengimani bahwa ada kehidupan setelah mati. Jiwa manusia akan di mintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Amal perbuatan baik atau buruk sebesar dzarrah (atom) pun, termasuk  niat yang terlintas di hati dijanjikan akan dibalas oleh Allah.  Akhirnya ada dua rumah tujuan di akhirat nanti.  Neraka atau surga.

Jika memilih Neraka dengan segala keburukan dan siksanya. Sungguh amat  mudah dan enak. Tinggal lakukan saja segala yang kau suka, gak ada urusan dengan aturan Tuhan. Agungkan kebebasan dan pertuhankan hak asasi manusia. Atau kalau sudah bosan hidup, tinggal bunuh diri saja. Gampang kan.  Bisa dipastikan  neraka akan menjadi rumahmu yang abadi.

Jika kita pilih surga, maka  jadikanlah Islam sebagai jalan hidup. Tunduklah pada semua aturan Allah tanpa kecuali. Bukan malah membangkang dan membuat aturan sendiri atau mempertuhan kebebasan, sambil mengatakan bahwa aturan nabi dan ayat kitab suci sudah tak layak dan ketinggalan zaman.  Karena Islam sudah dibuat sempurna oleh Allah, dalam segala aspek kehidupan. Maka lakukanlah perbuatan calon penghuni surga, Nak. Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuanmu dalam melakukan dan menimbang segala perbuatan. Bersabarlah atas segala kesulitan dan cobaan yang timbul akibat jalan hidup Islam yang kau pilih.

Itulah yang Bunda harap kau pegang teguh, Nak. Bunda harap kau tidak akan hanyut mengikuti arus trend yang dimurkai Allah. Bunda menyayangimu dan selalu berdo’a semoga kita akan sukses di dunia dan akhirat, menjadi ahli surga dan meraih keridloan Allah. Aamiin.
Wassalamu’alaikum..

Bunda

Hana S. Muti


Al Maidah Ayat 51 Pasti Relevan!



Dakwah Media - Ahmad Ishomuddin telah dipecat sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) lantaran pernyataannya menuai kontroversi dalam sidang kasus penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama pada Selasa (20/3) pekan lalu. Dalam sidang tersebut, Ishomuddin menyatakan Surah Al Maidah ayat 51 tidak relevan lagi.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Ma'ruf Amin mengatakan jika semua ayat Alquran dianggap tidak relevan maka sama saja Alquran dengan UUD 1945 yang diamandemen.

"Wah itu kan pendapat dia (Ishomuddin) itu kan (tidak relevan), masak Alquran tidak relevan. Kalau Alquran dipreteli bisa-bisa tidak relevan semua itu. Sama saja dengan pendapat, ayat Alquran diamandemen, bisa diamandemen semua itu. Habis itu," ujar Kiai Ma'ruf saat ditemui di Jakarta, Senin (27/3).(http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/03/27/ongw77366-al-maidah-ayat-51-tak-relevan-ini-tanggapan-ketum-mui)
Komentar

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim..” (QS. Al-Maidah: 51)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, bahwa Allah SWT melarang hamba-hambaNya yang beriman mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin mereka, karena mereka itu adalah musuh-musuh Islam dan musuh para pemeluknya, semoga Allah membinasakan mereka. Selanjutnya Allah SWT memberitahukan bahwa sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian lainnya. Dan setelah itu Allah mengancam, dan menjanjikan siksaan bagi orang yang mengerjakan hal tersebut.
 
Ibnu Abi Hatim mengatakan dari ‘Iyadh bahwa “Suatu hari Umar bin Khathab r.a memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari r.a untuk segera menunjuk pemimpin kepercayaan untuk pencatat pengeluaran dan pemasukan pemerintah Islam di Syam".
 
Abu Musa lalu menunjuk seorang yang beragama Nasrani dan Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi.
Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Lalu Umar berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk rapat melaporkan laporan di depan kami?’.
 Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram (Mekkah dan Madinah)'.
 Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’.
 Abu Musa menjawab: ‘Bukan, karena ia seorang Nasrani’.
 Umar pun langsung marah, menegurku keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘Pecat dia! cari dan angkat seorang muslim".

 Umar lalu membacakan ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengangkat mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (kafir). Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim‘”. (QS. Al Maidah: 51)

Jadi, jawabannya sebenarnya sudah jelas bagi orang yang mengimani al-Qur’an, atau masih menyebut dirinya Muslim, tidak akan mengatakan, bahwa al-Qur’an itu tidak relevan. Terlebih, ketika ayat-ayat al-Qur’an tersebut hukumnya tidak dinasakh. Inilah konsekuensi keimanan yang harus dilaksanakan, dan diterima, jika menyalahi apa yang seharusnya dipegang erat oleh seorang Muslim. Menyoal kata awliya’, tegas Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Rokhmat S Labib.Meski pun kata “awliya” atau  dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 51 diartikan sebagai “teman dekat” tetap saja orang kafir seperti Ahok haram dipilih sebagai pemimpin”

Oleh: Ilham Effendi (Malang)